"Saya tidak menyangka. Anda bisa menghianati wanita sesempurna Sandra," ucap Rangga membuat Bayu mengepalkan kedua tangannya.
"Bagaimana kalau Sandra tahu perselingkuhan Anda. Dia pasti akan sangat terluka, lalu meninggalkan Anda," lanjut Rangga membuat Bayu tersenyum sinis.
"Apa Anda termasuk salah satu pengagum istri saya?" tanya Bayu membuat Rangga terkejut.
"Istri saya memang cantik, tapi Anda harus sadar kalau dia itu milik saya. Atau Anda tidak mampu mencari wanita lain yang masih single?" lanjut Bayu membuat Rangga geram.
"Sabar, Pak Rangga. Anda ini tampan, mapan dan tentu saja kaya raya. Di luar sana pasti banyak wanita yang antri untuk mendapatkan perhatian Anda. Jadi, sebaiknya Anda melupakan istri saya dan tidak menjadi pebinor," ejek Bayu.
"Saya tidak sedang membicarakan diri saya. Saya sedang membicarakan Anda dan wanita selingkuhan Anda," balas Rangga kesal.
"Sandra sudah tahu soal Fira dan dia sudah memaafkan saya. Kami sedang dalam proses memperbaiki hubungan. Untuk itu kami honeymoon ke sini. Sebelumnya saya juga sudah memutuskan hubungan dengan Fira. Kalau tiba-tiba wanita itu muncul di sini, tentu saja itu di luar kuasa saya. Jadi, saya harap Anda jangan sok jadi pahlawan kesiangan untuk istri saya. Anda justru malah akan mengacaukan semuanya. Kecuali kalau Anda sama halnya dengan Fira yang sengaja datang ke sini untuk mengacaukan honeymoon kami. Ingat, Pak Rangga. Sandra itu istri saya. Kami saling mencintai dan dia bersedia memaafkan kekhilafan saya."
Setelah berkata demikian, Bayu berbalik meninggalkan Rangga yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Lelaki itu menatap kepergian suami Sandra dengan perasaan campur aduk. Kedua matanya tidak lepas menatap Bayu yang mendekati Sandra. Sepasang suami istri itu pun duduk menghadap pantai dan menikmati es s**u vanilla latte sembari melihat keindahan Sunset. Rangga membuang napas kasar dan memalingkan pandangan.
"Aku ke sini untuk melupakan Sandra, tapi kenapa justru bertemu dengannya dan mengetahui kenyataan kalau suaminya berselingkuh. Bayu benar, kalau aku ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, aku akan sama halnya dengan wanita selingkuhan itu." Rangga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu bergegas meninggalkan pantai dan kembali ke kamarnya. Ketika sampai di depan kamar, secara kebetulan Rangga melihat John keluar.
"Anda sudah kembali? Anda tidak jadi melihat Sunset, Pak?" tanya John sembari menutup pintu kamar. Kebetulan keduanya memesan kamar yang bersebelahan.
"Ini saya baru mau menyusul Anda," lanjut John yang heran melihat Rangga kembali dengan cepat. Beberapa menit yang lalu lelaki itu mengatakan ingin menikmati Sunset di pinggir pantai. Sementara John akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa tugas kantor dari laptopnya sebelum benar-benar menikmati liburan.
"Tolong pesankan tiket pesawat. Kita pulang ke Surabaya," ucap Rangga membuat John terkejut.
"Apa? Pulang ke Surabaya? Sekarang, Pak?"
"Iya."
"Tapi, Pak. Bukannya kita baru sampai siang tadi?" John masih heran.
"Aku ke sini untuk menenangkan pikiran, tapi justru di sini pikiranku bertambah kacau," ucap Rangga sembari membuka pintu kamar dan masuk. Sementara John mengikutinya dari belakang.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pak?" John yang belum menikmati liburan di Pulau Lombok sama sekali seolah tidak rela kalau mereka harus kembali ke Surabaya sekarang juga.
"Aku ke sini untuk melupakan Sandra dan menikmati waktu libur tanpa memikirkan pekerjaan kantor. Namun, di sini aku malah bertemu Sandra dan suaminya," balas Rangga sembari membuang napas kasar.
"Anda cemburu?" goda John yang memang tahu kalau Rangga masih menyimpan rasa untuk wanita itu.
"Ada hal yang lebih penting dari sekadar cemburu. Tapi, aku nggak bisa cerita. Sudahlah, kita kembali ke Surabaya saja." Rangga tetap pada keputusannya.
"Baiklah, Pak," balas John pasrah, meskipun sebenarnya dia masih ingin tinggal di sana. Namun, apa boleh buat. John cukup sadar diri kalau dirinya hanyalah bawahan yang harus mengikuti perintah atasannya. Lelaki itu segera mengambil ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan tiket pesawat ke Surabaya.
"Penerbangan untuk hari ini sudah penuh semua, Pak. Bagaimana kalau besok pagi?" tanya John setelah mengecek di aplikasi.
"Baiklah, terpaksa kita menginap dulu malam ini," balas Rangga akhirnya.
"Kamu boleh keluar! Aku ingin sendiri." Mendengar perintah atasannya, John mengangguk lalu bergegas meninggalkan kamar lelaki itu. Sementara Rangga bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, lelaki itu pun mulai packing karena besok pagi akan segera terbang ke Surabaya. Setelah hari menjelang malam, Rangga menghubungi John dan mengajak asistennya itu untuk makan malam di Resto.
***
"Sayang, kamu mau makan malam di resto atau di kamar saja?" tanya Bayu saat Sandra keluar dari kamar mandi. Setelah puas bermain air di pantai, keduanya kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Tadinya mau langsung ke Resto untuk makan malam. Namun, karena baju Sandra basah kena air laut, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar dulu untuk berganti baju.
"Kayaknya aku mau makan di Resto aja, Mas. Pengen menikmati suasana malam di sini. Mumpung cuaca cerah," balas Sandra sembari menghadap ke cermin dan memoles riasan tipis di wajahnya.
"Baiklah, Sayang. Habis makan nanti, kita jalan-jalan ke Taman. Kalau malam begini banyak lampu-lampu hias yang indah."
"Iya, Mas. Boleh." Sandra menyisir rambutnya dan merapikan riasannya. Sementara Bayu menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu memang sudah memaafkan aku, Sayang. Tapi kamu masih menolakku. Padahal aku sangat merindukan romansa kita. Maafkan aku kalau terpaksa harus memakai cara yang curang," batin Bayu sembari memasukan tangan ke saku celana, memastikan sebuah botol kecil berisi obat per4ngsang masih ada di di dalamnya.
"Ayo, Mas! Aku sudah siap," ajak Sandra. Bayu tersenyum, lalu mengikuti wanita itu keluar kamar. Keduanya berjalan menuju Resto yang ada di hotel tersebut.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Bayu saat pelayan Resto datang membawa buku menu.
"Aku mau mie kuah seafood."
"Minumnya?"
"Orange juice saja."
"Oke, Tolong dicatat, Mbak." Pelayan Resto mengangguk, lalu mencatat pesanan Sandra.
"Aku mau steak daging dan minumnya lemon tea," ucap Bayu yang kemudian dicatat oleh pelayan Resto.
"Baik, Pak. Silakan ditunggu sebentar," ucap pelayan sebelum meninggalkan keduanya.
"Sayang, aku ke toilet sebentar, ya," pamit Bayu. Tanpa rasa curiga, Sandra pun menganggukkan kepalanya. Sedangkan Bayu bergegas meninggalkan sang istri. Namun, bukan untuk ke toilet melainkan menemui pelayan Resto yang tadi mencatat pesanannya.
"Ada apa, Pak? Mau nambah pesanan?" tanya wanita pelayan Resto itu saat melihat Bayu mendekatinya.
"Mbak, saya mau minta tolong," bisik Bayu membuat pelayan Resto bingung.
"Minta tolong apa ya, Pak?" tanyanya heran.
"Tolong masukkan obat ini ke minuman istri saya. Yang Orange Juice," balas Bayu sembari menyerahkan botol kecil dari saku celananya. Pelayan Resto tampak ragu.
"Ini obat apa ya, Pak?" tanyanya sembari menerima botol kecil dari lelaki itu.
"Itu adalah obat penyubur kandungan. Istri saya divonis sulit hamil, tapi saya tidak memberitahukannya karena takut dia sedih. Jadi, saya biasa memasukkan obat penyubur kandungan ini secara diam-diam dalam minumannya," bohong Bayu.
"Oh, begitu. Saya kira obat apa? Soalnya saya takut."
"Kamu tenang saja. Kalau ada apa-apa, saya yang bertanggung jawab," balas Bayu membuat pelayan Resto sedikit lega.
"Baik, Pak."
"Ini uang tipsnya." Bayu memberikan beberapa lembar uang ratusan kepada wanita pelayan Resto itu.
"Tapi, Pak. Saya tidak--"
"Sudah, terima saja. Itu rezeki kamu. Sekali lagi terima kasih karena kamu sudah mau bantu saya." Bayu memotong ucapan pelayan resto dan memaksa wanita itu untuk menerima uang tips darinya.
"Iya, Pak. Sama-sama." Bayu pun bergegas kembali ke tempat semula. Tanpa ia sadari, sepasang mata melihatnya saat berbincang dengan pelayan Resto tadi.
"Apa benar itu obat penyubur kandungan? Apa benar Sandra punya masalah dengan kesuburan kandungannya?" batin lelaki itu penuh tanya.