Tewasnya Kim Ho

1715 Kata
Hampir semua yang berkumpul terkejut ketika mendengar perkataan dari Kim To. “Cengcu.” “Saudara Kim?” “Ini, ini yang saudara Kim katakan, lalu Cengcu,” Len Ci berkata sambil menatap bingung ke arah Kim To. Kim To mengangguk sambil tersenyum ke arah Len Ci dan berkata. “Paman pedang langit sekarang menjadi Hu Cengcu (wakil ketua kampung) aku menyusul Cengcu juga atas perintah Hu Cengcu, agar anggota luar perkampungan selaksa pedang seperti keluarga Len tahu, siapa Cengcu perkampungan selaksa pedang yang baru.” Setelah mendengar perkataan dari Kim Ho, Len Ci yang bahu nya terluka kemudian memberi hormat kepada Xing Zaolin, setelah terlebih dahulu memberi isyarat kepada anak dan keluarga nya Len yang lain untuk menuruti dan mengikuti nya sebagai kepala keluarga Len memberi hormat kepada Cengcu baru. “Obati saja luka paman, dan mundur semua biar aku sendiri yang akan menghabisi orang yang tak tau diri ini,” Xing Zaolin berkata sambil menatap tajam ke arah Kim Ho. “Kau yang membunuh orang-orang tak berdosa di rumah hiburan surga malam dan mereka pasti yang bersama mu waktu itu, mana ketiga murid busuk mu itu?” Ujar Xing Zaolin sambil menunjuk orang-orang yang berpakaian hitam yang bersama Kim Ho. “Entah apa yang kau berikan kepada si tua Zhi (nama pedang langit) hingga memberimu jabatan Cengcu?” Kim Ho berkata dan membalas tatapan Xing Zaolin. Phuuuih..!! “Sudah bau tanah tak perlu banyak tanya.” Sepasang pedang pendek naga hitam berputar di kedua tangan Xing Zaolin. “Len Ci dan sepasang pedang keluarga Len, geleng kepala melihat pedang yang berputar di kedua tangan Xing Zaolin.” Sedangkan Hek Kay pengemis berwajah hitam, tak dapat berkata-kata, pemuda itu masih terkejut dan henti nya menatap ke arah Xing Zaolin. Kim Ho dengan pedang nya yang putih mengkilat, bersiap dan memasang kuda-kuda, dia pernah merasakan ketajaman salah satu pedang pendek yang berada di kedua tangan Xing Zaolin. Xing Zaolin melemparkan pedang nya yang berada di tangan kiri. Pedang melesat dan berputar menyerang ke arah kepala Kim Ho. Sebelum melesat menyusul pedang nya, Xing Zaolin mendorong tangan kiri dengan ilmu pukulan dewa angin ke arah anak buah Kim Ho yang menyerang dari samping kiri. Whuuut, braak. Dua orang yang terlambat menghindar terpental, terkena hantaman pukulan dewa angin, kedua nya muntah darah dan tewas seketika dengan d**a remuk. Sementara itu, Kim Ho sempat melirik anak buah nya yang terkena pukulan Xing Zaolin, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karna ia juga tengah di serang oleh pedang Xing Zaolin yang meluncur cepat sambil berputar ke arah kepala. Kim Ho menunduk dan pedang lewat di atas kepala, dan menyambar tangan salah seorang anak buah Kim Ho. Craaas, aarrggghh. Teriakan keras terdengar dan potongan tangan jatuh ke tanah, sedangkan pedang terus berputar-putar. Xing Zaolin menarik nafas, kemudian tenaga dalam nya di salurkan ke tangan kiri, hawa tenaga dalam yang berputar keluar dari tangan kiri, menarik pedang naga hitam yang tadi ia lemparkan. Weeer, taap..!! Dengan jurus raja angin, Xing Zaolin menyambut pedang pendek nya , pedang di tangan kanan menusuk pinggang Kim Ho, sedangkan pedang yang baru ia tangkap di pakai menangkis serangan anak buah Kim Ho yang ke arah leher. Traang..!! Tangan anak buah Kim Ho bergetar, ketika kedua senjata bertemu, sebelum musuh menarik diri, pedang kiri Xing Zaolin turun melesat menghujani d**a anak buah Kim Ho. Brees, arrggghh. Xing Zaolin tak peduli dengan teriak memilukan yang keluar dari mulut anak buah Kim Ho, setelah mencabut pedang dari d**a, lalu tubuh musuh langsung ia tendang sehingga terpental jauh dan