Max mulai membuka obrolan, setelah dirinya dan Galent baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
"Tuan, malam ini anda punya agenda pertemuan dengan Mr. Derrix, pengusaha dari Filipina yang ingin menanam saham di perusahaan kita," ujar Max sembari merapikan meja bekas makan mereka.
"Dimana tempatnya?"
"Beliau, meminta diadakan di Grocery Clumsiest club."
"Kenapa, harus di club malam? Saya paling gak suka dengan keramaian, apa lagi lihat para gadis memakai pakain kurang bahan."
"You know lah, Mr. Derrix dan koleksi para wanitanya. Mungkin dia mau memperbaharui koleksinya dengan yang baru. Sepertinya anda juga butuh cuci mata dengan para gadis yang ada di sana Tuan."
"Ckh, apa yang mau kulihat disana? Para gadis yang memakai baju kurang bahan juga dandan nyaris seperti ondel-ondel."
"Mo'on maaf pak duda, sepertinya mata anda perlu periksa ke optik. Bisanya anda menyamakan para gadis yang menggairahkan dengan ondel-ondel."
"Halah, otak kamu nggak jauh dari se*langkangan, sudah sana siapkan pakaian saya," sungut Galent meninju lengan Max. Pria itu mengangguk lalu keluar dari ruangan atasannya itu.
___________¥___________
Galent memilih jalur lain untuk masuk ke club. Dia tidak ingin lewat pintu utama tempat hiburan itu. Galent enggan bersangkutan dengan kumpulan orang-orang yang sudah hampir hilang kesadaran karena pengaruh alkohol.
"Maaf sudah membuat anda menunggu Mr. Derrix," sapa Max saat masuk di ruangan.
"Tidak masalah, saya senang menunggu disini. Banyak gadis-gadis cantik. Apalagi gadis yang tengah duduk menyendiri di tabel bar itu," cicit Mr. Derrix yang sudah pasih menggunakan bahasa Indonesia. Sudah tiga tahun dia, mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan yang ada di Indonesia.
Membuat pria casanova itu, mau tidak mau belajar bahasa Indonesia demi memperlancar kegiatan kerjasama-nya.
Galent dan Max pun mengikuti ke arah ekor mata Mr. Derrix memandang dari kaca yang dapat melihat situasi di luar ruangan, tapi apa yang terjadi di dalam sini, orang lain tidak dapat melihatnya.
Sontak mata kedua pria itu membulat sempurna, kala melihat gadis yang memakai mini dress berwarna putih tulang. Yang tak lain dan tak bukan Vanka dengan segelas minuman di tangannya.
"Tuan dia Vanka," bisik Max di telinga Galent.
"Aku tau, mataku masih berfungsi dengan baik untuk melihat dia, tanpa kau beritahu."
"Sedang apa dia di tempat seperti ini, minta orang mu untuk mencari segera," bisik Galent dengan nada suara yang terdengar gusar sekali.
Max pun dengan segera mengirim pesan pia what*sap kepada orang kepercayaannya.
"Sebentar, saya akan meminta salah satu orang ku untuk membawa gadis itu kemari. Apa kalian ingin di temani oleh gadis lain?" Mendadak Galent dan Max pun menatap lekat Mr. Derrix karena mendengar niat pria itu yang ingin bersama Vanka.
Tidak mungkin kedua pria itu akan membiarkan Vanka bersama pria casanova itu. "Sorry Mr Deriix biarkan saya saja yang mencarikan gadis untukmu, tidak usah dia, aku punya yang lebih cantik dari gadis itu," tutur Galent mencoba meyakikan klien-nya itu.
"Tapi saya sangat tertarik dengan dia, memangnya kenapa saya tidak boleh bersamanya?" tanya Mr. Derrix dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Karena …." Max ingin menjawab pertanyan Mr Derrix. Namun ditahan oleh Galent yang memberi kode kepadanya.
"Dia adalah Tunanganku, sebab itu anda tidak bisa bersamanya." Mendadak susana di ruangan itu menjadi hening, karena Mr Derrix maupun Max tampak terkejut mendengar penuturan Galent.
"Wow kabar besar apa yang kudapat ini. Tuan Galent Reiner Set memiliki tunangan, ada di club malam pula? Bukannya anda sudah menikah juga memiliki Baby yang baru beberapa bulan dilahirkan?" cecar Deriix dengan senyum terkesan mengejek.
"Terserah apa yang ada di dalam pikiran anda. Saya harap anda bijak untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi saya."
"Karena yang terlihat dan didengar belum tentu seperti apa yang anda pikirkan."
"I see, saya juga tidak suka terlibat dalam masalah pribadi orang dan tidak akan mendekati gadis itu. Saya hanya ingin menjalin kerja sama dengan anda juga bersenang-senang selama berada di Indonesia."
"Apa anda menerima penawaran saya tadi? Berapa gadis yang anda inginkan?"
"Untuk saat ini saya hanya butuh satu." Dengan segera Max menjauh untuk menghubungi dan meminta salah satu orangnya membawakan seorang gadis ke ruangan itu.
Meeting pun dimulai, setelah seorang gadis duduk manja di rengkuhan Derrix. Galent meminta Max berada di luar saja untuk mengawasi Vanka sementara dirinya akan segera mengurus pertemuan ini.
Galent berusaha fokus menjelaskan proposal yang dia bawa. Namun mendadak getar ponsel mengganggu konsentrasinya, karena bergetar beberapa kali.
"Maaf sepertinya pertemuan kita di tunda besok saja, saya sedang ada urusan yang sangat mendesak. Anda tidak masalahkan?" Galent segera mengakhiri pertemuan ini setelah membaca pesan dari Max yang berisi jika polisi sedang berada di lobby akan mengadakan razia.
"Ya nggak apa, pergi lah Tuan. Biar asisten saya besok mengatur ulang pertemuan ini."
"Thanks Mr. Derrix, selamat malam," tukas Galent berjabat tangan. Lalu segera beranjak keluar ruangan.
"Lihat lah gadis ini, orang sudah mulai riuh meninggalkan tempat ini. Dia masih santai dengan minumannya," gerutu Galent lalu mengangkat tubuh Vanka dengan susah payah karena gadis itu mulai memberontak.
Sesampainya di mobil Galent menghubungi Max."Dimana kau?"
"Saya lagi berusaha mengamankan ke dua teman yang datang bersama Nona Vanka. Ada bocah menghalangiku, buat kesal saja."
"Apa kedua gadis itu sudah aman?" tanya Galent sembari menutup mulut Cia yang terus meracau.
"Sekarang kedua gadis itu sudah aman di mobil saya, salah satu orang ku membantu membawa mereka tadi."
"Ya sudah bawa mereka ke tempat yang aman, ingat! Jangan sentuh mereka. Kau akan terima akibatnya jika kau berani menyentuh kedua gadis itu!" ancam Galent lalu mematikan ponselnya.
Setelah mematikan ponselnya, Galent membenahi posisi Vanka yang sudah terlelap meringkuk di kursi samping.
"Ada apa dengan kalian para gadis, senang sekali menciptakan masalah untuk diri sendiri," gerutu Galent lalu melajukan mobilnya.
Galet membawa Vanka ke rumahnya. Mengingat tempat itu yang paling aman. Tidak mungkin pria itu membawa gadis muda ke hotel. Mungkin besok dia akan menjadi trending topik, dengan kabar miring jika dirinya yang sudah memiliki istri tapi membawa wanita lain ke hotel. Apa lagi gadisnya masih di
bawah sumur, eh umur.
•
•
•
Meski dengan susah payah Galent menggendong Vanka seperti penculik anak, dengan gadis yang terus meronta memukul minta di turkan, akhirnya dia bisa meletakkan Vanka di ranjangnya.
"Diam disitu!" titah Galent lalu keluar dari kamar tidak lupa mengunci pintu, agar gadis kecil yang merepotkan itu tidak berjalan kemana-mana dengan sempoyongan, lalu menyenggol barang yang mudah pecah dan melukai gadis itu sendiri.
Beberapa menit kemudian, Galent membawa baskom yang berisi air untuk membersihkan tubuh Vanka yang bau karena terkena muntah.
Saat membuka pintu Galent hampir terjerembab, karena ternyata bersandar di pintu sehingga membuat gadis itu terjatuh saat Galent membuka pintu.
Galent meletakkan baskom di meja lalu mengangkat Vanka kembali ke tempat tidur.
"Kenapa sih, kamu ada ditempat seperti itu! Kamu nggak tau betapa bahayanya tempat itu bagi gadis kecil seperti kalian!"
"Coba aja kalau aku, nggak ada meeting disana entah apa yang terjadi padamu," omel Galent sembari mengusap lengan Vanka.
Tanpa sadar Vanka menggigit bibir Galent karena gemas dengan Galent yang terus komat-kamit, mengomeli dirinya.
"Lo cerewet amat si Om! Kek mak-mak yang lagi ngomelin anaknya!" Sontak Galent memegang bibirnya karena terkejut dengan ulah Vanka.
Ternyata, Vanka mewariskan sifat jelek Pihunya yang suka menggigit bibir sang istri, saat sedang di ceramahi.
"Hei! Apa yang kamu lakukan!"
"Kenapa Om? Sakit ya?" belum sempat Galent mengeluarkan sepatah kata. Vanka kembali membungkam dengan mulut Galent.
Kali ini bukan gigitan, Tapi lumatan dan hisapan lembut, terkesan amatiran yang didapat Galent.
"Udah nggak sakit kan Om?" tanya vanka setelah melepas ciumannya.
Galent tidak menjawab pertanyaan Vanka. Dia masih terlalu syok dengan perlakuan gadis kecil yang ada di hadapannya ini.
Happy eid mubarak buat kalian semua?