Aku menatap lelaki yang kini berbaring di sebelahku, mungkin karena ketidaksengajaan ia merubah posisinya menghadap ke arahku, bahkan mampu kurasakan hembusan nafasnya dari dengkuran lembut miliknya. Lelaki yang menikahiku, tanpa boleh ada kata cinta di dalamnya.
“Zi, kamu belum tidur? Ha?”
Matanya terbuka dan membuatku salah tingkah. Bagaimana kalau Om Zuan menyadari tingkah konyolku tadi? Menatap wajahnya dengan sendu.
“Ayo tidur.” Tangannya ia lingkarkan ke tubuhku, sedangkan dua pelupuk matanya kembali menyatu. Tangan kekar dengan sedikit bulu itu kini naik ke rambutku, ia mengelus rambut panjangku, mendekap tubuhku ke dalam pelukannya. Dan aku benar-benar terperanjat ketika sebuah ciuman hangat mampir di keningku.
‘Ciuman? Apa maksud sentuhan ini? Zi, kenapa mendadak jantungmu berdesir hebat? Apakah ini yang dinamakan cinta? Ingat perjanjian, Zi. Ingat posisi. Kamu tak lebih dari wanita yang terbeli oleh Tuannya.’ Aku bermonolog kepada diriku sendiri.
“Om.”
Aku menatapnya lebih lama, matanya masih dalam keadaan terpejam. Apa rasa gengsinya melebihi semuanya?
“Tidurlah, Sayang. Ini sudah malam, aku rindu sup ayam jahe buatanmu. Masakannya Zi kurang bersahabat dengan lidahku.”
Aku mendelik ke arahnya. Dalam keadaan bermimpi pun lelaki ini benar-benar menyebalkan. Apakah ia tak bisa menghargai seseorang sedikitpun? Apa ia berpikir kalau aku ini orang lain?
Plakk
“Au” Lelaki itu terbangun ketika sebuah tamparan mendarat tepat di pipinya.
“Kamu ini kenapa, Zi?” tanya lelaki itu penuh selidik.
“Ma-maaf, Om. Tadi ada nyamuk mendarat di pipi Om Zuan. Refleks, Om.”
“Kenapa sekeras itu?”
“Namanya juga reflek, Om.”
“Dapat nyamuknya?”
“Enggak, Om! Nyamuknya kabur duluan sebelum Zi menepuk pipi Om.”
“Kalau sudah kabut kenapa ditepuk pipinya, Zi? Ha?”
“Maaf, Om!”
Lelaki itu kembali menjatuhkan diri dalam posisi semula, sedangkan tangan kanannya masih ia gunakan untuk mengelus pipinya yang kini memerah dan sesaat kemudian kembali terdengar dengkuran halus.
‘Syukurin! Harusnya aku menampar pipimu lebih keras ,Om!’ batinku sambil menatap lelaki itu.
**
Aku melepaskan mekena bermotif bunga yang menjadi mahar pernikahanku.
“Untuk apa kamu shalat, Zi? Bukankah Allah tak pernah memberi apa yang kamu inginkan?”
Sontak aku menoleh ke sumber suara. Lelaki itu terbangun dan duduk di atas ranjangnya menatapku.
“Allah memberiku sesuatu yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan, Om. Terlebih dari itu semua, ada kedamaian hati yang tak mampu diungkapkan dengan kalimat apapun.”
Aku meletakkan mekena yang sudah terlipat ke dalam rak seperti biasa. Langkahku kini menjauh dan berlalu menuju ruang kerjaku.
“Zi, tunggu!”
Aku menghentikan langkahku ketika tepat di ambang pintu. Kepalaku sedikit berputar menoleh ke belakang “Ada apa, Om?”
Tampak ragu lelaki itu berucap. “ Hapus daftar kopi dalam menu sarapanku, diganti s**u hangat saja.”
Aku kembali melanjutkan langkah, tempat di mana aku bekerja.
“Zi,.sudah bangun, Nak?” Wanita yang auratnya tertutup sempurna itu kini menatapku. Ia sudah berdiri di meja dapur bersama Simbok.
“Iya. Ma. Maaf Zi bangunnya kesiangan,” dustaku. Semalaman aku tak bisa memejamkan mata karena mendengar kata Sayang dari bibir Om Zuan. Kata sapaan yang ia ucap bukan untukku, melainkan kepada wanita yang telah lebih dulu duduk di singgasana hatinya. Cemburu kepada wanita yang telah tiada, bagaimanakah aku harus bersikap?
Terdengar bisikan antara Simbok dan Mama, sambil menatap rambut panjangku.
“Apa? Ini?” Aku memegang rambut panjangku yang masih basah.
“Nyonya. Cucunya Nyonya sepertinya on the way,” ucap Simbok dengan logat jawanya, terkesan katrok.
“Bukan, Ma. Ini bukan ... “ Aku menggeleng.
“Mama kayak gak pernah muda saja. Kasihan Zi tahu, Ma!” ucap lelaki itu yang kini berdiri di depan pintu dapur. Entah mulai kapan ia berada di situ, sepertinya Om Zuan memang memiliki pintu kemana sajanya Doraemon.
Terlihat Mama dan Simbok saling melempar pandangan ke arahku.
**
“Nah, gini dong, Om. Sarapan pakai roti selai dan s**u. Bukan dengan kopi. Kopi itu tidak baik karena mengandung kafein. Apalagi dikonsumsi saat perut kosong, itu bahaya sekali, Om . Tetanggaku punya maagh akut, eh ia masih konsumsi kopi, beberapa saat kemudian ia meninggal dengan perut melembung. Ngeri banget kan, Om!”
“Zi!” Om Zuan mendelik ke arahku.
“Zi gak bohong kok, Om! Zi jujur. Suer,” ucapku sambil sambil mengangkat kedua jariku setara dengan kepalaku.
Mama kini terkekeh. “Pintar sekali kamu cari istri, Nak. Dia periang sekali,” ucap wanita berjilbab itu sambil menatap ke arah anak lakinya. Sedangkan aku yang mendengar sanjungan itu kini menahan malu. Apakah sikapku memang masih ke kanak-kanakan yang seperti orang bilang?
Aku mengoles selai nanas untuk Om Zuan, lalu memberikan roti yang sudah siap di makan itu di piringnya. Ia menatap tajam ke arahku, sambil melirik ke arah wanita di sebelahnya, seperti memberikan kode kepadaku. Aku yang langsung paham bergegas mengambil roti dari tangan Mama mertuaku dan mengoleskan selai untuknya.
“Biar mama sendiri, Zi!” ucap wanita itu sambil berusaha meraih roti yang ku pegang.
“Jangan, Ma. Ini sudah kerjaan, Zi! Menyiapkan sarapan pagi dan makan siang,” ucapku sambil memamerkan senyum.
“Kamu rajin sekali, Zi! Mama sayang sekali denganmu,” ucap wanita itu sambil meraih punggunggku. Diusapnya punggung itu sambil memamerkan senyum indahnya.
“Gimana kabar, Mama? Kenapa mendadak sekali pulangnya?” tanya Om Zuan yang sepetinya tak menyukai wanita yang telah melahirkannya memujiku.
“Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah Mama sehat. Mungkin mama di sini hanya beberapa hari saja karena ada yang harus mama urus dengan ayahmu, setelah masalah selesai mama akan melanjutkan pengobatan kembali.”
“Untuk apalagi Mama berhubungan dengan lelaki itu? Kenapa tak ada habis-habisnya ia ganggu kehidupan Mama.”
Om Zuan tampak geram ketika mendengar kata ayah dari bibir wanita di dekatnya. Aku hanya mampu terdiam tak banyak bicara, menyimak apa yang aku dengar.
“Kamu tak boleh seperti itu, Nak. Bagaimanapun ia adalah ayahmu. Ia yang membesarkanmu hingga dewasa, kamu harus tetap menghormati ia.”
Om Zuan tak bergeming, ia kembali memasukkan gigitan roti ke mulutnya. Sesekali ia menyeruput s**u hangat yang telah aku sajikan.
“Zi, habis sarapan kamu siap-siap berangkat kuliah. Hari ini kamu mulai ada jadwalkan?” tanya laki-laki itu sambil menatapku. Sepertinya ia memang sengaja mengalihkan pembicaraan.
“I-iya, Om.”
“Nanti Rendra datang jemput kamu, pukul delapan tepat. Ingat! Jangan terlambat, nanti Ian berangkat ke kantor juga telat. Kamu tahu apa konsekuensinya? Gajinya dipotong, dan semua karena kamu.”
Aku seakan terpental ke belakang ketika kalimat gaji di potong masuk di indraku. Sepertinya Om Zuan adalah karyawan yang galak, ia mendapatkan kedudukan yang lumayan tinggi dan berbuat semena-mena kepada karyawan bawahannya. Andai aku bertemu bos utama, rasanya ingin aku laporkan sikap angkuhnya lelaki di depanku.
“Zi! Kamu dengarkan?”
Aku kembali tersentak kaget ketika kalimat tanya itu merambat ke indraku.
“De-dengar, Om! Zi janji tidak akan terlambat. Saya permisi dulu, mau siap-siap.”
“Mau ke mana, Zi? Kamu belum sarapan?”
Aku menoleh ketika lenganku di pegang erat. Aku menoleh kepada wanita teduh itu. Ia senyum simpul sambil menatap kursi di sebelahnya, seperti kode untuk duduk.
“Tapi, Ma!”
“Duduklah, Sayang,” ucap Mama sambil menepuk kursi makan di sebelahnya.
“Saya tidak berani duduk di situ, Ma. Hanya Om Zuan dan keluarganya yang boleh duduk dan makan di tempat ini.”
Wanita itu kembali tersenyum kepadaku, kali ini disertai suara yang membuatku aku juga meringis karena malu.
“Kamu itu keluarganya Zuan juga, Sayang. Kamu adalah istrinya. Jadi juga sepatutnya kamu duduk di sini dan makan bersama.” Mama menagarahkanku untuk duduk di sampingnya, sedangkan pandanganku tak pernah bergeser dari wajah geram Om Zuan.
“Makan dulu roti selainya.” Mama memberikanku roti yang sebelumnya telah diberi cukup selai di atasnya.
“Tapi, Ma!”
“Sudah makan dulu.”
Akhirnya aku menurut, menggigit roti selai pertama buatan mama mertua. Ada rasa haru ketika mengunyahnya. Aku merasa dianggap sebagai menantu pada umumnya.
“Untuk kamu, Zuan. Batalkan kedatangan Rendra ke sini, jadi tak ada yang terlambat datang ke kantor ataupun potong gaji. Kamu yang antar Zi untuk berangkat ke kampusnya. Mengerti?”
“Tapi, Ma!”
“Tak ada tapi, ini perintah. Jadi, dilarang protes.”
Om Zuan melempar pandangan ke arahku, wajahnya menakutkan, malaikat maut kembali hadir di dekatku?