ep 1
Pagi hari ini Shylla sudah semangat berdandan cantik untuk menghadiri acara wisudanya. Sasya (Mama Shylla) dan Alfian (Papa Shylla) tidak bisa hadir dan mengatakan akan pulang telat. Bahkan mungkin Sasya dan Mb Helia(asisten pribadi mama) dulu yang pulang. Sedangkan Alfian akan mundur lagi. Sedangkan yang menghadirinya kedua kakak kembarnya dan Kevin tunangannya.
Sampai acara wisuda selesai, Sasya baru video Call Shylla, bahwa akan pulang dengan penerbangan terakhir. Setelah pekerjaan di butik Sasya selesai. Shylla dengan girang dan gembira menyambut Sasya. Shylla juga memberitahukan ke Sasya bahwa Shylla mendapat predikat cumlaude seperti yang mama mau. Shylla mampu membuktikan ke keluarganya bahwa penyakitnya tidak menyurutkan prestasi Shylla.
Tapi kegembiraan Shylla hanya sementara. Paginya setelah ia bangun tidur ia mendapati sikap aneh si kembar (kedua kakak kembarnya), tapi tidak terlalu Shylla pedulikan. Karena ia masih harus mengurus beberapa hal di kampusnya. Shylla mengetahui kabar tentang mamanya saat ia berada di kampus. Shylla diberitahu sahabatnya Xiu jika pesawat XXX dengan penerbangan XXX mengalami kecelakaan tengah malam. Shylla shock ia langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Shylla mendapati sudah ada papanya berada di rumah dengan raut wajah kusut dan sedih. Terlihat pula kedua kakak kembarnya habis menangis menahan sedih.
"pa... bener mama kecelakaan pesawat pa?" tanya Shylla dengan menahan sedih
"dek..." gumam Dallin (salah satu kakak kembar Shylla)
"apa? dak dek dak dek! gak mau jawab?"
"sayang" panggil Alfian pelan
"papa gak mau jawab?"
"Shylla!"
"kakak gak ada syuting? atau pemotretan? kenapa di sini? jarangkan kakak dirumah kalau gak ada sesuatu" cicit Shylla mulai kesal
"libur" jawab Dallin singkat
"emang artis kayak kakak ada liburnya kalau g kemarin aku minta buat datang ke wisudaku?" tanya Shylla ketus
"dek... maafkan kakak" kata Darrel mulai bicara
"kenapa? jawab kak! mama kecelakaan pesawat kan? kak Dallin? kak Darrel? Pa? tidak ada yang memberitahuku?" tanya Shylla marah dan sedih
"maaf...." gumam Darrel
"maaf lagi!! buat apa?? kalo Xiu gak kasih tau kalian pikir aku bakal tau? kalau aku gak tau kalian mau sembunyikan sampai kapan? berita tersiar sejak semalam!! dan kalian bungkam! memang aku bukan keluarga kalian? memang yang kecelakaan bukan mamaku? Aku masih yang paling kecilkan di keluarga ini? aku bukan anak angkat kan? Ya Allah.... !!" geram Shylla lalu berbalik dan pergi dari rumah
"dek... mau kemana?" tanya Darrel setengah berteriak
"kalian. ikuti Shylla. jaga dia" perintah Alfian(papa Shylla) tegas ke beberapa pengawal
"baik tuan" jawab mereka bersamaan
Shylla berjalan menyusuri di komplek rumahnya. Terlihat ada beberapa orang yang mengikuti Shylla diam-diam. Mereka adalah pengawal suruhan papa Shylla. Kecelakaan yang menimpa sasya membuat Shylla terpukul. Sasya yang ingin segera pulang untuk memberi selamat pada Shylla karena wisudanya dan juga sebentar lagi ulang tahun Shylla. Sasya ingin berada di sisi Shylla. Shylla berharap kabar Sasya yang datang bukan kabar Pesawat yang Sasya tumpangi hilang kontak di gunung. Shylla tau untuk saat ini tim SAR dan beberapa relawan sedang melakukan pencarian dan harapan Shylla masih besar.
Semenjak Shylla mendengar kabar itu ia tidak bicara. Makan pun jarang. Hingga tubuhnya kecil. Si kembar, Kevin, juga Alfian yang sudah kembali berusaha membujuk Shylla dengan berbagai macam cara. Namun tidak ada gunanya. Harapan Shylla hanya mamanya masih hidup dan kembali dengan keadaan Baik-baik saja.
Sampai di hari ketiga Alfian mendengar kabar, bahwa istrinya telah di temukan. Segera Alfian berangkat untuk menjemput istrinya bersama Darrel. Sedangkan Dallin dirumah untuk menjaga Shylla dan menyembunyikan kabar ini dari Shylla. Alfian sangat berharap jika istrinya baik-baik saja, tapi kenyataan berkata lain.
Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Sasya di temukan meninggal. Tubuh Sasya terbakar. Hingga sulit dikenali.
Hari ulang tahun Shylla tiba. Shylla sama sekali tidak ingin merayakannya. Karena di hari itu tiba pula jasad Sasya. Shylla menjerit histeris. Dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"itu bukan mama... itu bukan mama" ucap Shylla
"sayang... ikhlasin mama" ucap Darrel
"dari mana kalian yakin kalau itu mama? itu tubuhnya terbakar. Darimana kalian kenal jika itu mama?" tanya Shylla masih tidak percaya
"Dek... kamu ingat mama punya tato?" tanya Darrel
"kaki" ucap Shylla lalu melihat kaki mama "kaki mama belum terbakar seperti wajah dan tubuhnya" imbuhnya Shylla
"ini tato mama... namamu... nama kita... dan gambar bunga yang sama dengan tato punggungmu" ucap Dallin
"oh... Tuhanku... Ya Allah... " pekik Shylla di saat itu ia yakin jika itu mama
"selain itu, polisi juga sudah memastikannya dengan tes dna nak" ucap Alfian
Malam hari setelah Sasya di kuburkan, Alfian datang ke kamar Shylla. Tapi Shylla tidak ada, Dia mencari Shylla dan menemukan di pinggir kolam renang.
"nak... ngapain di sana? kamu gak mau berenangkan?"
"iya... lebih tepatnya gak bisa pa... karena lihat mama tenggelam aku jadi gak mau belajar berenang"
"benar. Saat itu mamamu hampir kehilangan nyawanya. Dan umurmu baru 6 tahun"
"aku gak bakal berbuat bodoh kok pa"
"papa mau memberi sesuatu. papa temukan di tas mamamu"
Alfian memberikan Shylla sebuah kotak perhiasan. Shylla menerimanya dan membukanya. Sasya menyiapkan satu set perhiasan emas, dan sebuah surat.
shylla sayang, selamat ulang tahun nak. perhiasan ini adalah turun temurun dari nenek. sekarang mama wariskan ke kamu. kamu tentu tahu kalung ini adalah kalung kesayangan mama. mama selalu memakainya. mama harap kamu memakainya. tapi jika kamu tidak mau mama tidak memaksa. tapi rawatlah baik-baik.
shylla sayang. satu hal lagi yang selalu mama sampaikan, ingatlah pesan mama. patuh ke si kembar dan papa dan jangan membuat mereka khawatir. mama selalu disisimu sayang. jika mama pergi dan tidak kembali, ketahuilah, mama selalu melihatmu dari tempat yang jauh. dan selalu ingin yang terbaik untukmu. salam sayang. Sasya.
Shylla membaca Surat tersebut dengan seksama. Ia memakai perhiasan pemberian Sasya dengan penuh isak tangis. Alfian memeluk Shylla erat-erat. Hingga akhirnya Shylla pingsan di pelukan Alfian.