Lotta dengan di antar Billy sampai di depan pintu kamar hotel tempatnya menginap. Wajah istri Kemal itu letih, meski tadi Harlan membawa dia dan Billy duduk bersama di table khusus tamu exclusive pesta dan menyantap hidangan sambil mengobrol seru. Billy pun yang tadinya jutek ke pria itu, melunak setelah mendapat pesan singkat entah dari siapa.
“Ta-“ Billy menghadapkan Lotta ke dia, “Sepertinya Kemal sudah pulang.” Ujarnya sebab saat mereka sampai, melihat alat kunci otomatis di sebelah pintu menyala lampu hijau. Itu tanda kalau di kamar ada penghuninya. Jika bertanda merah, maka penyewa kamar sedang keluar.
“Biar saja.” Lotta menyahut sambil menghela napas, “Gue baik aja kok, Bill.” Ujarnya merasa Billy mencemaskan dia jika bertemu Kemal, karena tadi dia menolak mengirim uang tambahan untuk black card yang dipegang sang suami, “Entahlah, Bill, gue bisa menolak permintaan dia.” Imbuh dia mengutarakan penyebab kecemasan Billy.
“Gue tahu kenapanya, Ta.” Billy memandang pilu Lotta, “Kalau hati elo sudah tersakiti teramat sangat, Loe bisa bersikap tegas ke orang yang menyakiti elo.” Dikemukan bahwa yang dilakukan Lotta karena sakit dihati sang sepupu yang luar biasa.”Apalagi elo mengenali tempat di mana Kemal menghubungi elo dan feeling dia sama pelakor itu di yacht loe, hendak plesiran entah kemana.”
Lotta tersenyum getir, sebab dalam perjalanan ke kamar ini, dia menceritakan ke Billy, mengenali tempat di mana Kemal menghubungi dia. Kemal tega tidak menemaninya ke pesta Aldo dan Dania demi wanita lain yang dibawanya plesiran menggunakan yacht dia.
Lantas sang suami minta dikirimkan uang ke black card dengan alasan untuk main judi. Tapi dia tahu untuk dihamburkan bersenang-senang sama pelakor itu. Sakit dihati dia semakin bertambah, padahal dia berusaha keras memaafkan Kemal yang dilihat berc**** sama wanita itu dalam bath tub kemarin malam.
“Sudahlah-“ dia menghela napas, “Gue mau berkemas, karena besok pagi Kak Martin jemput gue, biar gue balik ke Jakarta.”
Billy menyimak dengan wajah pilu, sebab Lotta menghubungi Martin, minta sang kakak menjemput dan membawa pulang ke Jakarta. Lotta tidak betah lebih lama di Singapura bersama Kemal yang pasti sibuk sama kekasih gelap itu.
“Loe tenang aja,” Lotta melanjutkan sambil menepuk sedikit pipi kanan Billy, “Gue bisa menutupi kejadian yang gue lihat dari Kak Martin.”
Billy menghela napas, bagaimana bisa menutupi dari Martin, sebab yang menghubungi dia, menanyakan apa Harlan sudah bertemu Lotta adalah Martin, membuat dia lunak ke Harlan.
Dari sana pula dia mulai mereka-reka, Martin tahu Kemal selingkuh sama Siska yang rasanya masih istri Harlan. Apa Harlan yang memberitahu, lantas ada rencana mereka untuk memisahkan Lotta dari Kemal.
Kapan kedua pria itu mulai berkomunikasi lagi, sebab setahunya, setelah Harlan melepas Lotta, pria itu tidak berhubungan lagi sama keluarga Lotta. Semua masih misteri yang dia tidak boleh membukanya saat ini, sebab dia tahu kedua pria itu ingin membebaskan Lotta dari suami b******k bernama Kemal.
“Gue masuk ya, Bill-“ Lotta kembali menepuk pelan pipi kanan Billy, “Loe kalau mau pulang besok, bareng gue aja.” Dia segera mengeluarkan key card dari dalam clutch, digesek ke alat kunci otomatis itu dan memasukan password, baru membuka daun pintu. Setelah itu masuk ke dalam kamar sambil menutup kembali pintu.
Billy menghela napas, “Kenapa nasib loe malang gini, Ta?” dia merasa pilu karena nasib Lotta malang, “Dulu Siska ngerebut Harlan, sekarang Siska merusak rumahtangga loe ama Kemal. Mana Kemal dari dulu manfaatin elo untuk hidup enak.
Lotta di dalam kamar segera melepas stiletto dari kedua kaki dan menjinjing sepatu itu ditangan kiri, baru melangkah menuju kamar tidur. Dalam kamar ini ada dua kamar tidur, ruang tengah, dapur merangkap ruang makan, ruang belakang untuk mencuci jemur pakaian dan dua teras. Satu teras di depan kamar tidur utama, lainnya depan ruang tengah.
“Lotta-!”
Dari ruang tengah terdengar suara lantang Kemal.
Lotta menghentikan langkah, menoleh ke ruangan itu dan memasang senyum saat melihat Kemal berdiri dan mendekati dia.
“Sudah pulang rupanya?” disapa ramah sang suami, berusaha keras bersikap biasa, padahal betapa dia ingin mencecer suaminya, mengapa di yachtnya, bersama siapa dan untuk apa sebenarnya minta tambahan uang.
Kemal menganggukan kepala, menahan diri pula untuk bersikap baik, meski hatinya kesal bukan main. Karena Lotta menolak mengiriminya uang, Siska marah ke dia, minta mereka kembali ke Pelabuhan Marina Bay. Untuk apa ke Kuala Lumpur jika limit black card minim? Siska tidak mau mengeluarkan uang pribadi untuk mereka bersenang-senang di Kuala Lumpur.
“Ish, istri tua Kamu itu ya!” Siska memandang kesal Kemal saat itu, “Apa dia tidak takut dikutuk masuk neraka karena membantah perintah suami? Dia kan banyak duitnya, masa ngga mau kirim uang untuk suami bersenang-senang sih?”
Kalau Lotta mendengar dumelan kurangajar ini, pasti menampar perempuan itu. Meski Lotta terlihat lembut, tapi jika hatinya diberi kekurangajaran itu, tangan dia bisa mendarat keras di wajah orang kurangajar tersebut. Lantas dari mulut dia akan terdengar, “Billy! Beri pelajaran manusia ini!”, lalu sang sepupu bersama ajudan menyeret orang itu pergi dari dia.
Beruntung saat ini Lotta masih menahan diri, ingin waktu membuka ke dia siapa perempuan hina yang merusak rumahtangganya. Jika sudah tahu, dia akan membuat satu keputusan, apakah mempertahankan rumah tangga atau dibubarkan.
Kemal mengambil stiletto dari tangan Lotta, dibawa ke rak sepatu yang ada di sisi depan pintu kamar utama, lantas kembali ke sang istri, dibimbing ke sofa, duduk bersama di sana.
Lotta mengamati sang suami, merasa ada kekesalan di sana yang ingin disampaikan ke dia.
“Bicara saja, Mal.” Diminta sang suami bicara.
Kemal menghela napas, “Kamu,” ditatap sang istri, “Ada apa sebenarnya?”
“Ada apa gimana?”
“Aku merasa Kamu tidak biasanya.”
“Tidak biasa apa?”
“Biasanya mendukung perjuangan suamimu ini.”
“Perjuangan yang mana menurutmu tidak kudukung, hmm?” Lotta membalas tatapan Kemal, “Kamu memintaku kirim uang ke black card aku yang Kamu pegang untuk main judi kan?” langsung ke inti masalah yang membuat suaminya kesal dan sengaja menunggu dia pulang dari pesta. “Aku menolak permintaanmu karena main judi, bukan untuk mengembangkan bisnis Kamu.”
“Lotta, main judi itu salah satu cara agar bisnisku berkembang.” Kemal mengemukan alasannya yang berbeda dari kenyataan, “Dalam bisnis, pengusaha mana yang tidak bermain judi sama kliennya, hmm? Agar terjalin kebersamaan dan kepercayaan.” Dijelaskan bahwa bermain judi salah satu cara mengembangkan bisnis, “Kenapa Kamu tidak mendukungku?”
“Jika begitu, pakai saja uang pribadimu, karena black card Aku tidak untuk main judi demi mengembangkan bisnis Kamu.”
Kemal terkesiap, “Lotta!” dia tidak habis pikir dengan jawaban sang istri, “Kamu ini kenapa sih? Selama ini Aku bilang untuk apa minta tambahan uang, Kamu tidak menolaknya.”
“Kali ini kutolak, sebab sudah lelah.”
“Lelah katamu?”
“Iya. Aku support bisnismu, tapi hasil dari bisnismu sepeser pun tidak kudapat.”
Dhuar, Kemal terhenyak, mengapa sang istri mengatakan itu. Padahal selama ini tidak pernah meminta hak dari hasil bisnisnya.
“Kemal-“ Lotta menatap Kemal dengan wajah serius, “Aku ini istrimu, apa salah ingin menikmati hasil bisnismu yang kudukung selama ini?”
Kemal terperangah, “Kamu ini kenapa sih? Kamu tidak pernah minta itu dariku karena tahu hasil bisnisku masih minim?”
“Begitu kah?” tanya Lotta, “Aku ada dengar hasil bisnismu dinikmati ibu dan adikmu.”
Dhuar, Kemal terkaget, “Apa salahnya itu? Mereka keluargaku?”
“Jadi Aku ini bukan keluargamu? Hanya mesin uangmu? Lantas, ayahmu masih hidup, jika dia tahu kamu tidak pernah sedikit pun memberiku hasil keuntungan bisnismu, apa kata beliau, hmm?”
“Pastinya beliau memujiku karena anak berbakti ke ibuku dan menyayangi adikku.”
Lotta tercengang mendengar jawaban sang suami, lantas menghela napas sedikit kasar.
“I see!” hatinya terasa tambah sakit, “Oke kalau begitu,” dia sedikit mendecak, “Mulai sekarang, Aku tidak lagi mendukung bisnis Kamu. Hanya membiayai dapur kita. Silahkan Kamu cari investor baru untuk bisnis Kamu.”
Kemal terkaget bukan main, lantas, “Kamu kenapa sih? Kamu perhitungan ke suami? Dosa Lotta, dosa!”
“Cukup, Mal!” Lotta mengacungkan tangan kanan ke atas, “Keputusanku tetap, jika Kamu masih mendebatku dan menekanku dengan kata dosa, aku juga hentikan membiayai dapur kita! Aku minta Kamu yang membiayai dapur kita, karena itu tugasmu sebagai suami!”
Kemal meraih tangan Lotta, dicium-cium saying, berharap Lotta lunak dan tidak benar-benar melakukan ancaman tadi. Jika itu terjadi dia membiayai hidup Siska dari mana?
“Oke, oke, Aku salah sudah menegurmu soal tadi.” Dia pun mengakui telah salah menegur sang istri, “Lain kali Aku tidak akan minta uangmu untuk main judi.”
Lotta melepas tangannya itu, “Pokoknya Aku sudah menghentikan mendukung bisnis Kamu.”
“Jangan begitu dong, Lotta. Nanti bisnisku menurun, lantas gimana baktiku ke ibuku dan adikku?”
“Bukan urusanku!” Lotta menyahut ketus, akibat memergoki Kemal bercinta, kekesalan dia ke ibu mertua dan adik ipar menyeruak, sehingga disembur ke suaminya.
“Lotta-“ Kemal memutar otaknya, “Kedua kakakmu saja memberi keuntungan perusahaan mendiang ayah kalian ke ibumu dan Kamu.” Diangkat cerita mengenai Martin dan Ruben yang mengelola perusahaan mendiang Daniel, “Apa para istri mereka kejam seperti Kamu ini?”
“Hei!” Lotta menjadi sewot, “Perusahaan Papaku memang untuk menghidupi keluarga Kami, termasuk para istri kedua kakakku itu! Sudah tentu kedua kakak iparku tidak berkeberatan!” tidak terima dikatakan kejam, “Tapi Kamu?” ditunjuk suaminya dengan jari telunjuk tangan kanan, “Mengelola bisnis pribadi, yang semustinya untuk menopang aku istrimu, tapi apa? Kamu kasih keuntungan bisnismu untuk ibu dan adikmu, demi kata berbakti ke mereka? Lantas Kamu peras Aku untuk terus mengembangkan bisnismu? Kamu yang kejam, Kemal Haryanto!”
Kemal terhenyak, untuk pertama kali, Lotta menyembur setajam itu! Apa yang terjadi sama sang istri yang biasanya patuh dan mengalah?
“Lotta, itu kemuliaan istri, menderita demi suami. Kamu kelak mendapat surga Firdaus.”
Lotta menatap sengit sang suami yang selalu mengatakan hal itu jika dia mulai protes.
“Sudah, simpan kata-kata itu dalam perutmu!” dia kali ini tidak kena kalimat tekanan itu, “Ah ya!” dialihkan pembicaraan, “Aku ingin Kita berdua konsultasi ke ginekolog!”
Dhuar, Kemal terkaget, kedua matanya sedikit membesar, “Ke ginekolog? Untuk apa?”
“Seperti halnya Kamu yang ingin anak, maka Aku juga inginkan itu.” Lotta menyahut, “Jadi Kita ke ginekolog untuk bisa mendapat keturunan.”
Kemal menelan saliva, merasa ini petaka, karena jika sampai mereka ke ginekolog, maka Lotta akan tahu, rahim sang istri bagus, sedangkan dia dalam pengobatan. Pasti Lotta akan bertanya ke dia, memang dia ke ginekolog untuk mengobati s****a? Mengapa tidak bilang ke Lotta?
Lantas gimana rencana dia untuk mendapat keturunan dari Siska, agar bisa terus memeras Lotta menghidupi mereka berdua dengan mengatasnamakan Lotta mandul harus mau mendukung mereka yang punya anak? Dia dan Siska sudah sepakat untuk rencana itu, sebagai hukuman bagi Lotta yang mandul.
“Kenapa, Mal?” Lotta menatap suaminya yang tampak menelan saliva.
“Tidak pa pa-!” Kemal menghembuskan napas, “Lotta, tidak perlu lah ke ginekolog.” Dia menolak, “Soal anak, nanti juga dikasih sama Tuhan. Kamu lebih baik baik-baik sama Aku, biar Tuhan senang sama Kamu, lantas rahimmu bisa mengandung benihku.”
“Baik-baik sama Kamu? Apa selama ini Aku tidak baik ke Kamu?”
Kemal terhenyak, lantas sedikit menelan saliva, “Kamu baik ke Aku, hanya saja kenapa saat ini berubah? Kamu tidak mau mendukung bisnisku hanya karena iri ke ibuku dan adikku. Kamu juga mengancamku tidak mau menopang dapur kita. Itu tidak baik, Tuhan tidak suka.”
Lotta mendengar ini ingin mengecek-gecek suaminya yang selalu memakai nama Tuhan untuk menekan dia. Dia segera berdiri dan tergesa ke kamar tidur utama. Masuk ke dalam kamar dan menarik pintu sedikit keras.
Blam!!