Noid 50

1012 Kata
Saat ini semua member BTL telah sibuk dengan kegiatan pagi mereka masing-masing. Heosok dan Namjun tengah sibuk di ruang tengah membaca artikel dari ponsel mereka. Jeon-gu, Tae dan Jimmy saat ini berada di dapur dan duduk menunggu sarapan. Sementara Seojin masih berada di kamar sibuk dengan ponsel dan bermain game dan Yunki baru saka selesai mandi kini tengah mengeringkan rambutnya dan duduk di tepi tempat tidur. Sementara itu si kembar kini sedang membuat sarapan pagi. Mereka berdua membuat bersama Minmin. Gadis itu kini tengah sibuk mengupas tomat yang akan dimasak oleh si kembar. Menu hari ini adalah tomat yang akan ditumis dengan daging cincang, nasi yang telah dibumbui oleh minyak wijen dan juga rumput laut, juga omelet telur dan kimchi lobak yang akan dijadikan sebagai pelengkap sarapan pagi mereka. "Eonni, kamu jangan cuman memotong tomat. Coba dilihat kita masak menu andalannya eonni Soogi. Katanya menu ini sehat banget loh, kamu bisa masak ini buat samchon jeon," kata Bonbon menasehati Mimin. Sementara itu main-main tak bergeming Ia tetap saja fokus menatap pisau yang bergerak untuk memotong tomat dan mengeluarkan Biji tomat. Melihat min-min yang cuek membuat pompong menjadi gemas. "Padahal kita ngasih tahu yang bener tapi eonni diam aja." Bongbong berkata kesal diikuti iringan anggukkan saudara kembarnya. Melihat itu Minmin menoleh Iya lalu menatapi kembar dengan tatapan kesal. Karena kedua squnoid itu terus saja meledek tentang kemampuan masaknya. "Iya aku diam soalnya aku kesel sama kalian karena kalian itu cerewet banget. Kalian dengarkan kemarin? Kalau samchon Jeon-gu bilang kalau dia akan tetap sayang sama aku meskipun aku nggak bisa masak." Gadis berambut panjang itu coba mengingatkan apa yang kasihnya katakan bahwa ia tak mempermasalahkan tentang kemampuan dalam memasak. "Iya memang aku tahu kalau samchon sayang banget sama kamu eon. Kita ngomong kayak gini kan cuman karena pengen kamu marah aja." Bongbong mengakui mengapa ia sering sekali membuat Minmin kesal. Mendengar apa yang dikatakan saudara kembarnya membuat Bonbon terkekeh soalnya ia mengajak ber hi-five. Tentu saja hal itu membuat Mimin merasa begitu kesal. Minmin kemudian meletakkan pisaunya dan meninggalkan tomat yang belum seluruhnya ia potong tergeletak di atas meja dapur. Gadis itu berjalan menuju meja makan kemudian duduk di samping kekasihnya. Melihat Mimin yang tengah kesal membuat Jeon-gu menoleh kemudian ia membelai kepala kekasihnya itu dengan lembut. "Kenapa sih marah-marah aja?" Tanya Jeon-gu. "Aku sebel banget sama si kembar mereka ternyata sengaja bikin aku kesel dengan nyuruh-nyuruh aku supaya belajar masak." Minmin mengatakan itu kepada Jeon-gu. Mendengar apa yang Minmin membuat Jeon-gu terkekeh. 'jangan terlalu ambil hati lah mereka kan cuman anak-anak." Jeon-gu coba membuat kekasihnya itu tak merasa kesal. Tapi tentu saja salah gadis itu sudah terlanjur kesal karena merasa dipermainkan oleh gadis-gadis squinoid itu. Saat Jeon-gu sedang sibuk untuk membujuk sang kekasih tiba-tiba terdengar bel pintu. Tae segera berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu. "Siapa ke sini pagi-pagi?" Gumam Jeon-gu. "Yang suka ke sini pagi-pagi ya cuma eonni Reya sama Soogi." Minmin menjawab. Mendengar apa yang dikatakan min-min barusan membuat Jimmy segera bangkit dan berdiri berjalan cepat menuju pintu. *** Sementara pagi ini Reya, tengah duduk untuk menunggu sarapan yang tengah dibuatkan oleh Bibi Ma. Belakangan ia tak bisa banyak bergerak karena kakinya yang mulai bengkak. Beruntung kondisi tubuhnya tak menurun banyak. Ia masih bisa berkegiatan hanya saja tak bisa terlalu banyak dan terlalu lama berdiri karena kakinya yang terasa sedikit ngilu dan nafasnya yang terengah-engah. Meski begitu yang paling penting adalah ia masih bisa makan dengan baik. Apalagi sang Bibi selalu memasakkan makanan yang sehat yang menjadi santapannya selama pagi, siang dan malam. Saat itu Bibi mah berjalan mendekat membawakan ikan panggang, sayur labu ya Iya masak dengan campuran kuah kimchi, omelet telur yang dicampur dengan sayuran dan juga potongan lokio dan yang terakhir yang selalu ada di meja makan masyarakat Korea adalah kimchi lobak segar. "Maaf ya Bi aku ngerepotin," ucap Reya tak enak. "Haish, jangan ngomong seperti itu Kamu udah banyak bantu ahreum dan Yuna. Bibi berterima kasih karena kamu mau memberikan pekerjaan buat kedua anakku itu." Bibi Ma mengucapkannya. "Aku ngebantu mereka karena mereka memang punya kemampuan yang bagus Bi bukan karena apa-apa." Reya mengatakan itu tak ingin sang bibi merasa tak enak. Bibi Ma menoleh dan tersenyum. "Aku tau kamu memang baik dari dulu. Hmm, Reya belakangan mobil yang biasa merhatiin kamu enggak ke sini?" Reya menganggukkan kepala, ia tahu sudah hampir sebulan ini yunki sama sekali tak datang untuk melihatnya tentu saja ia tahu alasan utamanya adalah jadwal BTL yang masih padat sampai akhir bulan ini. "Kayaknya dia memang lagi sibuk banget Bi." Bibi Ma mengangguk jelasnya mengerti bahwa setiap orang mempunyai kesibukan yang masing-masing. "Yang Bibi bingung kenapa kamu nggak mau menemui orang itu?" "Hmm, belum waktunya dan ... Aku rasa orang itu harus belajar untuk melupakan dan mencari seseorang yang lebih baik." Reya menjelaskan kemudian ia menyantap santapan paginya. Tentu saja Reya berharap bahwa yoonki bisa menemukan seseorang yang lebih baik daripada dirinya. Apalagi setelah apa yang ia lakukan pada Yunki dengan menolak perasaannya dan juga dengan statusnya saat ini yang menjadi seorang ibu tunggal. Jelas saja Gadis itu merasa tak layak untuk Yunki apalagi saat ini BTL benar-benar menjadi artis yang diidolakan banyak gadis dari seluruh dunia dan kalangan. Banyak yang lebih baik dan lebih layak dan itu bukan dirinya. Itu yang ada di pikiran Reya. Bibi Ma menatap Reya, ada rasa tak percaya diri dan juga rasa bersalah yang terlihat dari raut wajah Reya. Wanita paruh baya itu kemudian menggenggam tangan Reya. "Jangan merasa tak pantas hanya karena status kamu yang saat ini adalah seorang ibu tunggal. Enggak ada yang salah dengan itu. Setidaknya, kamu sudah memilih untuk mempertahankan janin dalam perut kamu itu. Padahal kamu punya kesempatan untuk menggugurkan. Jangan menyesali lagi yang sudah terjadi Reya, hmm?" Bibi Ma menasihati Reya agar tak terlalu menyalahkan dirinya atas apa yang ia alami. "sekarang tugas kamu adalah membahagiakan kamu dan anak itu." Reya menatap kandungannya yang semakin membesar. Ia mengusap perutnya dan tersenyum. "iya, terima kasih Bi. Aku akan rawat anakku dengan baik." "Sekarang makan, kita butuh banyak makan supaya sehat dan kuat," ajak bibi Ma. lalu siapakah yang mengetuk pintu dorm btl?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN