"Sayang, minumnya dihabiskan, dong. Setelah itu kita jalan-jalan," ucap Bayu sembari melirik orange juice milik Sandra masih tersisa setengah gelas setelah keduanya menghabiskan makan malam.
"Iya, Mas," balas Sandra sembari meneguk kembali orange juice dalam gelas hingga habis. Bayu tersenyum penuh kemenangan.
"Malam ini akan menjadi malam pengantin kita, Sayang. Kamu akan menjadi milikku lagi," batinnya sudah tidak sabar untuk melihat reaksi obat per4ngsang yang tercampur dalam orange juice Sandra.
"Mas, kenapa tiba-tiba tubuh rasanya panas begini, ya? Kepalaku juga sedikit berat," tanya Sandra sembari memegang kepalanya. Entah kenapa tubuhnya terasa panas terutama bagian inti tubuh yang juga terasa panas seperti terbakar gairah.
"Kalau gitu, kita balik ke kamar. Jalan-jalannya lain kali saja. Kita istirahat dulu malam ini. Mungkin kamu kecapean," bales Bayu sembari tersenyum karena merasa obatnya telah bereaksi. Namun, saat keduanya hendak beranjak dari tempat itu, ponsel Bayu berdering. Panggilan dari nomor baru Fira yang disimpan dengan nama kontak Wirya 2.
Bayu mengabaikan panggilan itu dan mengajak sang istri kembali ke kamar. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk melihat reaksi obat per4ngsang pada diri Sandra. Yang pasti, istrinya itu akan lebih agresif.
"Ada telepon, Mas. Terima saja dulu," ucap Sandra yang mendengar ponsel suaminya berkali-kali berdering, tapi diabaikan.
"Nanti saja, Sayang. Dari Wirya, kok."
"Terima dulu, Mas. Siapa tahu penting."
Bayu membuang napas kasar, lalu mengambil ponselnya. Panggilan telah berhenti. Namun, sebuah pesan chat masuk dari nomor yang sama.
"Mas, aku lagi ada di IGD di rumah sakit Medika. Aku baru saja mengalami pendarahan. Tolong ke sini, Mas. Aku tidak punya keluarga di sini."
"Kenapa, Mas?" tanya Sandra.
"Oh, ini Wirya nggak tahu kenapa dia telepon sampai berkali-kali," bohong Bayu.
"Telepon balik saja, Mas. Biar aku duluan ke kamar."
"Oke, kamu nggak papa kan kembali ke kamar sendirian?" tanya Bayu ragu.
"Nggak papa, Mas. Aku mau cepat-cepat sampai di kamar. Tubuhku rasanya panas dan kepalaku pusing. Nanti habis telepon Pak Wirya, kamu susulin aku, ya."
"Iya, Sayang." Sandra meneruskan langkahnya menuju kamar. Sedangkan Bayu menelpon balik nomor baru
Fira tersebut.
"Halo, Fir. Kamu kenapa?" tanya Bayu setelah panggilan tersambung.
"Tadi aku terjatuh di kamar mandi, Mas. Aku mengalami pendarahan. Ini aku masih di IGD. Kamu tolong ke sini, ya. Aku takut sendirian."
"Maaf, Fir. Tapi aku nggak bisa. Aku--"
"Tolonglah, Mas. Anak yang aku kandung ini anak kamu, loh. Kalo terjadi apa-apa, memangnya kamu tidak merasa bersalah?" Mendengar ucapan Fira, Bayu terdiam. Apa yang dikatakan wanita itu benar adanya. Meskipun Bayu tidak pernah mengharapkan anak dalam kandungan wanita itu, tetapi sejujurnya lelaki itu merindukan seorang anak dari darah dagingnya. Selama 3 tahun menikah dengan Sandra, belum juga ada tanda-tanda wanita itu hamil. Selain itu Bayu juga merasa harus bertanggung jawab atas kandungan Fira.
"Ya sudah. Tunggu, aku ke sana," putus Bayu akhirnya. Lelaki itu seolah lupa kalau Sandra yang sudah terkontaminasi obat per4ngsang sedang menunggunya di kamar.
Sementara itu Rangga yang juga sudah selesai makan malam memutuskan untuk kembali ke kamar. Sementara John minta izin untuk jalan-jalan menikmati keindahan malam Pulau Lombok. Rangga yang sudah tidak mood jalan-jalan memilih segera kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun, saat melintasi lorong hotel, Rangga melihat Sandra yang berjalan sempoyongan menuju kamarnya tanpa ditemani Bayu.
"Sandra, kamu baik-baik saja?" tanya Rangga sembari mendekat pada wanita itu.
"Mas Bayu," balas Sandra sembari merangkul pundak Rangga, membuat lelaki itu terkejut.
"Aku Rangga, bukan Bayu," ucapnya membuat Sandra melepaskan tangannya dari pundak Rangga.
"Oh, maaf. Aku kira Mas Bayu. Kepalaku pusing sekali dan badanku rasanya panas," balas Sandra sembari memijat kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu? Di mana Bayu?" tanya Rangga sembari menahan Sandra yang hendak roboh hingga tubuh keduanya menempel tanpa jarak. Lelaki itu pun memalingkan pandangan agar bisa mengontrol detak jantungnya yang mulai tidak normal.
"Di mana kamarmu? Biar aku antar," tanya Rangga lagi karena Sandra tidak menjawab pertanyaannya yang tadi. Lelaki itu berusaha menjaga kewarasan meskipun tubuh Sandra yang ada dalam pelukannya sangat menggoda untuk disentuh.
"Kamarku nomor 103," balas Sandra sembari mengalungkan tangannya di leher Rangga. Lelaki itu pun membiarkan Sandra memeluknya sepanjang perjalanan, hingga akhirnya keduanya sampai di depan kamar 103.
"Kita sudah sampai. Kamu bisa masuk sendiri, kan?" tanya Rangga sembari melepaskan tangan Sandra dari lehernya.
"Iya, aku bisa masuk sendiri. Terima kasih, Rangga," balas Sandra sembari membuka akses pintu kamarnya. Namun, saat melangkah masuk tubuh wanita itu oleng, kakinya terkilir dan hampir jatuh. Rangga pun bergegas menolongnya.
"Hati-hati, Sandra," ucapnya sembari menahan tubuh wanita itu. Kini tubuh keduanya kembali menempel tanpa jarak. Bahkan, wajah keduanya pun hanya menyisakan jarak beberapa centi saja.
Sebagai lelaki normal, berdekatan dengan wanita secantik Sandra yang memang sudah lama ia cintai tentu saja membuat jantung Rangga berdebar lebih kencang. Lelaki itu mencoba menormalkan detak jantungnya dengan memalingkan pandangan dari Sandra. Namun, wanita itu justru mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rangga.
Mendapat perlakuan sedemikian agresif dari Sandra, tentu saja Rangga terkejut. Namun, bukannya menolak, lelaki itu justru menikmati ciuman Sandra. Tangan wanita itu memeluk tubuh Rangga dan membawanya masuk ke kamar, lalu menutup pintu tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya menikmati permainan bibir itu hingga hampir kehabisan napas.
"Sandra, Maaf. Aku--" belum sempat Rangga melanjutkan ucapannya, Sandra malah membuka kancing kemeja depan Rangga. Hal tersebut tentu saja membuat lelaki itu heran.
"Kenapa Sandra menjadi sedemikian liar?" batin Rangga bingung. Selama ini dia mengenal Sandra sebagai wanita yang sangat menjaga kehormatan. Mana mungkin tiba-tiba wanita itu jadi agresif dan melakukan hal intim ini pada lelaki yang jelas-jelas bukan suaminya.
"Tubuhku rasanya panas sekali, Rangga. Tolong, puaskan aku," bisik Sandra sembari mencumbui leher dan d**a lelaki itu. Rangga semakin bingung. Hatinya menolak sentuhan wanita itu karena mereka memang bukan pasangan halal. Namun, tubuhnya menikmati. Hingga akhirnya, Sandra membuka kancing baju dan menampakkan tonjolan indah di dadanya.
Hal itu membuat Rangga semakin kesulitan menelan ludahnya sendiri. Belum lagi Junior kecilnya di balik celana sudah mulai mengeras dan minta beraksi.
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi pada Sandra? Apakah dia salah makan? Kalau begini caranya, aku bisa khilaf," batin Rangga bingung. Lelaki itu sudah sangat terbuai dengan sentuhan Sandra. Namun, berusaha tetap menjaga kewarasannya karena takut khilaf.
"Sandra, cukup! Apa yang kita lakukan ini salah. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" ucap Rangga menghentikan sentuhan Sandra kepadanya.
"Aku nggak tahu, Rangga. Tubuhku panas dan bagian sensitifku berkedut. Tiba-tiba aku tidak bisa menahan hasrat dan ingin sekali melakukan hubungan badan. Aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini? Tolong puaskan aku," mohon Sandra sembari menangis membuat Rangga tak tega.
Wanita itu sudah tidak kuat menahan hasrat yang semakin memuncak karena Bayu memang memberikan obat perangsang dalam dosis yang tinggi. Sementara Rangga masih dilema. Di satu sisi dia ingin sekali menikmati tubuh wanita yang sangat ia cintai itu. Namun, di sisi lain dia masih takut terhadap dosa. Tiba-tiba Rangga teringat pada obat yang diberikan Bayu kepada pelayan Resto agar dimasukkan ke minuman Sandra.
"Jangan-jangan Bayu sengaja memberikan obat perangsang pada Sandra. Dasar gila! Kenapa dia melakukan ini pada istrinya sendiri lalu malah meninggalkannya? Apa Bayu ingin membuat Sandra tersiksa?" batin Rangga.
"Tolong aku, Rangga. Aku sudah tidak kuat lagi," mohon Sandra sembari membuka baju dalamnya. Hingga dua bukit kembar miliknya terpampang tanpa penghalang. Rangga pun menelan saliva melihat pemandangan itu.