Pagi setelah party

1489 Kata
Mama Nuri segera bersiap, setelah memberi s**u kepada Baby Meira yang sudah cantik setelah dimandikan. Wanita paruh baya itu akan melakukan kegiatan amal bersama teman-teman sosialitanya. Dengan berat hati dia harus mengembalikan cucunya yang kemarin dititipkan karena Reni pengasuh Baby Meira, mengambil cuti, untuk menjaga ibunya mengalami sakit keras. "Maaf lama nunggu Jeng Ruby, Jeng Elis, Oh iya sebelum ke lokasi, saya mau antar cucu saya pulang ke rumah Galent. Apa kalian mau ikut?" tanya Mama Nuri saat menghampiri kedua sahabat sosialitanya. "Kami ikut ya, sudah lama nggak lihat putra gantengmu. Kalau saja belum married udah saya lamar buat jadi menantu saya," cicit Jeng Elis dengan senyum menggoda. "Iya saya juga mau punya menantu seperti Galent. Tampan juga pekerja keras." Kini jeng Ruby menimpali. "Hahaha bisa aja jeng-jeng ini, udah yuk nanti kesiangan lagi." Kedua sahabatnya itu pun mengangguk dengan sisa senyum mereka. ____________¥____________ Mama Nuri dan temanya pun kini sudah tiba di pelataran rumah Galent, dengan elegan ketiga sosialita itu tanpa menekan bel. Mama Nuri membuka pintu dengan kunci duplikat yang ada padanya. "Sebentar ya Jeng paling anak itu masih tidur, di hari libur seperti ini, silahkan duduk dulu," ujar Mama Nuri lalu memanggil art Galent yang baru saja datang dari paviliun belakang. Minta buatkan minuman untuk sahabatnya. Lalu Mama Nury beranjak ke kamar Galent. Mama Nuri memutar knop pintu yang kebetulan tidak di kunci, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sontak wanita paruh baya itu membulatkan matanya lalu memekik memanggil nama putranya, saat melihat pemandangan apa yang ada di hadapannya. "Galent!" Yang dipanggil hanya berdehem sembari mempererat pelukannya di tubuh Vanka. Sementara Vanka yang terusik karena pelukan Gelent, menggeliat lalu mulai mengerjap membuka matanya. Gadis itu pun tertunduk, dengan mata yang sudah membuka sempurna, saat melihat tatapan tajam Mama Nury. Baru saja Mama Nuri ingin membuka suara, di urungkan karena panggilan Jeng Elis. "Masih lama Jeng, ini Baby Meira nangis." Jeng Elis memberikan bayinya kepada Mama Nury. Lalu tanpa sengaja ekor matanya memandang ke dalam kamar, melihat seorang gadis yang tengah berlari masuk ke toilet. "Jeng itu siapa? Bukan mantumu koma ya? Jangan bilang …." "Dia … dia tunangan Galent," potong Mama Nury menahan sesak. "Loh terus menantu kamu gimana? Terus … kalau baru Tunangan kenapa sekamar, gadis itu memakai kemeja Galent ." Mendapat fakta yang mengejutkan saat ini, membuat jiwa kepo wanita paruh baya itu bergejolak, mencecar pertanyaan tanpa jeda karena rasa penasarannya. "Dia masih belum ada perkembangan yang signifikan, tunangan belum tentu jodoh kan? Gadis itu tidur di lantai bawah. Paling dia tadi ingin membangunkan Galent. Oh iya jeng saya nggak jadi ikut ya, mendadak saya tidak enak badan," tukas Mama Nury. "Dan untuk apa yang kamu ketahui biarlah hanya kamu dan saya yang tau, kalau pun ada kabar baik Jeng pasti akan tau nanti, saya berharap lebih denganmu sebagai orang terdekat saya sejak kecil dulu." "Do not worry, aku akan tetap keep silent, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, kalau gitu aku pergi dulu ya." Mama Nuri mengangguk memaksakan senyum, lalu menatap punggung sahabat