Bab 9. Rumus Luas

1311 Kata
“Om, jalannya pelanan dikit,” protesku, ketika lelaki di depanku melangkah begitu cepat. Apalagi jarak langkah nya begitu lebar, berbeda sekali denganku. “Kamu yang terlalu lelet.” Aku tertatih mengimbangi jalannya Om Zuan. “Selamat pagi, Pak Zuan.” Seorang lelaki cukup umur menyapa, berseragam rapi dengan jas warna Dongker. “Selamat pagi juga, Pak.” “Ada yang bisa saya bantu?” “Tidak, Pak. Saya hanya ingin mampir saja.” Om Zuan kembali melangkah dan aku terus mengekori di belakangnya. “Kelasmu di mana, Zi?” Aku menggeleng. “Zi?” “Aku beneran gak tahu, Om. Waktu Rendra mengantarku ia buru-buru. Aku belum sempat lihat tempat ini, habisnya Om sih, wajibin bikin makan siang jam dua belas tepat. Aku gak punya banyak waktu.” “Zi, bisa gak sih kalau jawab sesingkat-singkatnya saja. Aku gak tanya rumus luaa, yang harus dijelaskan panjang kali lebarnya.” “Maaf, Om!” “Di mana kelasmu?” “Gak tahu, Om!” “Mata kuliahmu apa hari ini?” “Jam delapan ada kelas bahasa, jam sepuluh ada kelas akutansi. Tapi, sepertinya belum mulai masuk materi sih, Om. Perkenalan dulu dengan teman-teman. Kan, kita semua belum saling mengenal. Kita ...” Lelaki dingin itu menunjuk dua ruang yang berada di ujung. “Terima kasih, Om. Aku bahagia sekali, aku jadi anak kuliahan, Om. Mimpinya Zi dari kecil. Belajar di universitas ternama, punya banyak teman, banyak cowok ganteng dan menggait lelaki tajir,” ucapku dengan mata berbinar. Hampir saja aku merengkuh tubuh lelaki di depanku. “Hentikan, Zi.” Om Zuan memegang kepalaku yang tadinya ingin mendekat ke arahnya. “Dasar, wanita matre.” Om Zuan berlalu begitu saja. “Om, bagaimana nanti pulangku?” teriakku ketika Om Zuan mulai menjauh. “Nanti telfon saja,” jawabnya dan melangkah menjauh, menghilang dari pandangan. ** “Belum dijemput, Zi?” Mataku berbinar ketika lelaki seumuranku itu menyapa. Ia mengenakan pakaian yang senada dengan warna pakaianku, bahkan saat perkenalan tadi di kelas, kami di kira pasangan dengan memakai baju couple. “Iya, Zi belum dijemput.” Dua bola mataku menatap jalan yang tak berujung ini, berharap Om Zuan segera datang. “Ya sudah, ayo aku antar,” ucapnya sambil menepuk jok belakang motornya. Motor sport berwarna merah sama dengan yang dikendarai boy, acara tv favoritku. “Tapi ...” “Sudah jangan banyak tapi, naik saja.” Aku memutar lengan Aga yang dilingkari jam, kulihat dimana arah jarum jam tersebut berhenti, waktu menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Aku harus sudah di rumah untuk menyiapkan makan siang untuk Om Zuan. Tanpa pikir panjang, aku melangkahkan kakiku dan naik jok belakang yang tinggi itu. “Zi, kamu yakin gak pegangan?” “Yakin, Ga!” Brum ... Brum ... Sekali tarikan gas, aku hampir terjatuh, hingga dengan refleks tanganku melingkar di perut lelaki di depanku. “Nah, seperti itu.” Aga tampak menatapku lewat pantulan spion, ia tersenyum tipis. Motor yang kami tumpangi melaju begitu kencang. Bahkan beberapa kali Aga harus menekan tombol klakson agar pengendara lain mau minggir dan memberikan jalan. “Ga, jangan ugal-ugalan. Aku takut.” Aku mengeratkan tanganku yang melingkari perutnya. “Aku suka kalau kamu ketakutan, Zi!” “Apa, Ga? Aku tak dengar. Coba ulangi lagi?” Aku mencoba memastikan kalimat yang ku dengar, suara knalpot dari motor ini, benar-benar bising sekali. Aga hanya diam. Sepertinya ia pun tak mendengar kalimat tanya dariku. Aku menutup mata dan terus mengeratkan lenganku. Aga persis seperti boy yang suka ngebut di jalanan, bahkan kali ini ia seperti sedang turnamen , melaju begitu cepat. Perlahan, laju motor ini mulai melambat, aku membuka mata dan melihat jalan tanpa ujung ini, hanya terlihat pohon-pohon di bahu jalan. Sepi, bahkan tak ada pengemudi lain yang melintas. “Zi, rumahmu mana?” Aku menelan salivaku, baru tersadar kalau aku tak tahu di mana alamat rumah Om Zuan. “Zi gak tahu, Ga!” Ssstt... Motor terhenti begitu saja, hingga aku seakan terpental dan duduk mendekati Aga. Tubuh kita tampak menyatu di jok yang tak rata ini. “Ma-maaf,” ucapku sambil kembali mundur ke jok semula yang ku duduki. “Apa maksudmu tidak tahu alamatmu?” “Aku beneran gak tahu, Ga! Aku tinggal di rumah Om Zuan. Apa kamu tahu rumah Om Zuan?” “Zuan tetanggaku yang berprofesi jadi tukang ojek?” Aku menggeleng. “Om Zuan mu telfon, di mana alamatnya.” “Aku gak punya ponsel, Ga!” “Jaman sekarang gak punya ponsel, Zi? “ Aku menggeleng. “Sudahlah, kita balik kampus saja kalau begitu.” Aga tampak menarik gas motornya kembali hingga motor ini kembali melaju cepat. “Ga, kenapa berhenti di sini?” tanyaku sambil menatap jalanan. “Aku haus, Zi! Kita beli es cendol dulu ya.” Ia turun dari motornya, sedangkan tatapanku mengarah kepada Abang penjual es, mirip sekali dengan Om Zuan . Aku mengucek mataku dan kembali memperhatikannya, wajahnya kini berubah menjadi lelaki dekil dengan pakaian lusuh. “Sini, Zi!” Aga menepuk bangku sebelahnya, memberi isyarat untuk aku duduk di situ. Tak selang lama es yang kami pesan sudah di tangan. Cendol yang disiram dengan santai serta sirup gula aren ini begitu menggoda, ditambah lagi dengan es yang menyegarkan di siang yang terik ini. Belum sempat suapan itu masuk mulut. Aku dikagetkan dengan teriakan seorang lelaki yang menyebut namaku. “Zi.” Om Zuan keluar dari mobilnya dengan terengah-engah seperti selesai lari maraton. Peluhnya membanjiri dahinya, sedangkan kini wajahnya kembali memerah dan tangannyapun terlihat mengepal. Rahangnya mengeras dengan mengarahkan pandangan tajam ke arahku. “Kamu kenal dia, Zi?” tanya Aga sambil menyentuh pundakku. “Di-dia. Malaikat pencabut nyawa,” jawabku dengan gemetaran. “Ayo masuk,” bentak Om Zuan. “Tapi, Om!” “Tak ada tapi, cepat masuk!” suara Om Zuan semakin meninggi. Dengan terpaksa aku meletakkan kembali gelas yang berisi minuman menggoda itu, belum sempat sedikitpun aku mencicipinya. Aku melangkah dengan perlahan memasuki mobil Om Zuan, diikuti ia yang masuk di jok kemudi. Diam, dingin, tak bicara sama sekali. “Om!” ucapku sambil menatap parasnya yang dari tadi masih menekuk muka. Matanya masih fokus dengan jalanan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. “Diam. Aku tak ingin mendengar suaramu,” ucap Om Zuan sambil melihatkan telapak tangan kirinya ke arahku, memberi tanda “stop” sedangkan dua bola matanya masih menyusuri jalanan tanpa menoleh. Aku mematung, berdiam diri sepeti ini benar-benar membosankan. “Au.” Mobil ini terhenti mendadak, hingga tubuhku terpental dan kepalaku sedikit terbentur dengan dashboard mobil di depanku. Aku tak memakai sabuk pengaman karena belum bisa memakainya, sedangkan aku tak berani meminta Om Zuan untuk memasangkannya untukku. Lelaki itu tak bergeming, ia kembali menekan pedal gas dan kendaraan mobil empat ini, kembali melaju. Tanpa menghiraukan ku sama sekali. Hening, bahkan tak ada musik mobil yang digunakan untuk memecah kebisuan ini. Ketika mobil ini terhenti di halaman rumah, Om Zuan turun begitu saja tanpa mengindahkanku. Ia berjalan cepat meninggalkanku. Aku mengekori di mana ia melangkah. Lelaki itu masuk dalam rumah dan merebahkan diri dalam kamar, sepatu mengkilatnya masih dipakai begitu saja tanpa ia lepas. “Om, maafkan, Zi!” “Diam,” Dengan ragu aku melangkah mendekat, aku duduk di tepi ranjang, kupegang sepatunya hendak kulepas. “Gak perlu, Zi!” Aku tak mengindahkan kalimat dari Om Zuan, dan tetap melepas sepatu itu. Om Zuan bangun dan menatapku dengan penuh amarah. “Aku sudah bilang gak perlu di lepas, Zi. Kamu gak perlu berlagak seperti seorang istri. Kamu hanya perlu menyiapkan sarapan dan makan siang. Dua pekerjaan itu saja kamu keteteran.” Hardik om Zuan. “Zi gak berlagak, Om. Zi takut seprainya kotor. Nanti Zi capek kalau harus mencuci seprai tebal ini. Apalagi seprai ini warnanya putih, jika ada noda langsung tampak. Apa Om mau membersihkan seprei ini kalau kotor? Tidak kan?” “Zi,” Terdengar gemeletuk gigi milik Om Zuan. Apakah ucapakanku ada yang salah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN