ep 2

876 Kata
Keesokannya Xiu datang bersamaan dengan Kevin. Shylla memyambut kedatangan Xiu sahabatnya dan Kevin sahabat si kembar. moment itu tak luput dari liputan wartawan. Isak tangis Shylla, dan ungkapan sedih Shylla tentang kepergian Sasya ke Xiu. Sebagai sahabat dan orang terdekat Shylla, Xiu paham kesedihan Shylla. Xiu juga merasa sedih dengan kepergian Sasya. Karena Sasya termasuk orang yang baik, yang Xiu sayangi. Sampai Siang hari bahkan sorenya Wartawan masih saja mondar mandir. Walau begitu semua di tanggapi oleh Dallin dan Darrel, di temani Adnan, sang asisten Dallin. Sedikitpun tidak ingin melibatkan Alfian atau Shylla untuk menjawab pertanyaan wartawan yang kritis. Meski sesekali Alfian atau Shylla di liput, mereka tidak memberi jawaban pasti dan langsung beralih ke Dallin atau Darrel. *** Semenjak kepergian Sasya, mereka memusatkan waktu mereka untuk bekerja. Alfian lebih menyibukan diri dari pekerjaannya di luar jawa dan luar negeri. Ia sudah jarang berkomunikasi dengan anak-anaknya. Darrel kembali ke pekerjaannya di sekitar Jawa, sebagai pimpinan menggantikan Alfian. Dallin kembali menjadi aktor dan penyanyi dengan jadwal yang super sibuk. Sedangkan Shylla menggantikan Sasya untuk mengurus butik Sasya dalam dan luar kota. kring... kring... Telpon Asisten Shylla berbunyi. Xiu sahabat Shylla yang sekarang menemani Shylla menjadi asisten Shylla. "ya... siapa... oke biar saya cek" kata Xiu di telpon "gue keluar bentar La" sambungnya "oke" Tak beberapa lama Xiu kembali ke ruangan dengan senyum merekah. Pipinya bersemu merah Malu-malu. "loe kenapa?" tanya Shylla heran dengan sikap sahabatnya "gue ada kejutan buat loe" kata Xiu cengar-cengir "apa? biasanya gue yang kasih loe kejutan" "iya, kejutan terakhir dari loe bikin gue girang banget, loe berhasil menaklukkan bokap gue, sehingga gue bisa nemenin loe! eh tunggu, ini kejutan buat loe!" ucap Xiu lalu memeluk sahabatnya dengan erat. "iya... apaan?" "masuk..." ucap Xiu sedikit berteriak Seorang laki-laki tinggi tegap, memakai jaket kulit coklat, masker hitam, kacamata hitam, dan topi Coklat bulat masuk ke dalam ruangan Shylla. Siapa, batin Shylla. Shylla menatap tajam laki-laki itu. Tapi ia tak jua mengenali laki-laki di depannya. Hingga akhirnya ia cuek dan kembali ke pekerjaannya yang sempat tertunda. "la... loe gak tau dia siapa?" tanya Xiu "Xiu... loe tau ada masalah di cabang Demak... Gue dah pusing... masih harus ngurus lelaki ini yang gue gak tau dia siapa!?" kata Shylla kesal "dia kakak loe!" jawab Xiu setengah berteriak "siapa? si artis super sibuk? atau di pengusaha yang lembur? mereka sangking sibuknya, ada telpon dari adiknya gak pernah di angkat" Laki-laki itu melepaskan kacamata, masker, dan topinya. Matanya memandang Shylla sendu dan maraih tangan Shylla dan memeluk Shylla. Dallin yang datang. Ia merasakan tubuh adiknya semakin kecil dan terlihat lemah. Shylla membalas tatapan Dallin dengan pandangan dingin, dan seperti tidak mau menanggapi siapa yang datang. "ngapain loe kesini? masih peduli sama gue? sori gue masih banyak kerjaan" ucap Shylla menyentak Dallin menjauh tapi tubuh Shylla limbung kebelakang sehingga hampir jatuh "Shylla" pekik Dallin dan Xiu bersamaan "gue gakpapa.!!“ ucap Shylla sedikit keras, lalu ia meneteskan air mata yang segera di hapus. "la.... loe kenapa la...? kok loe nangis sih....? maafin gue dah bentak loe tadi" ucap Xiu yang merasa bersalah dan memeluk Shylla "gakpapa Xiu..." jawab Shylla berusaha menghapus air matanya "dek... maafin kakak gak pernah pulang" perkataan Dallin yang mendadak membuat air mata Shylla kembali mengalir "kak. loe masih inget gue? gue boleh tanya?" tanya Shylla "ya" "setelah meninggalnya mama, kalian pergi... sibuk pekerjaan masing-masing. gue yang belum tau apapun tentang butik, ke butik mama belajar di bantu Xiu dan karyawan lama mama. Di kala gue butuh kalian, gue telpon kalian gak ada yang jawab... loe... Darrel... papa masih anggep gue keluarga gak?“ tanya Shylla lebih tenang "Sori dek. kita gak bermaksud begitu" ucap Dallin yang tidak tau harus berkata apa. "gak bermaksud begitu tapi melakukan begitu!" ucap Shylla kesal dan marah "sudahlah. loe mau apa kesini?" tanya Shylla "gue cuma kangen sama loe dek. gue pengen ngajak loe pulang" ucap Dallin "kangen? pulang? atau jangan-jangan loe ada masalah sama kerjaan loe?" tebak Shylla "gak. tapi kemarin mama dateng di mimpi gue" "hah?" tanya Shylla dan Xiu bersamaan "mama nyalahin gue, Darrel, dan papa karena lupain loe, karena kami gak mau lihat wajah mama di loe" kata Dallin menjelaskan "bawa gue keluar negeri rubah wajah gue kalo kalian gak mau liat wajah gue yang sekarang" cicit Shylla dengan muka di tekuk masam "la.. loe apa-apaan sih?" tanya Xiu "kalo dengan ganti wajah gue bisa dapet perhatian seperti dulu, gue gakpapa Xiu" ucap Shylla "la... jangan gitu dong" pekik Xiu "Xiu, loe tau sendiri, gue emang mirip sama mama. bahkan orang lain ngomong gue sepeti kembaran mama. loe juga tau sendiri awal mama pergi gue juga gak bisa lihat muka gue, sekarang jika mereka gak bisa, gue paham. tapi gue Shylla... bukan Sasya... " ucap Shylla kembali menangis "kita pulang dulu yuk. Darrel dan papa perjalanan pulang" kata Dallin "oke. gue nyetir sendiri.gue gak mau sama loe" lalu meraih tasnya dan berjalan keluar pintu "Xiu... sepertinya hubungan kita rahasiakan dulu dari Shylla" ucap Dallin lalu mengecup dahi Xiu "iya gue paham sayang" balasnya tersenyum manis "Xiu, lebih baik kau ikut kami pulang. kau yang menyetir, gue takut Shylla. kenapa-napa" "oke... " lalu Xiu berlari mengejar Shylla. "mbak Ratri, nitip butik ya... jika ada apa-apa telpon saya" ucap Dallin ke pegawai yang paling lama bekerja di sama ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN