Bab 11 Disesatkan Pelakor

1486 Kata
Di dalam ruang tengah kamar hotel, Kemal memberikan ponsel ke Vius, diacak rambut dengan kesal. Mengapa sang istri tidak menaruh kasihan ke dia? Malah menyuruh dia berjuang dengan kedua kaki sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Dipukul tangannya ke permukaan pegangan sofa, wajah dia mirip kain pel tidak dicuci seminggu. Vius menghela napas, sudah tahu kalau Lotta berubah karena mengetahui perselingkuhan sang atasan. Dia tidak menyalahkan Lotta, bisa memahami sakit dihati sang nyonya. Selama ini, si nyonya bela-belain menyokong bisnis Kemal, bahkan menopang hidup pria itu. Namun, ternyata dibalas menyakitkan dengan berselingkuh dengan alasan apa pun. Maka tidak heran jika Lotta mengambil sikap tegas mengganjar sang suami. “Gimana?” Siska bertanya sambil mencolek lengan Kemal, “Apa kata Lotta?” dia tidak menyimak, sebab sedari tadi asyik searching tempat hiburan yang akan didatangi bersama Kemal, jika sang pria berhasil mendapat semua fasilitas mewah itu dari Lotta. “Kamu tidak dengar kah tadi?” Kemal menatap kesal Siska, “Lotta tetap tidak mau mengirim mobilnya kemari! Tidak mau mengembalikan semua kartu dia, termasuk black card itu!” dijelaskan hasil pembicaraan dengan Lotta. Siska ternganga, dalam benak dia, melayanglah plesiran mewah yang romantic sama Kemal. “Ish!” serunya dengan nada kesal, “Istri macam apa sih dia?” dipertanyakan Lotta istri seperti apa, “Masa membiarkan suami ngegembel di negeri orang?” pun menyalahkan sikap tegas Lotta. Vius mendengar ini, pelan menghela napas. Kata-kata Siska sangat kurangajar. Siska tidak berkaca kah kalau menghancurkan rumahtangga Lotta? Siska pun terus mendikte Kemal untuk memeras Lotta. Perempuan macam apakah dia? Kemal mengusap wajah dengan kasar, kepala dia pening, karena Siska bukannya mengademkan hati, malah bikin hatinya bertambah kesal ke Lotta. Padahal dia tahu Lotta adalah istri yang sangat baik, selalu manis ke dia. Bahkan dari kemarin pun, saat mereka bertengkar, Lotta tidak ada berkata kasar, hanya ingin dia nafkahin dari bisnis K-Har Desainer. Sesuatu yang sangat wajar hal tersebut. Siska menguncang lengan Kemal, “Kemal!” ditegur pria ini, “Lotta sudah kurangajar ke Kamu, musti Kamu hukum dia!” ‘Menghukum nyonya?’ tanya hati Vius heran,’Atas dasar apa menghukum Nyonya Lotta? Beliau tidak salah jika mengambil semua miliknya dan menghentikan semua pemberian fasilitas mewah ke Tuan Kemal, sebab saya yakin beliau sudah tahu kalian berselingkuh.’ Ujarnya, ‘Lantas yang dilakukan beliau itu menghukum kalian, karena kalian kurangajar ke beliau.’ “Sudah-“ Kemal meraih tangan Siska tersebut, digenggam lembut sambil menatap kekasihnya, “Kita tunda bicara itu, hmm?” diakhiri pembicaraan itu, “Sekarang, kita senang-senang saja, gimana?” “Gimana senang-senang kalau Kamu ngga ada duit?” Siska bersunggut, “Tadi kan Kamu ngecek saldo di ATM, ternyata jumlahnya tinggal lima ratus ribu Rupiah. Mana cukup uang segitu untuk kita bersenang-senang di Singapura ini?” “Kan masih ada dua ratus Dollar dari Lotta, Sayang.” “Tetap ngga cukup, Kemal!” Siska bertambah merenggut, “Rencana kita kan plesiran ke Malaysia, main judi sampai puas di Kuala Lumpur, lantas mampir ke shopping di mall terkemuka Singapura.” Dituturkan rencana plesiran yang sudah mereka atur sebelum Lotta berubah tiga ratus delapa puluh derajat. “Kalau gitu-“ Kemal mengelus mesra wajah Siska, “Pakai uangmu dulu ya. Nanti di Jakarta, kupaksa Lotta menggantinya dua kali lipat.” Mendengar ini, Vius sedikit memencongkan bibir ke sudut kanan, ‘Ish!’ decaknya, ‘Dasar Tuan tidak tahu diri. Plesiran selalu pakai uang Nyonya Lotta.’ “Ngga mau!” Siska menolak bujukan Kemal, “Kemal!” ditatap kekasihnya, “Kamu kan udah janji menyenangkanku, mengapa minjam uangku sih?” dia mengingatkan janji Kemal saat pertama mereka pacaran, “Lagian semustinya Kamu tuh jujur ke Lotta, kalau kita pacaran agar Kamu punya keturunan dan Kamu bikin dia menafkahi kita berdua.” Mulai mendikte Kemal, “Ingatkan dia, kalau harus mendukungmu ingin punya anak dari istri muda, karena dia kan mandul. Dia wajib menopang hidup kita, Kemal.” Vius mengelus d***, merasa sangat muak sebab Siska terus meracuni Kemal. Sejak kapan, pria menuntut istri tua nafkahi dia dan istri muda hanya karena istri tua mandul? Yang ada istri tua diceraikan, dibuang. “Terus nih-“ Siska masih menjejali doktrin ke dalam pikiran Kemal, “Dia sudah kurangajar ke Kamu kan? Maka paksa dia memberikan semua harta dia untuk Kamu kendalikan. Tunjukin kalau Kamu itu suami, berkuasa atas istri. Istri kurangajar, suami hajar!” ‘Semoga Anda kelak dihajar Tuan Kemal ya, Nyonya Siska-‘ Vius mendoakan kebaikan untuk Siska, ‘Karena Anda, istri sangat kurangajar. Mengajarkan suami menindas istri tua.’ ‘Sudah, sudah-!” kepala Kemal semakin pening, ‘Kalau Kamu tidak mau uangmu kupakai dulu,” dia mengalah, sebab sudah ditaklukan mendalam sama Siska. Tepatnya sih oleh tubuh Siska. “Vius!” lantas beralih ke Vius yang masih setia berdiri dekat dia, “Saya pinjam uangmu dulu ya.” “Uang Saya, Tuan?” Vius memasang wajah heran, padahal sudah feeling si bos minta dibantu uang agar sukses menyenangkan pelakor bernama Siska Azhari. “Saya belum gajian, Tuan.” “Gajimu yang bulan ini, Vius!” “Maaf, Tuan, gaji saya sudah dikirim ke istri Saya di Kampung.” Vius membuat alasan yang memang itu benar. Tiap awal bulan, enam puluh persen gajinya dikirim ke Nirmala, sang istri di Dieng. Sisanya untuk biaya hidup dia di Jakarta. “Masa dikirim semua ke istrimu, Vius?” “Ngga semua sih, tapi saya kan butuh untuk biaya hidup saya di Jakarta.” Vius bicara dengan nada tenang, “Lantas, tadi saya pakai uang pribadi untuk kemari, karena Nyonya Siska minta itu, tanpa mengirim uang ke saya untuk beli tiket pergi dan pulang.” Dituturkan keuangan dia saat ini. Kemal menjadi menyesak, mengapa tidak ada yang membantu dia saat ini. Mau menelpon siapa, sedangkan ponsel dia tidak bisa dipakai menghubungi kemana pun. “Tuan-“ Vius kembali bicara, “Baiknya Anda pulang ke Jakarta.” Disarankan si bos kembali ke Jakarta, “Anda beli tiket dari uang yang Nyonya berikan itu, lantas baik-baiklah sama beliau.” Siska terkaget mendengar ini, “Apa Kamu bilang?” ditatap Vius, “Kemal baik-baikin Lotta? Enak aja! Lotta itu sudah kurangajar ke Kemal, harus dihajar sama dia nanti di Jakarta! Biar dia tahu diri, jadi istri tuh patuh sama suami.” “Anda sendiri gimana, Nyonya?” Vius memberi pertanyaan ke Siska, “Apa Anda patuh sama Tuan Kemal?” “Saya belum menikah sama dia, jadi bukan istri dia.” “Belum jadi istri, Anda sudah mencuci otak Tuan untuk menindas Nyonya Lotta, istri Tuan.” Entah kenapa kali ini Vius berani menegur tajam Siska, “Semua itu menunjukan kelak Anda istri yang tidak patuh sama suami.” Siska ternganga, “Kamu’?” dia tidak menyangkap Vius berani mengatakan semua hal tersebut, “Berani banget bicara semua itu ke saya? Saya ini yang dipercaya Tuhan nanti untuk memberi keturunan sama Kemal! Jadi apa pun yang Saya inginkan, Kemal harus penuhin. Itu wajar kan?” “Sudah setahun kalian pacaran, tapi belum ada tanda Anda memberinya keturunan.” Vius tersenyum tipis, “Tuan-“ lantas segera beralih ke Kemal sebelum Siska mendamprat dia, “Mohon maaf, Saya tidak bisa membantu menyukseskan plesiran nista Anda itu.” Ujarnya mengemukan tidak mau meminjamkan uangnya, “Saya pun mengundurkan diri sebagai asisten Anda.” Imbuh dia mengajukan resign dari tugas sebagai asisten. “Kamu mau resign, Vius?” Kemal tidak percaya dengan yang didengarnya ini, “Kenapa? Masa hanya karena Saya ingin pinjam uangmu, Kamu resign?” “Bukan karena itu, Tuan.” Vius menghela napas, “Saya tidak tahan membohongi Nyonya Lotta yang menggaji Saya selama ini.” Diberitahu alasan yang sebenarnya mengapa mengundurkan diri. “Lantas, saya merasa berdosa menutupi perselingkuhan Anda dari beliau.” Kemal terperangah, ditatap asistennya ini. “Salahnya apa kalau pria berselingkuh, Vius?” Kemal bertanya dengan wajah inosen, “Seluruh pria di dunia ini pasti berselingkuh, karena Tuhan mengizinkan kami berpoligami!” “Memang, Tuan.” Vius membenarkan, “Tapi Anda lupa, kalau selama ini Anda dinafkahi Nyonya Lotta, istri sah Anda. Apakah layak Anda punya istri muda? Lain soal jika Anda menafkahi Nyonya Lotta, lantas punya istri muda.” “Kurangajar Kamu!” Siska naik pitam mendengar perkataan Vius, “Dari jaman ke jaman, istri tuh nafkahin suami!” “Jika demikian, maka saat Anda menjadi istri muda, nafkahin Tuan ya. Kan istri harus menafkahi suami.” “Ngga bisa! Istri tua yang harus melakukan itu sebagai bakti ke suami! Istri tua juga harus menafkahi madunya, sebagai bukti ikhlas dimadu!” Siska sembarangan membuat aturan. “Anda memang tidak waras,” Vius tersenyum mengejek ke Siska, lantas mengalihkan pandangan ke Kemal, “Tuan, Saya permisi saja, ya.” Langsung berpamitan, “Semoga hidup Anda bahagia punya istri muda yang tidak waras itu.” Ujarnya santai, lantas membalikan badan dan meninggalkan si bos. Kemal hanya terperangah melihat kepergian Vius, bagaimana dia mengatasi kemelut saat ini? Lantas, sebenarnya Vius membantu dia melunakan hati Lotta untuk mengalah dalam hal apa pun. Sekarang Vius meninggalkan dia, bagaimana menghadapi Lotta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN