Alec menyadari ada sesuatu yang tidak beres ikut berhenti. Dia melihat kondisi sekitar, tapi tidak melihat siapa pun. Hanya saja mereka berhenti tepat di depan semak-semak setinggi lutut berwarna ungu. Rerimbunan itu tertimpa pohon besar berdaun lebat yang tumbuh mendatar, atau mungkin roboh? Batangnya cukup besar, hampir setinggi d**a Alec. "Kau ingin menjahiliku lagi ya? Tidak ada apa-apa di sini," tebak Alec. Antonio meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Ssssttt, diamlah." Kemudian pria itu maju selangkah, menyibak semak ungu. Kemudian dari dalam kantong celana, dia mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna hijau. Antonio mengetukkan batu itu tiga kali, pada batang pohon yang roboh di hadapan mereka. Alec pun menurut, dan hanya mengamati apa yang dilakukan Antonio. Pria itu me

