Pagi ini setelah selesai sarapan Heosok dan Mimin segera bergegas untuk menjemput Bongbong yang hari ini ingin ikut latihan menari. Kali ini mereka akan latihan menari di studio tari milik Heosok yang ia buat untuk disewakan letaknya tak jauh dari rumah Minmin. Sebenarnya Jeon-gu juga ingin ikut bersama hanya saja ia bangun kesiangan hari ini dan akan menyusul.
Heosok mengendarai mobil dan sang sepupu duduk di kursi penumpang. Mereka memutar lagu lama BTL dan keduanya bernyanyi bersama. Sebenarnya Minmin dan Heosok adalah saudara yang akur. Hanya saja sering kali Heosok merasa kalau Minmin bersikap terlalu kekanak-kanakan dan hal itu yang tak ia sukai. Meskipun itu adalah hal yang wajar karena Minmin adalah anak semata wayang dan ia memang awalnya begitu dimanja oleh kedua orang tuanya, Dan Heosok memang sedikit keras bukan tanpa alasan ia benar-benar ingin Minmin bersikap dewasa hal itu bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk Minmin sendiri kedepannya.
"Aku kangen baget sama kalian waktu masih muda oppa. Kalau diinget lagi dulu sedih bnaget kalian bener-bener mulai semua dari nol. Dan kalian udah sampai di sini dengan semua pencapaian yang mendunia," Minmin membecik kemudian menatap sang kakak sepupu. "Aku bangga sama kalian. Terima kasih udah bertahan sejauh ini."
Heosok memalingkan wajahnya, ia mengusap rambut Minmin. Sejujurnya ia merasa terharu juga dengan ucapan Minmin. dan karena itu juga ia teringat dengan semua hal yang telah dirinya dan para member perjuangkan dulu. Bahkan dulu mereka harus membagikan tiket ke pejalan kaki secara gratis saat pertama kali melaksanakan konser ke luar negeri. Lalu saat ini semua tiket penjualan habis dalam hitungan detik. Semua menunggu karya BTL, semua mengidolakan ke tujuh pria yang kini telah semakin menua namun tidak dengan karya mereka.
"kalau diingat sih sebenarnya enggak akan nyangka dengan semua pencapaian yang didapat. Hmm, inget dulu aku dan yang lain cupu banget dan pakai pakaian aneh."
Minmin terkekeh mengingat pertama kali album BTL keluar. "Tapi kalian jauh lebih baik di album ke da oppa.'
"Iya, sejak itu kamu tergila-gila sama Yunki hyung. terus sekarang malah jadian sama Jeon."
Minmin hanya tersenyum malu. Tentu saja dulu dalam pikirannya ia ingin sekali menjadi istri Yunki. Apalagi ia termasuk fans Yunki garis keras yang masuk dalam sekte Yunky menikahkan denganku. Hanya saja setelah ia menjalin hubungan dengan Jeon, ia tak lagi terlalu menyukai Yunki. Bagaimana bisa berpaling setiap kali bertemu jeon selalu berikan perhatian lebih dam jua memperlakukan Minmin dengan sangat baik. Apalagi tabrakan bibir yang dilakukan keduanya, apa yang dilakukan Jeon selalu buat ia terkesan dan semakin sayang.
Mobil itu melaju memasuki daerah perumahan selalu berhenti tepat di rumah profesor Go. Di sana bisa terlihat kedua kembar itu tengah bermain ayunan. Bongbong telah siap ya telah merias dirinya dan berganti pakaian dengan rapi sementara Bonbon masih mengenakan piyama sepertinya hari ini ia masih ingin bermalas-malasan.
Heosok keluar dari dalam mobil kemudian menyapa keduanya yang kini berjalan menghampiri.
"Kamu enggak ikut Bon?" tanya Heosok.
Bonbon menggelengkan kepalanya kemudian menjawab. "Hari ini aku mau tidur Samchon. Semalam aku pulang larut karena makan es krim sama Seojin samchon."
Heosok mengangguk Iya juga tahu bahwa kemarin malam Bonbon ikut bersama Seojin dan Minji untuk melakukan pemotretan bersama. Semalam juga Seojin mengatakan bahwa ia dan Bonbon berjalan-jalan ke sungai Han dan makan es krim.
"Terus kalau kamu nggak ikut di rumah sama siapa?" tanya Mimin dari dalam mobil.
"Ada Appa sama asisten song," jawab Bonbon.
Setelahnya bong-bong dan Heosok segera berangkat menuju studio. Hari ini studio milik pria itu sengaja dikosongkan untuk latihan pribadinya. Beberapa Minggu libur rasanya tubuh Heosok lagu akibat kurang bergerak. Karena biasanya dia termasuk salah satu member yang aktif hingga ketika ia beristirahat tubuhnya terasa kaku. Maka sebelum ia kembali melakukan aktivitas Heosok memutuskan akan rutin kembali latihan tari selama dua minggu ini. Padahal selama beberapa minggu ini rebahan telah menjadi salah satu hal yang menarik hatinya. Dan kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus kembali melakukan aktivitas. Ya meskipun awalnya terasa berat untuk meninggalkan kegiatan rebahan. Ia tetap meyakinkan diri bahwa aktif bergerak itu merupakan kegiatan yang menyehatkan maka menjadi salah satu motivasinya.
Sementara di tempat lain kini Jimmy tengah di rias. Ini adalah awal ia akan melakukan syuting untuk kontes pemilihan Idol perempuan setelah sebelumnya melakukan syuting untuk proses audisi. Hari ini adalah pertama kalinya para juri akan melakukan penilaian untuk memisahkan masing-masing peserta ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan kemampuan. Ia tak sendiri ia bersama ketiga juri lain yang salah satunya juga adalah seorang Idol perempuan Leona. Dia adalah salah satu member girl band generasi kelima usia Leona 5 tahun lebih muda darinya. Selain Leona ada lagi dua juri khusus yang merupakan seorang pelatih tari dan vokal dari kalangan profesional.
Setelah dirias ke 4 juri berkumpul di ruang khusus mereka diberikan briefing juga schedule jadwal syuting hari ini. K4 Juli memperhatikan dengan baik mereka juga diberikan buku yang bisa diisi oleh penilaian-penilaian yang akan diberikan kepada masing-masing peserta. Setelah selesai melakukan proses briefing para juri masih akan menunggu proses syuting yang akan dilakukan kurang lebih setengah jam lagi.
Leona duduk di samping Jimmy membaca rundown acara. "Sunbae," sapa sadis itu pada Jimmy.
"Nde?" Jawab pria yang kini terlihat begitu keren dengan kacamata hitam dan rambut yang ia biarkan tertata rapi ke belakang.
"Apa kamu punya jagoan atau peserta yang kamu unggulkan sekarang?" Leona bertanya sambil menatap nama-nama di dalam buku penilaian miliknya.
"Ada beberapa yang aku rasa punya kemampuan lebih di bidang tari. Tapi sepertinya aku nggak bisa menilai mereka untuk di bidang vokal akan lebih bagus kalau mereka bisa memenuhi kedua penilaian itu." Jimmy menjawab seperti itu karena menurutnya ia lebih bisa menilai dari sudut pandangnya sebagai seorang penari.
"Ah, aku juga berpikir begitu tapi aku rasa ada beberapa peserta yang menonjol di vokal dan juga tarian. Seperti peserta nomor 13 ini," ucapan Leona terhenti lalu ia menunjukkan kertas penilaian. Gadis itu menunjuk pada nama peserta. "Sebenarnya dia bagus ditarik dan vokal hanya saja kalau dia menari sambil bernyanyi suaranya itu goyang dan gak stabil."
Jimmy mengangguk setuju kemudian menatap pada Leona Dan tersenyum. "Aku juga setuju sama penilaian kamu aku rasa dia akan lolos sampai tahap akhir."
Mendengar perkataan Jimmy yang katakan bahwa Ia setuju dengan pendapatnya membuat Leona tersenyum senang. Tentu saja mendapatkan pujian dari seniormu adalah sebuah kebanggaan. Jimmy kembali menatap pada rundown miliknya sementara Leona sesekali melirik pada Jimmy.
***
Siang ini Bibi Ma berjalan tergesa menuju suatu tempat. Berjalan sedikit ke belakang dari rumahnya yang cenderung lebih dekat dengan pantai. Ia berjalan menuju sebuah rumah yang kini sedang direnovasi. Rumah itu adalah rumah peninggalan orang tua Reya dulu. Awalnya Reya enggan menggunakan rumah itu kembali dan memilih tinggal di rumah bibi Ma. Hanya saja ia tak ingin mengganggu Ibu dari sahabatnya itu nanti dengan tangisan-tangisan yang mungkin akan keluar dari bibir mungil bayi kecilnya. Hingga pada akhirnya Ia memutuskan untuk merenovasi rumah kedua orang tuanya yang akan dijadikan bangunan bertingkat dua dan lebih baik juga layak untuk ditinggali dirinya dan Hyunjin.
Seorang berdiri di sana menata para pekerja yang tengah memasang jendela. Bibi Ma berjalan menghampiri, lalu pria itu menoleh dan tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
"Jaebom, tolong hari ini bantu aku untuk jemput Reya," pinta Bibi sambil mengeluarkan kunci mobil milik raya dan memberikannya kepada Jaebom.
Pria bertubuh tegap itu menatap sang bibi. "Emangnya Jadi pulang hari ini bukannya kemarin Bibi bilang kalau Reya baru boleh pulang besok?"
"Dokter bilang udah boleh pulang hari ini kondisi bayi dan ibunya sehat kemarin Hyunjin sedikit kuning tapi setelah di tangani sama dokter semua sudah baik-baik aja." Bibi Ma menjelaskan.
" Syukurlah kalau begitu ya udah gimana kalau kita berangkat ke rumah sakit sekarang?" Tawar Jaebom.
Bibi Ma mengangguk kemudian keduanya berjalan menuju mobil milik raya yang terparkir di depan rumah bibi Ma. Tak banyak bicara Jaebom cara mengendarai mobil untuk menuju rumah sakit yang jaraknya tak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar kurang dari 10 menit itu untuk tiba di sana. Setelahnya keduanya berjalan masuk menuju kamar Reya.
Di dalam sana ada kereta bayi yang berisi Hyunjin yang tengah terarap dan rea yang kini tengah duduk di sampingnya sudah ada tas miliknya yang tertata rapi. Semua pakaian miliknya sepertinya sudah dirapikan Reya sendiri sebelum sang Bibi datang.
"Kamu rapiin semua Ini sendiri?" tanya bibi ma.
"Iya aku rapiin sendiri supaya kalau Bibi datang kita bisa langsung pulang," jawab Reya.
Jaebom berjalan menuju kereta bayi ia menatap hyunjin di dalamnya kemudian menatap sang ibu. "Bayinya cakep ibunya jelek?" Pria itu Reya yang dulu adalah teman sekolahnya.
"Kebiasaan Kamu tuh paling suka ya kalau ngeledekin aku?" Tanya Reya menatap Jaebom dengan kesal.
Pria itu hanya terkekeh melihat wanita di hadapannya yang kini menatapnya dengan kesal.
"Ya meskipun kamu nyebelin tapi aku berterima kasih karena kemarin kamu yang nganterin aku ke rumah sakit." Reya mengucapkan terima kasih karena Jaebom mau bersusah-susah untuk meninggalkan pekerjaan dan mengantarkannya melahirkan.
Jaebom anggukan kepala. "Tapi aku minta maaf karena aku nggak bisa nemenin kamu lebih lama dan harus langsung pergi. Ya tau sendiri lah cari kerjaan sekarang susah dan aku punya bos yang galak banget."
"Enggak masalah. Tetap aku makasih banyak."
Jaebom dulunya adalah teman Reya saat sekolah menengah Pertama bersama Ahreum. Meski tak terlalu dekat dulu. Dan dan kini saat Reya kembali ke kampung halamannya, keduanya jadi saling bertemu dan saling mengobrol. Reya juga mempercayakan pembangunan dan renovasi rumah orang tuanya ke tangan Jaebom.
"Ayo kita pulang," ajak bibi Ma.
***
Sementara itu Heosok dan Bongbong baru saja menyelesaikan latihan tari mereka. Mereka duduk di lantai studio sementara minmin terlihat baik-baik saja dan tidak kelelahan karena sejak tadi hanya sibuk memperhatikan dan bermain ponsel.
"Samchon,"panggil Bongbong membuat pria itu menoleh.
"Kenapa bong?"
"Samchon sama eonni tahu nggak kalau bentar lagi itu ulang tahun aku sama Bonbon?" Tanya Bongbong.
Mendengar pertanyaan itu membuat keduanya menggeleng. Mereka belum tahu dan juga tadi malam saya ujian tidak sempat mengatakan kepada besok mengenai ulang tahun si kembar. Meski jawaban yang diterima tidak sesuai dengan harapannya Bongbong tetap tersenyum. Tentu saja ia kini semakin antusias untuk memberitahu sendiri mengenai jarak usia yang akan ia dapatkan setelah melalui ulang tahun pertamanya sebagai squnoid.
"Kalian udah satu tahun. Enggak terasa waktu cepat banget kayaknya baru kemarin kalian keluar dari dalam telur." Heosok mengucapkan kemudian mengusap kepala gadis telur di hadapannya.
"Bukan ulang tahun yang pertama tapi ke-25 dan itu adalah usia squinoid."
"NDE?!" Tentu saja jawaban yang diterima membuat kedua orang yang berada di sana terkejut. Karena jarak usia ulang tahun yang begitu jauh.
Bongbong menjelaskan kepada Mimin dan Heosok mengenai perhitungan usia squinoid seperti dirinya dan Bonbon. Biasanya sama seperti apa yang dijelaskan saudara kembarnya kepada seo jin malam itu. Mendengar penjelasan bungbung membuat Heosok dan Mimin menganggukkan kepala saja sejak tadi meskipun di dalam pikiran mereka tetap merasa kebingungan dan juga takjub.
"Oke deh kalau begitu Kamu mau hadiah apa?" tanya Heosok.
"Rumah," Bongbong menjawab cepat.
"NDE?!" Rasanya hari ini Heosok sedikit menyesal karena bertanya kepada Bongbong tentang hadiah yang inginkan.
"Iya Samchon Aku pengen banget hadiah rumah untuk kelinci aku karena kemarin Appa beliin aku kelinci 2 dan dia nggak punya rumah." Bongbong menjelaskan dengan wajah yang memelas.
Mendengar penjelasan dari Bongbong membuat Minmin dan Heosok bernapas lega. Ternyata rumah yang ada di dalam pikiran mereka berbeda dengan apa yang ada di pikiran Bongbong.
"Oke kalau gitu aku beliin yang bagus buat kamu." Heosok berjanji.
Mendengar janji yang diberikan membuat Bombong merasa senang. Tentu saja ia membayangkan kedua kelinci miliknya mempunyai rumah baru yang bisa ditempati dan lebih layak selain kandang kecil yang kini menjadi tempat tinggal mereka.