Bab 5. Malaikat Maut

1342 Kata
“Tidak perlu, Ren. Aku bisa masuk sendiri.” ** Aku mengenakan celemek yang aku kaitkan di leherku. Kembali berkutat di ruang besar yang aku namai ruang kerja. Bukankah aku di sini hanya untuk menyiapkan makanan? Ya, seusai bertemu dengan beberapa staf di universitas aku langsung di antar Rendra pulang. Bahkan, aku tak sempat jalan-jalan atau sekedar melihat gedung yang akan aku singgahi itu sepeti apa. Baru dua hari ini aku memasak menu yang sama, berkutat dengan ayam dengan kentang serta beberapa potongan sayuran. Apalagi dengan tambahan geprekan jahe. Benar-benar membuat aku enek dan tak ingin menyantapnya. Bagaimana mungkin Om Zuan bisa memakan makanan ini selama bertahun-tahun? Entahlah, sepetinya lelaki itu memang tidak waras. “Bagaimana kuliahnya, Zi?” Aku yang terkejut, tak sengaja menyenggol panci yang berisi kuah sup ayam. “Au, panas.” Semua kuah itu tumpah di atas meja, dan mengalir begitu saja hingga mencapai lantai. Aku menoleh ke sumber suara, seorang lelaki berdiri di belakangku, menatapku dengan dua bola yang hendak keluar. ‘Ya Allah ya Robbi, apa malaikat maut berupa sepeti ini? Menyeramkan sekali?’ “Au, panas.” Semua kuah itu tumpah di atas meja, dan mengalir begitu saja hingga mencapai lantai. Aku menoleh ke sumber suara, seorang lelaki berdiri di belakangku, menatapku dengan dua bola mata yang hendak keluar. ‘Ya Allah ya Robbi, apa malaikat maut berupa sepeti ini? Menyeramkan sekali?’ “Zi ....” ucap Om Zuan dengan gemeletuk giginya. “Iya, Om.” “Kamu apakan dapurku? Bukankah aku pernah bilang kalau aku gak suka dapurku kotor?” “Akan saya bersihkan, Om.” “Di mana makan siangku, Zi? Ha?” tanya Om Zuan masih dengan giginya yang saling gemeletuk, terlihat ia beberapa kali membuang nafas kasar. “Maaf, Om. Ini takdir, Om!” Jawabku sambil meringis, tak berani menatap lelaki di depanku. “Bukankah semua yang telah terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Allah? Sama seperti aku yang tak sengaja menumpahkan kuah ini, itu karena takdir. Om tahan marahnya ya! Zi pernah baca sebuah artikel, tiap kali marah, beberapa sambungan syaraf ke otak itu menegang dan memutus. Itu gak baik Lo, Om. Lagian kan salah Om Zuan sendiri ngagetin, Zi. Kenapa masuk rumah gak salam dulu, langsung nyelonong.” “Hah,” terdengar dengkusan kasar dari Om Zuan dan ia meraih tas kerja yang ia letakkan di bangku makannya. “Om, mau ke mana?” teriakku ketika ia melangkah menjauh. “Bukan urusanmu,” “Aku lapar, Om! Simbok lagi sakit, gak ada bahan makanan di kulkas lagi,” “Bukan urusanku.” “Bukankah Om pernah bilang sendiri kalau istri dari Zuan Raditya tidak boleh kelaparan?” Tak ada jawaban. Ia tetap melangkah begitu saja, seakan tak mendengar teriakanku. Benar-benar menyebalkan. “Ayo!” teriak lelaki itu dari ambang pintu. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan sinis. Dahinya tampak berkerut dengan sorot mata tajam. “Ke mana, Om?” “Katanya kamu lapar?” “Ke tempat tadi malam ya, Om!” “Makan makanan berlemak cukup seminggu sekali.” “Tapi, Om!” “Jadi ikut tidak, Zi?” Suara tanya yang menggelegar hingga memenuhi ruang tamu besar ini. “Ba-baik, Om!” Aku melangkah mendekat dan mengekori lelaki itu, sedangkan Om Zuan dari tadi masih memasang mimik menyebalkan. “Sabuk pengamannya dipakai dulu,” ucap Om Zuan sambil menstater kendaraan roda empatnya. “Tapi, Om!” “Apalagi, Zi? Ha?” “Aku gak tahu cara memakainya,” Tanpa menjawab ucapanku, ia langsung mendekatkan tubuhnya dan meraih sabuk itu, ia kaitkan benda tersebut ke sisi satunya. Hatiku benar-benar bagai gemuruh, apalagi nafas kasar dari Om Zuan benar-benar terasa, di tambah lagi dengan aroma wangi tubuhnya, membuat jantungku tak karuan rasanya. Hening, tak ada obrolan. Hanya terdengar alunan musik dari mobil ini untuk memecah keheningan. “Om, apa itu kebun binatang? Dari kecil Zi belum pernah melihat kebun binatang,” ucapku sambil menunjuk kiri jalan. Ia tak menyaut, bahkan tak menoleh sedikitpun ke arahku. Benar-benar menyebalkan. Mobil ini terhenti ketika berada di halaman sebuah resto. Ikan yang berenang di kolam menyambutku. Ia berlari ke sana ke mari, seakan menggambarkan hatiku yang bahagia saat ini. ’Bentar lagi aku makan enak.’ Aku tak mampu menahan untuk tidak menelan salivaku, saat kulihat beberapa pengunjung yang tampak menikmati menu di resto ini. Soto kerbau dengan taburan bawang goreng yang disajikan dengan hangat. Ditambah lagi macam-macam sate sebagai pelengkapnya. Sate telur, sate ati ampela, sate usus, benar-benar membuat jiwa kulinerku menyeruak. “Cepat makan!” ucap lelaki di depanku sambil memberikan dua mangkok soto di depanku. Ia juga membawakan ku sepiring sate, yang berisi berbagai macam sate di atasnya. “Om tidak makan?” tanyaku ketika sudut mataku melihat arah depannya yang kosong. Tak ada soto ataupun tusukan sate, hanya ada jus jeruk dalam gelas bening yang tampak masih utuh. “Aku tidak makan siang, kecuali makan sup ayam jahe.” “Tapi, Om. Bahaya! Jika Om gak makan, lambung Om Zuan akan kosong, asam lambung bisa naik dan menjalar ke organ lainnya. Asam tersebut akan mengikis organ yang dilewatinya hingga membuat organ pencernaan Om rusak. Bisa berakibat fatal, Om. Yang lebih parahnya ....” “Makan atau kita pulang?” Pertanyaan yang benar-benar membuatku terhenti untuk bicara. Aku menyeruput kuah soto dengan taburan bawang goreng yang melimpah, benar-benar nikmat. Selera makanku ternyata begitu tinggi, berbeda sekali dengan lelaki di depanku yang tak bisa menikmati makanan lain, selain sup ayam jahe. Seusai makan kami kembali ke mobil, tak seperti tadi. Ia langsung meraih sabuk pengaman tanpa menunggu aba-abaku. Wajahnya tetap kaku, dingin, bahkan sama sekali tak terdengar kalimat dari bibirnya. “Om, ke Napa kamu membawaku ke sini? Bukanya Om sudah berjanji tak akan menyentuhku? Atau jangan-jangan, Om ....” Aku menatap lelaki itu dengan senyuman. Ia tak membawaku kembali ke rumah, melainkan berhenti di sebuah gedung tinggi yang menjulang ke langit. Sama seperti hotel-hotel yang aku lihat di layar tv milik Bu De. “Jangan pikiran ngeres, Zi. Ini tempat kerjaku!” jawab ia santai sambil membuka pintu mobilnya. “Om, aku tak bisa melepas sabuk ini,” ucapku sambil menarik-narik sabuk pengaman yang dipakaikan Om Zuan . “Dasar, wanita menyusahkan.” Aku mengekori Om Zuan yang melangkah cepat memasuki bangunan ini, beberapa kali terlihat ia melihat ke arah jam yang melingkari lengannya. Beberapa pasang mata kini melihat ke arahku, aku benar-benar dibuat ketakutan dengan pandangan mereka. “Om, kenapa aku dibawa ke sini? Kenapa aku tidak dipulangkan dulu?” tanyaku sambil mendekat ke arah Om Zuan, masih dengan langkah yang enggan berhenti. “Aku ada rapat, Zi! Waktuku gak akan cukup kalau mengantarmu dulu.” Kami masuk ke dalam jeruji besi, tampak lelaki di sebelahku memencet tombol di dalamnya, hingga terasa getaran dalam tempat ini. Aku berpegangan kuat sambil membaca basmallah, sedangkan kulihat Om Zuan yang kini tersenyum menatapku. Benar- benar menyebalkan. “Om, apa bosnya Om Zuan tidak akan marah kalau aku dibawa ke sini?” tanyaku setengah berbisik ketika kami telah keluar dari kotak besi tersebut. Tak ada jawaban. Ia hanya mempercepat langkah, dan ku ikuti dari belakang yang sedikit tertatih. “Kamu duduk di sini, jangan ngapa-ngapain. Apalagi ke luar dari ruang ini. Kamu tidak ingin aku dimarahi bos ku kan?” “Ba-baik, Om!” “Bagus. Aku tinggal sebentar. Ingat, jangan ngapa-ngapain dan jangan sampai ke luar dari ruang ini.” Om Zuan telah lenyap dari pandangan, meninggalkanku dalam sebuah ruangan besar yang dingin ini. Aku menatap ruangan kerja lelaki itu, semua tampak rapi. Benar-benar lelaki perfeksionis. Tiba-tiba kurasakan perutku melilit, sepertinya sambal yang aku bubuhkan ke soto tadi terlalu banyak. Prutt ... Suara itu keluar begitu saja, hingga aku menahan sensasi sakit karena menahan rasa mulas ini. Aku melihat detikan jam yang terus berjalan, hampir sejam aku menunggu Om Zuan untuk datang. “Ya Allah, Om. Kapan kamu datang? Aku benar-benar gak tahan,” ucapku lirih sambil menghapus peluh yang dari tadi terus mengucur. Ceklek Terdengar suara pintu yang terbuka. Lelaki itu masuk, dan kusambut dengan mata yang berbinar. “Bau apa ini? Kenapa ruanganku bau sekali!” ucap lelaki itu sambil menutup hidungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN