“Om Zuan, kenapa aku memakai pakaian haram seperti ini? Apa yang sedang terjadi? Kamu tidak ...?”
Aku menutup belahan dadaku yang terbuka dengan menyilangkan tanganku sedangkan kakiku yang terekspose karena pakaian pendek ini aku tutup dengan jaket milik om Zuan.
“Jangan berpikir aneh-aneh, Zi! Kamu menanggalkan semua pakaianmupun aku tak akan tertarik. Lihat saja, ukuran dadamu saja standar. Siapa juga yang mau melirik?” ucap Om Zuan dengan senyum tipis. Benar-benar merendahkanku.
“Om.”
Aku mendelik ke arahnya, sedangkan ia seakan tersenyum puas.
Sesaat kemudian, ia memasukkan sebuah alat kecil ke telinganya, lalu menggeser layar pipih miliknya.
“Iya, Ma. Zuan jemput sekarang ya!”
Aku menatap lelaki itu, ketika kata “Ma” keluar dari bibirnya. Apakah Ma yang dimaksud adalah ibunya?
“Siapa yang telfon, Om!”
“Bukan urusanmu.”
Ish, benar-benar menyebalkan.
“Nanti kalau bertemu Mama kamu harus bersikap sopan, jaga sikapmu, dan ingat jangan banyak bicara.”
“Bukan urusanku.”
“Ini urusanmu, kamu itu sudah aku bayar mahal untuk ini semua!”
“Apa, Om? Bayar mahal?”
“Iya, makanya kamu harus jaga sikap. Bertingkahlah selayaknya istri betulan.”
“Itu artinya Pak De menjual ku?”
Om Zuan terkekeh. “Sudah tahu bukan bagaimana posisimu sekarang? Jadi kamu harus manut dengan perintah bos mu sekarang.”
“Kembalikan aku sama PakDe, Om! Aku ingin memaki lelaki tua itu! Tega-teganya dia menjual ponakannya seperti ini. Aku tak terima.”
Om Zuan kembali terkekeh ketika melihat muka ku yang muram. “Bersyukurlah, Zi. Setidaknya lelaki yang membelinya orang baik hati.”
Aku mendelik kepada lelaki di sebelahku “ Baik hati? Akan aku laporkan kalian karena kasus perdagangan manusia.”
Om Zuan kembali terkekeh. “Tak ada yang percaya denganmu. Kamu tak memiliki bukti. Setidaknya di rumahku kamu bisa makan enak, bukan nasi basi sisa pakDe mu.”
Aku terhenyak mendengar kalimat itu. Memang benar yang diucapkan Om Zuan, dirumah pak De aku memang babu yang harus patuh dengan majikannya, sedangkan upahku hanyalah makanan nasi sisa hari kemarin. Berbeda sekali di sini, meskipun Om Zuan memang sering marah, setidaknya lelaki ini lebih memanusiakan manusia sepertiku.
“Ayo turun,” ucap lelaki itu ketika mesin mobil telah berhenti.
“Aku ikut masuk, Om?”
Aku menatap sekitar dari balik jendela kaca depan. Nama sebuah bandara tertulis besar di sana, banyak manusia berlalu lalang di tempat ini membuat tingkat kepercayaan diriku semakin menyiut.
“Kamu mau bersikap tidak sopan dengan ibu mertuamu? Tidak mau menjemput beliau?” Lelaki itu membuka mobil dan hendak keluar.
“Tapi, Om!”
“Apalagi, Zi? Ha?”
“Aku gak bisa membuka sabuk pengaman ini,” ucapku meringis menampakkan jejeran gigiku.
“Wanita merepotkan.”
Aku turun dari mobil mengenakan pakaian merah menyala dengan belahan d**a cukup lebar, ditambah lagi rok di atas lutut benar-benar membuatku tak nyaman.
“Ada apalagi, Zi? Ha?”
Kedua lenganku memegang pahaku, menutup rok pendek yang takut terangkat oleh angin. Apalagi hembusan angin sepoi malam ini seakan hendak membuatku terbang.
“Aku malu, Om!”
Lelaki pemarah di depanku, sepertinya menyadari ketidaknyamanan ku. Ia membuka pintu mobil dan mengambil jaket hitam miliknya. Di rentangkannya jaket itu lalu dikaitkan kedua lengannya di pahaku, aroma tubuhnya benar-benar tercium diindraku, wangi khas lelaki itu, terlebih aroma yang menyeruak dari jaketnya. Untung sekali benda tersebut mampu menutupi bagian kaki atasku yang terekspose.
“Belahan depannya tak terlalu tampak, Zi! Di sini wajar berpakaian itu. Apalagi punyamu ukuran standar, tidak akan yang melirik ke arahmu.”
“Tapi, Om!”
Lelaki itu tak menjawab, justru meraih lenganku dan menggandengnya.
“Pelan-pelan, Om!” langkah kaki Om Zuan terlalu besar dan cepat, sehingga aku tertatih untuk mengekorinya.
Langkah kami terhenti ketika seorang wanita paruh baya melambaikan tangan ke arah kami, memakai pakaian panjang dengan jilbab menjuntai sampai bawah.
“Ingat, jangan banyak bicara. Jawab seperlunya saja,” bisik Om Zuan ke arah indraku. Aku hanya mengangguk.
Lelaki itu tampak meraih lengan Mamanya dan mencium punggung tangan itu, dan di sambut oleh wanita berparas cantik itu dengan ciuman di keningnya, tampak seperti anak kecil yang di cium sayang oleh ibunya.
“Ini, mantuku?” tanya wanita paruh baya itu sambil menatapku, matanya berbinar dengan penuh kebahagiaan.
‘Ya Allah, Mama Om Zuan semua auratnya tertutup. Sedangkan aku?’ Aku menatap tubuhku yang terbalut pakaian minim. Benar-benar membuatku minder.
“Iya, Ma.” Lelaki itu mengambil alih koper yang dibawa Mamanya, sedangkan wanita paruh baya itu kini memeluk tubuhku dan mencium pipi kanan dan kiri ku.
“Aku harap kamu bisa tahan dengan sikap dingin anakku, Sayang!” bisik wanita itu, yang aku balas dengan anggukan.
Kami menikmati makan malam bersama masih di area bandara ini. Soto kerbau khas Kudus, wangi khasnya benar-benar membuatku air liurku ingin keluar, bahkan beberapa kali aku harus menelan salivaku karena menunggu makanan tersebut tersaji di atas meja.
Di tengah kerlap kerlip lampu malam aku duduk di sebelah Om Zuan, sedangkan wanita paruh baya itu duduk di depan anak laki-lakinya. Senyum indah senantiasa menghiasi bibir wanita itu.
“Zi, apa Zuan sering merepotkan mu?”
“Gak kok, Ma.”
Aku melirik lelaki di sebelahku yang kini menunjukkan jempol tangannya, sebagai penanda kalau jawabanku benar, sesuai perintahnya.
“Zuan masih makan sup ayam jahe tiap siang?”
“Iya, Ma. Ia gak akan makan kalau Zi tidak menyiapkan sup ayam jahe. Apalagi makanan tersebut harus disajikan pas jam dua belas siang, tidak boleh panas, apalagi sampai dingin. Kentangnya pun harus tiga potong ukuran sedang, tanpa nasi, tanpa bawang goreng. Terlebih lagi juga geprekan jahe yang harus di ukur dengan seruas jari telunjuk. Jarinya Zi dan Om Zuan kan berbeda ukuran, Ma. Ia sering marah-marah. Apalagi waktu Zi tidak sengaja menumpahkan sup itu. Rasanya malaikat mautku telah mendekat.”
Wanita paruh baya itu terkekeh, hingga akhirnya ia menyadari nama sebutan untuk lelaki di sebelahku adalah Om.
“Zi, kamu panggil suamimu, Om?” tanya wanita itu yang kini menatapku penuh selidik.
Aku gugup, tak tahu harus berbicara apa. Ditambah lagi dengan kaki Om Zuan yang dari tadi disenggolkan ke kaki jenjangku.
“Apa-apaan si, Om? Kaki ku terinjak tahu,” ucapku menatap lelaki di sebelahku, seperti anak kecil saja yang suka jail menginjakkan kaki.
Wanita itu kembali terkekeh ketika menatapku, sedangkan Om Zuan tampak menutup mukanya. Sedangkan bibirnya tampak berbicara namun tak meninggalkan suara.
“Bicara apa, Om? Zi tidak mendengar.”
Mata Om Zuan kini justru mendelik ke arahku, sedangkan aku dari tadi belum tahu apa salahku. Apa karena aku berbicara terlalu banyak kepada Mama Om Zuan?
“Om itu panggilan sayang, Ma. Iya kan, Zi?” Kini lengan Om Zuan meraih pundakku, di dekatkannya tubuhku dengannya. Sebuah pelukan yang erat. Bahkan sangat erat hingga membuatku sesak untuk bernapas.
“Sebaiknya sup ayam jahe kesukaanmu itu harus kamu hilangkan dari daftar menumu, Nak. Sekarang sudah ada Zi. Kasihan juga kan jika ia harus kamu tuntut menyiapkan makanan yang sama seperti yang disajikan Hanum. Sudah saatnya kamu melupakan istri pertamamu itu.”
“Sudah berapa kali aku bilang, Ma. Sampai kapanpun aku tak akan melupakan Hanum.”
“Zuan.”
“Ayo, Ma. Kita pulang. Makan malam kita sudah selesai,” ucap Zuan yang kini berdiri. Ia meraih lenganku dan memintaku untuk mengekorinya. Saat aku menoleh ke belakang ku lihat wanita itu menatapku sayu, hingga aku melepas pegangan tangan lelaki itu.
“Om, kamu boleh marah-marah kepadaku seenak hati. Tetapi tidak dengan wanita yang telah melahirkan mu.”
Aku membalikkan badan, dan kini menggandeng erat tangan Mamanya Om Zuan yang belum aku ketahui namanya. Ia tersenyum senang menatapku, bahkan beberapa kali ia mengelus lembut rambutku.
“Tak apa Zuan marah padaku, Zi. Yang penting kalian bisa memberikanku cucu. “
Aku menatap lelaki yang kini sama-sama mematung denganku, pandangan kami saling bertemu dengan hati yang seakan tersambar.
**
“Alhamdulillah, Nyonya sudah pulang. Bagaimana kabarnya?” tanya Simbok sambil meraih koper besar yang di bawa Om Zuan. Wanita tua itu mengikuti arah di mana Nyonyanya melangkah.
“Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar, Mbok?”
“Alhamdulillah, Nyah.”
“Apakah Zuan memang benar-benar sudah menikah, Mbok?”
“Benar, Nyah. Mereka juga sekamar. Apa ada yang salah, Nyah?”
Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum simpul. “Alhamdulillah, berarti Zuan tidak bohong. Ia akan memberiku cucu.”
‘Cucu?’ Aku yang mendengar obrolan mereka, kini menatap lelaki di sebelahku. Ia meringis menunjukkan jejeran giginya. Apa maksudnya?