“Ma … Mama tidak akan kenapa-kenapa. Jangan pernah titip aku ke siapapun Ma, aku mau sama Mama saja,” tangis Naya kembali datang mendengar suara Mama yang sudah terputus-putus. Aku sampai lupa menyuruh Naya menghubungi kedua Kakaknya. Bukan aku berburuk sangka, tapi melihat keadaan Mama seperti ini rasanya beliau tidak akan mampu bertahan lama. Kecuali memang Tuhan berkehendak untuk menyembuhkan Mama dengan mudah. “Dek, telepon dua Abangmu. Bilang Mama dibawa ke rumah sakit Muyang Kute,” kataku menyuruh Naya. Dengan segera dia merogoh tas dan mengambil ponsel. Namun, Naya memilih untuk mengetik pesan bukan untuk menelepon. Mobil memang sudah masuk ke area rumah sakit. Begitu mobil berhenti aku langsung meminta Lucky mencari kursi roda sementara aku membopong Mama yang sudah terlihat pay

