Noid 57

1443 Kata
Musik bergema di ruangan, saat ini Minmin, Jeon-gu, Heosok dan Bongbong tengah menari. Minmin bisa menari meski gerakannya tak bertenaga. Itu salah satu alasan di samping alasan utamanya adalah kesehatan. Sejak kecil gadis itu mudah kelelahan sehingga sering sekali sakit. Maka kedua orang tuanya sedikit tak tega membiarkan ia bekerja keras. Apalagi Minmin adalah anak satu-satunya. Hanya saja belakangan sejak ia membantu di dorm, Minmin menjadi jarang sakit. Ia baik-baik saja setahun belakangan padahal biasanya sebulan sekali ia selalu merasa tak enak badan, demam, pusing atau sakit pencernaan. Sepertinya, berkumpul dengan orang-orang tampan bisa menaikan kadar imunitas tubuh. terbukti dari Minmin yang merasakan khasiatnya. Gerakan Heosok dan jeongu begitu tegas. Meskipun keduanya t lagi muda, tapi mereka tetap bisa bergerak dengan luwes dan penuh tenaga. Berbeda dengan Minmin dan Bongbong yang menari dengan ala kadarnya. Hanya saja Bongbong sudah sedikit lebih baik daripada Minmin hanya dengan beberapa kali latihan. Ya, bisa dimaklumi karena bongbong adalah anak squishy ajaib yang punya kemampuan menyerap informasi lebih cepat. Musik terhenti kemudian semuanya berjalan ke sudut ruangan. Minmin terengah-engah padahal ia hanya satu kali ikut. Melihat sang kekasih yang kelelahan, Jeon segera berlari menuju meja yang berada di sudut yang berseberangan mengambil air mineral yang tadi ia bawa saat berjalan ke sini. "Minum dulu kamu nih," ucap Jeon sambil memberikan air mineral pada Minmin. "terima kasih oppa," ucap Minmin segera meneguk minumannya. 'Lurusin kakinya kalau habis gerak,' Heosok mengingatkan membuat Bongbong dan Minmin segera meluruskan kaki mereka. Merasa haus bongbong mengambil minuman untuknya dan Heosok. Ia memberikan pada sang paman. "Terima kasih," ucap Heosok. Bongbong menganggukan kepala. lalu duduk bersandar dan meneguk minumannya. "Kalau umur kamu besok 25 tahun, kamu jangan manggil kita paman dong Bong.'' Jeon memberikan saran pada Bongbong. "Terus aku manggilnya apa?" tanya Bongbong sambil menatap Jeon-gu bingung. "Sama kaya Minmin, karena usia kalian jadi beda sedikit. kamu manggil aku dan yang lain oppa," jawab member paling muda itu. Heosok mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Jeon. "Iya kamu manggil kita oppa." "Oppa?" Bongbong bertanya bingung. "Nde, oppa. Karena usia kita udah lebih dekat sekarang. Aku dan yang lain kan nantinya enggak akan terlalu jauh usianya sama kamu dan Bonbon." Heosok menjelaskan karena ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jeon-gu. tentu saja akan terasa aneh jika kedua kembar itu memanggil para member dengan sebutan ayah atau paman. "oke, oke aku ngerti." Bongbong mengangguka kepala yakin kalau ia sudah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeon dan heosok. "coba panggil kalau gitu." Minmin meminta agar Bongbong mencoba memanggil keduanya dengan sebutan oppa. "Jeon-gu oppa," sapanya sambil melambaikan tangan ke arah Jeon-gu. "Heosok oppa,' kini ia menyapa Heosok. kemudian ia melirik ke arah Minmin. "Minmin oppa, annyeong," sapanya meledek Minmin. Tentu saja apa yang dilakukan Bongbong membuat Jeon dan Heosok tertawa terbahak-bahak. sementara Minmin menatap dengan kesal karena Bongbong memanggilnya dengan sebutan oppa. "Bercada Eonni," ucap Bongbong kemudian memeluk Minmin. Saat Bongbong memeluknya, minmin melihat banyak luka suntikan dan beberapa lukas sayatan di tangan Bongbong. Minmin mengambil tangan Bongbong kemudian mempmerhatikan itu. Ia lalu menatap pada Bongbong yang sedang menatap ke arahnya. "Ini apa Bong?" tana Minmin. "Ah, ini waktu di jepang aku disuntik setiap hari, terus diambil darah, juga ada beberapa sayatan." Bongbong menjelaskan kemudian tersenyum. Berbeda dengan Bonbon yang merasa tersakiti dengan itu semua justru Bongbong merasa biasa saja. Meski Bongbong terlihat biasa saja, tapi tentu saja ketiga orang yang ada bersamanya kini tak baik-baik saja mendengar apa yang diceritakan bongbong. Mereka membayangkan apa yang dialami gadis itu selama di jepang meski dalam hati mereka sadar kalau Bongbong adalah manusia buatan. "Sakit banget ya?" tanya Heosok. Bongbong gelengkan kepala. "kata Appa, ini adalah ketentuan buat aku sama Bonbon sebagai manusia buatan yang mungkin nantinya akan membantu manusia supaya engak merasa kesepian. Yang sering ngerasa sakit itu Bonbon, efek obat yang dikasih selalu berbeda. Kata appa karena ada perbedaan gen yang ditambahkan.' jela bongbong. "Aku berharap kalian berdua baik-baik aja," ucap Heosok kemudian diikuti anggukan oleh Minmin dan Jeon-gu. "Tenang aku sama Bonbon pasti baik-baik aja." Bongbong berucap Riang meski wajahnya jarang menunjukan senyum, Bongbong adalah gadis yang periang. "Hmm, oke gimana kalau kita makan pzza?" tawar Heosok. "Mau!" seru semua kompak tentu saja tak akan ada yang menolak pizza. "Oke." pria itu lalu mengeluarkan ponsel miliknya untuk segera memesan pizza yang akan dimakan bersama yang lain. *** Siang ini adalah pertama kalinya Soogi dan Tae menghabiskan waktu berdua di rumah. Soogi kini tengah sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan siang. Rumah besar itu terasa sedikit sepi karena hanya ada dua orang yang tinggal. Biasanya kan ada Jijji, yang sibuk dengan kegiatan bermain biola atau piano dan juga bertanya tentang tugas sekolahnya. Segala perlengkapan musik milik Jijji sudah dibawa dan diletakkan di kamarnya yang berada di lantai dua. Tae sendiri yang mendesain kamar untuk putrinya itu dibuat dengan nuansa soft pink dan putih. Tempat tidur Jijji menggunakan berbentuk bulat, dengan penutup kain tile putih yang sebagai kaitannya ada sebuah mahkota di atas tempat tidur, lalu di depannya ada meja rias dengan nuansa putih dan pink juga yang bersebelahan dengan meja belajar yang sengaja dengan ruangan itu. Kamar didesain secantik mungkin agar Jijji menjadi betah dan mau tinggal di sana. Tae ikut juga sibuk membantu sang istri memotong-motong sayuran dan juga daging ayam untuk dimasak sup. Meski beberapa kali mendapatkan teguran dari Soogi karena bentuk potongan sayurnya yang buruk. Tae memang tak bisa memasak sejak ia tinggal di apartemen bersama member BTL ia sama sekali tak pernah menyentuh peralatan dapur. Namun, kali ini berbeda ia bersedia turun tangan langsung untuk membantu sang istri yang kini tengah mengandung agar tak kelelahan. "Ini motongnya kayak gini kan wortelnya?" Tanyanya sambil menoleh ke arah Soogi yang kini tengah mempersiapkan kaldu. Soogi anggukan kepala meskipun bentuknya berantakan tapi ia menghargai usaha Tae. Lagi pula percuma jika ia meminta suaminya itu untuk melakukannya lebih baik karena semua wortel sudah ia potong habis. "Ya mau bentuknya kayak gimana Kalau udah masuk perut juga sama aja." Soogi berkata kemudian kembali mengaduk kaldu di hadapannya. "Aish, padahal aku tanya beneran." Tae merasa kesal setelah mendengar ucapan istrinya barusan Soogi menoleh lalu terkekeh merasa gemas karena Tae yang marah dan kini membencik. Ia lalu berjalan mendekat dan mencubit pipi suaminya itu. "Iya aku mau minta kamu koreksi potongan wortel itu juga percuma karena semua bahwa kamu potong habis tahu nggak sih?" Tae lalu menatap pada potongan wortel di hadapannya dan memang tak tersisa satupun wortel yang masih utuh. "Hehehe, iya juga. Itu kaldunya udah matang atau belum?" "Udah tinggal di masukin sayuran aja," jawab Soogi. "Ya udah kalau gitu kamu duduk aja biar aku yang nungguin sampai matang." "Kita duduk bareng sambil nunggu," ajak Soogi kemudian menggandeng tangan Tae menuju meja makan dan duduk bersama untuk menunggu sup ayam buatan mereka yang mereka masak untuk makan siang. "Aku senang akhirnya Reya hubungin kita," ucap Soogi yang juga dijawab dengan anggukan oleh Tae. "Aku juga senang dengar kabar dia baik-baik aja dan juga dia tinggal sama orang yang sayang dan perhatian sama dia. Tentu aja dia butuh itu apalagi baru aja melahirkan hormonnya nggak bagus moodnya pasti berantakan," kata Tae. Dalam hati sebenarnya yang merasa iba juga dengan Reya. Setiap kali memikirkan temannya itu membuat ia begitu kesal pada Jimmy. Karena tak bisa bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan. "Kamu harus ingat apa yang dia bilang. Kita harus ngerahasiain nomor teleponnya dan nggak mengatakan apapun tentang Reya sama orang lain." Soogi mengingatkan sang suami. Mendengar apa yang dikatakan sang istri membuat Tae menganggukkan kepalanya tentu saja ia tak akan memberitahu di mana saat ini Reya berada karena ia telah berjanji pada Soogi untuk tetap menjaga rahasia keberadaan Reya. "Gimana kalau besok kita jemput Jijji?" Tanya Tae. "Apa udah aman ya? Aku takut kalau dia dijemput dan situasi masih kayak gini moodnya akan berantakan lagi." Tentu saja sebenarnya di dalam hati Soogi itu merindukan si sulung. Dan ingin segera menjemputnya untuk segera kembali pulang. Namun Ia juga merasa dilema karena Jijji benar-benar merasa kesel setiap kali ada wartawan yang mencuri-curi kesempatan untuk mengambil gambar dirinya atau Soogi. "Aku rasa udah aman. Kalau nggak kita lihat situasinya besok kalau emang besok udah nggak ada wartawan di depan rumah kita atau sekitar sini kita bisa jemput Jijji. Atau gimana kalau kita berlibur aja? Kita bisa lebih lama tinggal di rumah Ayah kayaknya akan menyenangkan kalau selama aku libur kita tinggal di sana," kaya Tae. Soogi setuju ya kemudian menganggukan kepalanya. Rasanya sudah lama juga ya tak berkunjung ke kampung halamannya. Terakhir kali Satria ingin menemui kedua orang tuanya dan orang tua dari Tae untuk membicarakan mengenai pernikahan mereka berdua. Dengan situasi yang tak kondusif akibat kejaran wartawan dan juga para penggemar. Menyebabkan keduanya harus bergegas kembali ke Seoul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN