Setelah dapat menguasai dirinya, Hara turun dari ranjang mencuci muka dan gosok gigi, lalu gadis itu hendak ke dapur ingin membuat teh, siapa tau bisa mengurangi sakit kepalanya.
"Cia gue mau buat teh dulu ke dapur, bangun lah, kita tunggu orang yang membawa pakaian ganti kita di bawah."
"Tunggu sebentar, aku cuci muka dulu." Cia pun beranjak dari ranjang, bergegas masuk kamar mandi.
Sementara Hara kembali mencoba menghubungi ponsel Vanka. Kali ini tersambung.
"Halo kak."
"Hara! Dimana kalian, apa terjadi sesuatu dengan kalian?" cecar Vanka tanpa menjawab sapaan Hara.
"Kami, ada di apartemen seorang pria bernama Max. Dia bilang asisten Tuan Galent, tapi gue nggak kenal dia siapa." Terdengar helaan napas lega Vanka, mendengar dua sahabat yang sudah dianggap adik sendiri dalam keadaan baik-baik saja.
"Nanti Gue cerita siapa dia, lalu di mana Cia?"
"Sedang di kamar mandi."
"Siapa Ra? Kak Vanka?" tanya Cia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya ni." Hara memberikan ponselnya kepada Cia.
"Kak, lo dimana? Lo baik-baik aja kan?" tanya Cia dengan nada suara yang berubah ingin menangis.
"Gue baik, ini lagi di rumah Galent, lo juga baik kan? Maaf gue banyak minum kemarin malam. Jadi lalai buat jaga kalian berdua."
"Gue baik kak, Max bilang kalau dia bangun nanti. Mau antar kami ketemu lo."
"Iya, sampai jumpa nanti, yang penting kalian baik-baik aja. Gue tutup telpon-nya."
"Yuk ke bawah!" ajak Cia memberikan kembali ponsel Hara.
Dua cangkir teh sudah selesai Hara buat, gadis itu pun membawa ke ruang tamu. Dimana Cia berada.
"Ini teh lo Ci. Minum biar rada enakan kepalamu."
"Bentar Ra, ke kamar mandi dulu. Mendadak perut gue melilit." Dengan tergesah Cia meninggalkan Hara.
Tidak lama setelah Hara meneguk teh-nya, bell apartemen berbunyi. Gadis itu meletak cup tea miliknya lalu bergegas membuka pintu untuk melihat tamu Max. Kemungkinan orang yang membawakan pakaian untuk Cia juga dirinya.
"Lo, kok bisa sampai ke sini? Terus tu wajah kenapa lebam gitu?" tanya Hara saat mendapati seorang pria yang berada di pesta kemarin malam, berdiri di ambang pintu dengan wajah lebam.
"Iya gue kesini cari kalian," jawab pria itu memandangi Hara, yang terlihat seksi menggunakan kaos kebesaran dengan Roll-up shorts sebagai bawahan milik anak Art Max.
"Kemarin malam gue, nggak bisa cegah kalian di bawa Om-om tua yang buat wajah gue jadi lebam." timpal pria itu masih memandangi Hara.
Ditatap seperti itu, Hara pun salah tingkah. Merasa risih dengan tatapan yang Max berikan.
"Kenapa Lo! Natap gue segitunya? Ada yang salah?" tanya Hara memandangi dirinya sendiri.
Pria itu mulai mendekati Hara, menangkup dagu gadis yang seperti bule dengan warna kulit eksotik karena memiliki dara campuran Italia dan Indonesia.
"Lo, cantik juga seksi. Beda dari biasanya," bisik pria itu, dengan nada suara yang terdengar aneh.
"Apaan sih lo, tau apa tentang Gue." Hara ingin menjauhi pria itu namun lengannya dicekal.
"Lepasin gak! Mending lo pergi dari sini, sebelum gue teriak."
"Berani lo teriak, pisau ini akan menancap di tubuh indah lo," ujar pria itu mendekap Hara dari belakang.
"Ap … apa mau lo?" tanya Hara dengan nada suara tercekat, karena panik.
"Ikut gue, dan jangan coba-coba bertindak macam-macam." Hara pun mengangguk, mengikuti apa yang pria itu mau.
•
•
•
Setelah memutuskan sambungan telphone dengan Cia. Vanka keluar dari kamar Galent ingin ke dapur, mumpung Baby Meira juga tengah tertidur.
Gadis itu ingin membuat bubur untuk Mamanya Galent. Vanka merasa bersalah dengan keadaan Mama Nury yang harus dirawat di rumah sakit. Karena melihat dirinya tidur seranjang dengan Galent.
Vanka merasa bersalah karena peristiwa tadi, yang pasti akan membuat syok semua ibu jika melihat sang anak tidur dengan pasangan tanpa ada status pernikahan.
"Pagi Bik, saya Vanka temanya Galent," sapa gadis itu kepada Art Galent yang baru pertama kali dilihatnya.
"Saya Saoda, Neng. Ada yang bisa bibik bantu?" tanya Bik Saoda tersenyum kepada Vanka.
"Boleh saya pinjam dapurnya untuk masak bubur buat Ibunya Galent yang sedang sakit."
"Silahkan Non, butuh bantuan saya buat masak buburnya?"
"Nggak usah Bik, beritahu saya aja dimana tempat bum-bumbu dapurnya. Juga berasnya." Bik Saoda pun mengangguk lalu mengeluarkan bum-bumbu juga beras yang diinginkan Vanka.
Vanka pun mulai mencuci beras, lalu membersihkan ayam. Sementara Bik Saoda melakukan pekerjaan yang lain.
Setengah jam lebih berkutat di dapur, bubur pun sudah selesai. "Kamu bisa masak? Masak apa?" tanya Galent yang tiba-tiba datang, hingga membuat cia terjingkat karena kaget.
"Bikin kaget ih Om, ini aku masak bubur buat Tante," jawab Cia sembari menaruh bubur dan kuah kaldunya di mangkuk kesukaan ibu-ibu yang pasti mencak-mencak kalau sang anak menghilangkan tempat makan yang memiliki mereka tipu ware.
"Cie, masak buat calon mertua," ledek Galent yang membuat pipi Vanka bersemu merah.
"Apaan sih Om, bercandanya."
"Siap yang bercanda, kamu tau nggak Mama sempat bilang sama temanya kalau kamu itu tunangan ku. Jadi nggak salah dong." Vanka pun semakin salah tingkah.
"Em … anu, apa sih Om ngaco kamu, aku yang minum kemarin malam, kenapa kamu yang aneh. Seperti orang mabuk."
"Iya mabuk berat, sampai hilang akal karena kamu."
Duh, kenapa aneh gini sih. Jantung gue memndadak ingin lepas dari tempatnya, karena berdetak sangat cepat dan kuat. Semoga tu Om-om nggak dengar suara jantung gue.
"Oh iya itu apa Om? Yang kamu bawa?" tanya Vanka mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh ini pakaian buat kamu, kalau nggak suka bilang. Nanti aku suru orang membawa yang lain." Galent menyodorkan tote bag, ke hadapan Vanka.
"Terimakasih Om, aku bersih-bersih dulu setelah itu kita ke rumah sakit ya. Bawa bubur ini. Setelah itu baru menemui Cia dan Hara." Galent pun mengangguk dengan senyum tipis.
"Di mana Baby Mei?"
"Ada lagi tidur di kamar,"
"Oh ya sudah kalau kamu ke kamar dia udah bangun antarkan ke ruang kerja saya ya."
"Saya akan berada di ruang kerja, selama kamu bersiap," tukas Galent lalu meninggalkan dapur.
Satu jam lebih akhirnya Vanka sudah bersiap, Baby Meira juga sudah di dandaninya. Tidak lupa mengemas keperluan Baby Meira.
"Om aku udah siap ni, ayo berangkat!" ajak Vanka setelah mengetuk pintu ruang kerja Galent.
Tidak lama Galent pun keluar dari ruangannya. Pria itu terpukau dengan penampilan Vanka yang terlihat anggun sekali mengenakan dress pilihannya.
"Kok melamun, ayo Om kasian Mamanya Om sendirian." Galent pun mengangguk, lalu mengikuti langkah Vanka. Kalau seperti ini mereka terlihat seperti keluarga kecil sungguhan
Di mobil, Vanka membuka pembicaraan, dengan bertanya kenapa dirinya yang tengah berada di club, bisa berada di rumah pria satu anak itu saat dia terbangun dipagi hari.
Gadis itu benar-benar tidak dapat mengingat apa yang terjadi kemarin malam saat alkohol sudah sepenuhnya menguasai dirinya.
Sambil menyetir, dengan santai Galent menceritakan semua kejadian kemarin malam.
Kembali wajah Vanka bersemu saat Galent, berkata jika dirinya berani menggigit bahkan sampai mencium pria itu.
Vanka tidak habis pikir, bisa-bisanya melakukan hal seliar itu saat tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.
Gadis itu merutuki kebodohan dirinya, menatap keluar jendela mobil. Tidak berani menatap Gent.