Bab 10 Memecat Para Pekerja

1584 Kata
“Hei, kalian-!” Billy menjadi gemas melihat semua pekerja menundukan kepala, tidak berani menjawab pertanyaan Lotta. “Lebih baik kalian mengaku saja,” diperintahkan agar mereka mengaku, “Ingat ya, Lotta pemilik rumah ini, artinya Lotta nyonya besar di sini, bukan Kemal!” Sumi, salah satu art mengangkat wajah, “Tapi kata Tuan Kemal, rumah ini punya beliau, Tuan Billy.” Diberitahu apa yang Kemal tekankan ke para art saat membawa Siska, semua agar pekerja-pekerja itu tutup mulut. “Betul, Tuan Billy!” sahut Inung membenarkan, “Makanya Kami diam ngga ngelapor ke nyonya.” Mendengar ini, Lotta mengibaskan tangan kanan ke gelas di meja depan dia dengan wajah marah. Prang!! Gelas mendarat keras di lantai marmer dan pecah berkeping-keping. “Keterlaluan!” kemudian terdengar jerit sang nyonya, “Manusia tidak tahu diri!” dirutuki Kemal, “Papaku membelikan rumah ini untukku! Sertifikat rumah pun atas namaku! Bisa-bisanya dia mengatakan rumah ini punya dia?” disembur semua kemarahannya saat ini. Semua pekerja terjingkat kaget sebab baru kali ini Lotta, nyonya yang lembut bersuara lantang. Bahkan sang nyonya mengibaskan tangan ke gelas, hingga jatuh pecah di lantai. Billy cepat mengelus-elus punggung sepupunya ini. “Tenang, Ta, tenang!” dibujuk agar tenang, “Belum terlambat semuanya.” “Belum terlambat apa, Bill?” Lotta menoleh ke Billy, tampak kedua matanya penuh amarah, “Semua milikku diklaim punya dia!” diacungkan jari telunjuk tangan kanan menunjuk semua barang yang terlihat di ruangan ini, “Dia punya apa? Hanya membawa koper berisi baju, Bill! Karena ayahnya bilang, dia harus berjuang mencari nafkah demi gue dan rumahtangga kami! Nyatanya? Gue yang menopang dia, Bill! Apa pantas, dia mengaku raja yang punya semua fasilitas dari gue?” disemburkan semua kemarahan yang ada dalam hatinya. Para pekerja terperangah, saling berpandangan, merasa Nyonya sudah tahu Tuan Kemal berselingkuh, jadi meledak marah bagai ledakan gunung merapi. Mereka mulai menyesal merahasiakan hubungan gelap Kemal dari Lotta, karena sang nyonya sudah sangat jelas menerangkan si tuan nebeng hidup. Kini, apakah Lotta akan mengampuni mereka yang merahasiakan hubungan gelap Kemal itu? “Oke, oke-!” Billy paham perasaan Lotta, “Calm down, sis, calm down!” terus dielus-elus punggung Lotta, “Sekarang-“ disentuh wajah sepupunya dengan tangan lain, “Kita selesaikan para pekerja ini.” Para pekerja tercekat, berbarengan menelan saliva, mulai was-was, apa yang akan Lotta lakukan ke mereka. “Pecat mereka, Bill!” Lotta memberi jawaban, “Kecuali Mbok Asih, Darno, ama Sahrul.” Imbuh dia. “Pecat semuanya, Ta?” Billy sedikit terkejut dengan jawaban Lotta. “Iya.” Lotta menganggukan kepala, “Sakit hati gue, mereka berani mengikuti Kemal, sedangkan gue yang bayar gaji mereka selama ini.” “Nyonya-!” seru Sumi cepat, “Maaf, Nyonya!” dia minta maaf saat Lotta menoleh ke dia, “Gaji Kami bukannya dari Tuan Kemal?” dia terheran kenapa Lotta mengatakan yang menggaji mereka. “Karena kan Tuan Kemal kepala keluarga, yang nyari nafkah.” Lotta ternganga mendengar ini, lantas menghela napas. Merasa telah salah bersikap selama ini membiarkan Kemal dianggap kepala keluarga yang kerja mencari nafkah. Hanya Mbok Asih, Darno dan Sahrul yang tahu kalau dia yang kepala keluarga, kerja