Lotta meletakan semangkuk besar gulai daun singkong ke atas meja makan. Di atas meja sudah terhidang nasi hangat, Balado Ikan Teri, tahu goring kriuk, setoples krupuk udang, satu poci es jeruk dan satu poci air putih.
Lantas di sekitar meja, sudah duduk manis Martin dan Ruben.
Mereka saat ini berada di ruang makan penhouse milik Lotta. Nyonya muda ini memutuskan tinggal di penthouse. Sebelumnya, dia minta Billy mengganti kunci pintu depan dan belakang, juga gembok di gerbang. Baru setelah itu mereka semua keluar dari rumah dan Billy mengunci kedua pintu dan gerbang. Billy juga menempelkan sehelai kertas dengan tulisan “DIJUAL”.
Lantas dalam perjalanan ke penthouse, Lotta menelpon Martin dan Ruben, minta kedua kakaknya ke sana untuk dinner. Sampai di penthouse, gegas, dia masak untuk makan malam dibantu Billy dan Mbok Asih.
“Bill-!” Lotta sedikit berseru lantang sambil menoleh ke arah pintu penghubung antara ruang makan ini dengan Dapur Utama, “Loe dah kelar bikin saladnya?” ditanya Billy yang masih di Dapur. Dia pun segera duduk di sisi kiri Martin, karena sisi kanan ditempatin Billy. Martin duduk di kursi ujung meja, sebab dia pengganti Daniel.
“Dikit lagi, Beib!” terdengar sahutan pria itu dari arah Dapur, “Kalian duluan aja mamam!”
“Bill-!” Ruben mulai bersuara, “Loe bikin salad apaan sih? Lama bener!” dia menjadi penasaran adik sepupu ini membuat salad seperti apa. “Sampai semua masakan yang dibikin Lotta udah kelar, loe masih berkutat bikin salad!”
“Hehehe-!” Billy cengegesan, “Kak, gue kan bantuin dulu Lotta ama Mbok Asih masak, baru bikin salad!” menukas tidak terima, “Jadilah salad gue belum kelar!”
“Bill!” Martin menimbrung, “Yang Ben tanyakan, Kamu bikin salad apa, bukan protes Kamu belum muncul di sini!” diberitahu kalau Ruben bertanya Billy membuat salad apa, bukan protes Billy masih di Dapur.
“Ooo, gitu!” Billy baru menyadari kalau Ruben bertanya mengenai salad, bukan yang lain, “Ada deh, Kak!” menyahut dengan nada riang, “Udah, kalian mamam aja dulu. Tapi sisain yak buat Billy!” seru dia konyol.
Martin menunjuk-nunjuk ke arah Dapur dengan wajah tersenyum geli, “Dia minta jatah!” ujarnya menanggapi ocehan Billy tersebut.
Lotta dan Ruben tertawa kecil. Lantas Ruben jahil, segera mengambil mangkuk kecil dari depan kanan piring makan untuk Billy, cepat diisi dengan satu centong sayur daun singkong. Setelah itu memberi isyarat dengan tangan agar mereka memindahkan semua lauk dan nasi ke lemari penyimpanan lauk pauk di dinding tanam, lantas mereka pun menaruh piring makan dan lainnya ke dalam bak wastafel yang berada di bawah lemari tersebut, baru duduk manis.
Billy pun datang membawa kereta makan berisi semangkuk salad Padang, empat mangkuk kecil, sendok dan centong stainless untuk salad.
Lotta, Ruben dan Martin langsung berlakon baru selesai makan.
“Ugh!” Ruben berseru sambil mengusap perutnya, “Kenyang banget ini!” ujarnya berlakon merasa perutnya kenyang, “Apa masih bisa ya makan saladnya Billy?” disentil Billy yang sedang meletakan mangkuk salad ke meja.
“Harusnya bisa, Ben-!” Martin menimpali sambil memanjangkan leher ke depan, ingin tahu salad apa yang dibikin Billy, “I see!” dia paham, “Salad Padang!” mengenali jenis salad.
“Iya, Kak.” Billy cengegesan, belum menyadari meja kosong, “Udah lama loh, kita semua ngga makan salad Padang.” Ujarnya mengingatkan mereka baru sekarang makan salad Padang lagi. Dia sambil meletakan mangkuk-mangkuk kecil ke depan Lotta, Martin, Ruben dan tempatnya sendiri. Setelah itu duduk di sebelah Lotta. “Dah yuk, kita mamam.” Di ajak keluarganya ini mulai makan.
“Makan apa, Bill?” Ruben memasang wajah serius, “Dah kelar kali kami makan.” Ujarnya memberitahu mereka bertiga sudah selesai makan, “Tinggal loe yang belum mamam!” imbuh dia, “Tuh dah gue sisain jatah loe.” Ditunjuk semangkuk kecil daun singkong, “Sorry, loe dapat secentong doing.”
Billy melihat isi mangkuk, lantas kedua mata beralih ke sekitar meja, kemudian..
“Cepet amat kalian makannya?” dia kaget karena meja kosong, “Perasaan tadi belum pada mulai mamam.”
“Kita kelaparan, makanya cepat menghabiskan semua makanan.” Ruben memberi jawaban, “Untung Loe tadi ingetin minta disisain, kalau tidak, alamat deh loe bikin mie instan untuk mamam.”
“Kagak dah mamam itu-“ Billy sedikit menggetarkan bahu, “Gue ngga mau diranap gegara mamam mie instan.” Keluh dia teringat pernah dirawat inap akibat over makan mie instan.
Salah dia sendiri, karena sibuk praktek dan menemani Lotta, saat lapar, bikin mie instan. Padahal Lotta sudah memperingatkan kalau lambung dia itu sensitive dari kecil. Satu kali makan mie instan, pasti langsung lambung bermasalah.
“Tunggu dulu-!” dia mulai menyadari ada yang tidak beres saat ini, sebab kedua matanya melihat meja mengapa rapih banget. Biasanya kan selesai makan ada piring kotor, serbet kusut dan lainnya. Lantas mengamati bergantian Martin, Ruben dan Lotta, “Loe semua serius udah selesai makan?”
“Serius!” Ruben menyahut, “Kan loe liat, di meja dah ngga ada apa-apa!”
“Memang-“ Billy menganggukan kepala, “Tapi masa sih kalian makan juga sama piring-piringnya?” dipandang bergantian ketiga saudaranya dengan mata menyelidik. “Nih meja makan bersih benar!” lantas menunjuk ke sekitar meja makan.
Mendengar ini, ketiga saudara pria itu tertawa geli. Mana mungkin manusia makan lauk sekaligus sama piringnya?
“Kalian ngerjain gue nih!” Billy mulai menyadari dinakalin mereka, tapi wajahnya tidak ada tersinggung marah, “Hayo, pada ngaku deh!” dipasang wajah pura-pura cemberut dengan kedua tangan disilang ke d***.
Lotta, Martin dan Ruben kembali tertawa geli.
Tawa mereka terdengar sampai ke dapur, membuat Mbok Asih dan Darno menghembuskan napas, merasa lega, karena sampai hari ini, semua anak-anak Daniel dan Lastri kompak bersaudara. Bahkan mantu dan cucu almarhum ke Lotta bersaudara juga akur.
Kembali ke ruang makan, Billy membantu ketiga saudaranya meletakan kembali lauk pauk dan lainnya ke meja makan. Wajah mereka masih terhias tawa geli. Baru setelah itu mulai makan malam bersama.
“Kak Martin-“ Lotta menegur Martin, “Lotta minta izin ya.”
“Izin apa, dek?” Martin menoleh ke si bungsu ini.
“Lotta mau jual rumah yang Papa belikan itu.”
“Kenapa Kamu ingin menjual rumah itu?” Martin berhenti makan, dipandangi sang adik.
“Rumah itu kegedean untuk Lotta, Kak.”
“Kegedean, atau-“ Ruben menimbrung, “Kamu kesal sama Kemal yang seenaknya mengaku sebagai pemilik rumahmu itu?” bertanya ke adik bungsu ini, “Billy udah bilang ke kami berdua, Kamu pecat semua pekerja di rumah itu setelah mereka mengatakan apa yang Kemal lakukan tersebut.”
Lotta menghela napas, tidak menyalahkan Billy, karena mereka bersaudara sepakat saling tahu keadaan satu sama lain, meski tidak ikut campur jika ada masalah. Kecuali, mereka berkumpul seperti ini, maka masalah yang ada dirundingkan bersama.
“Baiknya-“ Ruben bicara lagi, “Kamu jangan jual rumah itu.” Menyarankan agar Lotta tidak menjual rumah tersebut, “Kamu pugar saja dan bikin klinik yang Kamu idamkan dari kuliah.” Ujarnya. Usul ini hasil dia dan Martin berdiskusi setelah Billy menyampaikan Lotta memecat semua pekerja dan ingin menjual rumah dari almarhum Daniel.
“Baiknya begitu,” Martin menimpali, “Lotta, meski Kamu belum mau terbuka ke kami berdua apa yang terjadi antara Kamu dan Kemal-“ ditatap si bungsu dengan lembut, “Jangan Kamu jual rumah dari Papa. Papa membelikan itu sebagai tanggungjawab beliau ke Kamu, anak perempuan satu-satunya dalam keluarga kita. Jadi baiknya, rumah dipugar dan dibangun klinik idamanmu.”
“Lantas furniture dan lainnya gimana?” Lotta memandang bergantian ketiga saudaranya itu.
“Baiknya-“ Billy mulai menimbrung dalam percakapan mereka, “Selain barang pribadi loe dan Kemal, dijual aja. Kayak tempat tidur yang mau loe buang itu. Hasil penjualan untuk loe beli perlahan peralatan medis klinik loe.”
“Setuju!” Martin dan Ruben setuju saran Billy.
Lotta menyimak semua saran dari ketiga saudaranya ini, “Oke, Lotta terima saran kalian.”
***
Kemal mengawasi driver taksi menurunkan koper dan tas milik dia dari bagasi taksi. Wajahnya keruh sebab semua yang direncanakan dia dan Siska gagal total. Yang lebih menyesakan, ternyata, yacht milik Lotta di Marina Bay sudah kembali ke Jakarta, padahal tadinya dia ingin memakai yacht itu untuk healing sejenak menghibur Siska.
Dengan terpaksa dia membawa Siska kembali ke Jakarta. Sampai di bandara, dia menyewa taksi dan mengantar Siska pulang ke room apartment kekasihnya itu.
Sepanjang jalan, wajah Siska masam. Siska sangat marah ke dia yang tidak bisa mengadalin Lotta agar rencana plesiran romantic nan mewah mereka berhasil dijalankan. Bahkan kekasihnya mengancam akan memutuskan hubungan dan jika hamil pasti digugurkan.
Dia tentu tidak mau, berjanji akan menaklukan Lotta dan membuat hidup Siska mewah dari kekayaan Lotta. Maka dia segera pulang ke rumah sang istri yang diklaim rumah dia.
Setelah semua barang turun, Kemal membayar tariff taksi, lantas memandangi rumah mewah di depan yang ditutup pagar besi setinggi satu meter.
‘Lotta!’ disebut nama sang istri dalam hati, ‘Awas Kamu ya. Aku hukum Kamu yang berani membuat Siska marah ke Aku, gara-gara Kamu ambil semua fasilitas mewah milikku!’ dia bertekad memberi pelajaran ke istrinya.
Otak dia bertambah korslet karena terus dijejali doktrin sesat sama Siska, sehingga merasa betul Lotta istri durhaka.
Dia segera menggeret troli yang membawa koper dan tas, menghampiri pintu pagar. Jika biasanya dia bisa menelpon penjaga gerbang untuk membukakan pagar, sekarang karena tagihan pulsa ponsel belum dibayar Lotta, harus memencet bel yang terpasang di pintu pagar.
Namun, tidak ada penjaga yang keluar menyahutin bel tersebut. Kening dia menjadi berkerut. Tidak seperti biasanya, pikir dia. Padahal dia tahu para penjaga itu bergantian menjaga gerbang dan jika terdengar bel di pagar berbunyi, pasti salah satu dari mereka keluar menemui tamu yang datang.