Soogi dan Tae kini berada di dalam perjalanan untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Sebenarnya bisa saja jika hanya Tae dan saksi yang datang untuk membuat surat legalitas pernikahan. Hanya saja Soogi ingin ikut menemani sang suami. Pernikahan mereka sudah disetujui oleh keluarga keduanya. Dam pernikahan secara adat keluarga akan dilakukan jika Soogi telah melahirkan nanti semua berjalan lancar sampai hari ini.
"Tuan Tae, di belakang ada mobil yang mengikuti," ucap pengawal Tae.
Tae segera menoleh, ia melihat sebuah mobil van yang mengikuti. Jelas itu adalah wartawan dan juga ia tau bahwa memang sudah menjadi desas-desus ia akan mendaftarkan pernikahan hari ini. Sungguh ini mengganggu privasinya seolah tak ada ruang untuk ia bisa bernapas dengan nyaman dan melakukan kegiatan tanpa diganggu.
Tae berdecak kesal dan itu buat Soogi menoleh, kemudian menggenggam tangan calon suaminya itu.
"Enggak apa-apa mereka kan cuma ngikutin kita," ucap Soogi coba menenangkan.
"Kalau ada satu yang ikutin kita berarti di lokasi udah banyak orang," jelas Tae mengatakan alasan mengapa ia begitu cemas.
"Iya dah enggak apa-apa. Kita lihat dulu.'
tae anggukan kepala, ia lalu menggenggam tangan Soogi dan mengecupnya. tae merasa sedikit tenang karena kini Soogi bersamanya. Ia tak ingin berada jauh dari wanita yang kini kaa menjadi calon ibu dari anaknya.
Perjalan memakan waktu tak lama sampai mereka memasuki kawasan kantor catatan sipil. Benar saja di depan kantor telah banyak wartawan. Tar melirik pada Soogi ia tak ingin sang istri diganggu privasinya. ia lalu meriik soogi yang kini terlihat cemas. Wanita itu lalu menggigit ujung ibu jarinya.
'Kamu di sini aja biar aku yang turun sama Kenzo, kamu jalan lagi sama Tuan Choi. Kalau aku udah selesai kamu jemput aku di sini. Kalian muter-muter jalan aja dulu sebentar? hmm?"
"kam sendirian?" tanya Soogi cems.
tae anggukan kepala, ia mengusap pucuk kepala Soogi lalu mengecupnya. "cuma sebentar kasih berkasa dan data aja."
"Tuan choi segera jalankan lagi mobilnya setelah saya turun ya," Tae memberikan arahan.
"Baik tuan.''
Soogi mengangguk, mobil berjalan sedikit melambat saat Tae tengah sibuk memakai topi dan masker miliknya. Tae kemudian membuka outer yang ia kenakan, menyelimuti pada tubuh dan wajah Soogi memastikan sang istri tak terlihat. Pintu yang terbuka saat ia turun jelas akan menampakkan wajah dan bagian perut Soogi. Mobil berhenti, Kenzo bergegas keluar dari pintu depan. Lalu ia membukakan pintu untuk Tae. Saat pintu terbuka sorot kamera segera mengarah padanya dan lampu blitz yang kini terlihat riuh kilatannya. Tae segera menutup pintu lalu melangkah cepat masuk ke dalam sementara seperti apa yang dikatakan Tae tadi, kalau pintu segera tertutup ketika Tae berjalan turun.
dengan sigap Kenzo mengawal sang tuan untuk segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
***
Hari ini Seojin dan Minji melakukan pemotretan bersama untuk sebuah brand pakaian musim dingin. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah drama yang diperankan keduanya berakhir. Banyak penggemar yang menjodoh-jodohkan keduanya sampai saat ini. Banyak yang merasa bahwa Minji lebih cocok dengan Seojin dibandingkan dengan Namjun karena kecantikan maksimal yang dimiliki oleh Minji cocok jika disandingkan dengan ketampanan paripurna Seojin yang sudah di akui dunia.
Meski tentu saja tampan itu jelas hal yang relatif. Banyak juga yang merasa lalu Najun juga cocok dengan Minji karena pria itu manis dan memiliki lesung pipi juga kharisma yang mempesona. Dan tentu saja terlepas daris semua itu keputusan ada ditangan Minji. Juga sudah jelas bahwa pilihan Minji tetap Namjun yang kini jadi penguasa hatinya.
"Ya bagus, coba sedikit berpelukan, lebih akrab lagi." Sang fotografer mengarahkan meminta agar keduanya lebih dekat.
Minji mendekat pada Seojin yang kini memeluknya dari belakang keduanya segera melanjutkan sesi foto. Tentu saja sudah tak ada perasaan dari Seojin membuat ia bisa bekerja lebih baik.
"Yak bagus!" pujian terdengar dari sang penata gaya juga fotografer.
Keduanya berganti pose setiap kali arahan terdengar. Terlihat begitu anggun dan baik. Bahkan Minji saat ini semakin profesional dan lihai dalam setiap gerakannya. Padahal bisa dikatakan bahwa ia adalah artis baru dan belum pernah sama sekali mendapatkan pendidikan modeling dan akting. Sepertinya modeling dan akting telah menjadi hal yang menjadi bakat terpendamnya.
Pemotretan berlangsung selama empat jam menggunakan lima pakaian yang berbeda. Kini mereka telah selesai kemudian keduanya berjalan ke belakang ada Bonbon di sana yang menyamar sebagai salah satu asisten Seojin. Minji mengatakan pada staf kalau Bonbon adalah sepupunya yang bekerja menjadi staf BTL hingga Bonbon atau Bongbong bisa turut serta dalam kegiatan member jika ia merasa bosan, Seperti saat ini, karena sang ayah berada di Jepang, Bonbon menghubungi Seojin dan ia menemani Minji dan Seojin.
"Udah selesai?" tanya Bonbon.
Minji mengangguk, lalu duduk di samping Bonon. "Kamu bosen ya Bon?" tanya MInji.
Bonbon menggelengkan kepala. "Seru banget lihat Eonni sama Samchon foto-foto gitu."
"Kamu mau di foto?" tawar Seojin.
Bonbon menggelengkan kepala dengan kecewa. "Ingat Samchon tak boleh ada yang tau," BOnbon mengingatkan. Bahwa tak boleh ada yang tau keberadaan squinoid.
Squinoid adalah benda yang belum diketahui keabsahannya dan jelas Squinoid melanggar hukum karena masih dibantu dengan DNA manusia untuk penciptaannya. Squinoid termasuk salah satu cara mengkloning manusia yang sampai saat ini masih dilarang di belahan dunia manapun. Dan Bonbon juga sang kembaran tak bisa tampil ke luar. Mereka harus bersembunyi sampai hak edarnya disetujui pemerintahan Jepang.
Seojin dan Minji saling tatap mereka juga merasa sedih dengan keadaan dan apa yang terjadi pada Bonbon. Namun tentu saja apa yang dilakukan dan larangan yang diberikan jelas untuk keselamatan keduanya.
Seojin kemudian mengambil ponsel miliknya. "Caa, kalau begitu samchon yang akan mengambil foto kamu Bonbon. Ayo bergaya,' Seojin berucap.
Bonbon bergaya, dengan aneka gaya yang imut dan menggemaskan. wajah Bonbon juga sangat cantik dengan mata bulat yang berbinar dan raut wajah yang menggemaskan. Tentu saja ia akan cepat terkenal jika menjadi seorang Idol.
Seojin menghentikan kegiatan mengambil gambarnya kemudian memperlihatkan ponselnya pada Bonbon. "Lihat ini bagus kan?"
Bonbon menganggukkan kepala. "boleh kirim ke aku Samchon?" pinta Bonbon.
"Kamu punya ponsel?" tanya seojin.
Bonbon tak menjawab ia kemudian membuka tas miliknya dan mengeluarkan ponsel pemberian sang ayah. "Ini, aku dikasih Appa kalau mau hubungi dia."
"Makin keren aja kamu Bon. Kalau gitu simpan nomer aku juga ya," ucap Minji.
Bonbon mengangguk riang. Kini di dalam ponsel miliknya bukan hanya ada nomer sang ayah dan Bonbon. Kini ada nomor lain. Setelah memasukan nomor ponsel miliknya, Minji menyerahkan ponsel pada Seojin yang segera menerima dan mengisi ponsel Bonbon dengan semua nomor ponsel member juga Minmin dan Reya.
"Aku masukin nomor Reya, siapa tau nomor dia aktif lagi." Sejin kemudian tersenyum dengan terpaksa. Merasa kehilangan juga sebagai seorang teman.
"Aku juga berharap Eonni Reya segera kembali. ini udah beberapa bulan dan sama sekali belum ada kabar.' Minji berucap sedih.
Sementara Bonbon hanya terdiam ia tak banyak bicara. ia takut mengungkapkan apa yang ia dan Yunki rahasiakan mengenai keberadaan Reya. yang jelas ia saat ini sudah cukup tenang karena ia tau keadaan Reya yang baik-baik saja.
***
Reya membuka matanya, hanya ada Bibi Ma yang berada di sana. Ia tersenyum, senang saat bisa kembali membuka mata.
"Bibi?"
"Aku buru-buru kembali ke sini karena Brian kasih tau kamu mau melahirkan." Bibi Ma menjelaskan.
"Terima kasih Bi," ucap Reya. "Hyunjin?" hal yang pertama yang jadi pertanyaan adalah buah hatinya.
"Dia sehat, ada di ruang observasi suster bilang kalau semuanya baik, Hyunjin bisa dibawa ke kamar."
Bibi ma berjalan mendekat lalu duduk di samping Reya, ia menggenggam tangan gadis yang ia kenal sejak muda dulu dan kini telah menjadi seorang ibu.
"Aku tau ini berat, tapi kamu harus kuat. hmm, laki-laki itu, yang sering nunggu kamu dari atas jalan."
Reya menatap penasaran. "maksud Bibi, Yunki?"
"Aku enggak tau siapa namanya, hanya saja dia nungguin kamu saat operasi sampai tadi. lalu saat aku kembali setelah urus surat-surat untuk Hyunjin, dia pergi."
"Yunki di sini? Di kamar ini juga?' tanya reya lagi coba meyakinkan apa yang ia dengar.
Bibi Ma menganggukan kepala. "Apa itu laki-laki yang sama ysang suka tanya kabar kamu sama Ahreum?"
reya anggukan kepalanya. dalam hatinya ia merasa bersalah sekaligus berterima kasih karena Yunki mau bersusah payah menemaninya. Lega, ia merasa lega karena ada seseorang yang menunggu disaat ia tengah berjuang diantara hidup dan matinya.
"Dia ayah anak itu?" tanya Bibi Ma penasarn.
"Bukan Bi, bukan dia."
"Hmm, sayang banget. Ayah Hyunjin, dia enggak tau kalau dia punya anak yang ganteng dan sehat."
Reya tersenyum kecut dalam hatinya berpikir apa benar Jimmy akan menyesal jika ia tau kalau dirinya saat ini telah melahirkan bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan?
"Kayaknya dia enggak akan menyesal Bi," ucap Reya dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"kenapa begitu?'
"Dari awal awal dia sama sekali enggak menginginkan anak ini. Alasan aku pergi karena itu. Karena dia meminta aku untuk gugurin anak kami. Aku udah pernah coba untuk gugurin. tapi,rasanya enggak bisa hatiku nrasa bahagia bneget ketika aku dengar detak jantung dia. sampai akhirnya aku memilih bertahan," jelas reya
Bibi Ma menatap, lalu mengusap kepala reya layaknya anaknya sendiri. "kamu benar Reya, kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat dan bibi senang karena kamu bertahan dan memilih untuk pergi."
"Aku akan jadi ibu yang hebat untuk Hyunjin, aku mau dia dewasa dan tumbuh dengan baik meski tanpa ayah," lirih reya kemudian menangis.
Bibi Ma juga menangis ia tau bagaimana rasanya reya harus berjuang menjadi ibu tunggal yag terpaksa hidup sendiri dengan seorang anak. Apalagi anak laki-laki membutuhkan sosok seorang ayah untuk dijadikan contoh hidupnya. Hanya saja setiap ibu akan berusaha yang terbaik untuk anak mereka. Sama dengan Reya yang bertekad untuk membesarkan anak laki-lakinya dengan baik.
Reya note:
Hari pertama aku melangkah menjauhi Jimmy menyakitkan. Aku bahkan seolah tak bisa merasakan tapak kakiku.
Aku tak membawa apapun. Hanya diriku dan Hyunjin yang saat itu masih berada dalam perut. Hanya satu yang kupikirkan, aku dan Hyunjin.
Hari demi hari aku lalui, kemudian aku melihat sebuah mobil menjauh setelah berhenti cukup lama di sisi jalan. Aku tau itu Yunki, ia tau bagaimana cara menghadapi aku. Ia ingin aku tetap di sini dan membiarkan aku sendiri.
Sampai akhirnya, hari yang paling menguras hati tiba. Hyunjin ku, pertama kali aku melihat jari mungilnya, aku menghitung semua jari miliknya. Anakku, Hyunjin mulai sekarang aku berjanji akan menjaga anakku dengan lebih baik dibandingkan diriku sendiri.