yang hilang saat menuruni tangga. "Bangun Galent!" Mama Nury mulai mengguncang lengan sang anak. "Bentar lagi Ma," "Ma?" Mendadak Galent membuka matanya menyadari Mamanya berada di rumah ini, dia baru ingat kalau Vanka berada di kamarnya. Matilah dia, jika sang mama melihatnya tidur dengan wanita lain. "Apa-apan ini Galent!" "Kamu mau buat Mama mati karena serangan jantung ya!" berang Mama Nury memegangi dadanya. "Ma, tenang dulu. Galent bisa jelasin ini nggak seperti yang Mama pikirkan," ucap Galent beranjak dari ranjangnya mendekati sang Mama. Pandangannya menyapu ke sekeliling kamar ini mencari keberadaan Vanka. "Keluar kamu!" titah Mama Nury yang di dudukan Galent di bedroom bench. "Tenang Mah." "Bagaimana Mama bisa tenang, liat kamu tidur dengan memeluk gadis lain, sementara kamu sudah punya istri dan anak!" "Keluar sini kamu anak kecil!" ulang Mama Nury. "Ma! Ini murni kesalahan Galent. Kemarin malam aku mabuk, Vanka yang bawa pulang ke rumah." "Terus? Kenapa penampilannya seperti itu?" tanya Mama Nury melirik Vanka yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh bergetar, juga wajah yang terlihat pias berjalan mendekati ibu dan anak itu. "Bajunya terkena muntah Galent, jadi dia ganti dengan pakaian itu yang kebetulan cuma itu yang ada di luar." "Bohong kamu pasti bohong, Kamu tu jarang bahkan hampir tidak pernah minum. pasti … dia yang buat kamu seperti ini." "Sudah Mama bilang kan, seharusnya kamu fokus dengan istrimu saja. Nggak usah buang waktu, berhubungan dengan gadis kecil seperti dia." Nada suara Mama Nury melemah, wanita paru baya itu terus memukul dadanya, wanjah-nya berubah pucat. Galent segera mengambil Baby Meira lalu memberikan kepada Vanka. "Ma, Mama nggak kenapa-napa kan, kita kerumah sakit ya sekarang." "Tante," Vanka mencoba mendekati Mama Nury. Yang ditinggal Galent berganti pakaian. "Jangan, sentuh saya." Vanka pun diam di tempatnya dengan mata yang memerah menahan tangis. Tidak lama Galent datang, menggendong Mama Nury, dengan tergesah. "Kamu tunggu disini sampai aku kembali ya." Vanka hanya mengangguk samar. Gadis itu terduduk lemas, di samping ranjang, mulai menumpahkan tangis yang sedari tadi tertahan. "Kenapa sih tu Tante mandang gue seolah menjerumuskan anaknya, gue bukan gadis nakal. Gue juga nggak tau kenapa bisa ada disini," racau Vanka masih terseduh. "Tunggu! Kalau gue di sini terus dimana Cia, sama Hara. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan mereka." Vanka pun menghapus air matanya. Gadis itu bangkit dari duduknya, mencari ponsel di tasnya. Panggilan ke ponsel Cia, terhubung tapi gadis itu tak kunjung menjawab panggilan Vanka. Setelah mencoba beberapa kali masih tidak terhubung. Wajah Vanka berubah khawatir. Kini Vanka mencoba menghubungi ponsel Hara, namun gadis itu pun tidak menjawab ponselnya. Makin panik lah Vanka. Gadis itu meletakkan Baby Meira, di ranjang Galent, lalu gadis itu mencoba mencari kaos di lemari Galent, untuk mengganti kemeja yang iya kenakan. Setelah bersiap Gadis itu menghubungi Galent untuk minta izin membawa Baby Meira. "Halo Om, aku izin bawa Baby Meira, mau cari Cia juga Hara, kemarin aku ke club bareng mereka, oh iya maaf lancang pinjem kaosnya ya," papar Vanka tampa mendengarkan kata Halo yang di ucapkan Galent. "Tunggu di rumah aja, mereka aman bersama Max asistenku. Setelah saya pulang dari rumah sakit kita menemui mereka bersama, em … maaf ya karena kata-kata Mama saya yang menyakiti hatimu." terdengar nada sangat bersalah dari setiap kata yang Galent ucapkan. Vanka kembali merasakan sesak di dadanya, rasanya Gadis itu ingin menangis kembali. "Udah nggak usah dibahas Om, terus gimana keadaan Tante itu sekarang?" "Dokter sedang memeriksanya, sepertinya Mama terlalu syok hingga kemungkinan terkena serangan jantung ringan." "Maaf ya Om, ini semua karena aku." "Kamu nggak salah kok, emang Mamaku rada sensitif kalau aku di dekati para wanita, dia terlalu sayang dengan menantunya, oh iya udah dulu ya dokter sudah selesai periksa Mama." "Iya." Telphone pun terputus. • • • Sementara itu di apartemen Max. Hara mulai terusik dengan dering ponselnya yang beberapa kali berbunyi. Gadis itu menggeliat, masih menutup matanya, tangannya meraba-raba untuk mencari ponselnya. "Kak Vanka delapan kali panggilan tak terjawab," gumam Hara saat nyawanya mulai terkumpul. "Aku di mana ini, sepertinya bukan di kamar ku," gumam Hara lagi menelisik kamar yang terasa asing baginya. Gadis itu menyingkap selimutnya, lalu mendapati dirinya sudah memakai kaos kebesaran. Diliriknya Cia yang masih tertidur pulas di samping nya. Saat ingin turun dari ranjang Hara terkejut karena menginjak lengan seseorang. "Arghhhh!" reflek Hara teriak saat melihat seorang pria bertelanjang d**a dan hanya menggunakan boxer, sedang tertidur dengan extara bed. Max dan Cia yang kaget dengan teriakan Hara pun terjaga dari tidurnya. "Kenapa Ra teriak-teriak?" "Kita ada dimana ini Ci, itu juga cowok siapa! Lihat baju kita juga udah ganti," cerocos Hara yang panik. Dengan mata yang memerah ingin menangis. "Tenang Ra, jangan nangis, gue jadi takut," ujar Cia memeluk tubuh Hara. Sembari memegangi kepalanya yang terasa berat sekali. "Nggak usah takut, saya Max asisten Tuan Galent. Kemarin malam kalian mabuk berat, hampir tertangkap razia di club malam, Beruntung Saya dan Tuan Galent berada di sana juga saat itu." "Terus Kak Vanka mana?" kini Cia buka suara. "Dia bersama Tuan Galent, bisakah saya tidur kembali?" Max merebahkan dirinya kembali. "Tunggu dulu, terus kenapa pakaian yang kami gunakan saat ini bukan, yang kami kenakan tadi malam, kamu nggak melakukan anu … sesuatu kepada kami kan?" tanya Hara disela isakannya. "Iya, kamu juga kenapa tidur hanya mengenakan boxer seperti itu?" "Kemarin malam Nona yang menangis itu demam keringat dingin, dress yang dikenakan basah, saya meminta asisten rumah tangga untuk menggantikan pakaiannya, sedangkan pakaian kamu terkena muntah." "Terpaksa saya menjemput art saya, dan anaknya yang seusia kalian kesini disaat tengah malam bisa dibilang sudah pagi, saya rasa sudah cukup tanya jawabnya." "Oh iya setengah jam lagi akan ada orang yang membawakan pakaian ganti juga sarapan untuk kalian juga obat penghilang pegar, setelah saya bangun nanti baru bertemu dengan Nona Vanka," tukas Max memejamkan matanya kembali. "Tenanglah Hara, sepertinya dia bukan orang jahat buktinya dia ngerawat kamu waktu demam, sekarang kita telpon kak Vanka aja ya." Hara pun mengangguk lalu menghubungi ponsel Vanka namun tidak terhubung karena sedang dalam panggilan lain. Jangan lupa tap love, ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN