Tae dan Soogi akhirnya kemarin berhasil mendaftarkan pernikahan mereka berdua. Meski harus melewati banyak drama karena mereka harus menghindari wartawan dan juga para penggemar. Dokumen-dokumen keabsahan pernikahan keduanya akan selesai sekitar dua minggu lagi. Namun tentu saja mereka berdua sebenarnya sudah sah sebagai suami istri saat ini. Hanya tinggal menunggu dokumen selesai dibuat.
Setelah selesai menandatangani dan mengurus semua berkas pria dengan senyum kotak itu pulang ke rumah dengan status barunya sebagai seorang suami dan ayah. Tentu saja hari ini adalah salah satu hal yang ia inginkan sejak dulu menjadi seorang ayah. Tae sangat menyukai anak kecil ia juga pandai merawat anak-anak terlatih menjaga kedua adiknya. Sebelum ia debut menjadi seorang Idol orang tua Tae memiliki perkebunan strawberry. Jika saat itu Tae tidak debut menjadi member BTL mungkin ia kini telah menjadi seorang petani yang sukses mengelola kebun strawberrynya. Bahkan sampai saat ini kebun strawberry itu masih diurus dan diawasi oleh kedua orang tuanya.
Pagi ini di kamar sepasang pengantin baru tengah tidur terlelap. Siapa lagi kalau bukan Tae dan Soogi. Sang istri tidur menyamping berpelukan dengan sang suami Tae memeluk Soogi erat. Saat itu perlahan wanita yang kini tengah mengandung 7 bulan itu membuka matanya kemudian ia sedikit terkejut melihat pria yang kini ada tidur di sampingnya. Soogi kemudian mendorong tubuh Tae hingga pria itu terkejut dan segera berdiri. Tae berpikir jika ada sesuatu yang mengancam maka kini ia berdiri dengan ancang-ancang siap memukul.
"Ada apa? Ada apa?" Tae bertanya panik.
Sementara saat ini Soogi masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Biasanya saat ia terbangun yang terlihat di samping kanan dan kirinya adalah buku atau anak perempuannya. Kini dia cukup terkejut ketika mendapati suaminya yang tidur di sampingnya. Soogi lupa kalau kemarin lihat telah mendaftarkan pernikahan dan kini iya telah sah menjadi istri seorang Taetae member BTL.
"Hehehe, aku lupa kalau kamu sekarang suami aku. Makanya aku tadi kaget begitu lihat kamu tidur di samping aku."
Tae merasa lega karena tak ada sesuatu yang mengancam sang istri. Meski ia merasa kesal karena terkejut didorong oleh Soogi. Tae kemudian berjalan mendekat ia kembali rebah di tempat tidur dan mengajak sang istri untuk kembali terlelap karena kemarin rasanya begitu melelahkan.
"Kalau gitu lebih baik kita tidur lagi deh. Kemarin itu hari yang bikin capek banget kayaknya kamu itu butuh lebih banyak istirahat juga." Tae berucap lalu menarik dengan lembut sang istri ke dalam pelukannya.
Soogi menurut dia juga masih merasakan kantuk. Baru saja mau memajangkan mata Ya kembali membuka matanya dan menatap sama suami. "Reya baik-baik aja kan?"
"Aku belum tahu lagi kabar terbarunya dan Hyung sama sekali belum ngabarin aku." Jawab Tae.
"Coba kamu buka HP kamu dari kemarin kan kamu belum buka-buka HP gara-gara takut wartawan yang hubungin kamu." Soogi minta pada sang suami dia berharap bahwa Yunki memberitahunya tentang keadaan sahabatnya.
Tae menuruti permintaan sang istri ia kemudian bergerak menuju nafas mengambil ponsel yang sejak semalam ia letakkan di sana. Pri itu kemudian membuka ponsel mau ngecek apakah mendapatkan pesan dari Yunki. Sementara Soogi memperhatikannya.
Benar saja semalam si bocah pernah mengirimkan ke pesan kepada Tae untuk mengabarkan pada Soogi bahwa Reya baik-baik saja dan telah melahirkan anak laki-laki yang sehat. Tae tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada sang istri yang memberikan ponsel miliknya kepada Soogi untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh Yunki.
Soogi membaca pesan harapannya menunjukkan bahwa ia benar-benar lega dan berbahagia Reya dalam keadaan sehat juga bayi yang lahir dengan selamat. Soogi mengembalikan ponsel milik sang suami kemudian memeluk erat suaminya itu untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
"Aku seneng kalau Reya dan bayinya baik-baik aja. Aku harap bisa cepat kembali dan berkumpul sama kita lagi di sini meski suasananya akan sedikit berbeda," ucap Soogi berharap.
"Aku juga berharap kayak gitu, tapi aku malah berpikir kalau mungkin Reya butuh waktu untuk lebih lama menenangkan dirinya. Kayaknya lebih baik kalau dia menjauhi Jimmy untuk sementara waktu. Ibu yang baru melahirkan itu punya hormon yang gak bagus dia pasti akan terluka banget kalau ingat lagi Bagaimana Jimmy yang nggak menginginkan kehamilannya. Karena jujur sebagai laki-laki pun aku merasa kecewa berat dengan apa yang dikatakan Jimmy waktu itu." Tae mengatakan mengungkapkan kekecewaannya yang telah lama ia sembunyikan di dalam hati. Bahkan ia harus tetap bersikap baik kepada Jimmy untuk menjaga kebersamaan BTL.
Soogi menatap sang suami kemudian memeluknya lagi. Sungguh ia benar-benar bersyukur karena pria di hadapannya kini mau bertanggung jawab dan juga kini telah menjadi satu-satunya pria dalam hidupnya yang akan ia percayai untuk menjaga dirinya dan kedua anaknya kelak.
"Aku merasa senang banget karena kamu berbeda sama Jimmy. Seenggaknya aku nggak akan sehancur Reya. Dan seharusnya aku nggak akan sehancur itu karena memang dari awal hubungan kita itu terjadi atas dasar ketidaksengajaan. Beda banget sama Jimmy dan Reya. Itu alasan kenapa dia sakit hati banget sampai akhirnya memilih buat ninggalin Jimmy. Ya mungkin emang bener apa yang sering orang katakan bahwa orang yang paling kita cintai adalah orang yang paling bisa membuat kita hancur hancur hancurnya. Jujur kadang aku ngerasa nggak enak sama Reya, karena dengan keadaan yang sama tapi berakhir dengan cara yang berbeda." Soogi mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Tae mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang istri sambil menggenggam erat tangan Soogi. "Kamu ngomong kayak gitu sama orang itu punya jalan hidup masing-masing. Dan aku yakin bahwa Reya itu sedang membangun dirinya untuk jadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat. Percaya deh saat dia kembali nanti dia pasti akan jadi perempuan yang berbeda. Karena dia punya hal yang ini jadi tujuan hidup dan kekuatannya. Yaitu bayi kecilnya."
Soogi anggukan kepala Iya satu lagi dengan apa yang dikatakan oleh Tae. Jujur yang merasa bahwa pria disamping yakini benar-benar sudah menjadi seorang pria yang dewasa dan berpikiran bijak. Meskipun masih sering sekali melakukan banyak hal aneh. Justru itu yang membuatnya semakin menyayangi Tae.
***
Pagi ini Reya sudah terbangun ia bersemangat sekali untuk melihat buah hatinya yang akan dibawa ke kamar. Semalam ia begitu mengantuk hingga tak bisa terbangun saat bayi kecilnya dibawa ke dalam ruang rawatnya. Perawatan karya kembali membawa hyunjin ke dalam kamar bayi alasan ibu yang tertidur lelap akibat efek bius.
Sementara itu Bibi Ma juga duduk di samping Reya. Iya tadi membantu ibu muda itu untuk membersihkan diri dan juga mengganti pakaiannya agar lebih rapi saat bertemu dengan bayi kecilnya nanti.
Suara roda di lorong terdengar senyum mengembang di bibir Reya. Sebenarnya ia telah melihat foto aja buah hatinya dari ponsel Bibi Ma. Hanya saja pasti akan terasa berbeda jika ia menyentuh hatinya itu secara langsung.
Saat itu pintu terbuka perawat menyapa dengan ramah sambil membawa dorongan berisi bayi mungil yang berjalan semakin mendekat saya menatap dengan antusias hatinya berbunga-bunga dan jantungnya berdebar hebat. Kini bayi tetap berada di hadapannya dan sang perawat mengarahkan sang bayi untuk digendong ke dalam pelukan sang ibu.
Reya cinta bisa menahan air matanya ia melihat bayi kecilnya begitu cantik bagaikan malaikat. Hatinya menghangatkan air mata menetes begitu saja. Selama 9 bulan ternyata makhluk kecil yang indah ini yang menempati rahimnya. Kulit bayi itu merah, dengan mata yang sipit dan rambut yang lebat bibir tebalnya mengecap merasakan lapar.
"Ibu bisa coba menyusui ya," ucap perawat meminta agar sang ibu menyusui buah hatinya.
Dengan telaten perawat dan Bibi Ma membantu ibu muda itu untuk menyusui bahagia pertama kalinya. Meski awalnya sedikit sulit tapi Hyunjin bisa melakukannya dengan baik.
"Pinternya," puji Bibi Ma.
Reya seorang merasa jatuh cinta sejak tadi ia tak mengalihkan pandangannya dari hyunjin. Bayi itu juga merespon sang ibu dengan baik tangannya menggapai-gapai kemudian reuz membiarkan hyunjin menggenggam jari telunjuknya. Reya antusias semua hal yang dilakukan bayi itu menjadi hal yang istimewa hari ini. Iya menghitung satu demi satu jari tangan, kemudian melihat jari kaki, menyentuh pipi hyunjin dengan jari telunjuknya dengan perlahan karena takut akan melukainya. Tatapan matanya sejak tadi berbinar, silahkan ocehan kecil yang keluar dari bibir mungil itu menjadi hal yang sangat istimewa dan ingin sekali ia abadikan.
"Kenapa kamu jadi diam aja Reya?" Tanya bibi Ma.
Real menoleh menatap bibi ma dengan mata yang berkaca-kaca. "Rasanya mau nangis Bi malah nggak bisa ngomong apa-apa."
Bibi Ma memeluk seraya mengusap-usap punggung Reya. "Selamat Reya, kamu saat ini sudah menjadi seorang ibu. Ke depannya mungkin akan semakin berat. Tapi jangan khawatir masih banyak orang yang sayang sama kamu dan siap untuk membantu kamu oke?"
Reya mengangguk, "Terima kasih Bi."
Wanita yang kini berambut pendek itu sangat menikmati waktunya bersama Hyunjin. Makan setelah bayi kecil itu terhadap ia tak membiarkan hyunjin untuk tidur kembali di tempat tidur yang disediakan untuk bayi. Reya daftar namaku bayinya ia masih saja menatap wajah Hyunjin. Sampai ia teringat sesuatu dan mengambil ponsel miliknya. Reya kemudian menghubungi Soogi dengan nomor barunya.
"Reya!" Panggilannya langsung diangkat oleh Soogi.
Reya terkekeh, "Ya eonni aku kaget dengar kamu teriak begitu."
"Kamu kemarin bikin aku takut banget sekarang keadaan kamu kayak gimana?* Soogi bertanya wanita itu berpura-pura dan mengetahui kabar tentang kelahiran Putra pertama Reya.
"Aku kemarin takut banget karena ketuban aku udah pecah dan Dokter bilang harus segera dilakukan operasi caesar. Dan di sini lagi nggak ada siapa-siapa jadi aku kepikiran buat telepon kamu. maaf ya kalau udah bikin cemas." Reya merasa bersalah.
"Nggak apa-apa aku jadi tahu gimana keadaan kamu dan aku juga tahu kalau kamu mau melahirkan gimana sehat kan semuanya?"
"Sehat Eon. Anak aku laki-laki aku kasih nama dia Hyunjin. Aku dan bayiku sehat Jadi kamu jangan cemas. Dan ini nomor aku Aku harap cuman kamu yang tahu nomor ini please jangan kasih tahu nomor ini kamu member lain apalagi 'dia'. Hmm?" Reya minta agar sahabatnya itu tak memberikan nomornya kepada yang lain apalagi Jimmy. Saat ini Reya benar-benar tak ingin menemui pria itu karena memikirkannya saja membuat dia sakit hati.
"Kamu tenang aja aku nggak akan kasih tahu nomor kamu ini ke siapa-siapa. Yang paling penting adalah kita jangan sampai lost contact. Aku mau memastikan sama kamu sehat dan bayi kamu juga. Aku juga mau kalau ada apa-apa kamu segera hubungi aku. Ngerti?" Soogi berpesan.
"Iya,oke eonni." Reya menjawab dan kini suaranya sudah terdengar lebih baik dan itu membuat perasaan sahabatnya Soogi juga lebih tenang mendengar sahutan riang dari Reya.