Tinggal Bersama Di Lembah

1709 Kata
Dewa Gila setelah tertawa, kemudian diam duduk di samping Xing Zaolin dan bersemedi dan tak lama kemudian goa yang gelap perlahan tampak terang, akibat cahaya kuning ke emasan yang keluar dari tubuh Dewa Gila. Ilmu tenaga dalam jubah emas yang ia miliki berasal dari kalangan bhuda, dan tenaga dalam jubah emas sangat istimewa karna jika tenaga dalam orang yang memiliki ilmu itu sudah tinggi, pukulan atau senjata tak akan bisa melukai orang yang memiliki tenaga dalam jubah emas yang sedang di gunakan Dewa Gila saat bersemedi. Dewa Gila terus bersemedi dan keheningan malam membuat suasana di malam itu semakin tenang, tapi jika ada orang yang melihat cahaya itu pasti tertarik dan masuk ke dalam goa, karna dari luar terlihat cahaya yang kuning ke emasan yang berasal dari dalam goa. Dewa Gila karna asyik bersemedi tak ingat akan waktu karna semedi dengan menambah tenaga dalam jubah emas membuat pikirannya menjadi tenang. Ketika membuka mata selesai semedi Dewa Gila terkejut di depannya ada seorang bocah berumur lima tahun tengah menatap dirinya yang sedang bersila. “Lihat apa kau?” Ujar Dewa Gila kepada bocah itu, “Liat kakek,” Jawab bocah itu , Dewa Gila menoleh ke kiri ke kanan, ternyata aku masih berada di dalam goa. “Apa yang kau cari kek,” Bocah yang bernama Xing Zaolin bertanya. “Aku mencari bocah yang tidur di sini,” Jawab Dewa Gila. Dewa Gila kemudian menatap bocah yang ada di depannya, ketika melihat di dadanya ada gambar kepala naga merah, Dewa Gila tersenyum,” Rupanya kau bocah itu,” Dewa Gila berkata. “Tentu saja aku kek di sini tidak ada orang selain aku dan kakek,” Ujar Xing Zaolin “Dari mana kau tau disini tidak ada orang?” Dewa Gila berkata sambil menatap Xing Zaolin. “Aku lama nunggu kakek bersemedi tidak bangun-bangun, jadi aku keluar goa dan mencari makanan,” Xing Zaolin berkata. “Sudah berapa hari aku tidak bangun?” Dewa Gila berkata. Hmmm..!! “Sudah satu hari kek,” Ujar Xing Zaolin. “Agak nya sudah dua hari aku bersemedi,” Dewa Gila berkata dalam hati. “Apa yang kau makan selama satu hari ini?” Dewa Gila berkata sambil menatap bocah yang ada di depannya. “Aku hanya menemukan tiga buah di dekat pohon besar, setelah makan itu aku tidak merasa lapar lagi,” Xing Zaolin berkata. “Buaaah,” Dewa Gila berkata, dan tak lama lagi kemudian tubuh nya langsung melesat ke arah pohon besar. Dewa Gila langsung duduk sambil menatap sebuah pohon kecil yang sudah layu, wajah nya menunjukkan gurat kekecewaan. “Buah naga api yang aku temukan, dan taksiranku buah itu berusia lima ratus tahun ludes di makan bocah itu dan tidak ada satupun yang tersisa,” Dewa Gila berkata sambil tangan nya menepak-nepak kepalanya. “Bocah itu main ambil saja tanpa permisi kepadaku,” Dewa Gila berkata, kemudian dengan cepat melesat kembali ke arah goa. “Hai bocah, kenapa kau main ambil saja tanpa bilang padaku?” Dewa Gila berkata dengan nada gusar kepada Xing Zaolin. “Aku lapar sekali kek, sedangkan kakek tidak bangun-bangun, aku tau kakek sedang bersemedi untuk menambah ilmu seperti yang di lakukan ayah ku di malam hari,” Ketika menyebut ayah, tiba-tiba air mata Xing Zaolin Bercucuran membasahi pipinya yang putih. “Kenapa kau menangis?” Dewa Gila bertanya ketika melihat Xing Zaolin menangis. “Aku, aku teringat ayah dan ibu,” Air mata Xing Zaolin semakin banyak keluar setelah berkata. “Siapa ayah mu?” Dewa Gila berkata sambil menatap Xing Zaolin. “Ayah ku Xing Fank, ketua Sekte Naga Merah,” Ujar Xing Zaolin. “Kenapa kau bisa ada di sini?” Mendengar perkataan dari kakek yang ada di depannya, Xing Zaolin lalu menceritakan apa yang dia liat, air matanya berlinang ketika menceritakan kejadian di kampung Sekte Naga Merah kepada Dewa Gila. “Agak nya Sekte Naga Merah telah hancur,” Dewa Gila berkata dalam hati. Organisasi yang setahu aku, organisasi pembunuh dari sebuah keluarga yang mempunyai banyak anak buah dan bertempat tinggal di bawah tempat ini yaitu Lembah Merah dan orang yang aku temukan puluhan tahun lalu agak nya orang tua bocah ini, Dewa Gila jadi lupa akan buah naga yang di makan oleh Xing Zaolin. “Hai bocah...!! Disini hanya ada kita berdua dan kau akan menemaniku sampai aku meninggal dunia,” Ujar Dewa Gila. “Apa kita tidak bisa naik ke atas kek?” Xing Zaolin berkata. “Aku sendiri bisa, sedangkan kau kan tidak,” Ujar Dewa Gila. Kemudian seorang bocah berumur lima tahun tampak bercakap-cakap dengan kakek yang seluruh rambut nya berwarna putih. Dan setelah Xing Zaolin amati, sifat kakek itu berubah-ubah, ketika menjadi gila ia melatih Xing Zaolin dengan keras, ilmu tenaga dalam jubah emas di berikan kepada Xing Zaolin. Dan jika Dewa Gila sembuh dari penyakitnya, ia hanya bercakap-cakap dengan Xing Zaolin tanpa bicara tentang ilmu silat. Hari demi hari di lalui oleh Xing Zaolin dan ia di latih dengan keras oleh sang kakek, sambil melatih dia selalu ketawa dan berkata, “Pembunuh no 1,” Xing Zaolin tidak mengerti apa yang di maksud gurunya itu. Dewa Gila pernah menghancurkan batu-batu di dekat goa dan membuat Xing Zaolin ketakutan. Xing Zaolin sangat sayang kepada kakek itu, karna ia satu-satu nya keluarga yang ia miliki, tapi jika penyakit gila nya kambuh kadang Xing Zaolin yang terkena imbasnya. Xing Zaolin mengusap dan membersih kan wajah gurunya itu setelah menghancurkan batu-batu yang berada di dekat tempat itu, kakek itu tertidur pulas karna merasa lelah. “Kakek, kau adalah satu-satunya keluargaku, jika ada obat yang bisa menyembuhkan mu, kenapa kita tidak cari saja berdua obat itu,” Xing Zaolin berkata sambil memandangi wajah gurunya yang sedang tertidur pulas. Tak terasa sudah beberapa, lima tahun Xing Zaolin berada di dalam lembah yang tak bernama bersama Dewa Gila, perlahan tapi pasti, Xing Zaolin mempelajari, ilmu-ilmu dari kakek, dan sekarang Xing Zaolin juga mendapatkan bimbingan gurunya yang sadar. Batu-batu yang terkena amukan Dewa Gila, di leburkan menjadi pasir hitam, ketika kumat gilanya ia membakar pasir itu dan menyuruh Xing Zaolin mencakar pasir panas itu, tangan bocah yang waktu itu berusia 6 tahun sampai melepuh dan hitam, tapi gurunya tak peduli dan terus menyuruh Xing Zaolin untuk melakukannya, dan ketika sadar ia menyembuh kan tangan Xing Zaolin yang terluka itu. Dan sekarang di usia 10 tahun, Xing Zaolin masih terus melakukannya, tapi sekarang pasir-pasir itu bercampur bubuk besi merah menyala, dan Xing Zaolin terus mencakar dan membenamkan jari-jari nya ke dalam pasir panas, dan sekarang Xing Zaolin tau kalo latian waktu penyakit kakek nya kambuh adalah suatu latian yang baru terasa manfaatnya. Ilmu cakar naga merah yang ia pelajari dari bimbingan sang kakek ketika sadar sangat hebat, batu cadas hitam yang keras bisa bolong tercakar Xing Zaolin, karna tangannya sudah biasa berlatih dengan pasir panas, dan juga sewaktu ia di gantung terbalik di atas pohon, karna tak juga bisa mempelajari ilmu tenaga dalam jubah emas. Satu hari satu malam tergantung, dan ketika malam hawa di Lembah sangat dingin Xing Zaolin berusaha untuk menenangkan diri dan mengusir hawa dingin dengan tenaga dalamnya, dan ia berhasil mengalirkan tenaga dalamnya dengan susah payah dan dalam keadaan terbalik keseluruh tubuh. Dan setelah kejadian itu Xing Zaolin mulai terbiasa bersemedi dengan ilmu tenaga dalam jubah emas pemberian gurunya, Dewa Gila tersenyum melihat bocah yang sudah beranjak remaja, tak terasa sudah 10 tahun Xing Zaolin berada di lembah itu bersama dengan Dewa Gila. “Nak, kau sangat tabah, aku tau penyakit nya sering kambuh dan sering menyiksamu,” Ujar Dewa Gila sambil mengusap kepala Xing Zaolin yang sudah mulai tinggi, wajahnya yang putih dah tampan, dengan d**a yang lumayan kekar karna selalu tak memakai baju membuat tubuh Xing Zaolin kuat terhadap cuaca panas ataupun dingin. “Kakek, itu semua buat kebaikan Xing Zaolin juga, Xing Zaolin tidak pernah merasa marah maupun kesal kepada kakek,” Xing Zaolin berkata sambil memeluk kakeknya. Dulu memang Xing Zaolin kecil ceria, tapi semenjak ia berada bersama kakek Pertapa, Xing Zaolin menjadi pendiam dan jarang bicara, tabiatnya pun sering mengikuti gurunya tertawa, ketika kakek itu gila dan pernah mereka bertarung karna Xing Zaolin ikut tertawa, dan Xing Zaolin babak belur oleh kakeknya yang mengamuk, karna ada orang yang berani melawannya. “Aku pernah hampir mati sewaktu mempelajari tahap akhir dari ilmu jubah emas tahap 4 yang bernama jiwa emas, dan hampir jalan menuju neraka,” Ujar Xing Zaolin. “Kau harus hati-hati jika sampai salah jalan kau bisa gila seperti ku,” Dewa Gila berkata. Xing Zaolin langsung memeluk kakek angkatnya tanpa bicara, matanya berkaca-kaca mendengar perkataan gurunya itu, ia juga merasa bersalah kepada gurunya, karna buah naga api yang ia makan sebenarnya adalah salah satu obat untuk menyembuhkan penyakit gila si kakek. “Nak..!! Tubuh ku semakin tua dan lemah umurku sudah lebih dari seratus lima puluh tahun.” “Mulai besok aku akan membimbing mu ilmu kitab dewa pedang memperhalus dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kau buat ketika berlatih ilmu itu,” Dewa Gila berkata. Ketiga tahap ilmu dewa pedang sudah kau pelajari tapi masih banyak kesalahan yang bisa menjadi kelemahan mu jika kau salah dalam melakukannya. Ketiga tahapan dari kitab dewa pedang. 1.Jurus putaran dewa pedang 2. Jurus selaksa pedang 3.Jurus sepasang pedang dewa “Kau harus mempelajarinya baik-baik dengan mustika naga merah yang kau miliki.” “Sedangkan ilmu pusaka perguruanmu jurus cengkraman dan ilmu cakar merah, ilmu meringankan tubuh yang di sebut raja angin, sudah kau pelajari dan menurut ku, kau hanya tinggal mematangkan saja.” Dewa Gila berkata. Aku akan membimbingmu mempelajari kedua ilmuku, dan aku rasa dengan umur mu yang sekarang kau sudah mulai mampu menyerap apa yang akan ku katakan, karna jika salah mempelajari ilmu tenaga dalam jubah emas, nasib mu akan sama sepertiku. “Dua tahapan sudah kau pelajari, dan mulai besok kau pempelajari tahapan berikutnya beserta ilmu pukulan telapak dewa milikku. Empat tahapan ilmu tenaga jubah emas terdiri dari 1.Hawa Emas 2.Tameng Emas 3.Tubuh Emas 4.Jiwa Emas. Dan dua tahapan pukulan telapak dewa adalah. 1.pukulan telapak dewa angin 2.pukulan telapak dewa api “Kau bersiaplah, walaupun aku menjadi gila, aku akan pastikan dalam kegilaanku melatihmu dengan salah satu ilmu yang tadi aku sebutkan,” Dewa Gila berkata. Xing Zaolin tersenyum kepada kakek angkatnya Dewa Gila. “Aku siap mendengarkan petunjukmu kakek,” Ujar Xing Zaolin kepada gurunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN