Rumah ini terasa kosong … hampa tanpa kehadiran Irel dan Cala. Aku mengerti kalau Mami menginginkan kami kembali, bukan karena beliau egois atau tidak bisa meraba rasaku. Mungkin di masa tua beliau, kehadiran Irel dan Cala jelas menjadi hiburan tersendiri yang menjadi teman yang cukup menyejukkan hati di masa istirahat mereka. Tak mau terus terjebak dan berlarut-larut dalam lamunan, aku memilih menyeret kakiku menuju kamar. Aku meraih ponsel dengan nomor baru yang baru diketahui oleh beberapa rekan dan keluarga saja. Sepagi ini rasanya aku sudah ingin mengganggu Naura. Rasanya semua wanita yang dalam keadaan gundah gulana sepertiku pasti menyukai sesi curhat dengan orang yang dianggap bisa sedikit melegakan keresahan yang ada. [Naura, are you free? By Cathy.] Sebuah pesan aku kirim se

