“Naya selingkuh?” tanyaku hanya untuk memastikan kalau apa yang Lucky katakan tadi tidak salah. Dia mengangguk dan seketika aku menggebrak meja sebagai pelampiasan rasa kecewa. “Tidak mungkin secepat ini dia menyerah dan mencari orang lain sebagai pelampiasannya,” teriakku mencoba mengelak bukti yang terpampang jelas di depan mataku. Aku kembali memindai satu persatu foto yang tergeletak di meja. Foto ini nyata, jelas bukan sebuah editan. Di sana juga ada keterangan tempat dan waktu saat foto itu diambil. “Telepon dia sekarang!” perintahku ingin tahu dengan jelas siapa pria yang sudah Naya pilih untuk mengisi kekosongannya. Ini yang aku takutkan, aku sudah menyangka dia akan seperti ini. Namun, begitu yakin Naya menegaskan kalau dirinya akan kuat menahan diri untuk tetap setia dan menga

