Bab 7 Pulang Tanpa Suami

1639 Kata
Kemal terkaget, sebab baru kali ini sang istri melakukan hal tadi. Gegas, dia menyusul, tapi ternyata pintu dikunci sama istrinya. “Lotta!” dipanggil si istri, “Lotta! Kenapa pintunya Kamu kunci? Buka, Lotta!” Lotta di dalam kamar menyandarkan punggung ke daun pintu, satu tangan menutup mulutnya sebab air mata sudah berlinang ke wajah. “Lotta!” Kemal mengotrek-otrek gagang pintu, “Lotta! Kamu ini kenapa sih? Jangan kayak anak kecil, Lotta! Tuhan tidak suka istri bersikap seperti ini ke suami!” Sang istri memejamkan kedua mata, menekan sedemikian emosi yang akan meledak keluar memaki Kemal yang terus memakai nama Tuhan untuk membuatnya mengalah. Gegas, dia berlari ke teras depan kamar, lantas melepas isak tangis dengan berdiri dibelakang pagar balkon teras. Tanpa dia tahu, Harlan ternyata menyewa kamar tepat disebelah kamarnya itu. Bahkan pria itu mendengar semua pertengkaran dia dan Kemal, sebab sempat menempelkan chip menyadap salah satu batu berlian pada gelang emas dipergelangan tangan kanan dia. Percakapan itu pun direkam ke dalam ponsel sang mantan kekasih. Kini Harlan berdiri di belakang pagar balkon teras kamar pria itu. Telinganya mendengar isak tangis pilu Lotta. Dia sudah tahu, Lotta kali ini mulai menyadari hanya dimanfaatkan Kemal, sehingga semua tekanan dari Kemal menyembur keluar dan membuat Lotta menangis pilu. Kesadaran itu datang saat mengenali pintu kamar kabin yang melatarbelakangi Kemal saat sang suami menghubungi dia. “Tuan muda-“ sayup dan pelan terdengar suara Dave dari belakang Harlan, “Nyonya Siska sudah datang dan menunggu Anda.” Diberitahu bahwa Siska sudah ke kamar ini. Harlan menghela napas, “Bikinkan minuman untuk dia seperti yang Saya rencanakan.” Diturunkan perintah tanpa melihat ke asisten itu, “Bentar lagi saya temui dia.” “Baik, Tuan.” Dave menganggukan kepala, lantas mundur tiga langkah ke belakang baru memutar badan dan meninggalkan teras ini. “Siska!” pelan dari mulut Harlan memanggil nama Siska, “Kamu masuk perangkapku!” *** Pagi ini, Billy datang bersama Martin, lantas pria itu menghubungi Lotta sambil berjalan mendekati pintu kamar istri Kemal tersebut. “Ta!” langsung disapa saat panggilan suaranya terhubung dengan ponsel Lotta, “Gue ama Kak Martin lagi jalan ke kamar loe.” “Iya, Bill!” Lotta menyahut dengan bantuan handfree Bluetooth sebab sedang mengemasi pakaian ke dalam koper, “Kalian masuk aja ya, gue masih packing.” Diminta kedua saudaranya masuk saja ke dalam kamar, karena Billy kan dikasih satu key card sama dia. Lantas tanpa sepengetahuan Lotta, Kemal minta key card tambahan dan diberikan ke Siska. Makanya mengapa kemarin saat Siska kemari, perempuan itu bisa tahu di mana dapur dan isinya. Siska berangkat di hari yang sama dengan penerbangan sama pula. Tapi Siska duduk dikursi belakang kursi pasangan itu. “Oke!” Billy paham, “Ta, laki loe tahu loe pulang hari ini?” Lotta tercenung, lantas, “Ngga!” disahutin pertanyaan Billy. “Apa laki loe masih bubu?” “Dah Bill, gue mau segerakan berkemas.” Dia tidak memberi jawaban segera mengakhiri panggilan suara ini dengan menekan tombol kecil di permukaan earphone blue tooth yang terpasang di telinga kanan. Setelah itu menyegerakan berkemas. Billy mengantongi ponsel ke dalam saku sebelah kanan celana jeansnya, sedangkan Martin tampak menghela napas. Sebenarnya dia tahu penyebab Lotta dua hari lalu berwajah merah dengan mata sembab, tapi dia berlagak tidak tahu. Ingin sang adik terbuka isi hati ke dia. Lantas tadi saat dia menemui Billy di kamar adik sepupu ini, langsung dicecer mengapa dia bertanya apa Harlan sudah bertemu Lotta. Dia hanya menjawab, “Tidak sekarang Aku jawab. Yang jelas Harlan bukan musuhmu, dia terpaksa melepas Lotta demi satu alasan kuat.” Jika dia sudah mengatakan itu, Billy diam. Mereka sampai di depan pintu kamar Lotta, lantas Billy segera mengakses key card di alat pengunci otomatis pintu, lalu mempersilahkan kakak sulung ini masuk lebih dulu, baru disusul sama dia sambil merapatkan kembali pintu. Begitu sampai di dalam, mata mereka menyisir ke sekitar dan melihat Kemal tidur di sofa panjang dengan menggenakan kaos oblong dan celana boxer. Lantas di single sofa terlihat pakaian pria itu. “Sepertinya-“ Billy memandang Martin, “Mereka bertengkar, Kak.” Dia feeling apa yang Kemal alami akibat bertengkar sama Lotta. “Tidak mengapa,” Martin tersenyum tipis, “Karena kali ini, Lotta menang.” Tampak lega karena Kemal tidur di luar. “Kemal salah langkah, menghubungi Lotta di depan pintu kabin yacht Lotta, lupa kalau Lotta hapal bentuk dan warna setiap benda dalam yacht itu.” “Syukurlah, Kak, karena perlahan membuat dia berani bersikap tega ke Kemal.” Martin kembali tersenyum tipis, “Kamu temui Lotta,” disuruh si adik menemui Lotta, “Aku bangunkan Kemal.” Billy menganggukan kepala. Mereka berempat kompak dan akur. Lantas istri Martin dan Ruben kompak sama Billy dan Lotta. Bahkan para orangtua istri-istri itu akur dan harmonis dengan keluarga mendiang Daniel. Semua ini berkat Daniel dan Lastri yang bijaksana, lantas juga Martin sama Ruben suami yang mampu mendidik baik akhlak istri dan anak. Billy perlahan menuju kamar Lotta yang masih tertutup rapat, sedangkan Martin mendekati Kemal. Pelan Martin menggoyang pundak Kemal, agar adik ipar ini bangun. “Mal-!” Martin juga memanggil Kemal, “Kemal! Mal!” Tidak lama, Kemal menggeliatkan badan sambil membuka kedua mata dan mengarahkan ke kanan mencari siapa yang membangunkan dia. “Astaga!” dia terkaget saat maniknya melihat Martin, langsung terlonjak bangun dan duduk di permukaan sofa, “Kak Martin?!” dia heran mengapa kakak ipar ada di sini, “Kakak kapan datang? Sama siapa? Mengapa tidak mengabari Kemal?” dia memberi pertanyaan-pertanyaan ke sang ipar. “Sejam lalu, Mal.” Martin tersenyum tipis, “Semalam, Lotta minta kujemput dan bawa dia kembali ke Jakarta.” “Apa?!” Kemal terkaget mendengar ini, “Lotta telpon Kakak?” “Iya, apa Lotta tidak memberitahumu?” Kemal menggeleng, “Kemal dari kemarin sibuk miting sama klien baru K-Har Desainer, Kak.” Ujarnya, “Hais, kenapa Lotta minta Kakak jemput? Dia kan bisa minta kuantar pulang ke Jakarta, baru Aku kembali ke Singapura lagi.” Dia kesal dengan tindakan Lotta. “Mungkin-“ Martin duduk di sebelah Kemal, “Dia tidak mau mengganggu pekerjaanmu.” Dibela sang adik, “Sudahlah, Aku tidak repot menjemput dan membawanya ke Jakarta. Dia adikku.” Ditepuk pundak adik ipar dengan ramah. Sosok Martin sangat tenang dan kharismatik, sehingga lawan bicara segan dan tidak bisa menebak jalan pikirannya. Karakter ini diturunkan Daniel. Ruben sifatnya terbuka, sedikit slengean, dan sangat menjaga kehormatan keluarga Emilio. Kalau ada yang berani kurangajar, tinju dia langsung mengenai tubuh orang itu. Billy sedikit