Vila

1182 Kata
Pencarian Cia dan Max masih belum menemukan hasil, mereka mendatangi club dimana untuk pertama kali pria itu bertemu dengan Cia. Namun beberapa pekerja club itu tidak terlalu mengenal pria yang baru mereka ketahui bernama Xelo. Xelo hanya sesekali datang ke club ini, pria itu juga masuk ke beberapa tempat hiburan lain. Tidak tahu pasti dimana Xelo sering berada. Cia pun semakin panik, saat di dalam mobil tangisnya pun luruh. "Kita pasti bisa nemuin Hara, jangan nangis lagi tenang ya," pujuk Max menberi air mineral ke hadapan Cia. Menghapus air matanya, Cia mengambil air mineral yang diberi oleh Max. Meminumnya seteguk tidak ponsel Cia berbunyi, Gadis itu menautkan alisnya sembari menutup botol air mineral saat mendapat panggilan dari nomor yang nggak dikenal. "Siapa?" Tanya Max mematikan kembali kontak mobil yang tadi sudah menyala. "Nggak tau kak, nomor baru." "Angkat siapa tau Hara." Cia pun mengangguk lalu men slide ikon hijau. "Halo ini …." "Halo Ci gue di vila." Belum sempat Cia menanyakan siapa orang yang menghubunginya. Suara Hara terdengar menginterupsi hanya mengatakan kalau dia saat ini tengah berada di sebuah villa, setelah itu suara Hara tidak terdengar lagi. "Halo, Ra? Ra lo dimana? Ra?" cecar Cia tidak mendengar sahutan dari Hara. Ternyata panggilan sudah berakhir. Cia pun kembali menghubungi ponsel yang digunakan Hara, namun tidak dapat tersambung lagi. "Hara?" tanya Max kembali menghidupkan kontak mobilnya. "Iya kak, katanya dia ada di Vila tapi aku nggak tau di mana itu, ponselnya mendadak mati dan gak bisa di hubungi lagi." Raut wajah Cia semakin panik, pikiran-pikiran buruk menghampirinya. Mungkin saja di sekap lalu disiksa. Atau lebih dari itu. Cia tidak mampu membayangkan hal yang ada di kepalanya benar terjadi, saat ini dia harus segera menemukan Hara. "Kita harus segera menemukan Hara kak. Cari vila yang kemungkinan sahabatku berada di sana!" "Masalahnya vila daerah mana, tempat seperti itu gak cuma ada di puncak. Kalau memang di puncak pasti akan menyita waktu lama untuk menemukannya, karena banyak banget vila di sana," "Daerah lembang juga banyak vila, bentar aku minta beberapa orang ku untuk ke puncak dan sekitarnya. Kita cari ke lembang." "Atur kak lah, yang penting kita harus segera menemukan Hara," tukas Cia menyugar rambut gelombangnya lalu, meraup wajahnya. Max mulai melajukan mobilnya, pria itu menyalakan google maps untuk mencari alternatif jalan tercepat menuju Lembang. Pria itu menyetir, sembari menghubungi teman-nya menggunakan handsfree, meminta bantuan untuk. Mencari informasi vila yang ada di kota itu termasuk vila terpencil sekalipun. Memilih Jalur tol layang layang memangkas waktu satu jam, untuk sampai di Lembang lebih cepat. • • • Sementara Hara, sudah terbaring lemah dengan keadaan kacau sekali. Air mata yang hampir mengering karena tidak hentinya menangis juga menjerit, tenaganya sudah habis untuk meronta dengan apa yang dilakukan Xelo pada dirinya. Tubuhnya remuk merasakan sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki karena, salah satu inti bagian tubuhnya yang dirobek secara paksa dan brutal. Sedangkan Xelo tertawa puas sembari memakai pakaiannya kembali, sakit hatinya sudah terbalas dengan merenggut kesucian Hara. Pria itu mendekati Hara, menurunkan selimut yang menutupi wajah gadis itu. Hara yang kembali didekati beringsut memundurkan dirinya. Menarik selimut menutupi, tubuhnya kembali gemetaran. Gadis itu mencoba menepis tangan Xelo yang ingin menyentuh wajahnya. "Gue udah selesai, thanks cantik lo luar biasa, gue kan udah janji nggak akan nyakitin lo. Kita cuma senang-senang aja di sini, dan lo bebas sekarang karena kita udah cukup bersenang-senangnya. Sepuluh menit lagi supir taksi jemput lo pulang, pakai baju sana," tukas Xelo lalu keluar dari kamar ingin meninggalkan vila. Namun saat ingin membuka pintu utama, dia terpental karena mendadak ada yang mendobrak pintu. Max berhasil menemukan vila ini, namun sayang mereka terlambat. Max menarik kasar Xelo yang berusaha bangkit dari tertimpa pintu. "Cia, cari Hara di setiap kamar! Biar orang ini saya yang urus." Cia mengangguk lalu bergegas mencari ke setiap kamar. Sementara Max, kembali meluapkan amarah kepada pria yang sudah merusak hari liburnya. ____________¥____________ Hara mencoba berjalan ke kamar mandi, namun tidak sanggup karena sakit yang teramat ia rasakan di area sensitifnya, susah paya gadis itu mencari pegangan untuk sampai di kamar mandi. Namun samar Hara mendengar keributan di luar. Gadis itu kembali beringsut ketakutan, jika Xelo balik lagi, atau kemungkinan orang lain yang bermaksud jahat untuk menyakiti dirinya seperti yang Xelo lakukan. Dengan tubuh yang bergetar Hara mendekap sprei yang membalut tubuhnya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya yang tertekuk. "Hara!" seru Cia, bergegas memeluk Gadis yang berada di hadapannya saat ini, dengan kondisi kacau sekali. Air Matanya pun mulai luruh ikut melihat kondisi sang sahabat. "Cia, gue …." "Maafin, maafin gue. Semua ini kesalahan gue. Masalah yang terjadi sekarang maupun sebelumnya itu salah gue semuanya." "Andai aja dulu gue, nggak mau diajak ke club sama geng kekanakan yang gue ikutin, gue gak akan kenal orang jahat itu, andai aja nggak maksa kak Vanka terima ajakan Max," "Mungkin semua ini nggak akan pernah terjadi sama lo." Cetus Cia lagi menyalahkan dirinya sendiri. Sementara Hara tidak mampu menimpalin ucapan Cia gadis itu hanya menangis di pelukan sang sahabat. Namun mendadak Hara mendorong Cia. Membuat Cia terjerembab karena keterkejutannya. "Jangan dekat Cia, gue uda kotor. Gue jijik, dia …." erang Hara menggosok kasar seluruh tubuhnya. "Maafin Ra, maafin gue, semua ini karena Gue," lirih Cia mencoba mendekati Hara dengan takut-takut. Cia berhasil memeluk Hara tanpa penolakan, tangis sahabatnya itu pun kembali pecah mengeluarkan kepedihan yang dirasakan saat ini. Begitupun dengan dirinya yang ikut menangis benar-benar merasa sangat bersalah. Dia nggak sanggup membayangkan jika, dirinya yang berada di posisi Hara saat ini. Merasa sang sahabat sudah dapat menguasai diri. Cia mencoba membuka suara. "Ra, gue bantu lo mandi ya, setelah itu kita pulang." Hara tidak menjawab, hanya mengikuti apa yang diminta Cia. Dengan susah payah Cia membawa Hara ke kamar mandi, lalu memandikan sang sahabat dengan sangat hati-hati. Hampir satu jam akhirnya keadaan Hara sudah terlihat lebih baik. "Tunggu sebentar ya, aku panggil kak Max untuk bantu bawa kamu ke mobil, nggak lama kok." Awalnya Hara menolak untuk di tinggal sendiri. Namun dengan sabar Cia berhasil membujuk sahabatnya itu. Cia pun segera bergegas keluar kamar, menuju ruang tamu, menghampiri Max masih dengan luapan amarahnya kepada Xelo yang sudah terlihat sangat mengenaskan sekali. "Kak bantu bawa Hara ke mobil," titah Cia dengan nada suara yang sangat lembut, terdengar bergetar karena takut. "Den lanjutkan!" titah Max kepada salah satu teman Max yang bertempat tinggal di daerah Lembang ini. Dengan hati-hati Max mendekati Hara, yang terlihat ketakutan saat melihat kehadiranya. Cia pun dengan sabar membujuk Hara sampai akhirnya mau di dekati oleh Max. Max pun menggendong Hara, dengan bridal style. "Den buka pintu, setelah kami pergi kau urus orang itu!" titah Max memanggil temanya itu, lalu kembali berjalan dengan santai beriringan dengan Cia. Melewati Xelo yang sepertinya pingsan. Tanpa diduga Xelo membuka matanya lalu mengambil pisau yang ada di sakunya ingin membalas dengan melemparkan pisau kepada orang masih dapat dijangkau. Pisau itu mengarah Cia. Max yang mendadak menyadari lemparan itu segera menubruk tubuh Cia untuk membuat gadis itu tidak terkena pisau. Tubuh Max pun menegang saat pisau lipat berjenis Emerson Knives, menancap di punggungnya. Pria itu mulai terhuyung. Hara yang berada di gendongannya hampir terlepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN