Pdkt

1143 Kata
Jonathan pun bergegas pergi ke garasi untuk mengambil motornya. ~*~ Dilain tempat Nindy memakai Style jaket denim, T-shirt putih polos untuk baju bagian dalam dan celana jeans hitam dengan rambut panjang yang dikuncir kuda. "Ehh lo mau pergi kemana Nind?"tanya Renata yang duduk di tepi ranjang, dia sedari tadi melihat gerak-gerik Nindy yang sepertinya ingin pergi. "Oiya gue lupa ngasih tau lo Re, gue mau pergi jalan-jalan keluar bentar"jawab Nindy seraya memoles sedikit liptint dibibirnya. "Ohh...sama Jonathan kan?"tanya Renata dengan senyum tipis. Mendengar pertanyaan dari Renata, Nindy memberhentikan aksinya dan mulai duduk disamping Renata. "Hehe kok lo bisa tau?" "Udah keliatan banget dari aura muka bahagia lo Nind"ujar Renata yang senyum-senyum menatap Nindy. "Ihh apaansih lo Re, gue sama Jonathan kan cuma sahabatan dari kecil gak lebih, lagian kan lo tau sendiri kalo gw udah punya Reno" "Eh iyaa jugaa yaa, ngomong-ngomong si Reno kabarnya gimana? kok dia jarang banget sekarang hubungin lo?kalian baik-baik aja kan?" Nindy menghela nafas panjang"Gak tau gue Re, akhir-akhir ini dia emang jarang banget bales chat w******p gue, sekali ngebales paling cuma singkat," "Lo serius?disekolah gimana? "Disekolah, gue juga jarang banget liat dia, padahal gue sering loh samperin dia ke kelasnya, tapi dia gak pernah ada"ungkap Nindy dengan raut wajah lesu. "Yaudah kalo gitu gausah terlalu lo pikirin, sekarang kan lo mau jalan-jalan nih, happy-happy aja gausah sedih lagii, smile Nindy"ujar Renata dengan menyemangati Nindy. "Hem makasih Re, gue bener-bener beruntung banget punya sahabat kayak lo"ujar Nindy dengan memeluk Renata. "Iya Nind, gue juga beruntung bisa punya sahabat kayak lo"sekarang mereka berdua berpelukan seperti layaknya teletubies. "Yaudah Re, gue pergi duluan ya, by the way tante Anna sama om Arya ada? tanya Nindy sebelum melangkah keluar kamar. "Ada...kayaknya mereka lagi dibawah" "Oh oke"sembari melenggang pergi. Baru saja turun tangga Nindy mendapati Anna dan Arya yang sedang duduk santai sembari menonton tv, Nindy pun segera menghampiri mereka untuk berpamitan. "Pagi om, tante"sapa Nindy. Keduannya pun serentak menoleh kearah sumber suara. "Eh ada Nindy"ujar Arya yang menoleh kearahnya dengan senyum simpul. "Sini-sini duduk dulu sayang,"ajak Anna dengan menepuk sofa disampingnya. "Gausah deh tante makasih," "Ada apa? tumbenan banget pagi-pagi udah cantik, kamu mau pergi yaa?" "Hem, iya tante, Nindy mau jalan-jalan, boleh kan tante?" "Perginya sendiri aja gak sama Rere?"tanya Arya yang celingukan mencari Renata. "Iya om...Nindy perginya sama temen"jawab Nindy dengan gugup. Tanpa disadari, tiba-tiba Renata langsung menyosor. "Mah, pah... udah kasih Nindy izin aja, dia pergi bentaran doang kok, biasa dia pengen pdkt gitu, ya gak Nind,"ucap Renata tertawa kecil dengan menyenggol pelan pundak Nindy. "Ihh apaan sih lo Re, siapa juga yang mau pdkt"ujar Nindy dengan memanyunkan bibirnya dan itu refleks membuat semuanya terkekeh geli. "Iya iyaa, tante izinin kamu, ya kan pah"menyenggol pelan tangan Arya. "Iyaa, nanti pulangnnya jangan kemaleman ya,"titah Arya dengan lembut. Orang tua Renata memang sudah menganggap Nindy seperti layaknya anak mereka sendiri. Karna sudah mendapat izin Nindy pun segera pergi, tetapi sebelum pergi dia mencium punggung tangan Arya dan Anna secara bergantian"Makasih om, tante, Assalamualaikum" "Waalaikumsalam"ujar ketiganya dengan serentak. ~*~ Nindy pun berjalan menuju pagar depan rumah Renata dan ternyata Jonathan sudah menunggunya disana, tanpa pikir panjang Nindy segera menghampiri Jonathan. Mata Jonathan membulat ketika melihat penampilan Nindy yang jauh lebih cantik dari sebelumnya, sampai-sampai ia menghayal dan tak mengubris sapaan Nindy. "Hai Jo, maaf ya, udah bikin lo nunggu lama," Tidak ada balasan apapun dari Jonathan, tetapi pandangannya tidak terlepas sedikit pun dari Nindy. Nindy yang melihat tingkah Jonathan pun menjadi risih "Jojo, lo denger gue gak sihh? ini lagi ngapain sih liatin gw sampe segitunya"celetuk Nindy dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jonathan. Dan cara itu refleks membuyarkan lamunan Jonathan dari dunia halunya"Eh, yaudah ayok naik"ajak Jonathan sembari memberikan satu helmnya kepada Nindy, dan ia pun segera menerima tawaran dari Jonathan. Dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua, Renata memperhatikan Jonathan dan Nindy yang berada di depan pagarnya Tanpa disadari, Anna memperhatikan putrinya yang sedang berdiri didepan jendela sembari memandang kearah luar "Ekhem...kamu lagi ngapain Re,?" Renata langsung terkejut bukan main dengan kehadiran mamanya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya "Eh mama, ngagetin aja" "Kamu kenapa? iri liat mereka?"tanya Anna yang spontan membuat Renata menjadi salah tingkah. "Ihh apaan sih mah, aku gak iri kok"jawab Renata dengan gaya biasa saja. "Oohh yaudah, Rere ada acara gak hari ini? kalo gak ada, mau gak temenin mama belanja bulanan ke mall, sekalian kita shopping,"ujar Anna dengan senyum sumringahnya "Mau mahh, kebetulan banget hari ini Rere gaada acara" ***** "Kita mau jalan-jalan kemana sih?"tanya Nindy disela-sela perjalanannya. "Udah lo diem aja, tar juga bakal tau" Motor Jonathan pun berhenti di sebuah danau. Mata Nindy seketika takjub melihat pemandangan danau yang indah berada di depannya "Wahh indah banget pemandangannya Jo, sumpah gue baru pertama kali ngeliat pemandangan se indah ini" "Lo suka sama tempatnya? tanya Jonathan dengan menatap kearah danau di depannya "Iya Jo, gur suka banget sama tempatnya, apalagi suasananya juga adem, jauh dari kebisingan, ditambah lagi sama cuaca hari ini yang cerah, kayaknya tempat ini bagus deh buat mendatangkan sebuah inspirasi." "Hmm..Iya bener banget, ini sih belum seberapa Nind, sebenernya masih ada loh tempat-tempat yang lebih bagus dari ini" "Lo serius? kok lo bisa tau sih Jo"tanya Nindy memandang wajah Jonathan dengan keheranan. "Yaialah...secara gue kan anak petualang"kata Jonathan dengan senyum khasnya. Dengan nada suara seperti mengejek "petualang? haha terserah lo aja deh" Mereka berdua pun saling terpaku diam menatap teduhnya danau dengan disertai semilirnya angin. Tanpa se pengetahuan Nindy ternyata sejak tadi Jonathan tengah memperhatikan wajah teduh Nindy. "Nind gw boleh nanya gak?"lo lagi deket sama siapa sih Nind?" Pertanyaan dari Jonathan pun membuyarkan lambunan Nindy. "Maksud lo gimana sih?" Nindy pun kembali bertanya kepada Jonathan. "Maksud gwue tu, lo udah punya cowok?" "Sebenarnya sih gue udah punya pacar Jo, cuma belakangan ini kita jarang banget komunikasi" "Loh kok gitu? kalian satu sekolah?" "Iya kita sat sekolah, tapi gue juga gak ngerti sama sikapnya sekarang, karna akhir-akhir ini kayaknya dia lagi ngehindarin gue gitu, kalo gue ngechat palingan dia bales singkat trus kalo gue samperin ke kelasnya dia ngilang gak pernah ada"keluh Nindy panjang lebar. Jonathan yang menanggapinya hanya menarik nafas panjang "yaudah kalo gitu lo gak usah sedih Nind, tapi apa kalo lo jalan sama gue gak akan memperburuk keadaan,?" "Ya gak lah Jo, malah gue jadi terhibur kalo ada yang ngajakin gue jalan-jalan kayak gini dan beban masalah gue seketika hilang, lagian juga lo kan sahabat gue Jo jadi gaada yang perlu dia cemburuin dari lo" Jonathan hanya memberikan senyum simpul kepada Nindy "Lo nganggap gue cuma sahabat?" "Iyaa, kan kita udah sahabatan dari kecil" "Kalo gue mau lebih gimana?" Deg "Hahh maksudnya?" "Lupain aja Nind, by the way lo laper kan? gimana kalo kita makan dulu?" "Emm yaudah, boleh deh Jo," Soal perasaan memang tak pernah bisa di bohongi, jika kita sangat dekat dengan seseorang maka lama kelamaan pasti akan tumbuhnya sebuah rasa cinta Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN