Aku Mau Cathy 2

1996 Kata

“Dari mana kamu! Kamu pikir kamu bos di rumah ini? Sesuka hati bawa mobil tanpa izin!” Aku mengurungkan niatku menaiki tangga mendengar suara Papi yang sangat tidak bersahabat. Teriakannya bak gelegar petir yang membuat nyaliku mengkerut. Bukan hanya kali ini Papi melupakan amarahnya padaku, tapi entah kenapa perkataanya tadi seolah menganggap kalau aku ini bukan lagi putranya sehingga membawa mobil saja perlu izin darinya. “Maaf … aku pikir aku bebas memakai mobil mana pun yang ada di garasi.” Aku membalik badan dan Papi berada tepat di menghadap padaku dengan kedua tangan yang terkepal di sampingnya. Satu lagi … sorot matanya yang penuh dengan nyala api yang penuh amarah tidak bisa aku anggap sepele. Biasanya aku tidak gentar karena sudah biasa Papi menggertak seperti ini, tapi tetap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN