Cup !!!
Lelaki itu membentuk jari jemarinya berbentuk bibir dan di kecupkan di dahiku.
“Zi, sudah kubilang kan jangan pakai perasaan kepadaku!”
“Siapa yang pakai perasaan, Om? Zi ini masih menunggu Om Zuan melepas sabuk pengamannya.”
Klik, laki – laki itu kini menjauh dan membuka pintu keluar dari dalam mobilnya. Sedangkan aku membuang nafas kasar, sambil menata detak jantungku yang kini mengalir tak karuan.
Aku mengikuti Om Zuan keluar mobil dan mengekorinya tanpa tahu tujuan yang jelas. Memasuki bangunan yang besar, bahkan sangat besar.
“Apakah ini yang namanya Mol, Om?”
Aku memandang sekitar di mana banyak dagangan mereka pasarkan, barang-barang branded yang hanya pernah ku dengar tanpa sama sekali menyentuhnya.
“Om, apa itu merk Chanel yang pernah dipakai Syahrini? “ tanyaku kepada laki-laki di depanku, yang sama sekali tak mengindahkanku walaupun jalanku tertatih. Jari telunjukku mengarah kepada ruangan besar yang berlogo bentuk C yang saling menempel. Beberapa wanita dengan penampilan modis terlihat di dalamnya, karena ruangan tersebut berdindingkan kaca besar.
“hm,”
Lelaki itu tak menoleh, hanya keluar deheman saja.
Brakk
Tubuhku terpental ketika tak sengaja menabrak tubuh besar Om Zuan, aku baru menyadari kalau dua manik mataku rasanya enggan berpaling dari toko berlogokan huruf C berwarna emas tersebut.
“Sakit, Zi?”
“Lumayan, Om!” ucapku sambil memegang dahiku. Tubuhku yang kecil tentu tak sebanding dengan tubuh kekar Om Zuan.
“Makanya kalau jalan itu pakai mata.”
“Jalan itu pakai kaki, Om! Bagaimana caranya bisa jalan pakai mata?” gerutuku.
Aku kembali mengekori Om Zuan yang dari tadi berjalan tanpa ku tahu arah ke mana ia membawaku.
“Oh, donat,” ucapku lirih sambil menatap donat yang kini di simpan di rak dan terlihat masih mengebul, begitu menggoda, dengan toping coklat bertaburkan meises. Lagi-lagi aku harus menelan salivaku, membayangkan gigitan kecil kue itu masuk ke dalam mulut, lumer.
“Zi, kalau jalan bisa fokus gak sih?” tanya Om Zuan yang kini menghentikan langkahnya, menatapku. Aku baru tersadar, tubuhku berjalan miring karena menatap makanan berlubang tengah.
“Mau donat?”
Aku menggeleng, kenapa harus tanya? Bukankah ia lelaki? Harusnya ia lebih peka.
“Ya sudah, ayo jalan.”
'Dasar menyebalkan,'
Lelaki itu kembali melangkah dan aku kembali mengekori, benar-benar tidak peka.
Langkah kami terhenti ketika mendapati sebuah brand ponsel ternama tertulis besar di depan tokonya.
“Yakin, Om?” tanyaku heran sambil memandang takjub tempat ini. Baru kali ini aku masuk ke konter hp sebesar dan seluas ini. Biasanya hanya di tempat Mang Inung, tetangga sebelah yang tempatnya berukuran 2x1. Itupun aku membeli paketan internet karena dimintai tolong Mesa. Seumur-umur aku belum pernah memiliki ponsel.
“keluarkan ponsel terbaru dari merk ini.”
Om Zuan menampakkan ponselnya yang masih bagus dan masih kinclong itu.
“Om, Om Zuan mau membelikan ponsel baru buat, Zi?” tanyaku.
Aku benar-benar bahagia. Hidupku seperti berbanding terbalik dengan kehidupan di desaku, yang miskin tak berarti. Di sini meskipun aku tetap miskin, setidaknya aku memiliki fasilitas mewah sebagai istri bohongan Om Zuan, maksudnya istri yang sah tapi tak dinafkahi batinnya
“Enggak, aku mau ganti ponsel baru saja! Aku sudah bosan,” ucapnya datar, sama sekali tak merasa bersalah dengan raut kekecewaan yang kini menjadi penghias mukaku.
‘Yah, Zi! Kamu terlalu berharap,' batinku sambil membuang nafas kasar.
Pandanganku kini menjelajahi sekitar, berlama-lama menatap ponsel sudah tak menarik mataku. Tiba-tiba dua bola mata ini menatap ke arah pasangan di sudut ruang yang sedang mencari ponsel, tampak serasi.
