Hek Kay menatap ke arah Xing Zaolin, ketika perubahan di wajah pemuda yang mulai akrab dengan nya, Hek Kay lalu bertanya.
“Kau kenal dengan pemimpin berkuda itu?” Xing Zaolin mengangguk tanpa menoleh mendengar perkataan Hek Kay
“Untuk apa mereka datang ke kota Hengchan?”
Hmm..!!
“Di tanya kenal, kau mengangguk, tapi tak tahu tujuan mereka ke Hengchan,” Ujar Hek Kay sambil menatap heran.
“Apa kau tahu tujuan mereka ke sini?” Xing Zaolin bertanya.
“Tentu saja tahu, perkumpulan pengemis tahu segala nya.”
“Mereka pasti menemui Len Ci,” Ujar pengemis yang bersama Xing Zaolin.
“Menemui Len Ci, untuk apa?” Xing Zaolin berkata sambil menatap Hek Kay.
“Karna kau sudah baik kepadaku, aku beritahu kau.”
“Kim Ho itu adalah Congkoan perkampungan selaksa pedang, sementara keluarga Len adalah anggota cabang luar dari perkumpulan selaksa pedang, jadi wajar jika seorang Congkoan dari pusat menemui cabang nya yang berada di kota Hengchan ini.”
Hmm..!!
“Jadi keluarga Len masih termasuk anggota perkampungan selaksa pedang?” Ujar Xing Zaolin.
“Kau terkejut dan baru tahu ya?” Hek Kay menjawab perkataan Xing Zaolin.
“Kami perkumpulan pengemis tahu semua tentang perguruan-perguruan yang tersembunyi sekalipun. Karna ada kolong langit tidak ada tempat yang tidak ada pengemis nya, dan kami saling terhubung walaupun hanya sekedar informasi.
Xing Zaolin mengangguk mendengar perkataan dari sahabat nya baru nya Hek Kay.
“Pasti ramai di tempat keluarga Len, apa kau mau melihat ke sana?” Ujar Xing Zaolin.
Hek Kay tampak menarik nafas panjang mendengar perkataan Xing Zaolin.
“Kemampuan seorang busu sudah ada di kepalaku, jika kau mau berjanji tidak ikut campur mari kita kesana, tapi jika tidak! Aku tak bisa melindungimu, karna Kim Ho dan orang-orang dari keluarga Len bukan sembarang orang yang pantas untuk di ganggu. Partai pengemis tak mau berurusan dengan perkampungan selaksa pedang,” Hek Kay berkata sambil menatap tajam ke arah Xing Zaolin.
Setelah selesai makan dan minum arak, kedua nya lalu berjalan menuju ke kediaman keluarga Len.
Sebuah gedung besar, dan rumah-rumah kecil, yang di kelilingi oleh benteng yang kokoh dan pintu masuk tertulis papan nama dari kayu bertuliskan kata-kata mutiara.
Pedang tanpa hati adalah senjata pembunuh, pedang dengan nurani adalah senjata kebaikan.
Len Ci.
Xing Zaolin tersenyum melihat kata-kata mutiara yang ada di papan kayu, di atas gerbang kediaman keluarga Len Ci.
“Bagaimana kita masuk?” Xing Zaolin berkata kepada Hek Kay.
Hek Kay menarik nafas panjang mendengar perkataan Xing Zaolin.
“Apa ku bilang, kau pasti merepotkan,” Hek Kay berkata sambil memegang tangan Xing Zaolin lalu menarik Xing Zaolin dengan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, melewati benteng kediaman keluarga Len.
Xing Zaolin memang menyembunyikan kekuatan tenaga dalam nya sehingga Hek Kay tak menyadari dan hanya menganggap Xing Zaolin sebagai busu biasa.
Tanpa mereka sadari, dan kejauhan sepasang mata terus mengawasi mereka berdua sampai mereka masuk ke dalam benteng.
Hek Kay menarik tangan Xing Zaolin ke sebuah gunungan kecil yang tertutup semak belukar di samping gedung.
Sssttt.
“Kita berdiam disini, dan jangan berbisik biar kita dengarkan pembicaraan mereka,” Hek Kay berkata sambil menempelkan jari nya ke bibir memberi isyarat agar Xing Zaolin tak bicara.
Sementara itu di depan mereka terdapat lapang yang luas, yang biasa di pakai untuk berlatih pedang keluarga Len.
Di lapang yang luas itu tampak rombongan Kim Ho sedang berdiri berhadapan dengan orang-orang dari keluarga Len.
Hek Kay dan Xing Zaolin mendengarkan percakapan dari kedua kubu, yang terdengar sampai ke tempat mereka.
“Len Ci! Aku mau meminta upeti kepada keluarga Len untuk membantu perjuangan tuan Xiank Yu,” Ujar Kim Ho.
“Aku akan memberikan upeti yang tuan Kim Ho minta, tapi dengan syarat.”
“Apa syarat nya?” Kim Ho berkata begitu mendengar perkataan Len Ci.
“Surat dan stempel resmi dari perkampungan selaksa pedang.”
Kim Ho langsung diam ketika mendengar perkataan dari Len Ci.
“Kenapa Congkoan diam, apa ada yang salah dengan perkataanku?” Len Ci berkata.
“Maaf aku keluar buru-buru, dari perkampungan selaksa pedang jadi tak membawa surat yang saudara Len katakan, bagaimana jika surat nya menyusul?” Ujar Kim Ho.
Hmm..!!
“Congkoan mengerti dengan aturan bukan! Mana bisa seperti itu,” Len Ci berkata.
“Len Ci apa kau mambangkang perintah Cengcu selaksa pedang?” Kim Ho berkata, sambil menatap tajam ke arah Len Ci.
“Aku bukan nya membangkang, tapi Congkoan tahu bagaimana sifat Cengcu bukan,” Len Ci berkata tetap bersikeras.
“Agak nya tak ada jalan lain.”
“Keluarga Len, cabang luar dari perkampungan selaksa pedang telah membangkang, semua milik keluarga Len Ci yang ada akan di sita, dan keluarga Len akan di hukum mati karna tak menuruti perintah,” Ujar Kim Ho dengan nada bengis.
“Congkoan! Aturan tetap aturan, keluarga Len tetap setia dengan perkampungan pelaksa pedang, jaga perkataamu.”
Sementara itu Hek Kay dan Xing Zaolin yang tengah bersembunyi, melihat sambil mendengarkan perkataan kedua kubu, tampak heran.
“Kenapa satu perkampungan mereka saling beradu mulut, apa ada yang tak beres?” Hek Kay berkata.
Xing Zaolin tak menjawab perkataan Hek Kay, karna sedang berpikir apakah akan keluar dari tempat persembunyian nya atau tidak.
Suasana semakin panas ketika Kim Ho mulai mengeluarkan pedang nya.
Len Ci yang melihat Kim Ho mengeluarkan pedang, juga sudah mencabut pedang nya menatap tajam ke arah Kim Ho.
“Aku mencium bau tak beres denganmu Congkoan, dan orang-orang yang kau bawa, aku belum pernah melihat mereka di perkampungan selaksa pedang,” Ujar Len Ci.
“Kim Ho tak mau berlama-lama lagi berbicara,” Pedang nya langsung menyambar ke arah kepala Len Ci.
Traang..!!
Len Ci menangkis pedang Kim Ho dan balas menyerang.
Sepasang pedang keluarga Len dan anggota keluarga yang lain juga sudah mencabut pedang, dan bersiap melihat kepala keluarga mereka bertempur melawan Kim Ho.
Orang-orang berpakaian hitam dan berwajah bengis, mencabut pedang dan mulai menyerang sepasang pedang keluarga Len dan anggota yang lain.
Pertempuran sengit terjadi di lapang luas tempat keluarga Len berlatih ilmu pedang.
Suara teriakan dan beradu nya pedang terdengar riuh.
Anggota keluarga Len mulai terdesak, karna Kim Ho membawa orang-orang pilihan, sedangkan dari keluarga Len, hanya Len Ci dan sepasang pedang keluarga Len saja yang bisa di andalkan.
Len Ci sambil menghindari tebasan yang mengarah ke pinggang, melirik ke arah anggota keluarga nya yang sudah mulai terdesak oleh anak buah Kim Ho.
Pikiran Len Ci menjadi bercabang memikirkan keluarga nya dan anak-anak nya yang mulai terdesak, dan beberapa malah sudah terluka oleh anak buah Kim Ho.
Kim Ho melihat pergerakan Len Ci mulai lambat karna pikiran nya bercabang terus mendesak.
Sebuah tebasan ke arah leher Len Ci, membuat kepala keluarga Len itu gugup.
Len Ci menghindari sabetan yang ke arah leher dengan bergerak ke arah kiri, tapi pedang Kim Ho seperti tahu kemana Len Ci akan menghindar, dan menyabet ke arah kiri, Len Ci terkejut dan berusaha mundur, tapi terlambat.
Craaass..!!
Bahu kiri Len Ci terkena sabetan pedang Kim Ho, Len Ci mundur dua langkah menjauhi Kim Ho.
Xing Zaolin sudah dari tadi ingin keluar dari persembunyian nya, tapi Hek Kay memegang erat tangan Xing Zaolin, sambil berkata.
“Jangan ikut campur urusan mereka, atau kita yang akan celaka,” Ujar Hek Kay.
Tapi ketika melihat Len Ci terluka, Xing Zaolin melepaskan tangan Hek Kay dan ketika hendak keluar, sebuah bayangan hitam melesat mendahului sambil menyabetkan pedang nya.
Sreet, crash..!!
Seorang anak buah Kim Ho langsung roboh terkena sabetan pedang dari orang yang baru saja datang.
“Penghianat.”
Kim Ho terkejut mendengar dan melihat orang yang baru saja datang menyerang anak buah nya.
Kim To si bayangan pedang berdiri di depan Len Ci, sambil melintangkan pedang nya di depan d**a.
“Penghianat.”
“Cengcu sedang mencarimu dan ternyata kau mengacau di sini,” Ujar Kim To.
Sebelum Kim Ho berbicara.
Kim To menatap sebuah gunungan kecil yang tertutup semak belukar tempat Xing Zaolin dan Hek Kay bersembunyi.
“Cengcu cepatlah keluar dan habisi penghianat perkampungan selaksa pedang.”
Hek Kay tangan nya gemetar sambil memegang erat pergelangan tangan Xing Zaolin.
“Celaka sobat, kita celaka,” Ujar Hek Kay.
Xing Zaolin mengerutkan kening nya sambil menatap ke arah Hek Kay.
“Kenapa sobat, kenapa kita celaka?”
Orang yang baru datang itu kalau aku tidak salah, adalah Kim To orang kepercayaan Cengcu perkampungan selaksa pedang.
Dan dia melihat ke arah kita sambil menyuruh Cengcu untuk keluar.
“Jika paman pedang langit ada disini dan memberi tahu guruku, aku bisa celaka,” Ujar Hek Kay.
“Memang nya kenapa?” Xing Zaolin bertanya.
“Guruku dan paman pedang langit adalah sahabat sejak muda, jika paman pedang langit tahu aku mengintip disini dan memberi tahu guruku, aku pasti akan di kurung selama setahun di goa,” Ujar Hek Kay membalas perkataan Xing Zaolin.
“Urusan gurumu dan pedang langit nanti saja di pikirkan lagi, tempat persembunyian kita sudah di ketahui oleh mereka, mari kita kesana,” Xing Zaolin berkata kepada Hek Kay.
Xing Zaolin lalu balik memegang pergelangan tangan Hek Kay, kemudian melesat ke arah Kim To dengan ilmu meringankan tubuh raja angin.
Whuutt..!!
Setelah sampai di tempat Kim To.
Hek Kay menatap Xing Zaolin dengan pandangan tak percaya.
Ketika memegang tangan Xing Zaolin dan membawa nya lompat ke atas benteng, Hek Kay hanya merasakan aliran tenaga dalam yang tak begitu besar di tangan sobat baru nya.
Tapi ia dalam sekejap seperti di tarik, dan tiba-tiba sampai di tempat Kim To berada.
Wajah Kim Ho langsung pucat melihat siapa yang datang.
Sedangkan sepasang pedang keluarga Len ketika melihat Xing Zaolin datang, entah kenapa hati kedua kakak beradik itu merasa lega, mereka sudah melihat kemampuan Xing Zaolin menewaskan siluman serigala, dan mereka yakin Xing Zaolin datang untuk menolong.
Kim To berkata, sambil sedikit membungkukkan badan, memberi hormat.
“Cengcu! Musuhmu ada di sini.”