Noid 48

1358 Kata
3 bulan kemudian Para member BTL baru saja kembali dari kegiatan mereka hari ini. Ada jadwal wawancara di radio yang harus mereka datangi bersama. Saat tampil tadi Jimmy sempat salah menyanyikan bagiannya untung saat itu si bungsu bisa menghandle dengan baik. Jimmy sejak tadi meminta maaf, ia tak bisa berkonsentrasi belakangan sejak Reya memilih untuk pergi. Para member kembali melakukan kegiatan sesuai jadwal yang telah dibuat. Meski kadang situasi menjadi canggung secara mendadak karena Yunki yang masih terkadang terlihat kesal pada Jimmy. Hanya saja Seojin dan Namjun meminta agar Yunki bisa menjaga emosinya agar situasi di grup bias terkendali. Yunki jelas mengerti dan terpaksa mematuhi meski dalam hatinya ia merasa tak nyaman karena sering harus berpura-pura baik-baik saja padahal hati dan perasaannya merasa kesal dan marah pada Jimmy. Setelah beristirahat sejenak, Yunki kini terbanguan dan sibuk menonton televisi sementara yang lain masih terlelap. Bonbon saat itu terbangun. Ia kemudian berjalan menghampiri Yunki dan duduk di sampingnya. "Ayah kok enggak tidur?" "Hmm, mau keluar pagi ini, takut ketiduran." Yunki menjawab. "Atau mau lihat—" Yunki menutup mulut Bonbon dengan tangannya. "Jangan bilang siapa-siapa." Bonbon mengangguk cepat, ia ingat jika tak boleh mengatakan h ini pada siapapun. Tentu saja Bonbon bisa mengetahui apa yang terjadi dan apa yang dilakukan Yunki hanya dengan sentuhan tangan yang ia lakukan. Juga, Yunki telah mengetahui kehamilan Reya dan itu yang membuat si pucat itu semakin khawatir dengan keadaan gadis yang ia sukai itu. "Ayah mau sesuatu? biar aku buatin?" tanya Bonbon. "Tolong ambilin kopi dingin di kulkas sama roti aja boleh?" tanya Yunki. Gadis berambut pink itu mengangguk kemudian ia segera bangkit dan berjalan dnegan cepat menuju dapur untuk mengambilkan apa yang diminta oleh Yunki. Setelahnya gadis itu segera kembali dan memberikan kopi dan rori yang diminta oleh sang ayah. "terima kasih, kamu tidur lagi sana. Masih jam empat pagi." "Aku boleh ikut?" tanya Bonbon. "Hmm," Yunki kemudian menganggukkan kepalanya. Bonbon terlihat gembira ia kemudian duduk di samping Yunki dan keduanya menyaksikan televisi sampai Yunki mengajaknya nanti. Keduanya hanya saling diam seolah menunggu hal yang paling penting. Ketika waktu menunjukkan pukul lima pai, Yunki segera mematikan televisi. Tak ada yang ia katakan hanya melirik Bonbon yang ada di sampingnya lalu keduanya segera berjalan ke luar dorm. Mobil sedan hitam itu melaju di jalanan pagi yang sepi. Bonbon terlihat begitu bahagia bisa melakukan perjalanan bersama sang ayah, Selain akan bertemu dengan Reya, beberapa minggu lagi adalah waktu bagi dirinya dan Bonbon untuk meninggalkan dorm dan kembali tinggal bersama Profesor Go yang adalah ayah dan juga orang yang menciptakan mereka. sementara itu do dorm saat ini Bongbong tengah kebingungan mencari saudara kembarnya yang menghilang meskipun ia merasa Bonbon baik-baik saja, tetap saja ia merasa kesal karena ditinggalkan. Bongbong duduk di meja makan seraya sibuk meneguk s**u segar yang ia ambil dari kulkas. Saat itu, Tae berjalan ke luar kamar dan terlihat sudah rapi sekali. Ia berjalan menghampiri Bongbong dan duduk di hadapan sang squinoid grey. "Bonbon mana?" tanya Tae. Bongbong hanya mengangkat bahunya. "Mungkin keluar sama appa-nya. Appa mau sesuatu?" "Enggak, aku mau sarapan di rumah Soogi mau ikut?" tanya Tae mendapatkan jawaban anggukan penuh semangat dari Bongbong. "Tapi yang buat sarapan siapa?" Bongbong merasa cemas karena khawatir tak akan ada yang membuatkan sarapan untuk para member lain. "Gampang, lagian nanti kan Mimin ke sini." Tae menjawab dan berusaha agar tak membuat Bongbong terlalu merasa bertanggung jawan dan tak terlalu cemas dengan keadaan member lain karena jelas itu bukan tangung jawabnya. Meski begitu di dalam hatinya ia merasa bangga karena Bongbong begitu peduli dengan member lain. Setelah meyakinkan squinoid itu bahwa member lain akan baik-baik saja dan Mimin akan mengurus harapan mereka, keduanya segera melangkahkan kaki keluar menuju parkiran untuk segera melaju ke rumah Soogi. Hari ini Tae diantar oleh sopir pribadinya dan juga seorang bodyguard yang menemaninya sepanjang waktu. Beberapa bulan ini wartawan masih mengikutinya dan berusaha mencari tahu mengenai calon istri Tae. Hal itu menyebabkan pria bersenyum kotak itu terpaksa menyewa bodyguard dan juga seorang sopir yang akan selalu mengantarnya kemanapun ia ingin pergi. Iya juga menyewa seorang bodyguard untuk mengawasi dan menjaga Soogi dan Jijji dari jauh karena calon istrinya itu mengatakan bahwa ia tak nyaman jika ada seseorang yang mengikutinya Bahkan karena hal ini teh memutuskan untuk membeli sebuah rumah dengan lokasi yang cukup aman bagi privasi orang-orang yang dikasihnya. Tentu saja jika ia menikah dengan Soogi nanti mereka akan tinggal bersama. Lokasi yang dipilih oleh pria itu juga mempertimbangkan dengan sekolah Jijji. Hanya tinggal menunggu sedikit perbaikan hingga mereka berempat akan pindah ke tempat tinggal yang baru. Mobil itu melaju tak lebih dari 15 menit untuk tiba di rumah Soogi. Tae dan Bongbong segera berjalan ke luar kemudian mengetuk pintu, lalu segera masuk ke dalam rumah Soogi ketika mendengar sahutan yang meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam. Bongbong berjalan menghampiri Jijji yang kini tengah duduk seraya mengerjakan tugas sekolah yang diberikan sang Guru. Sampai hari ini ia masih belajar di rumah mengerjakan tugas secara online yang akan dikirimkan melalui email ataupun pesan singkat di ponsel. Sementara itu Tae menghampiri Soogi yang kini tengah sibuk dengan aneka bahan masakan ia masak sebagai santap paginya. Tae memeluk sang kekasih kemudian Soogi mengecup pipi Tae. "Biar aku yang motong sayurannya kamu istirahat aja sana. Kalau udah selesai nanti kamu yang masak ya?" Ucap Tae. "Oke," ucap Soogi kemudian berjalan. Tapi belum belum sempat calon istrinya itu melangkah jauh Tae menahan dengan memanggil Soogi. "Chagiya?" Soogi menoleh. "Hmm?" Sahutnya. Tae berjalan mendekat, mengusap perut Soogi yang mulai membesar dan mengecup perut sang istri. "morning baby." Sapanya. Soogi tersenyum, ia mengusap lembut rambut Tae. "Morning appa." Ucapan Soogi barusan selalu bisa membuat Tae tersenyum. Keduanya kini telah mau saling menerima dan juga berjanji akan saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Bahkan Tae berniat untuk segera mendaftarkan pernikahannya bersama Soogi. Sebelum mereka membuat pesta untuk keluarga dan rekan. Sementara itu saat ini Yunki dan Bonbon masih berada dalam perjalanan. Tak ada lagi gedung-gedung tinggi yang menjadi pemandangan. Di sisi kanan dan kiri mobil mereka di sisi kanan mobil terlihat hamparan laut yang luas. Perjalanan yang mereka lalui kurang lebih memakan waktu 2 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Pria berkulit pucat itu kemudian menepikan mobilnya, menunggu di sisi jalan menatap ke arah pantai. Sesekali menghembuskan nafasnya. Bonbon mengikuti arah tatapan Yunki. "Lihat di sana Bon," kata Yunki menunjuk ke sebuah bangunan yang mirip seperti taman kanak-kanak. Tempat itu adalah sebuah tempat penitipan anak di mana kini Reya bekerja di sana membantu ibu dari Ahreum merawat anak-anak yang di titipkan. "Sekolah anak-anak?" Tanya Bonbon. "Itu tempat penitipan anak," jawab Yunki. Yunki lalu mengarahkan tatapan, ia melihat ke sebuah titik lalu dengan cepat senyumannya mengembang melihat seorang yang ia cemaskan dalam keadaan baik-baik saja. Gadis itu kini tampil dengan rambut baru yang ia potong pendek berjalan dengan riang menggandeng tangan seorang anak perempuan di tangan kanannya dan anak laki-laki sekitar usia 2 tahun di tangan kirinya. "Eonni," ucap Bonbon dia ingin membuka pintu hanya saja Yunki melarang dengan menahan tangan squinoid itu. "Jangan turun dia nggak tahu kalau selama ini aku ngawasin dia dari jauh. Dan jangan sampai dia tahu, karena kalau dia tahu pasti dia akan pergi lagi. Jadi kita cukup lihat dari sini aja." Larang Yunki. Aku senang kamu baik-baik aja. Aku tau kamu butuh waktu buat sendiri. Gumam Yunki dalam hati seolah perempuan itu mendengar ucapannya. "Waktu itu eonni pernah tanya lebih bagus pantai atau Bukit. Aku jawab pantai. Ternyata itu untuk memilih tempat dia kabur?" Tanya Bonbon meneteskan air matanya. "Jangan sedih. Yang penting kita tau dia baik-baik saja oke?" Kata Yongki ia meminta Bonbon untuk tak terlalu sedih dan memikirkan tentang Reya. Yang terpenting adalah mereka mengetahui bahwa Gadis itu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Setelah berdiam di sana kurang lebih 10 menit lamanya pria pucat itu kembali melanjutkan perjalanannya ke Seoul. Dua jam perjalanan hanya untuk memandang dari kejauhan. Cinta gila memang, tapi cinta bukan untuk dipikirkan tapi untuk dirasakan. Sementara saat itu Reya berjalan ke luar dari pagar rumah penitipan anak ia menatap ke arah di mana mobil sedan hitam tadi berhenti cukup lama dan kini tak ada lagi di sana. Ia tersenyum kemudian kembali ke dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN