Kamu kenapa, Zi?”
Ia menatapku dengan pandangan berbeda.
“Gak apa, Om.”
“Jangan bohong. Kamu kenapa?”
“Aku lapar, Om. Tadi pagi gak sarapan nasi, Zi belum kenyang. Ini sudah saatnya makan siang tapi gak ada yang Zi makan. Tadi mau dapat cendol gratisan, eh gak jadi Zi minum gara-gara keduluan Om datang dan marah.”
“Kamu nyalahin aku, Zi?”
“Enggak, Om. Kan tadi Om yang tanya Zi kenapa? Ini Zi jawab, tetap saja kena marahan juga.”
“Kalau tadi pagi kamu lapar, kenapa gak makan siang di kampus. Kantin di sana kan banyak? Cerdas dikit dong, Zi!”
“Uang dari mana, Om? Zi kan b***k yang terbeli, jadi gak dapat upah. Zi mana bisa jajan.”
Lelaki di sebelahku bangun dan kembali meraih sepatunya, ia menarik lenganku untuk mengikuti.
“Mau ke mana, Om?”
“Jangan banyak bicara.”
“Tapi, Om!”
Ia tak bergeming, masih fokus menyusuri anak tangga.
“Om, pelanan dikit jalannya.”
Mataku membulat sempurna ketika lelaki itu melepaskan pegangan tangannya. Ia kini mendekat dan mengangkat ku begitu saja. Wajahnya terlihat begitu jelas dalam pandanganku, suara detakan jantungnya pun mampu kurasakan. Apalagi aroma tubuhnya, tercium jelas dalam indraku.
“Lepaskan, Om! Zi bisa jalan sendiri,” ucapku sambil memperhatikan wajahnya. Mata bulat dengan hidung mancung dan rahang simetris.
“Diam.”
Wangi nafasnya kini menyeruak dalam ingatanku, aroma yang selalu membuat jantungku berdebar lebih kencang. Apalagi ketika pelukan hangat serta ciuman di pucuk kepalaku saat itu. Rasanya aku ingin terbang ke langit ke tujuh dan memberi tahu kepada semua bidadari di sana, aku bahagia.
Aku menurut untuk diam, sedangkan dua manik mata rasanya enggan tertuju kepada hal lain.
“Sudah puas menatapku seperti itu?”
Tanya Om Zuan sambil mendudukkan ku di jok mobilnya. Ia meraih sabuk pengaman dan memasangkannya hingga sebuah kata klik terdengar.
“Siapa yang memandangmu, Om?” dustaku.
“Baguslah kalau itu hanya perasaanku saja. Ingat perjanjian awal kita, Zi. Tak ada cinta di dalamnya.”
“Zi juga gak mungkin cinta dengan Om-Om.”
Aku tersenyum puas, setidaknya kalimat yang baru ku ucap mampu memperkuat dustaku.
**
Om Zuan membawaku ke dalam rumah makan yang berbeda dari biasanya. Kali ini tempatnya terkesan sederhana, terbuat dari rangkaian bambu-bambu warna hitam yang diikat erat dengan tali. Ia memintaku untuk duduk di ruangan paling ujung, sedangkan dirinya masih di depan untuk memesan makanan langsung, katanya supaya cepat terantar dari pada harus menunggu pramusaji datang dan menanyakan menu yang mau di pesan.
Aku masuk dalam ruangan yang di maksud, beralaskan bambu yang sudah dirakit sedemikian rupa, serta dinding yang tak jauh berbeda dengan alas ini. Tampak pemandangan sawah di sepanjang aku memandang bahkan kurasakan sepoi angin menghampiri tubuhku, membuatku dalam kesyahduan yang beberapa Minggu ini tak pernah kurasakan.
“Kamu kangen desamu, Zi? “ tanya Om Zuan yang kini berdiri di ambang pintu, di belakangnya tampak beberapa pramusaji dengan membawa berbagai macam makanan.
“Tidak, Om. Aku hanya kangen Mesa.”
“Siapa Mesa? Kucing yang selalu kamu sebut dalam tidurmu?”
‘Mesa? Kucing? Apa aku mengigau seperti itu? Kenapa Om Zuan tak kenal Mesa.’
“Om Zuan yakin tak kenal Mesa?”
“Bagaimana aku kenal, Zi. Kan aku gak pernah lihat Mesa kucingmu. Jangan bilang mau ambil dia untuk tinggal di rumah. Sampai kapanpun aku gak akan setuju.”
“Tapi, Om!”
“Gak ada tapi, Mesa dibuang saja.”
“Mesa bukan kucing, Om. Dia calon pengantinnya Om Zuan.”
Uhuk ...
Om Zuan terbatuk ketika meneguk minuman dingin berkuah santan itu.
“Kamu kenapa, Om? Makanya kalau mau makan atau minum baca doa dulu, supaya setan tidak melintas dan bikin tersedak seperti sekarang.”
“Setannya itu kamu, Zi. Yang bikin aku tersedak.”
“Hus, gak boleh lo Om menyamakan manusia dengan setan, derajatnya berbeda di depan Allah meskipun sama-sama makhluknya. Setan tak pernah mau menurut perintah Allah, berbeda sekali dengan Zi, Om?”
“Sudah ceramahnya? Bu ustadzah laper dan haus kan? Sana habiskan dulu.”
Aku menatap berbagai macam makanan di depanku. Ayam goreng sambal lalapan, oseng teri, cah kangkung, orek telur. Benar-benar membuat nafsu makanku bertambah.
“Ayo, Om kita makan dulu.”
“Habiskan saja, Zi. Menu makan siang ku hanya sup ayam jahe.”
Aku menatap lelaki di depanku, yang kini mencoba meraih cendol dari gelasnya. Ia sama sekali tak tertarik dengan makanan yang menggoyang lidah di depannya. Bahkan kini kurasakan lidahku ingin menari untuk segera menyantapnya.
“Aku gak akan makan, kalau Om Zuan tidak ikut makan.”
“Ya sudah ayo kita pulang.”
Lelaki itu berdiri dan merapikan pakaiannya.
“Tapi, Om. Makanannya mubadzir kalau tidak makan.”
“Ya sudah kamu pilih makan atau pergi?”
“Zi gak akan makan kalau Om gak makan. Ayolah, Om. Zi lapar.”
“Ya sudah, sana habiskan.”
“Zi gak akan makan kalau Om tidak makan. Tolonglah Zi, Om. Makanlah, supaya Zi bisa makan. Laper ...,” ucapku manja sambil mengelus perutku.
“Baiklah.” Lelaki itu duduk di tempatnya semula. Ia memegang sendok dan garpu untuk memakan ayam goreng tersebut.
“Om, makan nasi sambal enaknya pakai tangan langsung seperti ini,” ucapku sambil memamerkan suapanku ke mulut.
“Enak sekali, Om.”
“Jijik,” ucapnya sinis, sambil kembali menyuap mulutnya dengan sendok.
“Coba deh, Om. Ayo makan,” ucapku sambil memberikan suapan tangan di depan bibir Om Zuan. Nasi sambal dan ayam bakar sudah ku Raup jadi satu.
“Enggak, jijik!” ucapnya setelah sekilas menatap ke arah tanganku.
“Sekali saja, Om! Lagian tangan Zi bersih kok, sebelum makan Zi sudah cuci tangan.” “Ayo, Om. A ' “ ucapku sambil membuka mulut. Berharap lelaki di depanku menirukan ap yang sedang kulakukan.
Mataku berbinar ketika lelaki itu perlahan membuka bibirnya dan memakan suapan yang kuambil untuknya, makan langsung dari tangan telanjangku.
“Enakkan, Om?” tanyaku sambil menatap ekspresi mukanya yang kini berubah.
“Jijik,” ucapnya sambil mengunyah makanan yang memenuhi rongga mulutnya.
“Ayo a’ lagi, Om!” ucapku sambil memberikan suapan di depan bibir Om Zuan. Lelaki itu kembali membuka mulutnya. Lebih lebar dari sebelumnya.
Sesuap, dua suap hingga nasi di atas piringku hampir habis hanya untuk menyuapi Om Zuan makan, baru kali ini aku melihat ia makan secara normal, biasanya tak lebih dari tiga suap yang masuk di mulut lelaki di depanku.
“Kenyang, Om?” tanyaku yang kini mendengar sendawa dari bibirnya.
“Banget. Kamu menyiksaku dengan memintaku makan semuanya, Zi.”
“Memaksa? Om sendiri yang membuka mulut. Tahu tidak, Om, Zi bahkan belum makan sama sekali, hanya suapan pertama tadi.”
Om Zuan tampak menatap piring di depanku yang hanya meninggalkan sedikit sambal.
“Mau aku pesankan lagi”
Tidak, Om! Zi mau makan cah kangkung saja.”
**
“Om, kita mau ke mana?”
Laju kendaraan Om Zuan berhenti di tempat ramai pengguna jalan. Banyak para pejalan kaki serta pedangan asongan yang saling menjajakan dagangannya.
“Ayo turun.”
“Ada apa lagi, Zi? Bisa gak sih gak sah protes? Ha?”
Aku menatap sabuk pengaman yang masih melingkari badanku dengan kuat.
“Wanita menyusahkan.”
Lelaki itu mendekat, dan hendak melepas sabuk pengaman, tatapan kami tak sengaja bertemu, hingga tubuh kami saling mematung dan menatap satu sama lain. Hatiku rasanya benar-benar tak karuan, saling beradu pandang dengan jarak dekat seperti ini, bahkan mampu ku rasakan ketika karbon monoksida itu keluar melalui hidungnya. Aku hampir tak percaya ketika Om Zuan semakin mendekat, jantung kini bak gemuruh yang saling bersaut. Apakah Om Zuan sudah berubah? Lalu ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan seperti ini?
Cup !!!