Danu terduduk dengan kedua tangan yang menggenggam erat seprei tempat tidur yang ada di kedua sisinya. Lelaki itu menundukkan kepalanya menatap ke lantai yang ada di bawah kakinya. Jantungnya masih dibuat menggedor disana, seakan ingin meluapkan kekesalan saat itu. Namun Danu tahu jika akan sia-sia saja. Dengan beberapa kali nafas dalamnya yang serasa berat ia rasakan saat itu, Danu mencoba menenangkan dirinya disana. "Daniel." Satu kata yang ada di otak dan pikiran Danu saat itu adalah sang adik yang sudah merencanakan semuanya. "Awas kau Daniel!" ucap dalam hati Danu saat itu yang benar-benar geram di buatnya. Hingga lelaki itu pun kembali merebahkan tubuhnya ke pembaringan. Dengan posisi yang terlentang sembari kedua kaki masih menjulur menjuntai ke bawah, belum ia naikkan sempurna ke

