“Iya, Papa kena serangan jantng dan meninggal seketika di gedung yang harusnya jadi gedung pernikahan kita.” Naya terisak dengan posisi duduk di samping Ibi. Aku menggeleng tidak percaya dengan kabar yang dia sampaikan. Bisa saja ini akal-akalan Naya agar membuat Ibi iba dan memaksaku untuk menikahinya. Aku tidak mau terjebak dengan permainan Naya, dia memang cerdas dan akan melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya. “Kamu bohong Naya. Jangan bawa-bawa kematian untuk membohongi kami agar bersimpati padamu,” elakku yang langsung mendapat hardikan dari Ibi “Sadar Wan! Mana ada kematian dijadikan bahan gurauan, Mama Naya pun ikut ke sini karena tak ada kawan di rumahnya. Kamu pikir semua orang bisa berbohong semudah kamu bersandiwara pada keluarga Naya!” marah Ibi yang kini malah t

