Bab 8 Mengambil Semua Fasilitas

1668 Kata
Lotta mendekati single sofa, lantas mengambil dompet dari saku belakang celana panjang yang tergeletak di kursi empuk itu. Dia pun mengambil kunci mobil dari saku kanan depan celana itu. Kemal terkejut, gegas, mendekati sang istri, hendak merebut kedua barang itu, tapi cepat Lotta dengan satu tangan mendorong suaminya. “Lotta!” Kemal terpekik karena dorongan sang istri membuat dia terhempas ke sofa panjang. Lotta tidak memperdulikan pekikan itu, dilempar kunci mobil ke Billy. “Catching, Bill!” serunya minta sang sepupu menangkap kunci itu. Pria itu tanpa diminta memang cepat menangkap. “Thanks, Bill!” Lotta tersenyum, “Bill, loe minta Darno bawa mobil gue ke hangar pesawat Kak Martin!” lantas menurunkan perintah ke sepupunya. Kemal terkaget, segera berdiri, cepat menyambar lengan istrinya dan memutar tubuh sintal itu berhadapan dengan dia. “Kamu apa-apaan sih?” dihardik istrinya, “Itu mobilku, kenapa nyuruh Billy bawa ke hangar pesawat Kak Martin?” dia heran mengapa sang istri mengambil mobil dia. “Mobilmu?” Lotta menatap Kemal dengan sinis, “Hei, itu mobilku, karena Aku yang membelinya. Aku yang mencicil kreditan mobil itu.” Dijelaskan status mobil yang diklaim milik Kemal, “Kak Ruben mengirim mobil itu kemari, agar Aku bisa plesiran tanpa menyewa taksi. Tapia pa? Kamu pakai untuk urusanmu, meninggalkanku sendirian di hotel.” Tuturnya menyemburkan kekesalan semalam yang tidak tuntas, “Karena aku pulang ke Jakarta bersama Kak Martin, maka kubawa mobilku itu.” Kemal terhenyak, diamati istrinya yang berubah drastic. Mobil itu memang dibeli Lotta untuk memfasilitasi dia, tapi BPKB dan STNK atas nama sang istri sesuai instruksi Martin. Dia tidak masalah selama bisa memakai sesuka hati. Saat Mereka sampai di Singapura, Ruben bukan hanya mengirim yacht, juga mobil itu. Tujuannya agar Lotta tidak perlu menyewa kendaraan selama di negara Singa tersebut. Tapi ternyata yang memakai fasilitas mewah itu Kemal dan Siska. Lotta menghentak kasar tangan Kemal dari lengan dia, ditatap suaminya. “Jika-“ terdengar suara sang suami, “Kamu bawa pulang mobilmu, lantas aku di sini pakai kendaraan apa?” dipasang wajah memelas, berharap Lotta luluh dan membatalkan perintah membawa pulang mobil itu ke Jakarta. “Pakai taksi.” Lotta menyahut santai. “Pakai taksi?” Kemal terperangah, “Lotta yang benar saja! Apa kata klienku kalau mereka lihat Aku pakai taksi?” “Bilang saja kalau mobil dibawa pulang istri, karena itu mobil istri.” Kemal tercengang mendengar ini, “Lotta, klien tahu itu mobilku! Mukaku ditaruh di mana kalau aku mengatakan mobil itu punya Kamu?” “Mukamu tetap ditempatnya.” Lotta tersenyum tipis, “Belajarlah untuk menjadi dirimu sendiri, tidak berpura-pura hebat tapi pakai fasilitas istri!” imbuh dia menohok suaminya ini. Martin mengulum senyum, merasa ada gunanya dia dan Ruben sengaja mengirim yacht dan mobil ke Singapura ini, karena yakin pasti Kemal yang memakai untuk bersenang-senang sama Siska. Mereka pun sudah feeling Billy akan membawa Lotta memergoki pasangan hina itu bermesraan dalam bath tub, karena Dibyo, mata-mata Martin melihat Billy memergoki Kemal membawa Siska ke kamar lain saat launching HC Hospital cabang Singapura. Sekarang, kedua mata Lotta terbuka dan mengambil semua miliknya dari Kemal. Untuk apa membiarkan miliknya dinikmati sang suami dan pelakor? “Kamu-!” Kemal mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke depan wajah Lotta, “Sudah berani kurangajar ke suami, hmm?” “Aku kurangajar?” Lotta mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke hadapan muka suaminya, “Aku mengajarimu untuk menjadi dirimu sendiri. Kamu tidak punya mobil, maka jangan pakai mobil istrimu. Kamu tidak perlu malu tidak ada kendaraan pribadi menemui klienmu, karena Kamu menunjukan diri masih merintis bisnis.” Kemal mendengar ini hendak melayangkan satu tamparan, tapi cepat ditangkap tangan Martin. Lantas melihat kedua mata kakak ipar memandang dengan tajam. Dia menghela napas sambil menghentak tangannya yang dipegang sang ipar. Martin tersenyum tipis, kembali mundur ke sisi Billy. Lotta mendengus, cepat mengambil semua kartu sakti dari dompet Kemal, hanya disisakan satu kartu yang adalah milik pribadi suaminya, karena dia menemani sang suami saat membuka rekening kartu tersebut. “Billy!” kembali dipanggil Billy. Billy segera mendekatinya. Lotta langsung menyodorkan semua kartu itu, “Tolong pegang sama loe dan jangan pernah loe kasih ke dia, meski hanya satu kartu saja.” Billy cepat mengambil empat kartu itu yang termasuk black card dan semuanya milik Lotta. Kemal terkaget, hendak merebut kembali semua kartu itu, tapi dihalangi Martin. “Lotta!” serunya dengan suara kesal, “Kamu apa-apaan sih? Kenapa mengambil semua kartuku?” “Karena itu milikku.” Lotta menyahut santai. “Lotta, gimana Aku mengirim uang untuk mama dan adikku?” “Transfer saja lewat rekening pribadimu.” Lotta memberi jawaban sambil mengoprok celana panjang ke tangan Kemal, “Aku tidak mengambil kartumu, masih ada dalam card holder dompetmu.” Dia tersenyum manis, lantas mendekati tas sandangnya yang diletakan di atas koper, diambil dompet dia dari sana dan menghitung sejenak uang tunai dalam slot dompet, baru dimasukan dua lembar seratus Dollar Singapura ke dalam dompet suaminya, setelah itu kembali ke hadapan sang suami yang sudah dilepas Martin. Ditaruh dompet ke tangan suaminya. “Dalam dompetmu ada sedikit sanggu dariku.” Lotta menatap Kemal dengan senyum tipis, “Cukup untuk bayar taksi ke Bandara dan beli sarapanmu.” Kemal segera mengecek slot dompetnya, lantas tercengang sebab Lotta hanya memberinya dua ratus Dollar Singapura, lalu memandang istrinya. “Lotta!” ditegur si istri, “Mengapa hanya dua ratus Dollar? Mana cukup?” “Masih bagus kukasih sanggu.” Lotta menyahut, “Karena Kamu harus beli tiket pesawat ke Jakarta dengan kartumu kan?” Kemal terperangah, mengapa menjadi seperti ini keadaan dia? Apakah Lotta semarah itu dia meminta dikirim tambahan uang ke Black Card? Dia masih belum menyadari perselingkuhan terlah diketahui sang istri dan hati istrinya hancur sehingga mengambil semua fasilitas dari si istri. “Lotta!” kembali memanggil sang istri, “Kamu marah karena Aku minta tambahan uang ke black card Kamu? Jangan gini dong! Ini kekanak-kanakan! Masa Kamu ambil isi dompetku dan mobilku?” “Sudah-“ Lotta mengangkat satu tangan ke atas, “Aku tidak mau berdebat lagi!” disenyumin sang suami, “Aku mau pulang ke Jakarta.” Diamit lengan Martin, “Ayuk Kak.” Diajak si kakak, “Lotta pengen cepet pulang.” Martin menganggukan kepala, lantas menepuk sekali pundak Kemal. “Kamu sabar ya.” Dia meminta sang ipar sabar, “Kamu masih ada K-Har Desainer kan?” Disindir iparnya dengan halus tapi terasa tajam. “Kamu kepala keluarga, tugasmu menafkahi Lotta istrimu.” Imbuh dia dengan tegas. Setelah itu membawa Lotta pergi sambil menggeret satu troli berisi travel bag si adik. Billy mengekor di belakang dengan menarik troli lain dan menyandang tas istri Kemal itu. Kemal terperangah melihat kepergian Lotta, tidak mengerti apa yang terjadi saat ini, mengapa sikap sang istri aneh. Setelah