Waktu berjalan begitu cepat tak terasa kini Kehamilan Soogi menginjak tujuh bulan. Pagi ini wanita itu sudah bersiap, ia mengenakan pakaian yang rapi karena hari ini ia akan mendaftarkan pernikahannya bersama Tae. Dan demi privasi Jijji, Soogi memutuskan agar sang putri sulung selama beberapa bulan ke depan akan tinggal bersama sang nenek. Meskipun itu terasa berat untuknya, hanya saja ia harus melakukan itu untuk kenyamanan buah hatinya. Mood Jijji sering kali buruk belakangan karena kesulitan untuk datang ke sekolah dan hanya belajar melalui daring. Ditambah lagi ia juga tak bisa keluar rumah karena selalu ada wartawan yang mengikuti.
Saat ini Soogi berada di rumah yang dibeli Tae yang memang akan dijadikan rumah tinggal bersama setelah keduanya menikah. Soogi terpaksa pindah terlebih dahulu dengan banyak pertimbangan. Meski awalnya menolak, akhirnya Soogi setuju tentu saja ia sadar karena Tae akan segera menjadi suaminya.
Saat sedang menikmati teh paginya, terdengar seseorang membuka pintu. tentu saja itu sang calon kepala rumah tangga. tae berjalan masuk menghampiri Soogi. Ia kemudian duduk di samping calon istrinya itu dan memeluk dengan mesra.
"Kamu mau teh?" tawar Soogi.
"Hmm, enggak deh. Buat kamu aja aku udah sarapan tadi. Ada Minmin yang masak buat kita. Lagian ini akan jadi terakhir kalinya buat kita sarapan dorm. Setelah semua jadwal kita selesaikan kemarin, dan BTL bakal benar-benar cuti lama. Enak juga rasanya aku bakal banyak istirahat di rumah sama kamu Jijji dan bayi kita."
Tentu saja keputusan untuk cuti adalah hal yang berat berat untuk dilakukan para member BTL. Hanya saja mereka benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri setelah lelah dan penat menjalankan comeback dan juga jadwal-jadwal internasional. Ini akan menjadi waktu untuk ke-7 member untuk menghabiskan waktu sendiri dan juga dengan karir solo mereka. Apalagi sebenarnya semua member kini sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Rasanya sudah cukup lama mereka tinggal bersama dan kini butuh waktu untuk beristirahat dan juga melakukan aktivitas sesuai dengan keinginan tanpa terikat jadwal.
Saat itu pengawal Tae berjalan masuk membawa koper-koper besar milik atasannya itu. tentu saja itu membuat Soogi merasa heran. Ia menatap calon suaminya itu.
"Kok?"
"Kan hari ini kita daftarkan pernikahan kita? Aku udah jadi tuan rumah kan? Meski nunggu dua minggu untuk surat permikahan kita diproses. Aku udah bosen tidur sama Namjun Hyung," ucap Tae seraya menunjuk sudut ruangan meminta tas miliknya diletakkan di sana.
Ssaat itu sebuah panggilan dari aplikasi chat. Soogi segera menerima.
"Yeoboseyo," sapa Soogi entah mengapa ia yakin jika itu adalah Reya.
"Hm hai," sapaan terdengar begitu ramah dan lemah jelas Soogi tau siapa pemilik suara Itu.
"Yak! reya kamu di mana?!" Soogi kesal ia marah dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Hmm, aku di sini. Eonni kamu sehat?" tanya Reya yang jelas Soogi tau kalau Reya tak baik-baik saja.
Soogi aktifkan speaker membiarkan tae juga mendengar pembicaraan diantara dirinya dan Tae. Ia menutup mulut menahan tangisnya.
"Sehat aku sehat semua sehat. Kamu? Hmm? kenapa kamu enggak bilang kamu hamil?" Soogi bertanya jika saja saya saat itu mengatakan keadaan yang sebenarnya tentu ia bisa membantu gadis itu dan saling menyemangati satu sama lain.
Reya terkekeh yang justri terdengar menyakitkan hati. "Surprise, kejutan! Hmm, Aku sehat Eon. sebentar lagi baby lahir dan tiba-tiba aku ingat kamu."
"Sebentar lagi? Reya kamu mau melahirkan?"
"Hmm, doain ya Eonni. Aku mendadak takut kalau mungkin aku enggak selamat nanti-"
"Hei jangan ngomong gitu! Hei kamu di mana aku ke sana hmm?"
Reya terdiam sementara Soogi terus mengeluarkan air matanya hatinya sakit sekali mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Usia kehamilan keduanya berbeda dua bulan dan kini Reya akan melahirkan ia takut tak akan ada yang merawat buah hatinya.
"Kalau aku enggak selamat, bisa kamu bawa anakku ke ayahnya? Kalau aku selamat kita mungkin masih akan lama ketemu. Aku .., terlalu takut untuk ada di sana." Reya mengucapkan semua sambil menahan tangis.
"Hei, Rey mau apapun yang terjadi kamu harus tetap kasih tau aku oke? Hmm? kabarin aku, kasih nomer aku ke siapapun nanti, hmm? Reya?"
"Iya," Terdengar suara Reya yang terengah napasnya semakin berat.
"Rey?"
"Aku senang dengar kamu baik-baik aja Eon, Senang kalian akan daftarkan pernikahan. AKu pamit ya Eoni," ucap Reya kemudian mematikan panggilannya
"Rey? Rey?! Ah Reya," Soogi kini benar-benar menangis menutup wajahnya seolah merasakan kesedihan yang dirasakan reya.
Sementara Tae segera menghubungi Yunki yang ia ketahui kini berada di studio harus ada yang menemani Reya disaat kondisinya tak baik-baik saja. Tae menghubungi beberapa kali sampai akhirnya panggilan diterima.
"Apa aku lagi rekam—"
"Reya hyung," Tae segera menyebutkan nama Reya agar Yunki tak mematikan panggilan.
"Kenapa Reya?" tanya Yunki cemas setelah nama Reya di sebut.
"Kayaknya Reya mau melahirkan, dia hubungi Soogi tadi bilang dia takut."
Tak ada suara selain langkah kaki yang Tae dengar dari balik telepon. Ia tau kalau saya itu Yunki yang tengah berlari.
"Hyung kamu minta sopir antar kamu, jangan panik." Tae coba memberitahu.
"Iya jangan khawatir, makasih tae," Yunki kemudian mematikan panggilannya.
Tae memeluk Soogi jelas ia merasa beruntung sekali karena Tae mau bertanggung jawab pada kehamilannya dan berbanding terbalik dengan Reya. Menyakitkan karena saat ini Reya juga sebatang kara Soogi takut tak ada orang yang akan menyemangatinya. Selama ini yang dirasakan sungguh baik-baik saja meski harus menghindari kejaran Wartawan dan lain-lain. Hanya saja Tae tetap setia berada di sisinya memberikan dukungan dan perhatian.
"Reya pasti akan baik-baik aja. Hmm? Percaya sama aku." Tae coba menenangkan Soogi.
"Sendiri itu enggak enak banget Tae, aku cuma sedih karena dia sendiri."
"Enggak, Reya enggak mungkin sendiri. Lagian Yunki Hyung udah ke sana kan? Kamu juga Enggak boleh sedih buat anak kita dalam kandungan kamu.'
Soogi anggukan kepala ia juga tak boleh merasa sedih karena ia juga tengah mengandung. Soogi coba yakinkan diri kalau Reya baik-baik saja. Sahabatnya itu adalah gadis yang kuat ia pasti akan melahirkan selamat dan kembali ke Seoul bersama buah hatinya dan menjadi ibu yang hebat.
"kamu jadi ikut aku untuk daftar pernikahan ?" tanya Tae.
Soogi anggukan kepala. "Aku ikut," jawabnya.
"Udah tenang?"
Soogi mengangguk menjawab pertanyaan tae, ia sudah lebih baik dan sejak tadi berdoa agar Reya baik-baik saja. "Ayah mertua?"
"Ayahku udah ada di sana, barusan chat dan juga pamanku yang akan jadi saksi." Tae menjelaskan.
"Ayo kita berangkat."
Tae mengangguk kemudian ia segera melangkahkan kakinya ke luar rumah bersama Soogi.
***
Sementara setelah mendapatkan panggilan dari Taetae, Yunki segera melakukan mobilnya untuk menghampiri reya. Tentu saja ia tak bisa mengajak siapapun saat ini tak ada yang ia percayai. maka ia coba tenangkan diri selama mengemudikan mobilnya meski jelas dalam pikirannya ia merasa tak tenang.
Setelah tiba, Yunki segera menuju rumah sakit ibu dan anak yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana. Yunki tau jika Reya memeriksakan kandungannya di sana. Ia berlari, masuk ke dalam bertanya pada perawat kamar rawat reya. Setelah mendapatkan pria itu segera berjalan menuju ruang persalinan. tak ada seorang pun yang berada di sana. Ibu Ahreum baru saja berangkat ke Seoul. Kelahiran kali ini lebih sepat dari hari perkiraan lahir. Dan reya harus menjalani operasi caesar untuk kelahiran pertamanya karena pecah ketuban sementara posisi janin belum sempurna. Hal itu yang membuat Reya merasa takut.
Pria itu duduk menunggu di depan ruang operasi, sekitar empat puluh menit sampai suara tangisan bayi terdengar. Dalam hati jelas Yunki merasa lega, kini ia hanya ingin mengetahui bagaimana kabar reya. Pria itu kemudian berdiri, lalu berjalan mondar-mandir dengan cemas. tak lma pintu operasi terbuka seorang perawat berjalan ke luar. Dan Yunki dengan segera menghampiri.
"Selamat Tuan anak anda laki-laki."
Yunki degera menyalami tangan sang perawat. "Ibunya? bagaimana keadaan ibunya?"
Sang suster tersenyum. "Ibu dan bayi dalan keadaan sehat."
Yunki tentu saja merasa tenang setelah mendengarkan kabar yang ia terima. Reya baik-baik saja adalah harapan utama nya. ia kemudian menuju kamar bayi dan melihat perawat yang tadi menemuinya di dalam sana. Sang perawat menunjuk seorang bayi yang tengah menangis dengan tangannya yang keluar dari selimut yang menutupinya.
"Namanya Hyunjin,"
Sebuah suara membuat ia menoleh. yunki mendapati Bibi Ma ibu dari Ahreum yang baru saja tiba.
"Ah, Bi," sapa Yunki kemudian menunduk sopan.
"Reya mau kasih nama anaknya Hyunjin. Dan terima kasih Tuan karena mau menemani Reya di saat aku harus ke Seoul. Aku segera kembali setelah tau reya akan melahirkan. Aku pikir nggak akan ada seorang yang menemani.tapi, ku senang anda ada di sini saat ini." Bibi Ma mengucapkan itu.
"Bi, bisa saya Minta tolong?"
"Apa?"
"jangan beritahu Reya kalau saya ada di sini. Saya takut nanti dia memilih pergi lagi."
Bibi Ma menatap Yunki sampai kemudian ia menganggukan kepalanya. Ia mengerti Yunki hanya ingin memastikan keadaan reya tanpa mengusik gadis yang ia sayangi itu.
mencintai dalam diam memang berat dan itu bisa dilakukan Yuki selama ini. Yang ia inginkan hanya agar reya baik-baik saja. Sehingga dirinya bisa terus melihat senyuman dari Reya. Ia tau akan sulit bagi Reya untuk menerima kembali setelah ia terluka meski seharusnya mungkin tak akan ada alasan untuk menolak pria yang jelas begitu tulus mencintainya.
Setelahnya, yunki ini berada di kamar sementara Bibi Ma mengambil beberapa keperluan. Yunki menunggu di dalam kamar ia duduk sememntara Reya tertidur lelap. Yunki menatap jam dinding. ia harus pergi tak mungkin berada di sini terlalu lama. ia tak mau Reya mengetahui jika dirinya berada di sana.
Yunki bangkit, ia ingin mengusap kening Reya hanya saja ia mengurungkan niatnya dan memilih segera berjalan ke luar kamar.