kemayu, ceplas-ceplos dan kalau kesel, sindirannya tajam. Sementara di dalam kamar, Billy membantu Lotta berkemas. Kedua mata dia sesekali melihat ke Lotta. Tampak oleh dia, wajah sang sepupu merah dengan kedua mata sembab, meski sudah dipoles make up natural. “Ta!” disentuh tangan Lotta yang sedang mengunci koper, “Apa semalam Loe bertengkar sama Kemal? Apa dia kasar ke elo?” Lotta terdiam, lantas menghela napas, “Gue ngga mau bahas itu, ada Kak Martin.” Dia segera kembali focus ke koper, dibawa turun kotak pakaian itu dari atas ranjang, lantas diletakan ke troli dorong. Billy menghembuskan napas, merasa kali ini rasa sakit mengena tepat sasaran, sehingga Lotta bersikap seperti sekarang. Selama ini, meski terasa sakit dengan sikap Kemal yang memanfaatkan dia, tapi tidak mengena sasaran yaitu akal waras, sehingga dia masih bersikap lunak ke sang suami. Setelah semua barang Lotta disimpan rapih di koper dan travel bag, Billy mengeluarkan dari dalam kamar. Suara pintu kamar di buka dan derit roda troli terdengar telinga Martin dan Kemal. Kedua pria itu berbarengan menoleh ke arah kamar. “Sayang?!” Kemal terkaget melihat Lotta menyandang tas dan menenteng tas kerja yang berisi laptop, tablet dan lainnya. Gegas, mendekati sang istri, “Kamu mau kemana?” ditanya hendak kemana sang istri. “Aku pulang duluan ke Jakarta.” Lotta memasang senyum di wajah. “Kok mendadak sih? Kenapa tidak bilang dulu ke Aku.” “Kamu sangat sibuk, jadi kuputuskan tidak memberitahumu.” “Tapi, semalam kan kita ngobrol, Sayang. Kenapa tidak bilang saat itu kalau Kamu mau pulang duluan?” Billy mendorong dua troli berisi koper dan travel bag ke dekat Martin. Langsung sang kakak mengecek isi koper dan travel bag, memastikan tidak ada barang Lotta yang tertinggal dalam kamar utama. Lantas dicolek lengan Billy. “Bill-!” ditegur adik sepupu itu, “Tanyakan ke Lotta apa sudah memasukan chargeran ponsel dalam tas kerjanya. Lantas Kamu ke kamar dia, cek semua tempat, karena toiletries Lotta tidak ada dalam travel bag dia. Kalau ada barang dia yang masih tertinggal di kamar, kamu ambil ya.” “Siap, Kak!” Billy paham, karena hanya Martin yang tidak slebor dalam keluarga mereka. “Ta!” serunya segera mendekati Lotta yang masih berhadapan sama Kemal, “Gue pinjem tas ama tas kerja loe!” dia segera mengambil kedua tas dari sepupunya, “Dah loe lanjut deh miting sama laki loe.” Disuruh istri Kemal melanjutkan miting, dibawa kedua task e Martin, dan si sulung segera mengecek isinya. “Sayang!” Kemal meraih tangan Lotta, “Kamu ke Jakarta apa karena marah sama Aku mengenai soal semalam?” Lotta cepat melepas tangan suaminya, “Sudah, Mal!” dia tidak mau memberi jawaban, “Aku sudah memutuskan pulang duluan.” “Lantas Aku gimana?” “Kamu kan punya uang, Mal!” Lotta mendecak gemas, “Beli saja tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta setelah semua mitingmu selesai.” Kemal terperangah, “Aku beli sendiri tiket pesawat?” “Iya lah, kan Aku dah bilang, hanya support uang dapur. Jadi, kalau mitingmu udah selesai, kamu beli tiket pesawat dengan uangmu dan pulang ke Jakarta.” Kemal mendecak, tidak habis pikir ada apa sama Lotta. Biasanya jika sang istri pulang lebuh dulu, pasti membekali dia sejumlah uang untuk beli tiket pesawat kelas exclusive. Tapi kali ini tidak, minta dia beli sendiri tiket dengan kocek pribadinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN