Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku perjuangkan.
***
"Dari mana kau!?" tanya Axel dingin.
Amarahnya masih berada dilevel tinggi. Di sini dia mengkhawatirkan Andrea, dan gadis itu di sana malah bersenang-senang dan pulang dengan pria asing. Pria yang entah kenapa mampu membuat kepercayaan diri Axel menurun. Dia yang tadinya sudah berniat ingin memulai semuanya dari awal bersama Andrea, namun setelah melihat Andrea yang begitu bahagia bersama dengan pria lain membuat niatnya tadi menguap begitu saja.
"Kau tau ini sudah jam berapa Andrea?"
Andrea melirik jam tangannya. Matanya membulat ketika melihat jam yang menunjukkan angka 00:55. Ini adalah rekor pertamanya pulang jam segini. Biasanya jam malamnya hanya sampai pukul 20:00 malam.
Santai Andrea, jangan biarkan si bandot tua itu menguasaimu lagi.
"Jam satu kurang, kenapa? Apa ada yang salah Axel?" tanya Andrea santai.
"Kau.."
"Aku lelah Axel, dan kalau kau mau bicara besok pagi saja,"
Dengan santai Andrea melangkahkan kakinya memasuki rumah meninggalkan Axel yang terdiam. Ada rasa iba ketika melihat mimik kecewa Axel, tapi ini adalah kemauan Axel, pria itu yang memaksanya untuk melakukan ini.
Axel mengerjapkan matanya. Hatinya seolah baru saja ditancapkan belati yang mampu membunuhnya. Dadanya sesak melihat perubahan Andrea.
Ini yang kau mau bodoh!!
***
Setibanya di dalam kamar, Andrea langsung mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang akhir-akhir ini sering ia kenakan. Niat tadi ingin memanjakan tubuhnya dengan berendam air hangat, kini niat itu sudah menguap bersama dengan kekesalannya kepada Axel. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah segera mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan mengurung diri di dalam hangatnya selimut yang membalut tubuhnya dan melindungi dirinya dari Axel yang kemungkinan akan mengamuk lagi. Tapi apa alasan Axel marah kepadanya? Bukankah ini yang diharapkan Axel selama ini? Jadi apa yang salah?
Axel bisa memiliki kekasih disaat statusnya bukan lagi lajang, jadi kenapa dia tidak bisa? Hhh, dasar bandot tua egois!. Makinya membatin.
Baginya sudah cukup semua kesabaran yang dia miliki untuk Axel. Kesabaran yang dia miliki kini sudah menguap bersama dengan ketika Axel mencium Wilona tepat didepannya. Bahkan saat ini, rasa penyesalan sudah menggerogoti hatinya. Seharusnya dia tidak memaksa Axel menikahinya, seharusnya dia sadar kalau Axel tidak mungkin menjadi miliknya. Bahkan dia sadar kalau cinta Axel sudah menjadi milik Wilona. Hatinya kembali nyeri ketika membayangkan Axel tidak mungkin membalas cintanya.
Andrea semakin meringkuk di dalam selimut, saat ia merasakan ada pergerakan di atas tempat tidur. Dia dan Axel memang selama ini memutuskan untuk tidur dalam satu kamar dan berbagi tempat tidur, atas permintaannya yang memaksa. Saat itu dia berharap kalau Axel akan bisa membalas cintanya secara perlahan, mau meliriknya bukan sebagai anak tapi sebagai wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya. Namun hasilnya sama saja, sekuat apa pun usahanya untuk mendekat, sekuat itu pula Axel untuk menjauhinya. Pria itu seolah sangat anti kepadanya, seolah dia memang tidak pantas untuk menerima balasan cinta dari Axel.
"Le..."
Andrea memejamkan matanya ketika mendengar suara lirih Axel.
"Aku tau kau belum tidur Le.." sambung Axel, tangannya bergerak untuk menarik turun selimut Andrea secara paksa.
Andrea tetap menutup rapat matanya, dia tidak peduli kalau sekarang selimut yang tadinya menjadi tamengnya kini sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
"Kau membuatku gila.."
Tangan kekar Axel bergerak menyusuri wajah Andrea. Jemarinya bermain-main tepat di atas bibir tipis Andrea.
Axel mengelus kerutan-kerutan yang menghiasi kening Andrea. Hatinya seperti teriris melihat Andrea yang semakin melangkah jauh meninggalkannya, ditambah kini Andrea telah menemukan pria yang sepantaran dengannya. Pria tadi tampak sangat cocok jika disandingkan dengan Andrea.
Andrea tersentak ketika ia merasakan ada benda lunak yang mendarat di bibirnya. Matanya perlahan terbuka ingin memastikan kalau dia tidak salah, kalau Axel memang menciumnya untuk yang pertama kali. Ya memang, tidak ada lumatan atau pergerakan seperti yang sering dibacanya di novel. Tapi dengan hal sekecil ini saja dia sudah merasa sangat bahagia
Hal yang pertama kali Andrea lihat ketika membuka matanya adalah wajah Axel dengan mata terpejam. Pria itu berada tepat di atasnya dengan kedua tangannya menjadi penyangga tubuhnya.
"Please, Stay with me..”
#TBC