keras menopang dapur rumahtangga. “Sumi-!” Mbok Asih mulai bicara, “Saya pernah mengatakan ke kalian, di awal kalian kerja, bahwa rumah ini milik Nyonya Lotta, kalian digaji oleh Nyonya karena beliau yang menopang rumahtangga ini.” Sumi terkesiap, lantas, “Masa begitu, Mbok? Bukan kah Tuan Kemal yang punya rumah ini, cari duit untuk rumahtangga ini?” “Tuan Kemal berbohong ke kalian semua, Sumi.” Mbok Asih menjelaskan kalau Kemal membohongi para pekerja, “Agar beliau punya harga diri sebagai suami. Beliau ngga mau diremehkan kalian karena hidup dari Nyonya Lotta. Dan, Nyonya membiarkan yang beliau lakukan itu.” Semua pekerja terhenyak, baru mengetahui kebenaran seorang Kemal Haryanto. Pria itu memang sangat pandai bicara yang membuat orang percaya kalau dia itu hebat, pekerja keras dan diandalkan Lotta menafkahi rumahtangga mereka. “Oke-“ Lotta memandang para pekerja itu, “Sekarang, Saya kasih kalian waktu satu jam untuk berkemas.” Semua pekerja terperangah, si nyonya serius kah mengatakan ini? Mereka salah apa? Mereka baru tahu siapa Kemal. Kesalahan mereka adalah tidak pernah memberitahu apa yang Kemal lakukan saat dia tidak di rumah. Lantas, selama ini, mereka menghargai dia hanya di depan Kemal. Tidak ada Kemal, mereka menggosipkan dia, seperti, “Nyonya itu seenaknya ke Tuan ya, mentang-mentang anak orang kaya. Kesian Tuan, kerja keras, tapi dianggap kayak pembantu sama Nyonya.” Dia tahu gossip itu dari Mbok Asih, tapi diabaikan, tidak perduli. Tapi kini, sakit dihati karena Kemal membuat dia tahu pasti sang suami menjelekan dia ke para pekerja. Sumi hendak bicara, tapi.. “Kamu diam-!” seru Billy cepat menghentikan Sumi, “Udah, udah!” lantas memandang semua pekerja, “Lekas Kalian berkemas, ingat kalian hanya punya waktu satu jam.” “Tuan Billy!” Sumi nekat bicara, “Kami salah apa? Semua ini kan karena Tuan Kemal. Kenapa Kami dipecat sama Nyonya.” Lotta memandang Sumi dengan senyum sinis menyungging di sudut bibir, “Salah kalian, mengapa begitu percaya mulut Kemal!” ujarnya dengan nada suara marah, “Sudah!” serunya mengangkat satu tangan ke atas, “Lekas kalian semua berkemas selama satu jam!” *** Di ruang tengah yang sunyi, Lotta mengurut-urut kening, kepalanya terasa sangat penat. Para pekerja, kecuali Mbok Asih, Darno dan Sahrul, sudah dikeluarkan dari rumah ini sama Billy. Dia pun hanya memberi amplop berisi gaji mereka bulan depan, tidak ada pesangon. Mbok Asih datang membawa baki berisi air the hangat manis, diletakan ke meja di depan Nyonyanya ini. Wajah tuanya pilu sebab ikut menyembunyikan skandal Kemal dari Lotta. Namun dilakukan karena tidak tega menghancurkan hati Lotta yang sangat mencintai Kemal, lantas pula pastinya Kemal tidak tinggal diam. Akan menghabisi dia. “Nyonya-“ pelan ditegur Lotta sambil duduk di lantai tepat disebelah si nyonya yang berada di sofa panjang. “Anda minum dulu ya, biar lebih lega.” Lotta hanya menghela napas, masih mengurut-urut keningnya, “Ngga, Mbok, saya tidak haus.” Dia menolak kebaikan si mbok, “Mbok-“ ditegur perempuan tua ini, “Mengapa Mbok diam selama ini seperti mereka?” Mbok Asih menghela napas, “Maafin Mbok, Nyonya.” Ujarnya pilu, “Mbok tidak tega mengatakan, karena Nyonya sangat cinta Tuan. Lantas..” “Apa Kemal mengancam Mbok?” Mbok Asih menggelengkan kepala, “Tapi Mbok tahu jika Mbok mengatakan perbuatan beliau ke Nyonya, pasti tahu Mbok yang melakukan. Beliau tahu, Mbok yang mengasuh Nyonya dari kecil.” Lotta berhenti mengurut-urut kening, tidak bisa menyalahkan Mbok Asih. Dia pun tahu apa yang akan Kemal lakukan jika Mbok Asih melaporkan perselingkuhan itu ke dia. Agar jejak perselingkuhan bisa hilang. “Ta-!” Dari arah pintu penghubung antar ruang terdengar suara Billy dan sosok pria itu datang mendekati Lotta. Lotta mengalihkan pandangan ke sepupunya itu, “Ada apa? Mereka udah pergi kan?” tanyanya ke sang sepupu yang duduk disebelah dia. Billy menyodorkan ponsel, “Laki loe kelepon!” diberitahu kalau Kemal menelpon, “Dia ngga bisa menghubungi ponsel loe, jadi nelpon gue!” disindir Kemal dengan mengeraskan suara kea rah ponsel itu. Kemal mendengar ini, merutuk dalam hati. Dia bela-belain menelpon Lotta dengan pinjam ponsel Vius, asistennya. Tadi tuh, Siska menelpon Vius, minta asisten itu ke Singapura membantu Kemal yang mendapat kesulitan dari Lotta. Tapi, ketika dia menghubungi ponsel Lotta, tidak dijawab sang istri. Tentu tidak, sebab ponsel dan headset dalam tas yang digeletakan di atas bufet ranjang. Lotta menghela napas, diambil ponsel Billy, ditempelkan ke telinga kanan. “Ya, Mal?” disapa suaminya dengan suara datar. Kemal mendengus, akhirnya didengar suara sang istri. Diatur emosi, karena dia ingin membujuk istri untuk memberinya fasilitas mewah lagi, sebab Siska terus mendesak dia melakukan itu. Siska menagih janji untuk dibawa plesiran mewah di negeri Singa ini. “Kamu sudah sampai di rumah kita?” Kemal memberi pertanyaan, yang padahal tidak perlu ditanyakan, sebab tadi Billy sudah mengatakan. Billy mengambil ponsel, diaktifkan menu record dan speaker phone, lantas dibikin tangan Lotta memegang ponsel itu. Lotta menghela napas. “Sudah, Mal.” Disahuti pertanyaan sang suami, “Kamu kenapa telpon Billy? Untung dia belum ke HC Hospital.” “Aku telpon Kamu, tapi tidak Kamu jawab, Lotta!” “Berarti Aku sedang istirahat, Kemal!” “Biasanya Kamu masih jawab telponku meski sedang istirahat!” “Sekarang tidak begitu, Mal.” Lotta menyahut santai, “Sudah, kenapa Kamu telpon Aku?” “Kenapa Kamu belum membayar tagihan nomor ponselku?” “Kamu sudah tahu jawabnya kan? Aku sudah tidak memberimu fasilitas apa pun, berarti termasuk tidak membayar tagihan ponsel Kamu!” Dhuar, Kemal terkaget, lantas, “Lotta, hanya karena Aku tidak mau kita ke ginekolog, Kamu seperti ini ke Aku?” dikira sang istri melakukan tindakan diluar dugaan karena kesal sama dia yang tidak mau mereka ke ginekolog. “Tidak juga karena itu!” Lotta menghembuskan napas, “Sudah, Kamu menelponku hanya menegurku yang tidak membayar tagihan ponsel kamu saja?” “Lotta, Kamu kan tahu Aku masih ada miting sama klien K-Har Desainer di Singapura ini.” Kemal memasang suara memelas, “Jadi, kamu kirim mobilku itu kemari, sekalian kembalikan semua kartuku dan transfer uangmu ke black cardku.” Lotta menyimak semua itu dengan senyum sinis dibibir, “Aku sudah bilang sangat jelaskan, tidak lagi mendukung bisnis Kamu itu. Jadi silahkan berjuang dengan kedua kakimu ya.” Lantas menyentuh ikon pengakhiran panggilan suara di layar ponsel, “Benalu kurangajar!” dirutuki suaminya, “Aku pasti membalas semua pengkhianatanmu! Yang kulakukan baru permulaan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN