Beberapa kali Cia memanggil nama Hara sembari mencari ke beberapa ruangan yang ada di dalam apartemen. Saat kembali dari toilet, gadis itu tidak melihat keberadaan sang sahabat. Ponsel milik hara pun tertinggal.
Cia mendadak panik, saat tidak dapat menemukan sang sahabat. Dia naik ke lantai atas, untuk membangunkan Max.
"Pak! Pak bangun, teman gue hilang," panggil Cia mengguncang lengan Max. Pria itu pun mulai terusik dengan apa yang dilakukan gadis manja itu.
"Apa sih! Jangan panggil bapak, panggil Max aja, karena saya bukan bos kamu, atau gurumu," ketus Max membalikkan tubuhnya menghadap Cia, masih dengan mata terpejam.
"Temen gue hilang, ponselnya di tinggal di meja ruang tamu."
"Mungkin dia sedang jalan pagi di taman, nanti juga balik," imbuh Max kembali memunggungi Cia.
"Gue rasa nggak mungkin, di rada introvet. Apa lagi ini tempat asing bagi dia." Cia mulai terisak memikirkan jika telah terjadi hal buruk dengan sahabatnya itu.
Mendengar tangisan Cia, Max pun membuka matanya membalikan tubuhnya kembali menghadap gadis manja itu.
Pria itu bangun dari tidurnya, menyandarkan diri di tembok.
"Memang kamu kemana tadi kok nggak tau Hara pergi?" suara Bariton juga serak khas bangun tidur Max, mulai menginterupsi. pria itu menyugar rambutnya, menatap Cia dengan kesadaran yang sudah terkumpul.
"Gue tinggal ke toilet tadi, Ayo cari dia gue takut terjadi sesuatu kak. Ponselnya tertinggal nggak tau gimana mau hubungi dia." Tersedu-sedu Cia menarik lengan Max.
"Sebentar saya harus gunakan pakain dengan benar, kamu nggak mau lihat saya keluar hanya pakai boxer saja kan?"
"Jangan lama-lama," ujar Cia masih terseduh, namun Max masih bergeming di tempatnya. Membuat Cia mengerutkan dahi sambil menghapus air matanya.
"Kenapa lagi? Buruan Kak!"
"Kamu mau lihat saya berganti pakaian di hadapanmu?" Cia jadi salah tingkah segera meninggalkan kamar Max.
____________¥____________
Sementara di lain tempat Hara mencoba tenang, berusaha berpikir bagaimana caranya agar dia terbebas dari pria yang tidak dia kenal, dia membutuhkan ponsel untuk meminta bantuan, namun benda berharga miliknya itu tertinggal di meja.
Saat di dalam lift, Hara menabrak seseorang seakan ingin pingsan, beberapa orang yang berada di lift ikut panik.
Pria yang ingin membawa Hara, berusaha menenangkan keadaan di dalam lift.
"Mas si mbaknya harus dibawa ke rumah sakit," ujar salah satu ibu-ibu pengguna lift.
"Iya Bu, ini juga saya mau bawa istri ke rumah sakit." Pria itu segera menggendong Hara keluar dari lift.
Istri katanya? Mimpi pun nggak akan mau gue jadi istri lo, tenang Hara lo pasti bisa lepas dari orang itu.
Setelah sampai di mobil, mata Hara ditutup, tangannya diikat kebelakang. Dia hanya bisa pasrah tidak ingin meronta, salah sedikit dalam bertindak pisau yang tajam bisa menghunus tubuhnya.
Hara hanya mencoba mengingat setiap mobil berbelok ke kiri atau ke kanan. Dia juga sempat merasakan mobil berjalan tidak mulus karena melewati rel kereta api.
Semetara Cia dan Max, ke ruang CCTV apartemen. Petugas mulai memutar rekaman dari tiga puluh menit sebelum Hara menghilang.
Beberapa menit setelah video diputar, masih tidak ada yang mencurigakan, namun mata Cia membulat saat mendapati seorang pria menggunakan kaos putih juga topi tengah berjalan menuju meja resepsionis.
"D-dia!" seru Cia terbata, tubuhnya juga bergetar saat melihat pria itu.
"Kamu kenal dia?" tanya Max, menatap dengan nada serius Cia. Namun gadis itu bergeming tidak mampu menjawab, lidahnya terasa keluh karena rasa takut yang melanda.
Max pun meminta petugas CCTV mempercepat rekaman, di lima belas menit dari waktu sekarang.
Rekaman CCTV menampilkan, Pria itu tenga menggendong Hara, Hanya kaki gadis itu yang terlihat karena tertutup tubuh pria itu.
"Itu Hara, aku tanda sandal yang dia kenakan." Cia membuka suara dengan raut wajah semakin panik.
"Kamu yakin itu Hara?" tanya Max meastikan.
"Iya aku yakin sekali." Setelah meminta salinan gambar pria itu, Max pun segera menarik Cia untuk mencari Hara.
Saat di mobil. Max pun bertanya kembali apakah Cia mengenal pria asing yang membawa Hara.
Cia pun menceritakan semua apa yang dia ketahui tentang pria itu. Tujuan mereka saat ini pun mencari ke tempat yang kemungkinan pria itu datangi. Max pun meminta beberapa orangnya mencari tau tentang pria itu untuk mempermudah pencarian. Galent pun tak lupa diberi laporan oleh Max.
•
•
•
Mobil yang membawa Hara kini sudah berhenti melaju. pria itu turun dari mobil lalu berputar untuk membukakan pintu untuk Hara.
Hara didorong berjalan masuk ke sebuah Vila terpencil, dengan mata yang tertutup juga tangan masih terikat.
Pria itu membawa Hara ke sebuah kamar, lalu mencampakan Gadis itu ke sisi ranjang.
Penutup Mata Hara pun mulai dibuka. Hara pun mengerjapkan matanya, menyesuaikan pencahayaan, lalu melihat senyum sinis dari pria itu.
"Sebenarnya siapa si lo! Gue nggak kenal sama lo!" Hara memberanikan diri meninggikan suaranya.
"Shuut, jangan tinggikan nada suara lo. Nggak cocok dengan wajah polos yang lo miliki." Pria itu mendekati, menempelkan telunjuknya di bibir Hara.
Hara yang panik memalingkan wajahnya, dari tatapan pria itu.
"Gue Xelo, beberapa waktu lalu, gue terluka parah karena Vanka."
"Dan kebetulan Gue liat kemarin malam kalian berada di club, sepertinya sudah saatnya gue balas kelakuan tu cewek."
"Vanka nggak akan ngelukai orang, kalau nggak ada yang mengusik ketenangan dia. Gue yakin lo yang cari masalah lebih dulu."
Wajah pria itu mengetat, karena amarahnya yang terpancing.
"Gue nggak peduli dengan apa yang lo ucapin, intinya gue akan balas dia melalui elo," ujar pria itu berbisik menggenggam rambut Hara.
"Lepasin gue, lo nggak bisa ngelakuin ini, kita nggak ada urusan," lirih Hara meringis kesakitan.
"Enak aja lo minta lepasin, setelah gue susah paya dapetin lo, bukan cuma Vanka. Om-om tua itu juga mempersulit gue."
"Tenang aja gue nggak akan nyakitin lo kok, kita akan bersenang-senang di sini."
"Gue akan senang kalau lo lepasin sekarang juga."
"Lo bisa minta apapun, tapi buat lepasin lo, jangan harap."
"Gue, mau siapin makanan dan minuman buat lo, pasti butuh tenaga lebih buat kita bersenang-senang nanti. Lo tunggu disini, jangan coba-coba kabur, karena itu hanya tindakan sia-sia." Hara hanya berdiam diri tidak menimpali ocehan Xelo.
Gadis itu hanya menatap Xelo yang menghilang di balik pintu. Saat sudah merasa aman. Hara mengeluarkan ponsel, yang sengaja dia copet saat pura-pura pingsan tadi. Beruntung ponsel itu tidak di sandi.
Dengan segera Hara memasukan kontak Cia, yang coba diingat-ingatnya.
"Halo Ci, tolong Gue ada di Vila." Mendadak Hara terpaku ketakutan saat Xelo merebut ponsel dari tangannya lalu membanting benda itu.
"Darimana dapat ponsel itu? Tadi lo bilang ponsel lo tinggal di meja! Lo mau buat gue marah!" sarkas Xelo kembali menjambak rambut Hara.
Xelo yang merasa rencananya akan gagal, tidak ingin menunda lagi apa yang ingin dia lakukan untuk membalas Vanka.
Dengan brutal Xelo merobek baju Hara.
"Jangan! Mau apa lo? Lepasin gue?" Dengan tangis yang mulai luruh, Hara meronta ingin melepaskan diri.
"Ini hukuman buat lo, karena uda buat gue marah." Xelo pun mulai menguasai bagian atas m Hara. Gadis itu hanya menangis dan menjerit, minta di lepas.
Hara tidak dapat melepaskan diri, tangan dan kakinya berada dalam kungkungan Xelo.
Biar Qin semangat up, jangan lupa tap ❤ ya, jangan pelit, biar akunya semangat