istri dan kedua saudara istri tidak lagi terlihat, dilihat isi dompet ditangan, lantas mengusap kasar kepala. “Argh!” jeritnya kesal, “Gimana Aku sekarang ke Siska?” dia tidak ada harta saat ini untuk membiayai masa honeymoon bikin anak sama Siska. *** Harlan dari depan pintu kabin belakang mobil Jaguarnya melihat kedatangan jip Mercy milik Martin yang dikawal dua jip ajudan. Sebelum ini dia melihat mobil milik Lotta yang dipakai Kemal berhura-hura sama Siska dinaikan ke dalam hangar pesawat jet luxury milik kakak sulung Lotta itu. Dia masih mengutit Lotta sebab alat chip tersebut masih menempel di perhiasan perempuan itu. Wajah dia tampak puas karena Lotta menghajar Kemal dengan telak. Dia pun teringat saat Siska masuk ke jebakannya semalam, dimana meniduri istrinya yang tidak lagi memakai kontrasepsi sejak berpacaran sama Kemal. Sang istri yang dalam pengaruh obat perangsang, merespon gairah liarnya, sehingga dia yakin dalam waktu singkat pasti benihnya berada dalam rahim si istri. Dari dokter Wijaya, dia tahu s****a Kemal sangat lemah, sehingga setahun menggauli Siska, pelakor itu belum juga hamil. Sedangkan Siska sudah tidak sabar ingin menghancurkan Lotta dengan kehamilan. Sementara dia, pejantan subur dan kalau saja selama mereka menikah inginkan anak, pasti dapat. Kedua manik indah Harlan masih mengamati rombongan Martin yang kini mulai naik satu persatu ke dalam hangar pesawat dipandu para petugas burung besi tersebut. Setelah ketiga mobil berada dalam pesawat, pintu baja perlahan naik ke atas dan menutup buntut burung bermesin itu. Lantas datang Dave, mendekati tuan muda billionaire tersebut. “Tuan muda.” Ditegur si bos. “Sudah selesaikah urusanmu?” Harlan menoleh sejenak ke asisten ini. “Sudah, tuan.” Dave menganggukan kepala, “Saya sudah memberikan Surat Gugat Cerai yang diminta Nyonya dari Anda ke beliau.” Dijelaskan apa yang dikerjakan, “Lantas sudah memberikan kunci unit room apartment, kunci mobil dan menggunting dua black card dari anda yang di nyonya, diganti dengan satu black card dengan limit seratus juta Rupiah, yang rekeningnya atas nama nyonya.” Dituturkan tugas lain yang sudah selesai pengerjaannya. “Apa reaksi dia?” Harlan kini memandang Dave. “Nyonya marah karena tidak sesuai keinginan beliau yang menuntut Anda memberikan konpensasi dari gugatan cerainya berupa satu unit penthouse luxury, satu unit mobil Lamborgini dan satu black card unlimited.” Harlan tersenyum geli, “Dia pikir siapa dirinya, bisa menuntut Saya memberikan semua itu?” dihina Siska, “Masih bagus Saya kasih satu room standar di apartment Grand Mitra, mobil dan black card berisi seratus juta Rupiah atas nama dia.” Dijabarkan apa yang diberikan ke Siska. “Selama ini dia tidak bersikap sebagaimana istri yang baik. Dia tidak menerima diberi uang dapur dan uang jajan sekian dari Saya, menuntut Saya menjadikannya ratu yang menggerogoti harta saya.” “Tuan,” Dave menghela napas sejenak, lantas, “Dari awal, Anda sudah tahu mengapa Nyonya merebut Anda dari Nyonya Lotta kan? Hanya untuk menjatuhkan mental Nyonya Lotta dan berharap menikmati kekayaan Anda tanpa batas. Jadi jika beliau tidak bersikap selayaknya istri yang baik, satu hal wajar. Beliau hanya istri di atas kertas, Tuan.” Harlan menyimak semua penuturan asistennya, lantas tersenyum, ditepuk satu pundak pria itu. “Sudah-“ dia akhiri pembicaraan ini, “Baiknya kita segera naik ke pesawat, sebab Lotta sudah berangkat.” Ujarnya menunjuk ke arah pesawat Martin yang mulai melesat naik ke langit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN