“Garen, Ibi nak bicara sejenak. Kemarilah.” Ibi Aminah menghadang langkahku yang baru usai menuruni setiap anak tangga. “Kenapa Wan? Apa tak ada maaf untuk Naya sampai pernikahan kalian batal?” Aku tersenyum canggung, sebenarnya pertanyaan ini tentulah akan ditanyakan Ibi mengingat beliau dan Naya memang sudah teramat dekat. Namun, aku tak ingin membongkar ulah Naya di hadapan Ibi. Biar lah Ibi hanya tahu kalau Naya putrinya yang manja dan selalu ceria. Tidak usah dia tahu kalau dibalik kecantikan Naya tersembunyi kelakuan b***t yang sudah dengan begitu mudah memberikan tubuhnya pada pria lain. “Apa ini karena Naya memilih ke Jogja dan Wan membalasnya?” tanya Ibi lagi saat aku hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Ibi yang pertama tadi. “Anggap saja begitu Ibi, ada banyak hal yang ti

