Soogi dan Tae kini berada di rumah Soogi keduanya telah bertemu diam-diam dengan kedua keluarga. Karena memang rumah kedua orang rua mereka bersebelahan. Tentu saja ini mempermudah pertemuan keluarga untuk membicarakan pernikahan. Soogi meminta agar mereka tak perlu melakukan perayaan besar dan hanya dihadiri keluarga saja. Karena keadaan mereka saat ini sedang tak kondusif akibat para wartawan yang terus saja mengejar SOogi dan tae untuk mewawancarai.
hal ini bahkan membuat Jijji tak bisa masuk ke ke sekolah karena rumah sang ibu diblokade. Jijji terpaksa mengaku kalau ia tengah ke rumah sang nenek karena sang nenek saat ini tengah sakit.
Jijji, Tae dan Soogi kini berada di ruan tengah. Ketiganya tengah menonton televisi menyaksikan acara musik.
"Dulu waktu pertama kali ada di music show deg-degan banget. Kamu masih inget enggak gimana kostum ala kadarnya BTL? Boy band dari perusahaan kecil yang berusaha dari nol, bahkan aku enggak percaya kalau aku sudah sampai di tahap ini," ucap Tae buat Soogi dan Jijji menatapnya.
"Semua udah kalian lewati dan BTL sudah dapat semua posisi terbaik. Apalagi yang mau kalian capai? Bahkan kalian udah pernah menapakkan kaki ke gedung putih?" tanya Soogi seraya mengusap rambut Jijji lembut.
tae menatap Soogi dan Jijji bergantian, kemudian tersenyum. "Dalam pencapaian BTL rasanya ...." Tae menghentikan ucapannya, ia juga bingung dengan perasaannya saat ini. Pria itu hanya menaikan bahunya. "Secara pribadi aku kehilangan banyak hal. Waktu bersenang-senang, kehilangan banyak privasi dan harus berhati-hati dalam banyak hal. KAdang rasanya aku egois karena menginginkan karir dan kehidupan pribadi yang sama-sama sempurna. Sampai aku sadar semua punya porsinya masing-masing. Dan saat ini usiaku yang sudah enggak muda ini. Aku benar-benar ingin menjadi seorang ayah dan suami yang baik."
Jijj bergerak memeluk Tae, meski belakangan ia kesal karena tak bisa ke sekolah. GAdis itu tetap menyayangi Tae karena ia melihat bagaimana pria itu bisa menyayangi sang ibu dengan sungguh-sungguh.
Tae membalas pelukan Jijji ia lalu mengusap rambut panjang anak itu, "Jijji kamu enggak mau manggil Om Tae ayah?"
Jijji gelengkan kepalanya. "Belum siap," jawab anak itu.
"Tapi, Jijji janji kalau Om Tae sama Ibu Jijji nikah nanti, Jijji harus manggil Om Tae dengan panggilan Ayah ya?" pinta Tae seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada Jijji.
Jijji dengan segera mengaitkan jarinya pada Tae. "Jijji janji."
Sungguh melihat keakraban kedua orang dib hadapannya kini membuat Soogi merasa begitu bahagia. Ia bisa merasakan jika Jijji dan tae begitu saling menyayangi. Ia juga percaya kalau hubungan keduanya akan menyenangkan sebagai ayah dan anak nanti. Soogi kemudian menatap TAe ia masih penasaran dnegan sesuatu.
"TAe, kamu enggak mau kasih tau masalah Reya sama Jimmy?" tanya Soogi.
tae gelengkan kepala. "Setelah aku pikir ini bukan waktunya. aku akan cerita ke kamu, percaya sama aku. Aku hanya butuh waktu yang tepat." tae menjelaskan ia tak ingin Soogi jadi terlalu memikirkan Reya.
"Hmm, aku penasaran dan aku juga mau tau reya adan di mana. Kenapa dia menghilang lagi, PAdahal abru balik setelah lama menghilang." Soogi berucap sedih.
"Jangan khawatir, kemarin Yunki hyung bilang ke aku kalau dia minta detektif buat cari Reya. Cuma kita aja yang tau masalah ini. Aku berharap Jimmy terus merasa bersalah setelah dia lakuin ini ke Reya." Ucap Tae terlihat begit marah saat ia menyebut nama Jimmy lagi.
***
**Flashback**
Jimmy dan Tae kembali lebih dahulu ke apartemen. Jimmy melangkah lebih dahulu karena ia ingin bertemu Reya sebelum ia pulang. Jimmy berjalan mengendap ia ingin mengejutkan Reya. Tapi langkah Jimmy terhenti setelah mendengar-
Baby kamu lagi apa?
Apa yang kamu dengar bon?
Deg deg deg deg jantungnya berdetak.
Apa dia sehat?
Jimmy masih terdiam ia menahan langkah Tae. Tae hanya terdiam ia pikir Jimmy akan mengagetkan Reya. Ia juga sempat mendengar percakapan Reya dan Bonbon. Tae tersenyum, ia bahagia mengetahui nantinya anaknya dan Soogi akan mendapatkan teman. Hanya saja wajah jimmy menunjukkan hal yang berbeda tentu saja ini membuat Tae sedikit terkejut.
Jimmy kemudian menarik Tae untuk kembali ke lua. Ia menutup pintu perlahan, kemudian terdiam sesaat.
Di depan apartemen mereka Jimmy terdiam. Membuat Tae sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. bukankah seharusnya Jimmy bahagia seperti dirinya? itu yang Tae rasakan ketikan ia mengetahui kalai Soogi mengandung buah hatinya.
"Kenapa kamu diem? Apa kamu terlalu seneng sampai nggak bisa berkata-kata. Aku juga gitu waktu Soogi bilang dia hamil." Ucap Tae sambil menunjukkan senyum kotaknya. Berusaha menyemangati jimmy.
"Reya hamil Tae-," ucap Jimmy sama sekali tak terdengar senang.
"Iya aku denger," tadi yang dibilang Reya dan Bonbon," Tae masih tersenyum senang lalu menepuk-nepuk bahu Jimmy seolah memberikan semangat dan selamat.
"Nggak bisa sekarang," ucap Jimmy lagi.
"Lah, terus kapan? Kalian udah ih ah ih ah. Ya kalau hamil ya gimana ya, kalian harus tanggung jawab."Tae jadi bingung sendiri dengan apa yang harus ia katakan.
"Kita lagi comeback, aku belum siap ngehadapin media skandal. Aku belum siap," lirih Jimmy jelas terdengar ia ketakutan
Tae mulai menyadari jika Jimmy sama sekali tak senang dengan kabar itu dari reaksi yang diberikan Jimmy.
"Terus maksud kamu?" Tanya Tae serius.
"Kalau- kandungan di gugurin dulu. Apa itu bahaya buat Reya? Kayanya kalau masih awal enggak bahaya kan?" Tanya Jimmy menatap sahabatnya mencari jawaban dari pertanyaan dalam otaknya.
Tae menghela nafasnya, ia sangat marah dengan ucapan Jimin barusan. Tae dan juga ingat kalau Jimmy mejalani hari yang berat saat awal debut menyebabkan ia sampai banyak kehilangan berat badan juga mengalami depresi. Hanya saja kali ini bagi Tae Jimmy jelas keterlaluan.
Buugghh!
Satu pukulan melesat di wajah Jimmy. membuat Jimmy terhuyung ke belakang akibat pukulan yang dilancarkan Tae barusan. Ia memegangi wajahnya yang kesakitan.
Di sisi pintu Reya melihat itu ia hampir berjalan ke luar. Untuk menahan agar Tae tak memukul Jimmy. Tapi ia mengurungkan dan menutup kembali pintu. Ia kembali duduk mencoba menahan tangisnya. Bonbon baru saja kembali dari kamar kecil. Mereka saling menatap.
"Eonni belum pulang?" tanya Bonbon.
"Sebentar lagi Bon, ada temenku mau jemput kayanya dia belum sampai." Ucap reya mencoba menahan diri sebentar.
Bonbon mengangguk, "Mau aku temenin?"
"Nggak terima kasih, tidur sana." Reya berkata sambil tersenyum ke arah Bonbon.
Bonbon melangkah untuk kembali ke kamar. Tapi Reya memanggilnya,
"Bon?"
"Nde?" Tanya Bonbon sambil mengarahkan pandangannya pada Reya.
"Menurut kamu lebih indah laut apa bukit?"
"Laut," jawab Bonbon cepat.
Reya tersenyum, "tidur sana."
Tentu saja pertanyaan ini membuat Bonbon bingung. Hanya saja gadis itu tetap kembali ke melangkah menuju kamarnya.
Sementara di luar Jimmy membalas pukulan Tae. tentu saja ia meras kesal karena tiba-tiba mendapatkan pukulan.
"Kamu nggak ngerti Tae!"
"Aku ngerti kita di posisi yang sama. Bedanya kamu b******n dan pecundang!! Kita udah berdosa buat perempuan yang kita sayang mengandung tanpa pernikahan. Kamu mau nambah dosa kamu buat bunuh anak kamu sendiri?! Kamu udah nikmatin, nggak mau tanggung jawab. Kamu laki-laki?! Hah!" Tae kesal sambil mencengkram kerah kemeja Jimmy.
Tae mendorong Jimmy ia berjalan meninggalkan Jimmy menuju rumah Soogi. Sementara Jimmy ia ingin masuk kembali, tapi ia memilih pergi.
Flashback end