"Ibu Kenapa, Mas?" tanya Sandra saat tiba di rumah dan melihat Bayu memapah ibunya keluar dari dapur.
"Tadi pulang kerja aku lihat ibu di dapur sedang masak dan wajahnya pucat. Ibu juga mengeluh pusing. Jadi, aku bermaksud membawanya ke kamar," balas Bayu sembari membantu ibu mertuanya menuju kamar. Sandra pun mengekor di belakang sang suami.
"Ibu tidak apa-apa hanya sedikit pusing," balas Fitri setelah ketiganya sampai di kamar. Bayu membantu ibu mertuanya berbaring di ranjang.
"Sebentar ya, Bu. Aku buatkan teh hangat," ucap lelaki itu setelah Fitri berbaring di atas ranjang. Sementara Sandra mendekati sang ibu dan duduk di tepi ranjang.
"Sandra kan sudah bilang, Ibu jangan terlalu capek. Tidak usah masak, biar Sandra pesan makanan di aplikasi saja," ucap Sandra sembari membenahi selimut sang ibu.
"Sandra, kamu jangan terbiasa beli makanan di luar. Nggak baik dan nggak sehat. Kasihan suamimu. Sesekali masaklah untuknya. Disempatkan, Nak."
"Mas Bayu tidak masalah kok meskipun kami pesan makanan di aplikasi."
"Iya, Ibu. Tahu tapi yang namanya suami itu pasti sebenarnya juga kepingin dilayani istrinya. Kepingin merasakan masakan istrinya. Kamu harus mengurangi kesibukanmu, Sandra. Ingat, kodratmu sebagai wanita bukan sebagai tulang punggung." Mendengar ucapan sang ibu Sandra terdiam.
"Ini tehnya, Bu. Diminum dulu, biar saya bantu," ucap Bayu yang baru saja muncul membawa satu gelas teh hangat untuk sang ibu mertua. Lelaki itu mendekat lalu membantu Fitri meminum teh hingga sisa setengahnya.
Sandra tenggelam dalam kebisuan menyaksikan kejadian itu. Pada dasarnya Bayu memang lelaki yang penyayang, apalagi terhadap ibunya yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri. Oleh karena itu, Sandra sama sekali tidak menyangka kalau lelaki itu tega menduakannya.
"Apa benar semua ini salahku?" batin Sandra merenung.
"Sayang, biar Ibu istirahat. Kita keluar, yuk!" ajak Bayu membuyarkan lamunan Sandra. Wanita itu mengangguk dan meminta ibunya beristirahat, lalu melangkah keluar kamar diikuti Bayu.
"Sayang aku mau bicara," ucap Bayu saat keduanya sudah menjauh dari kamar Fitri.
"Nanti saja, Mas. Kalau Ibu sudah tidak di sini. Aku tidak mau membahas apapun tentang kita selama masih ada Ibu. Aku nggak mau Ibu drop."
"Maksud kamu?"
"Nanti malam Mbak Ira akan menjemput ibu. Kita bicara nanti saja," ucap Sandra sembari melangkah meninggalkan sang suami. Sementara Bayu hanya bisa menghela napas panjang.
Tak berapa lama kemudian, ponsel di saku bajunya berdering. Lelaki itu bergegas mengambil ponsel dan melihat siapakah gerangan yang meneleponnya. Namun, Bayu langsung membuang napas kasar saat membaca nama Fira terpampang di layar ponselnya. Lelaki itu pun membiarkan ponselnya terus berdering sampai berhenti. Bayu mengambil ponselnya dan memblokir nomor Fira.
"Maafkan aku, Fir. Tapi hubungan kita hanya sebuah kesalahan. Aku ingin mengakhiri semua," batin Bayu sembari memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Sementara itu di tempat lain, Fira merasa kesal karena teleponnya diabaikan oleh Bayu. Apalagi setelah mencoba memanggil ulang, ternyata nomornya telah diblokir. Wanita itu membanting ponselnya di atas ranjang karena kesal.
"Aku tidak terima kamu membuangku begitu saja, Mas. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu kembali pada istrimu setelah apa yang kita lalui bersama. Aku bukan barang yang bisa kamu pungut saat butuh dan kamu buang begitu saja setelah kamu tidak membutuhkan. Aku harus membuat rencana agar bisa mendapatkan Mas Bayu kembali."
***
"Ibu masih mau tinggal di sini, Ira," tolak Fitri saat Ira dan suaminya datang untuk menjemput. Malam itu selepas Isya, Ira memenuhi janjinya pada Sandra untuk menjemput sang ibu, agar adiknya itu bisa segera menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan Bayu.
"Bu, Kenzie dan Kenzo kangen sama Ibu. Mereka ingin tidur sama nenek katanya," bohong Ira membuat Fitri akhirnya luluh. Kelemahan wanita paruh baya itu adalah dua cucu kembarnya yang memang sangat ya sayangi. Memang hanya si kembar cucu yang dimiliki Fitri saat ini karena Sandra dan Bayu belum memberikannya cucu.
"Ya sudah, kalau Kenzie dan Kenzo yang minta, Ibu mana bisa menolak," balas Fitri akhirnya.
"Tapi, Mbak Ira. Ibu lagi nggak enak badan. Tadi kepalanya pusing, masih butuh istirahat. Bagaimana kalau besok saja Ibu saya antar pulang ke rumah Mbak Ira," ucap Bayu mencoba mempertahankan sang ibu mertua di rumahnya. Mendengar ucapan Bayu, Ira menoleh ke arah Sandra meminta pendapat sang adik.
"Ibu sudah sehat, kok. Nggak papa Ibu masih kuat kalau harus pulang ke rumah Ira malam ini," balas Fitri membuat Bayu kecewa. Kalau tidak ada Fitri di rumah,itu, sudah pasti Sandra tidak akan mungkin mau tidur sekamar dengannya. Namun, lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Akhirnya Fitri pun ikut Ira pulang.
"Ibu sudah pergi. Bisa kita bicara, Sayang?" tanya Bayu sembari mendekat sang istri. Kedua tangannya meraih dan menggenggam kedua tangan Sandra.
"Aku nggak tahu harus berapa kali meminta maaf kepadamu, tapi aku aku akan terus melakukannya asalkan bisa mendapatkan maaf darimu. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku dan kita bisa kembali seperti dulu."
"Tidak ada," balas Sandra sembari melepaskan tangan suaminya.
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, Mas. Tapi untuk tetap bersama, aku tidak yakin. Cermin yang sudah retak tak mungkin bisa memantulkan bayangan yang sempurna. Begitu juga hatiku yang sudah retak, tak mungkin bisa menerimamu seperti dulu."
"Sandra, plis. Kita coba dulu, ya. Aku janji tidak akan banyak menuntutmu." Bayu terus memohon. Namun, bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Sandra malah beranjak menuju ruang kerjanya, mengambil sesuatu dari sana, lalu kembali kepada sang suami.
"Baca dan tandatangan ini," ucapnya sembari mengulurkan map warna biru kepada Bayu. Lelaki itu menerimanya dengan ragu.
"Apa ini, Sayang?" tanya Bayu heran tanpa membuka isi map biru pemberian sang istri.
"Itu surat gugatan perceraian kita," ucap Sandra membuat Bayu terkejut.
"Tunggu, Sayang. Aku nggak mau bercerai dari kamu. Tolong beri kesempatan aku sekali lagi. Aku sudah memecat Fira dan memblokir nomor teleponnya. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya, Sandra."
Mendengar ucapan lelaki yang masih berstatus suaminya itu, Sandra hanya bisa menghela napas panjang. Wanita itu kembali teringat ucapan kakaknya untuk mencoba memaafkan Bayu dan memberikannya kesempatan untuk berubah. Namun, sanggupkah dirinya seperti Ira?
"Aku akan pikirkan dulu," balas Sandra sembari beranjak menuju kamarnya meninggalkan Bayu. Namun, lelaki itu malah memeluknya dari belakang.
"Aku mohon, Sandra. Aku tidak bisa kehilangan kamu," ucap Bayu sembari mempererat pelukannya.
"Lepaskan, Mas. Beri waktu aku untuk sendiri dan jangan coba tidur di kamar kita." Sandra berontak dan melepaskan pelukan suaminya. Entah kenapa sentuhan Bayu yang biasa membuatnya nyaman, kini justru membuatnya risih.
"Tapi--"
"Atau aku akan pergi dari rumah ini," ancam Sandra membuat Bayu pun pasrah.
"Tidak! Jangan! Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Tapi tolong pikirkan lagi. Aku tidak ingin kita bercerai." Bayu pun akhirnya membiarkan Sandra pergi dan memasuki kamar mereka. Sementara lelaki itu tidur di kamar lain.
Sandra menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang king size setibanya di kamar. Kedua tangannya memijat kepala yang terasa pusing. Namun notifikasi pesan dari ponselnya membuat Sandra terbangun, lalu melihat pesan masuk di ponselnya yang ternyata dari Rangga. Wanita itu menghela napas panjang setelah membaca isinya.
"Sandra, tadi aku lupa memberitahu kamu kalau besok aku mengadakan pesta kecil-kecilan di kantor dan mengundang semua karyawan beserta pasangannya. Aku ingin berkenalan dengan keluarga para pekerja di sini. Aku harap kamu dan suamimu bisa datang."