Pria tegap sedang berdiri membelakangi pintu, matanya begitu fokus melihat foto aku dan kedua putriku yang dipajang dengan figura cukup besar di ruang tamu. Sengaja aku hanya membawa foto itu. Tidak ada satu pun foto Dean yang aku angkut ke rumah ini. Aku anggap hubungan kami sudah berakhir. Namun, pria yang membelakangiku membuat debaran jantung ini tak menentu. Dia tak juga membalik badan, apa fokusnya membuat suara teriakanku tidak didengar? atau …. Ah, lebih baik aku kabur, entah kenapa postur tubuh si pria membuatku berpikir kalau dia ini hanya sebuah ilusi sesaat. Hanya halusinasiku saja karena tidak mungkin Dean berada di rumah ini setelah Mami dan Papi berjanji begitu yakin kalau tidak akan memberitahukan tempat tinggal kami. Perlahan aku melangkah mundur … hingga langkah kaki