“Aga,” ucapku lirih ketika mendapati muka lelaki itu berbalik.
“Zi, ini untukmu,” ucap Om Zuan sambil menyodorkan sebuah ponsel miliknya.
“Gak baru sih, tapi masih bagus. Mungkin baru empat atau lima bulanan yang lalu,” ucapnya lagi.
Aku ternganga, benarkah ini bukan mimpi? Aku memiliki ponsel?
“Kamu gak suka? Ya sudah.”
“Zi, suka, Om,” jawabku sambil meraih ponsel tersebut yang hampir dimasukkan dalam saku celananya.
Aku menatap benda yang kupegang, merk ternama tertulis di belakang benda tersebut. Aku mengusap layarnya, membuatku tercengang ketika kulihat gambar wallpaper di benda tersebut.
“Pusi.”
Mataku berbinar kala melihat pose pusi yang sedang menatapku dengan mata yang tak kalah tajam, pandangannya tetap sama, sepeti saat aku memberinya makan terakhir kali. Sebelum aku dipinang lelaki kaya berstatus duda ini.
“Kucingmu sudah dirawat baik, sekarang ia sedang hamil. Dia juga sudah rutin kontrol kehamilan bulanan.”
Aku menelan salivaku. Pusi, kucing jalanan itu di perhatikan sedemikian rupa? Ia termasuk kucing ber- ras biasa, tak ada spesial tentangnya, hanya persamaan nasib di mana ia sebatang kara. Aku menemukannya waktu kecil saat ibu dan saudara-saudarnya terlindas truk. Ya, hanya dia yang selamat saat itu, mulai saat itulah ia menjadi sahabatku.
“E –“
“Jangan bilang bawa ia ke sini, sampai kapanpun aku tak pernah setuju,” ucap Om Zuan yang memotong pembicaraanku.
“Terima kasih, Om!”
“Nah, bagus. Sekali-kali bersikap manis.”
Aku mengusap layar itu dan menjelajahi beberapa aplikasi di dalamnya. Kini jari manisku terhenti ketika aku mendapati folder galeri.
“Om, ini aib. Kenapa ada di sini?”
Lelaki itu melirik sedikit ke arahku, lalu tertawa dengan kencangnya.
“Itu lucu, Zi!” Ia kembali terkekeh sambil menunjuk layar ponsel yang ku pegang.
“Lihatlah, Zi. Mulut menganga dan sedikit iler yang keluar. Tak ada manis-manisnya sama sekali. Berbeda sekali dengan Hanum.”
Laki-laki itu kembali terkekeh setelah mencelaku. Ya, aku memang bukan wanita sempurna, aku tak bisa cantik seperti Mesa, tak bisa menawan seperti Syahrini, dan tak bisa tidur dengan anggun seperti Hanum. Aku selalu tak pernah ada apa-apanya dengan wanita yang pertama singgah di hati Om Zuan, pantas saja ia hanya menganggapku anak kecil, tak ada cinta.
“Zi, kembalikan saja ponselnya, Om!” ucapku sambil memberikan layar tersebut.
“Kenapa, Zi? Kamu tak ingin barang bekas?”
“Bukan karena itu, Om! Zi sudah terbiasa kok dapat sesuatu sisa orang lain. Zi hanya gak butuh!”
“Terima saja, Zi!”
“Enggak, Om!” ucapku sambil menaruh ponsel tersebut di meja kaca depan Om Zuan.
“Ambil! Ini perintah!” ucap Om Zuan dengan menegeraskan rahangnya. Memaksaku menerima ponsel dengan bentakan, benar-benar laki-laki aneh.
“Zi,” terdengar teriakan dari ujung riang. Kami menatap ke sumber suara. Aga perlahan berjalan menghampiri kami.
“Kamu di sini juga, Zi?” tanya Aga dengan mata yang berbinar, selintas ia melirik ke arah lelaki di sebelahku.
“Ini Om kamu yang tukang ojek itu?”
“Hust,” ucapku sambil meletakkan jari tunjukku di bibir, memberi kode agar Aga tak memperpanjang masalah, apalagi suasana Om Zuan sepertinya sedang tidak enak.
“Zi, di lantai atas ada Syahrini lagi manggung, artis favoritmukan? “
Belum sempat aku menjawab, lelaki itu mengarahkan pandangan ke Om Zuan.
“Om, aku pinjam keponakannya sebentar ya?”
Aku terkejut ketika Aga menarik lenganku begitu saja dan membawaku pergi.
“Zi!” teriak Om Zuan yang membuat semua mata mengarah kepada kami. Aku menatap mukanya yang kini memerah, pandangannya mengarah kepada jari jemariku yang digandeng oleh Aga.