Sudah sepuluh menit makanan yang dipesankan oleh Drax berada di atas meja. Namun Vanka dan Cia tidak sedikit pun ingin melirik makanan itu.
Hampir seminggu ini Drax, menghadapi tingkah laku aneh kedua gadis di hadapannya ini. Selama itu juga Dia masih belum dapat mengetahui apa penyebab Vanka dan Cia bersikap dingin juga selalu memperlihatkan raut wajah murung penuh beban.
"Hei! Kalian kenapa sih? Ada masalah apa?" tanya Drax menatap lekat kedua gadis yang duduk di hadapannya.
"Hampir seminggu kalian seperti ini, coba cerita ke gue, siapa tau bisa membantu."
"Apa ini tentang Hara? Atau ...," tanya Drax menggantung saat mendapati kedua gadis itu menatap lekat kepadanya. Dia tidak mengira dengan menyebut nama Hara akan mendapat respons seperti ini.
"Hara kenapa? Akhir-akhir ini jarang kelihatan bareng kalian, gue pikir dia ambil cuti." Cia mulai tidak bisa menahan diri lagi, mendengar namanya sahabatnya itu disebut.
"Ini semua karena lo! Kalau aja lo nggak makasai buat ajak kami ke party sial itu Mungkin ...." Air mata Cia kini luruh tidak dapat dibendung lagi.
"Gue? Apa salah gue? Memang Hara kenapa?" cecar Drax yang kebingungan karena mendadak Cia menyalahkan dirinya.
"Biar lo tahu Hara sekarang ...."
"Cia! Stop it!" Mendadak Vanka membuka suaranya dengan nada tinggi. Membuat Cia menghentikan ucapanya karena kaget. Tidak hanya itu perhatian para siswa yang tengah makan di kantin beralih kepadanya.
"Lihat kondisi, sekarang ini lo lagi dimana, cobalah kendalikan diri lo," ucap Vanka kali ini dengan nada renda, setelah keadaan kantin normal kembali.
"Dan buat lo nggak usah banyak bacot, kalau mau makan ya makan aja, nggak perlu mikirin kami." Kini pandangan Vanka beralih menatap Drax.
"Tunggu, ini ada apa sih sebenarnya? Coba jelaskan biar gue paham masalahnya," cegah Drax memegang tangan Vanka yang ingin mengajak Cia pergi.
"Lepasin tangan gue, untuk saat ini nggak ada yang harus lo ketahui. Kami bisa urus masalah kami sendiri." Drax pun melepaskan tanganya, membiarkan kedua gadis itu pergi menyisakan rasa penasaran yang mengisi kepalanya saat ini.
•
•
•
Kini kedua gadis itu berada di rooftop, disinilah Vanka selalu meluapkan amarah juga keresan yang dia rasakan. Cia kembali menumpahkan tangisnya. Gadis itu mengalami syok juga rasa bersalah yang amat dalam saat mengingat kondisi Hara saat ini.
Sejak kejadian itu, Kondisi Hara memburuk. Jiwanya terguncang karena pelecehan seksual yang terjadi pada dirinya, ditambah terlalu syok melihat Max yang berlumuran darah karena tertancap pisau.
Berhari-hari hanya sorot mata ketakutan juga hampa yang didapat dari gadis itu, bibirnya juga terkunci, menyiratkan jiwa yang kehilangan rohnya.
Hara akan meringkuk ketakutan, setiap kali ada yang membuka pintu kamarnya.
__________¥__________
"Ci, lo harus kuat nggak boleh seperti ini, kalau lo terus menangis dan selalu nyalahin diri lo sendiri, siapa yang bantuin gue buat jaga dan nyembuhin Hara," lirih Vanka memeluk cia.
"Gue nggak sanggup liat Hara yang sekarang ini kak, semua ini terjadi karena gue. Bagaimana kalau orang tua dia tau kalau anaknya nyaris gila, tepatnya memang sudah kehilangan akal sehat karena gue kak," kata Cia terseduh yang entah sudah berapa kali Vanka mendengarnya.
"Berapa kali gue bilang, gue nggak akan biarin lo menanggung sendiri akibat dari kejadian yang menimpa Hara," tegas Vanka menangkup wajah Cia. Dia juga menyimpan ketakutan tersendiri karena masalah ini. Tapi Vanka mencoba tenang untuk menguatkan Cia dan menjaga Hara.
"Ini minumlah Ci, gue rasa lo butuh ini," ujar Vanka menyodorkan san miguel yang baru dikeluarkan dari tas kecilnya.
Cia memang suka minuman beralkohol, dalam kondisinya saat ini, mungkin memberikan minuman itu sedikit membantu untuk menenangkan kegusaran Cia saat ini.
"Terimakasih kak," jawab Cia menerima kaleng minumannya.
"Sejak kapan lo mau bawa minuman seperti ini?"
"Entahlah gue juga gak tau sejak kapan, tapi gue rasa, minuman ini dibutuhkan meski kadar alkoholnya nggak setinggi yang biasa lo minum," tadas Vanka meluarkan sebatang rokok. Sepertinya dia juga butuh pengalihan kekalutan yang berkelebat di kepalanya.
"Cia, gimana keadan Max sekarang?" tanya Vanka setelah menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya.
"Kondisinya sudah semakin membaik kak, tapi masih belum diperbolehkan pulang ke rumah, mungkin beberapa hari lagi dia harus dirawat."
Sejak Kondisi Hara memburuk, Max masuk rumah sakit karena luka tusuk. Banyak perubahan yang terjadi pada Cia, gadis itu lebih betah di rumah membantu Vanka merawat Hara.
Karena rasa bersalahnya yang sama besar kepada Max. Gadis itu juga belajar memasak makanan bergizi untuk pria yang menyelamatkan dirinya dari tancapan pisau. Saat sore hari Cia akan ke rumah sakit mengantarkan makanan itu, setidaknya dengan membuatkan makan. Dirinya bisa menghapus rasa bersalahnya kepada Max, meski dia tidak yakin apakah hal itu sepadan.
____________¥_____________
Kedua gadis itu menghabiskan waktu di rooftop hingga kelas berakhir, dengan suasana hati yang sedikit membaik mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas, ingin segera pulang ke rumah Hara. Sementara waktu ini kedua gadis itu tinggal disana.
Meletakkan tas di sofa, kedua gadis itu bergegas ke taman belakang rumah, dimana tempat Hara berada di saat sore hari seperti ini, itu pun karena baru kemarin gadis itu ada kemajuan mau diajak keluar kamar.
Vanka menggenggam tangan Hara yang sempat terlonjak karena kedatangannya bersama Cia. Tangan Vanka merapikan anak rambut yang tertiup angin menutupi wajah Hara.
"Ini Gue Vanka ada Cia juga Ra, sahabat lo, jangan takut ya kami bukan orang jahat." Gadis yang diajak Vanka hanya menatap kosong, menikmati semilir angin dan sinar mentari sore hari yang beranjak tenggelam menuju ufuk barat.
"Ra, setelah Gue dan Cia selesai mandi kita makan bareng ya, liat apa yang gue bawa, Lasagna kesukaan lo Ra," ujar Vanka memperlihatkan kotak makanan yang menjadi kegemaran sang sahabat.
"Kita masuk yuk Ra, udah sore," Kali ini Cia membuka suara. Mencoba mendekati Hara.
Saat Vanka dan Cia ingin membantu Hara berjalan, kedua gadis itu terkejut karena seorang wanita berpenampilan Anggun mengenakan mini dress bermotif bunga-bunga warna hijau, memekik kepada mereka. Vanka dan Cia diminta untuk tidak menyentuh Hara.
"Karena bergaul dengan kalian berdua kondisi anak saya jadi mengenaskan seperti ini. Jangan coba-coba mendekati anak saya lagi," ketus wanita yang kira-kira berusia 40 tahunan itu. Dapat dipastikan orang itu Mamanya Hara.
"Tan … tante maafin kami, tenangin diri dulu, kita bicarakan masalah ini baik-baik," pinta Vanka dengan wajah yang berubah pias.
Sementara Cia Hanya diam memaku menahan dirinya yang ingin menangis karena ketakutan. Baru tadi di sekolah gadis itu kalut karena memikirkan orang tua Hara pasti tidak terima karena sang anak yang memprihatinkan. Sekarang ketakutannya pun terbukti, dengan Mama Hara yang mendadak muncul membentak Cia dan Hara.