Nathan sampai rumah ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Indah langsung menyambut suaminya yang baru saja masuk. “Abang,” panggilnya. “Abang kenapa? Kok berantakan gini?” Pakaian Nathan kusut, jrambutnya juga berantakan dan membuat Indah khawatir. “Tangan Abang kenapa?” Indah terkejut melihat buku-buku jari suaminya terluka. Memukuli Kiano sekuat itu bukan serta merta membuat Nathan tidak terluka sama sekali. “Assalamuaalaikum, Yang,” ucap Nathan lirih. Ia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis dan membuat Indah makin terkejut. “Waalaikumsalam. Abang habis berantem? Sama siapa?” Nathan menggeleng. “Aku…” “Abang dimarahin Papi? Atau berantem sama Bryan?” tanya Indah lagi. “Bryan?” Indah sedari tadi berpikir bila malam ini diadakan pertemu

