Xing Zaolin mengangguk mendengar perkataan kakek nya yang sudah hampir sepuluh tahun bersamanya, ke esokan hari nya Xing Zaolin mendengar kakek angkat nya tertawa, terkejut dan ia tahu pertanda apa jika mendengar suara menggelegar seperti yang ia dengar sekarang ini pasti latihan berat segera di mulai.
“Hai bocah, kemana kau!” Ujar kakek memanggil Xing Zaolin, tak lama kemudian Xing Zaolin keluar dari dalam goa dan melihat kakek angkat nya sudah membawa sebuah tali yang panjang.
“Buat apa tali itu?” Xing Zaolin berkata dalam hati.
Sebelum berpikir panjang, kakek nya sudah melotot dan berkata, ”Kesini kau!” Xing Zaolin akhirnya menghampiri Kakek angkat nya wajah beringas dan mata yang berputar liar itulah yang menakutkan buat Xing Zaolin.
“Kau liat tebing di atas sana,” Ujar kakek sambil menunjuk ke arah tebing yang tampak tegak lurus dan berwana hijau akibat lumut yang menempel di batu.
“Lihat Kek,” Xing Zaolin berkata sambil menatap ke arah kakeknya yang seperti sedang mengukur panjang tali itu.
“Mari ke atas,” Xing Zaolin mengerutkan kening nya mendengar perkataan si kakek.
“Apa lagi yang kau pikir,” Ujar kakek sambil meraih pinggang Xing Zaolin dan melesat ke arah dinding batu di pertengahan lembah yang berada di atas danau.
Whuuuuuutt.....braaaakk.
Setelah sampai di atas si kakek langsung menghantam dinding batu, dinding batu bolong dan bolong nya pas seukuran dengan tubuh Xing Zaolin.
Lalu kakek melempar tubuh Xing Zaolin ke lubang yang baru saja dibuat nya.
“Diam di situ sampai aku datang,” Kakek berkata sambil mengorek pinggiran dinding cadas itu, kemudian memberi tali di lubang yang telah berada Xing Zaolin di dalam nya, jika aku datang tali ini berubah atau putus, kepalamu ku bikin putus nanti, kakek berkata sambil menatap tajam ke arah Xing Zaolin matanya bergerak liar dan beringas, lalu sang Kakek turun dan tertawa keras, dan perlahan tawa itu hilang.
Kini tinggal Xing Zaolin yang berdiam di lubang di atas telaga, dengan tali yang menjaganya, posisi yang tidak mengenakan bagi Xing Zaolin, karna ia hanya bisa duduk dan tak bisa berdiri juga susah untuk bergerak ke kiri dan ke kanan.
“Apa maksud kakek menaruh ku di tempat seperti ini, jika penyakit kakek kambuh lagi biasanya ia selalu melatihku dengan keras, pasti ada maksud dari semua ini,” Xing Zaolin berkata dengan rasa penasaran.
Seiring nya waktu berjalan, senja mulai merambah di lembah tak bernama, dan cuaca bertambah dingin, Xing Zaolin yang tak biasa memakai baju dan hanya memakai celana yang dibuat dari kulit-kulit kayu, mulai merasakan dingin yang amat sangat.
Xing Zaolin hanya bisa duduk bersila tanpa bisa berbuat apa-apa sambil menahan dingin, kemudian mulai melatih ilmu jubah emas, tahap kedua dari ilmu tenaga dalam jubah emas yang bernama temeng emas sudah ia kuasai, tinggal yang ketiga adalah baju emas, apa maksud dari baju emas? Xing Zaolin berkata dalam hati.
Karna hawa semakin dingin, apalagi dinding batu-batu mulai basah membuat semakin dingin tempat Xing Zaolin berada.
Xing Zaolin lalu memusatkan pikirannya, dan mulai melatih ilmu tenaga dalam jubah emas dan mulai mengalirkan tenaga dalam yang ia miliki keseluruh tubuhnya, dan Xing Zaolin mulai tenggelam dalam semedinya, tapi tak berlangsung lama karna pikirannya oleh hawa dingin yang membuat wajah nya mulai agak pucat, bibir membiru, dan badan nya sedikit menggigil.
Hari pertama Xing Zaolin berada di atas lubang buatan kakek sangat menyiksa pemuda itu tak bisa tidur dan hanya duduk bersila.
Malam berganti pagi, Xing Zaolin merasa lega karna hawa pagi yang segar membuat tubuh nya yang sangat dingin perlahan hangat kembali.
Tapi perlahan ke hangatan itu berubah menjadi seperti neraka ketika matahari mulai naik dan sinarnya yang panas, membuat tubuh Xing Zaolin banjir keringat apalagi dinding batu tempatnya juga ikut panas, belum lagi hawa uap air telaga yang naik semakin membuat Xing Zaolin tersiksa.
Ada niatan dari anak muda itu untuk memutuskan tali yang menghalangi lubang tempat ia berdiam diri, tapi setelah di pikir lagi Xing Zaolin akhir nya hanya bisa gelisah menahan panas yang membuat tubuhnya sangat tersiksa, belum lagi rasa lapar yang hebat.
Selama dua hari tubuh Xing Zaolin terlihat kurus, dengan mata yang cekung dan garis hitam di sekitar bibir mata menandakan lelah dan kurang tidur, membuat keadaan pemuda itu mengkhawatikan, dan sore harinya melayang sebuah paha ayam bakar Xing Zaolin tanpa bicara lagi, dari mana asal dan siapa yang melempar paha ayam itu, langsung melahap ayam bakar itu tanpa ada sisa sedikitpun.
Malah harinya Xing Zaolin seperti biasa kembali bersemedi, tapi kali ini ia berusaha untuk mengalirkan hawa tenaga dalam tapi untuk menghangatkan tubuh dan Xing Zaolin lalu mencobanya, memanaskan tenaga dalamnya yang berada di dalam tubuh, sekali gagal, kedua dan ketiga akhirnya berhasil, Xing Zaolin bersorak ketika usahanya berhasil.
Akhirnya dalam beberapa hari dalam keadaan tersiksa Xing Zaolin berhasil membuka tahap ketiga ilmu dari tenaga dalam jubah emas, yaitu baju emas dan memang maksud kakek menaruh Xing Zaolin di sana untuk berpikir, bahwa hawa panas dan dingin bisa di atasi dengan memakai baju yang bisa melindunginya dari cuaca, dan itulah tujuan dari ilmu jubah emas yang bernama baju emas, melindungi pemakainya dari panas dan dingin akibat pukulan yang masuk kedalam tubuh.
Latihan di dalam lubang buatan itu sangat membantu meningkatkan kekuatan tenaga dalam Xing Zaolin, hampir tiga puluh hari ia berada di dalam lubang, sampai akhirnya sang kakek datang dan membawanya turun.
Wajah dari sang kakek terlihat tenang tanda ia dalam keadaan normal.
“Bagaimana dengan keadaanmu nak?” Ujar si kakek bertanya sambil menatap sayang kepada Xing Zaolin.
Terima kasih atas bimbingan kakek, aku sudah mengerti tahap ketiga dari ilmu tenaga dalam jubah emas, Xing Zaolin berkata.
“Anak pintar, anak pintar,” Ujar si kakek sambil mengelus-elus kepala Xing Zaolin yang semakin besar.
Sekarang kau gak usah gelisah lagi, kakek tak kan berubah lagi karna kakek sudah memutuskan untuk benar-benar membimbingmu dan kakek sudah memutuskan urat-urat di kepala yang membuat aku jadi gila, tapi akibat dari hal itu umurku paling lama cuma bertahan tiga tahun saja.
Mendengar perkataan dari Kakek, Xing Zaolin terkejut dan langsung memeluk kakek angkat nya yang sekarang terlihat lebih tua.
Nak...!! Semua pasti akan kembali, cuma kita belum tau kapan kita akan kembali, aku lebih baik seperti ini dari pada hidup lama tapi bisa mencelakai orang lain dengan keadaan penyakitku yang sering kambuh.
“Dan kau harus giat berlatih, di hari perpisahan aku akan berikan sesuatu yang istimewa untukmu,” Kakek berkata kepada Xing Zaolin.
Tak ada yang istimewa untukku selain bersama kakek, Xing Zaolin berkata.
Nak..!! Tahap ketiga dari ilmu tenaga dalam jubah emas sudah kau kuasai, dan tahap ke empat yang bernama jiwa emas, harus perlahan kau pelajari nanti, yang harus kau ingat adalah satukan semua jiwa raga mu dan tenaga dalam jubah emas, jika kau bisa menyatukannya kau tak perlu lagi khawatir terhadap musuh-musuhmu, Ujarnya Kakek.
Pukulan telapak dewa angin dan dewa api, karna kau telah bisa tahap ketiga dari jubah emas, akan mempermudah kau mengeluarkan kedua ilmu itu, karna pada dasar nya kedua ilmu itu telapak dewa adalah melebur dan menciptakan hawa tenaga seperti apa yang kita inginkan.
Jika ilmu telapak dewa api, kau tinggal mendidihkan hawa tenaga dalammu sebelum kau keluarkan, begitu pula jika ilmu telapak dewa angin, dan aku liat selama latihan kau sudah bisa mengeluarkan jurus itu dan mengerti apa yang ku maksudkan? Kakek berkata.
Sedangkan ilmu dewa pedang kau harus sering-sering berlatih, walau hanya terdiri dari tiga jurus, tapi setiap jurus bisa kau kembangkan menjadi ratusan jurus tergantung dengan keadaan musuh yang kau hadapi.
“Baik kek,” Xing Zaolin berkata sambil mendengarkan nasehat dari kakek.
Hari-hari terus mereka jalani, hingga tiga tahun waktu yang di janjikan sang kakek.
Xing Zaolin tumbuh menjadi pemuda yang pendiam, sedangkan kesehatan kakek angkatnya semakin buruk.
“Nak berbalik lah,” Kakek berkata, lalu Xing Zaolin berbalik, tak lama kemudian terdengar gerakan-gerakan dari belakangnya lalu punggung nya terasa hangat dan seperti aliran sungai yang mengalir deras masuk kedalam tubuh.
Xing Zaolin terkejut, ketika ia berusaha untuk menolak, tapi tubuh nya bergetar karna tenaga dalam yang besar semakin banyak yang masuk.
Ketika sudah tak terasa lagi aliran tenaga dalam yang masuk, Xing Zaolin berbalik melihat ke arah kakeknya, ia terkejut saat melihat wajah Kakek nya sudah pucat, ia menunduk dan memegang badan kakeknya yang sudah dingin.
Xing Zaolin ketika memeriksa nadi dari kakeknya yang sudah tiada, kemudian berteriak sangat kencang, Xing Zaolin mencucurkan air mata dan sangat sedih ia kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki, ketika Xing Zaolin merapikan jasad kakeknya terlihat sebuah tulisan yang terdapat di sebuah kain.
Nak, jika kau baca surat ini, itu tanda nya aku telah tiada, aku hanya bisa memberikan seluruh tenaga dalam yang aku punya untukmu, sebagai hadiah perpisahan kita, aku sudah membuatkan jalan untuk melalui dinding di atas telaga, injakan kaki itu yang bisa membuat kau sampai di atas Puncak Merah.
Hati-hati terhadap orang-orang di dunia ini, percayai dirimu sendiri.
Dewa Gila
Xing Zaolin menangis terisak membaca surat dari kakeknya, jadi sesuatu yang istimewa adalah ini, Ujar Xing Zaolin.
Dua hari Setelah ia memakamkan kakeknya, Xing Zaolin menatap tebing yang tinggi di depannya, pemuda berkulit putih dan tampan itu tidak mamakai baju dan hanya memakai celana dari kulit kayu.
Matanya terus menatap tebing itu dan berkata dalam hati, “Saatnya membuat kekacauan dan balas dendam.”