Aku benapas lega ketika keluar dari kamar kecil. Untung saja, aku tak harus keluar ruangan hanya untuk membuang hajatku. Pandangan mereka ke arahku, benar-benar membuatku ngeri. Tatapan sinis.
“Kamu menjijikkan sekali, Zi!” ucap lelaki itu sambil sekilas menatapku. Pandangannya kembali mengarah ke layar di depannya, sedangkan tangan kirinya masih ia gunakan untuk menutup Indra penciuman.
“Ini semua karena, Om. Jika Om tak memintaku untuk berdiam diri semua tak akan seperti ini.”
“Zi,” ucap lelaki itu sambil mendelik ke arahku. Hingga sebuah panggilan terdengar di indra. Ia meraih ponsel dalam layarnya, melihat nama di dalamnya, dan membiarkan panggilan tersebut begitu saja.
“Siapa, Om? Kenapa tidak diangkat?” tanyaku. Selintas bayangan wanita cantik tergambar di ponsel Om Zuan.
“Bukan urusanmu.”
Aku diminta Om Zuan untuk duduk menjauh darinya, di sebuah sofa sudut, yang sepertinya digunakan untuk Om menjamu rekan kerjanya. Hanya duduk, tak boleh berbuat apa-apa, termasuk bicara. Karena menurutnya suaraku lebih dari cukup untuk mengganggu konsentrasinya, terlebih mood kerjanya.
“Maaf, Pak. Boleh saya masuk!” terdengar suara dari balik pintu beserta ketukan.
“Silahkan.”
Sesaat kemudian seorang wanita berpakaian ketat itu masuk, ia berjalan bak model dengan kemeja warna coklat dan rok span pendek warna hitam, sepatunya tinggi seperti saat aku pakai untuk akad. Sedangkan dandanannya begitu menor, dengan lipstik yang menyala.
“Maaf, Pak. Ada dokumen yang butuh tanda tangan bapak,” ucap wanita itu sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. d**a yang terlihat begitu penuh itu seakan di ekspose di depan Om Zuan, terlebih kancing kemeja atasnya yang sepertinya sengaja dibuka.
Terlihat Om Zuan hanya fokus kepada kertas di depannya, ia tampak mengamati tulisan tersebut, kemudian membubuhkan sebuah tanda tangan, tanpa melirik wanita itu sama sekali.
“Ada yang perlu di tanda tangani lagi?”
“Tidak, Pak. Sudah cukup,” ucap wanita itu dengan nada centil. Sekilas ia menatap ke arahku dengan pandangan sinis.
“Kalau tidak ada keperluan lagi, silahkan ke luar.”
Aku menahan tawa ketika Om Zuan sengaja mengusirnya, bahkan aku sampai menutup mulutku agar suara tawa itu tak terdengar.
Wanita itu melewatiku dan membuang muka, “Anak kecil tidak usah ikut-ikutan,” ucap wanita tersebut sambil berjalan keluar dengan lenggak-lenggok tubuhnya.
“Mbak, kancingmu terbuka. Jangan lupa dirapikan,” teriakku.
Ia menoleh ke arahku, sambil memiringkan bibirnya, seperti dengan nada ejekan. Sedangkan kulihat kini Om Zuan tertawa ketika wanita itu telah lenyap dari pandangan.
“Kenapa, Om ketawa?”
“Apa pesanku, Zi?”
Lelaki itu kembali mendelik ke arahku. Hingga aku menunduk untuk tak membalas percakapannya. Hanya diam, tak melakukan apapun.
Sejam, dua jam. Aku benar-benar bosan.
“Om, aku haus.”
“Hm.” Lelaki itu menunjuk benda persegi empat yang berada tak jauh dariku. Hanya menunjuk tanpa menoleh sedikitpun.
Aku bergegas mendekat dan membuka benda tersebut, beberapa macam minuman terjejer rapi dalam rak ini.
‘Di mana soda? Di mana teh dingin? Ah, Om Zuan benar-benar payah.’
Dua bola mataku menatap botol-botol dalam rak tersebut, hampir semua tulisannya tertulis dengan bahasa asing. Dan kini tanganku meraih botol yang berbentuk paling lucu sendiri. Seperti botol om jin dengan bentuk pipih dan membulat dibawah. Warnanya agak kecoklatan, sepertinya memiliki rasa coklat seperti kesukaanku. Aku putar tutup botol itu dan terus meneguknya.
Glek
Glek
Glek
“Jangan yang itu, Zi!” teriak Om Zuan yang kini mendekat. Ia meraih botol yang aku pegang dan mengembalikan ke tempat semula.
“Kenapa rasanya tidak enak, pahit, Om. Minuman apa itu?”
“Dasar, wanita bodoh. Apa kamu gak membaca kemasannya?”
“Tulisannya bahasa asing, Om. Aku gak bisa mengartikannya.”
“Dasar kamu, Zi!” ucap Om Zuan sambil menatapku dengan membulatkan dua bola matanya.
**
POV Zuan.
“Dasar kamu, Zi!”
“Om, jangan marah-marah. Tau tidak kalau tiap Om marah tingkat kegantengannya bertambah.”
Aku tersenyum mendengar pengakuan wanita kecil itu. Tak aku pungkiri, ketampananku memang melebihi rata-rata.
“Diam, Zi! Kamu itu lagi gak waras!”
“Siapa yang gak waras, Om. Zi itu tidak gila. Zi bisa berpikir sehat, dan yang terpenting, Zi bisa jatuh cinta. Tidak seperti Om. Berarti siapa yang tidak waras?”
Wanita ini sepertinya memang sudah terpengaruh dengan alkohol dari minuman tersebut. Kenapa aku lupa kalau ada wine di lemari itu.
“Om, apa karena wanita tadi ya? Om tidak mau menyentuhku. Padahal cantikan aku Lo, Om. Apalagi kalau aku dandan, sudah pasti tuh wanita itu kalah jauh.”
‘Apakah seperti ini perasaan seorang wanita? Bukankah aku sudah pernah berpesan jangan menaruh hati padaku, Zi. Aku tak akan bisa mencintaimu.’
Aku menarik tubuh Zi yang kini sedikit terhuyung, merebahkannya di atas sofa.
“Om, kenapa tenggorokanku panas sekali? Ruangan ini juga panas! Apa Om Zuan mematikan AC nya?”
“Diamlah, Zi.”
“Kenapa aku harus diam? Terus, kenapa Om memintaku berbaring? Atau jangan-jangan ...” Kini wanita itu menyeringai.
“Diamlah, Zi!”
“Aku ingin muntah, Om!”
Hoek ...
“Zi, menjijikkan. Kenapa kamu muntah di jaz mahalku.”
Wanita itu sudah tak bergeming. Sepertinya ia kini terlelap. Pengaruh minuman beralkohol dari Perancis itu benar-benar luar biasa. Aku saja tidak kuat, apalagi dia.
Aku meraih ponsel di sakuku. “ Ren, ke ruanganku sekarang.”
Sesaat kemudian, lelaki itu datang.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Panggilkan cleaning service untuk membersihkan lantai itu,” ucapku sambil menunjuk lantai yang terkena muntahannya Zi.
Sekilas, asisten itu melihat tubuh Zi yang terkapar tak berdaya di atas sofa “Nona Zi kenapa, Pak?”
“Bukan urusanmu. Siapkan aku pakaian ganti sekarang juga, Ren! Juga pakaian untuk,Zi.”
“Baik, Pak.”
Lelaki itu berlalu, dan kini aku melepas Jaz yang aku kenakan. Wanita itu benar-benar menyusahkan.
Sesaat kemudian Rendra datang.
“Maaf, ini, Pak. Pakaian untuk pak Zuan beserta Nona, Zi!”
“Terima kasih. Sekarang ke luar, aku mau ganti pakaian.”
“Baik, Pak.”
Aku menanggalkan pakaianku, dan mengganti pakaian dengan baju yang dibelikan Rendra. Lelaki itu sudah pasti paham dengan model kemeja yang aku suka, serta ukuran yang biasa aku kenakan.
Benar-benar membuat tingkat kegantenganku bertambah, seperti ungkapan, Zi. Apa, Zi? Kenapa aku mengingat wanita itu? Sekilas, aku melihat ia yang sedang tak berdaya di atas sofa.
“Zi, bangun. Ayo kita pulang, ini sudah larut. Mau sampai kapan kamu di sini, ha?”
Sekeras apa aku menggoyang tubuhnya, ia seakan tak merespon. Benar-benar terlelap.
Aku terpaksa mengganti pakaiannya dan membopongnya ke luar. Untung saja semua karyawan tidak ada yang lembur. Jadi tak ada yang melihatku bertingkah konyol seperti ini. Dasar kamu, Zi. Kenapa kamu selalu menyusahkan.
**
Pov Zi
Kepalaku terasa berat. Pusing sekali.
Aku menatap lelaki yang kini membopongku, melihat parasnya sedekat ini, benar-benar membuatku jantungku berdesir hebat. Perasaan apa ini? Kenapa aku seakan kegirangan diperlakukan seperti ini
Lantas kenapa aku harus dibopong oleh Om Zuan. Aduh, pusing sekali.
“Kamu sudah bangun, Zi?” tanya Om Zuan saat hendak menaruhku di jok mobil sebelahnya. Pandangan kami tak sengaja bertemu.
“Om Zuan! Lepaskan aku!”
Bruk
“Aduh, sakit!” gerutuku. Kenapa harus melepaskan sekasar ini.
“Katanya suruh melepas!” jawabnya tak bersalah, dan menutup pintu mobil. Ia berjalan dan membuka pintu mobil sisi lainnya, tidak lupa ia mengaitkan sabuk pengaman yang sampai sekarang belum bisa kupasang sendiri.
Sekilas aku menetap tubuhku.
“Om Zuan, kenapa aku memakai pakaian haram seperti ini? Apa yang sedang terjadi? Kamu tidak ...?”