tewas seketika. Wajah Kim Ho pucat, hanya tersisa beberapa orang dengan diri nya. Empat orang anak buahnya, hanya dalam beberapa gebrakan tewas oleh pemuda itu. “Semua nya maju, biar cepat beres,” Ujar Xing Zaolin. “Kepung pemuda tengik itu, kita serang bersama-sama,” Kim Ho berkata sambil pasang kuda-kuda siap menyerang Xing Zaolin. Enam anak buah Kim Ho yang tersisa begitu mendengar perkataan dari pemimpin mereka segera mengepung Xing Zaolin. Sepasang pedang pendek naga hitam, masih terus berputar di kedua tangan Xing Zaolin. Masing-masing mata pengepung menatap pedang yang terus berputar. Seraaang..!! Kim Ho memberi aba-aba kepada anak buah nya, sambil melesat dan menyabetkan pedang nya ke arah pinggang. Sebagian menyerang ke arah kepala dan kaki. Melihat semua bagian mematikan di tubuh nya di serang. Xing Zaolin sambil melompat ke atas, menangkis pedang yang menyerang ke arah kepala dan d**a. Traang, traang. Dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, Xing Zaolin lompat sambil bersalto, kemudian turun dengan kedua kaki nya menginjak bahu kiri kanan seorang pengepung nya, kedua kaki Xing Zaolin langsung menjepit kepala, setelah kedua kaki nya menjepit kepala, Xing Zaolin berputar. Kreaak..!! Setelah mendengar patahan tulang leher, Xing Zaolin seperti terbang melesat menusuk leher Kim Ho. Whuuut, traang. Pedang Kim Ho menangkis pedang Xing Zaolin, sedangkan anak buah nya menyabet pergelangan tangan Xing Zaolin dari samping. Xing Zaolin menarik serangan nya, lalu pedang tangan kiri bergerak dengan cepat menyabet ke arah perut musuh yang tadi hendak menebas tangan. Breet..!! Raut wajah ketakutan terlihat ketika pedang naga hitam lewat di perut nya, darah langsung keluar dari sobekan perut, pria berseragam hitam sambil memegangi perut nya yang sobek berusaha mundur, tapi Xing Zaolin tak mau membiarkan musuh nya itu bernafas, sebelum Kim Ho menyerang pedang di tangan kanan menebas ke arah perut. Craaass. Tangan yang sedang memegang perut nya yang sobek putus dan jatuh ke tanah. Dari sobekan perut, darah langsung muncrat keluar berikut isi perut nya yang tak tertahan lagi oleh tangan. Perlahan, sambil melotot dengan sebelah tangan menggapai ke arah Xing Zaolin, pria itu tewas. Kim Ho semakin geram walau sangat takut, tapi sudah tak ada jalan bagi nya untuk mundur. Pedang Kim Ho di putar sangat kencang di depan d**a sehingga menimbulkan angin menderu. Whut, whut, whuut. Kim Ho kemudian menyabetkan pedang nya menyilang ke arah Xing Zaolin, hawa pedang berwarna putih melesat dengan cepat menuju ke arah Xing Zaolin. Ketika melihat hawa pedang yang sangat cepat menuju ke arah nya dan Xing Zaolin juga merasakan sambaran pedang dari arah belakang. Xing Zaolin bergerak ke samping kiri, lalu menendang pinggang pembokong nya. Bhuuk..!! Anak buah Kim ho yang hendak membokong Xing Zaolin, terhuyung dan tepat di depan hawa pedang Kim Ho yang sedang melesat dengan cepat. Craash. Tanpa ampun pembokong itu tewas dengan tubuh terbelah dua terkena hawa pedang dari pemimpin nya sendiri. Wajah tiga orang anak buah Kim Ho yang tersisa semakin ketakutan melihat kawan nya satu persatu tewas mengenaskan. Xing Zaolin dengan jurus selaksa pedang menyerang ketiga orang anak buah Kim Ho. Kedua pedang pendek naga hitam berubah menjadi puluhan dan menyerang ketiga orang yang sudah sangat ketakutan. Creepss..!! Srbuah tusukan menembus leher, lalu salah seorang berusaha menangkis pedang yang ia lihat hendak menusuk d**a, ketika ia menebas, pedang nya hanya menebas angin, dan pedang Xing Zaolin sudah berada di leher nya. Sreeat..!! Sebuah kepala langsung jatuh ke tanah, sedangkan satu orang yang tersisa, langsung berusaha melarikan diri tapi ketika ia mendengar suara angin dingin di belakang dan menoleh, pedang naga hitam sudah berada tepat di belakang berputar cepat menyambar tepat ke mulut nya. Craash..!! Mulut serta rahang nya hancur terkena putaran pedang naga hitam. Xing Zaolin mengambil pedang pendek nya yang masih menancap di mulut lalu pedang yang masih berlumuran darah di usapkan ke rambut korban nya yang tewas. Kemudian setelah pedang pendek nya bersih, ia putar -putar sebentar sambil menatap ke arah Kim Ho. “Hai telinga tunggal, sekarang giliran mu untuk mati, bersiaplah!” Kim Ho tak menjawab ejekan Xing Zaolin, biar bagaimanapun harapan nya untuk melarikan diri sudah musnah, kini hanya tinggal mengadu jiwa. Dan berharap bisa mati berdua dengan pemuda itu. Tangan kanan memegang erat pedang. Setelah menarik nafas, Kim Ho mendorongkan tangan kiri nya ke arah Xing Zaolin, angin dingin keluar menyusuri tanah, debu dan krikil berhamburan ketika di lewati oleh pukulan tenaga dalam yang di keluarkan oleh Kim Ho. Xing Zaolin lalu menyalurkan pedang kiri nya. Lalu dengan pukulan dewa angin, membalas ke arah hawa tenaga dalam yang tengah melesat ke arah nya. Dhuuarr..!! Ledakan keras terdengar ketika kedua angin tenaga dalam bertemu, tetapi ilmu pukulan dewa angin Xing Zaolin lebih unggul. Dan terus melibaskan pukulan Kim Ho. Kim Ho terkejut, kemudian bergerak ke samping kiri, pukulan dewa angin lewat dan langsung menghantam gunungan kecil dan semak belukar yang tadi tempat bersembunyi Xing Zaolin dan Hek Kay. Blaaart..!! Batu-batu beterbangan semak belukar, terangkat dan tercabut sampai ke akar nya terkena hantaman pukulan dewa angin. Melihat Kim Ho masih bisa menghindar Xing Zaolin kemudian melemparkan pedang naga hitam ke arah tempat Kim Ho menghindar. Sing, sring, sring. Suara putaran pedang terdengar jelas memburu ke arah Kim Ho. Mata Xing Zaolin menyipit, ketika melihat Kim Ho masih bergerak menghindari serangan ke arah kiri. “Kenaa.” Xing Zaolin teriak sambil mengibaskan tangan kiri nya yang sudah berwarna merah, melepaskan pukulan dewa apai ke arah Kim Ho menghindar. Tak ada jeritan sewaktu pukulan dewa api telak menghantam tubuh Kim Ho. Tubuh kakek itu langsung hancur, daging yang beterbangan dari tubuh yang hancur tampak berwarna merah akibat panas nya pukulan dewa api. Xing Zaolin menarik nafas lega setelah berhasil menumpas musuh yang sangat di benci nya itu, Xing Zaolin menatap ke arah langit. Nio Nio, Ling Leng dan kau adik Ling Lung, dendam kalian sudah kebalaskan, semoga kalian tenang di alam sana, ujar Xing Zaolin dalam hati. Anggota keluarga Len langsung membersihkan mayat-mayat yang berserakan. Sobat, kau tak usah khawatir, gurumu tak akan tahu kau mengintip, Xing Zaolin berkata kepada Hek Kay sambil tersenyum. Len Ci dibawa ke dalam untuk di obati, bahu nya yang terkena sabetan pedang Kim Ho. Ketika Xing Zaolin tengah berjalan bersama Hek Kay, sebuah bayangan melesat datang. Len En yang baru saja datang setelah keluar bersama dengan pelayan nya, tidak mengetahui bahwa keluarga Len baru saja di serang. Melihat Xing Zaolin berjalan bersama dengan pemuda bermuka hitam di depan ayah dan paman nya. Len En tanpa bertanya dan berkata, lalu berjalan, setelah sampai di depan Xing Zaolin, lalu menampar pipi pemuda itu. Plak..!! Pipi Xing Zaolin langsung berubah merah, tampak lima jari tergambar jelas di pipi Xing Zaolin yang putih. Len En melotot kepada Xing Zaolin dan berkata, tanpa memperdulikan wajah ayah dan paman nya yang langsung pucat pasi, ketika melihat Len En menampar pipi Xing Zaolin dengan keras. “Kau mau mencuri di rumahku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN