Melihat wajah Vanka yang memerah saat mendengar kejadian kemarin malam. Galent pun ingin menjahili gadis menggemaskan di sampingnya ini.
Memanfaat mobilnya yang dihentikan karena kemacetan di ruas jalan yang dilalui saat ini. Galent memegang kancing kemejanya lalu berkata jika Vanka tidak hanya berani menciumnya, tapi Gadis itu sampai melakukan hal yang lebih gila lagi hingga meninggalkan tanda di d**a dan sekitarnya.
Dengan wajah yang semakin memerah, membuang muka menghadap jendela mobil. Vanka meminta Galent untuk tidak perlu melakukan hal konyol yang akan membuat dirinya semakin tertunduk malu.
Ingin rasanya Galent tertawa saat melihat wajah Vanka yang semakin memerah, andai saja Gadis dingin yang berada di sampaingnya ini tahu kalau dia dikerjain. Galent pasti tidak akan lepas dengan mudah sebelum gadis itu puas memukulnya untuk membalas kelakuannya ini.
"Kenapa sih Om, nggak putar balik aja! Cari alternatif jalan lain, Pusing aku lihat keramaian, suara klakson seperti ini," keluh Vanka melipat tangan didada, masih tidak ingin menatap Galent. Dia sangat tidak menyukai terjebak dalam situasi canggung karena hal memalukan yang tidak dapat dipercayai bisa dilakukan oleh dirinya.
"Kalau kelamaan di jalan buburnya dingin nggak enak," timpalnya lagi.
"Gak bisa putar balik di belakang sudah banyak mobil, bentar lagi juga renggang ini macetnya." Vanka tidak lagi menimpali perkataan Galent, gadis itu memilih untuk sedikit merubah penampilanya.
Vanka mengepang rambutnya dengan jenis kepang French Braids. Lalu meletakkan t**i lalat Kecil buatan di hidung dan bibirnya. Vaka juga mengenakan sepasang softlens dengan warna euro grey di mata indahnya.
Galent sudah mulai terbiasa dengan Vanka yang suka merubah penampilan. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena alasan yang diberikan cukup masuk akal.
Empat puluh lima menit dalam perjalanan, kini mobil Galent sudah terparkir di parkiran rumah sakit.
Setelah membantu Vanka membuka seat belt, Galent pun turun sembari membawa tas perlengkapan Baby.
Membukakan pintu untuk Vanka, gadis itu kesulitan membuka pintu, karena tengah menggendong Baby Meira yang tertidur.
"Terimakasih Om," ucap Vanka saat keluar dari mobil. Galent pun mengangguk menarik sudut bibirnya.
Kedatangan mereka menyita beberapa orang yang ada di lobby rumah sakit. Vanka berjalan anggun menggendong Baby Meira memancarkan aura yang berbeda. Sedangkan Galent terlihat gagah juga angkuh berjalan dengan langkah tegas di samping Vanka. Membuat pasangan ini terlihat seperti keluarga kecil yang sempurna.
"Woho pemandangan tidak biasa apa yang saya dapat pagi ini. Galent? Oh maaf Tuan Galent," sapa Dokter dengan name tag bertuliskan Aelea.
Dokter muda itu memandang Galent dengan tatapan menggoda, menaik turunkan alisnya.
"Kenalkan dia Vava, teman wanitaku," ucap Galent tidak terlihat antusias.
"Teman atau teman ni?" tanya Aelea kembali menggoda Galent. Lalu menatap Vanka yang tersenyum kaku.
"Oh hai cantik, saya Aelea dokter yang menangi tante Nury kalau sedang sakit juga …." Belum sempat Aelea menyelesaikan ucapannya. Galent segera menyambar tangan Aelea yang terjulur untuk bersalaman dengan Vanka.
"Kenalkan dia dokter keluargaku Va," tukas Galent menatap Vanka. Lalu bealih menatap Aelea.
"Nanti saya ke ruangan mu, saat ini kami sedang sibuk," ujar Galent, menepuk pundak Aelea, lalu melangkah dengan menggandeng Vanka meninggalkan dokter cantik itu.
Sementara Vanka sempat melemparkan senyum tertunduk, kepada dokter Aelea.
"Om gak sopan ih, memotong pembicaraan orang," omel Vanka saat sudah jauh dari dokter Aelea.
"Tadi katanya mau cepat ketemu Mama saya, nanti saya minta maaf sama Aelea."
"Heem."
•
•
•
Galent mendekati brankar Mama Nury yang terlihat tengah tertidur. Galent duduk di kursi samping, memegang jemari wanita yang terpenting dalam hidupnya, sembari menggendong Baby Meira.
Sementara Vanka menyalin bubur yang dia bawa tadi ke mangkuk.
"Kamu, Ga. Kok balik lagi? Bawa Meira juga?" cecar Mama Nury saat membuka mata.
"Iya, Vanka buat bubur untuk Mama, jadi aku antar dia kesini." Vanka pun mendekat membawa semangkuk bubur.
"Dia Gadis itu?" tanya Mama Nury yang tidak mengenali Vanka dengan penampilannya saat ini.
"Iya, Mama Makan buburnya ya."
"Ngapain kamu bawa dia kemari, mau buat Mama terkena serangan jantung lagi."
"Pulanglah kalian, Mama lagi nggak pengen makan," tandas Mama Nury memalingkan wajahnya.
"Ma, ayo lah, nggak boleh gitu. Hargai dong usaha dia buat bubur ini."
"Mama kan nggak minta dia masak." Galent menghela napas kasar, menghadapi tingkah laku Mamanya.
Vanka meminta Galent beranjak dari duduknya. Dia ingin membujuk Mama Nury, meski hatinya sedikit nyeri karena penolakan terang-terangan. Vanka mencoba tetap bersabar dia masih ingin mengukur sampai dimana tingkat ketahan mentalnya menghadapi tipe orang seperti Mama Nury.
"Tante makan ya, aku masak bubur ini, sebagai permintaan maaf. Karena kejadian tadi pagi. Itu hanya salah paham. Saya dan pak Galent nggak ada hubungan apa-pun."
Mama Nury masih bergeming, tidak menimpali ucapan Vanka.
"Tante? Masih nggak percaya? Ini pertama kali bagi Vanka tanpa sengaja tidur dengan pria. Tante pasti tau benar bagaimana Vanka seharusnya jika memang benar kemarin malam …."
Kali ini Mama Nury tampak berpikir mencerna setiap kata yang dilontarkan Vanka. Tidak mungkin Vanka bisa berlari ketika Elis, temannya menghampiri untuk memberikan Baby Meira. Dia sampai tidak dapat memikirkan kemungkinan lain karena terlalu syok.
Mama Nury perlahan mau memalingkan wajahnya menghadap Vanka, memperlihatkan raut wajah datar.
"Saya harap kamu bisa pegang kata-kata yang diucapkan tadi." Vanka mengangguk, lalu mencoba menyuapi Mama Nury. Wanita paruh baya itu masih bergeming belum ingin membuka mulut.
Lama menunggu Vanka pun ingin menarik kembali tangannya yang terulur. Mendadak Mama Nury membuka mulutya.
Vanka pun terlihat senang, perlahan gadis itu mulai menyuapi Mama Nury. Saat tengah antusias dengan Bubur.
Galent masuk kembali ke dalam ruangan, dengan wajah yang sangat serius.
"Kenapa?" tanya Vanka meletakkan kembali sendok yang ingin dia suapkan ke Mama Nury.
"Ponselmu mana? Saya ada kabar buruk, bisa bicara sebentar?"
"Tante Sebentar ya, ini minum dulu Tante." Vanka mengambil gelas berisi air yang terletak di nakas. Lalu membantu Mama Nury untuk minum. Setelah itu mengekor Galent keluar ruangan.
"Ada apa om? Ponsel saya sepertinya ada di tas."
"Em, salah satu temanmu, hilang dari apartemen saya. Dan yang satu lagi sejak tadi berusaha menghubungimu, tapi ponselmu tidak tersambung."
"Apa! Hilang? Si … siapa yang hilang Om, jangan buat aku takut Om," cecar Vanka panik.
"Hara menghilang, ponselnya tertinggal di meja ruang tamu, Max jadi kesulitan melacak keberadan Hara, saya mau pergi untuk membantu pencarian Hara."
"Aku ikut Om!" air matanya mulai luruh.
"Nggak bisa, kita nggak tau apa yang akan dihadapi dalam pencarian Hara."
"Ada Baby Meira bersamamu, kalau kamu ikut siap yang jaga putri saya? Nggak akan saya biarkan kalian berdua menghadapi situasi genting."
"Jadi tunggu lah di sini, aktifkan ponselmu. Jangan khawatir, saya akan cari Hara sampai ketemu," tukas Galent memeluk Vanka, lalu segera bergegas meninggalkan rumah sakit.
Vanka masuk kembali ke ruangan Mama Nury saat tubuh Galent sudah menghilang dari pandangannya.
"Maaf Tante lama menunggu," ucap Vanka duduk kembali di kursinya lalu mengambil mangkuk bubur yang dia letakan tadi.
Mama Nury hanya berdehem, mengangkat telapak tangan menolak sesendok bubur yang disuapkan Vanka.
"Tante nggak mau lagi makan buburnya?"
"Saya sudah kenyang."
"Tapi Tante baru makan sedikit buburnya."
"Mana Galent?"
"Dia sudah pergi Tante, ada urusan katanya."
"Ckh urusan penting apa sampai tidak izin dengan saya sebelum pergi."
"Karena Galent sudah tidak ada lagi disini, pulanglah, kamu ada disini karena tidak ingin Galent kecewa dengan saya, kamu nggak perlu sok perhatian dengan saya. Jangan harap bisa menggantikan posisi menantu saya," sarkas Mama Nury dengan nada suara lemah.
Mendadak ulu hati Vanka terasa nyeri saat mendengar setiap kata yang terlontar dari Mama Nury. Ingin sekali dia pergi dari ruangan ini. Tetapi dia ingat kata-kata Galent yang memintanya tinggal di rumah sakit menunggu kabar dari pria itu.
Dia juga tidak tau sebesar apa masalah yang terjadi dengan Hara. Vanka tidak ingin memperburuk keadaan jika nanti terjadi sesuatu juga dengan dirinya. Untuk saat ini dia harus bertahan sampai mendapat kabar baik nanti.
"Maaf Tante saya nggak bisa pergi dari sini, Pak Galent meminta saya tinggal disini sampai dia kembali."
"Terserah kamu lah, tapi jangan dekat saya." Vanka tidak menimpali ucapan Mama Nury, dia beranjak menghampiri Baby Meira yang ditidurkan di sofa.