“Kemal-?!” Lianna terkejut melihat Kemal berdiri depan pintu rumahnya. Tatapan kedua mata dia sedikit heran sebab tumben sang anak kemari. Terakhir si anak menemui dia saat mau menikah sama Lotta. “Hai, Ma.” Kemal menyapa sang ibu, wajah dia tampak kecut, sebab selama lima tahun tidak mengunjungi si ibu. Hanya sesekali berkomunikasi melalui telpon. “Boleh Kemal masuk?” ditegur ibunya yang masih terheran dengan kedatangan dia. Lianna menganggukan kepala, menggeser diri memepet ke pintu dan membiarkan sang anak masuk ke dalam rumah. Saat dicerai, dia diberi rumah ini lengkap dengan perabotan, mobil dan café. Untuk café, karena dia membangun saat masih berstatus istri sah. Dari café itu lah dia menafkahi diri sendiri, tidak menuntut si anak menopangnya. Dia pun tahu kalau Rita memeras Kem

